ANMELDENSabiya memutar badannya dan berjalan kembali menuju mobil yang menunggunya dengan mesin menyala.Zavier dan Liam membukakan pintu dengan cermat, membiarkan Sabiya melangkah masuk dan duduk bersandar di kursi penumpang.Mobil itu mulai melaju pelan meninggalkan area sekolah menuju jalan protokol yang akan membawa mereka kembali ke Rumah Sakit Sentral Denver.Wanita itu menyandarkan kepalanya pada kaca jendela, menatap deretan pepohonan kota yang bergerak cepat. Tiba-tiba, sebuah gelombang kecemasan mendera hati Sabiya. Ia pun menekan dada kirinya sembari menarik napas panjang berulang kali.Ini pasti hanya kekhawatiran biasa karena dia baru pertama kali membiarkan si kembar pergi cukup lama.Zavier yang duduk di kursi penumpang depan tak sengaja melirik ke arah kaca spion tengah. Pria kepercayaan Roman itu seketika menangkap perubahan raut wajah Sabiya."Nyonya, wajah Anda terlihat pucat. Apakah Anda merasa kurang sehat?"Sabiya mengalihkan pandangannya dari jendela, menatap Zavier de
Kabut tipis menyelimuti halaman Bright School pagi itu. Udara dingin khas kota Denver membuat deretan bus kuning yang terparkir di sepanjang jalan sekolah memantulkan kilau embun.Suasana pelataran sekolah sudah sangat ramai oleh celoteh riang puluhan anak. Mereka mengenakan seragam olahraga biru putih dengan rompi dan topi rimba.Di antara kerumunan mobil keluarga yang berjejer, sebuah Rolls-Royce meluncur perlahan lalu berhenti di sudut jalan yang agak lengang.Pintu kemudi terbuka, memperlihatkan Zavier dan Liam yang bergerak mengamati area sekitar sebelum membukakan pintu belakang.Sabiya turun dari mobil dengan gaun berwarna merah muda dan mantel wol abu-abu. Paras cantiknya tampak sedikit lelah, tetapi ia dengan sabar membantu dua putranya turun dari kabin mobil.Ares dan Altair menyandang ransel gunung mereka masing-masing.Ares tampak begitu antusias, matanya berbinar-binar menatap deretan teman-temannya yang mulai mengantre di depan bus.Sementara itu, Altair berdiri tenang d
Dengan semangat baru yang membara, Ramona menatap Luther dan Wilma secara bergantian."Saya akan ke swalayan sekarang untuk membeli sayuran segar, daging kualitas terbaik, dan rempah-rempah," putus Ramona dengan tekad yang menghiasi wajah pucatnya."Saya akan membuat hidangan beef stew klasik dengan kaldu sapi kental, roti panggang bawang putih, dan selada segar. Meskipun Tuan Falcone sudah makan di luar, saya akan memastikan meja makan selalu menyajikan hidangan hangat yang menunggunya."Luther tertegun sejenak melihat transformasi wanita muda di hadapannya. Ia bisa melihat semangat seorang ibu rumah tangga yang sangat tangguh di balik kelembutan Ramona.Sang kepala pelayan kemudian mengukir senyum yang paling tulus, lalu memberikan anggukan hormat."Pilihan hidangan yang sangat luar biasa, Ramona. Saya akan menyiapkan sopir untuk mengantar Anda berbelanja sekarang juga," dukung Luther.***Satu jam setelah kembali dari swalayan dengan kantong belanjaan, Ramona langsung mengambil ali
Setelah Luca pergi, Ramona mengikuti Wilma menyusuri lorong yang dindingnya dihiasi berbagai lukisan klasik. Semakin jauh ia melangkah, Ramona semakin merasa dirinya seperti debu yang tersesat di istana kaca.Wilma berhenti di depan sebuah pintu dan mengayunkannya terbuka."Ini adalah kamarmu, Ramona," ucap Wilma seraya mempersilakan wanita itu masuk.Ramona melangkah masuk, dan seketika ia terpaku di ambang pintu. Matanya kembali terbelalak.Ini bukanlah kamar tidur pelayan seperti yang ia bayangkan. Kamar ini memiliki ranjang berukuran king-size dengan seprai sutra putih. Ada sebuah sofa santai, lemari pakaian, dan pintu kaca yang terhubung dengan kamar mandi dalam.Bahkan, yang membuat mata Ramona memanas karena terharu adalah di samping ranjang besar itu telah disiapkan sebuah boks bayi. Boks itu terlihat sangat cantik, lengkap dengan kelambu dan berbagai mainan gantung di atasnya."N-Nyonya Wilma ...." Suara Ramona bergetar. "Apakah tidak ada kesalahan? Ini... ini pasti kamar tam
Pagi itu, sebuah kendaraan hitam meluncur meninggalkan kawasan perbukitan San Marino.Di kursi penumpang bagian belakang, Ramona duduk dengan tubuh kaku. Ia mendekap erat Seraphina yang sedang tertidur pulas dalam pelukannya. Tatapan mata janda muda itu terus terpaku ke luar jendela.Pemandangan bukit pemakaman perlahan menghilang, digantikan oleh gedung-gedung pencakar langit yang menjulang tinggi. Mereka tengah memasuki jantung kota Monela, tempat para miliarder dan penguasa kota itu mengendalikan putaran uang .Luca, yang mengemudikan mobil di depan, sesekali melirik dari kaca spion tengah. Ia bisa melihat raut kecemasan yang tergambar jelas di wajah Ramona."Tidak usah terlalu tegang, Mona," ucap Luca dengan nada menenangkan. "Tuan Jetro sudah memberikan instruksi yang sangat jelas. Kau dan Seraphina akan aman di sana."Ramona memaksakan sebuah senyum tipis, meski tangannya memeluk Seraphina semakin erat."Saya hanya... tidak pernah membayangkan akan menginjakkan kaki di kediaman
Sabiya menghela napas sabar sebelum menjawab rengekan Roman yang tidak mau berpisah darinya."Roman, apa kau lupa? Besok pagi adalah hari keberangkatan Ares dan Altair untuk acara camping sekolah mereka," jelas Sabiya dengan nada lembut."Sore ini aku harus menyiapkan koper, memeriksa kelengkapan pakaian hangat, senter, dan obat-obatan mereka. Aku juga harus memastikan mereka tidur cepat dan bangun tepat waktu besok pagi."Roman menatap Sabiya dengan tatapan tak rela. Mulutnya setengah terbuka untuk melayangkan bantahan, tetapi tak ada satu pun kata yang keluar.Ia sadar bahwa ia tidak mungkin bisa bersaing dengan kebutuhan anak-anaknya sendiri."Baiklah, aku akan tidur sendirian malam ini," keluh Roman.Melihat ekspresi Roman, Sabiya nyaris tertawa lepas jika ia tidak menahannya. Sang bos besar yang ditakuti separuh dunia bawah itu kini bersedih karena harus berbaring sendirian di kamar rawat."Kau sendiri yang bilang sangat menyayangi si kembar dan bersedia berkorban untuk mereka. M
Di lantai bawah, Sabiya membawa kardus tersebut menuju ruang makan utama. Ia meletakkan benda itu tepat di dekat ujung meja makan panjang.Bunyi debuman kardus yang mendarat di lantai seketika menarik perhatian Martha dan Mia. Kedua pelayan itu menatap Sabiya dengan ekspresi heran yang bercampur de
Ponsel di tangan Sabiya kembali bergetar, menampilkan rentetan foto berikutnya yang dikirimkan oleh Clara. Kali ini adalah foto meja makan yang dipenuhi oleh berbagai macam hidangan. Ada omelet truffle, buah-buahan segar, pancake madu, sosis premium, serta segelas susu.[Semua makanan ini dipesan
Tangan besar Roman langsung bergerak melepas baju yang membungkus tubuh Sabiya hingga terlepas sepenu. Namun, Sabiya tetap memejamkan matanya rapat-rapat, membiarkan tubuhnya sekaku patung lilin.Jakun Roman naik-turun saat melihat istrinya yang kini hanya mengenakan bra hitam berenda. Pakaian dala
Kali ini, pria di seberang sana terdiam lebih lama. Sabiya bisa mendengar suara napas Jetro Falcone yang turun naik. Mungkin, pria itu sedang memijat pangkal hidungnya, seperti yang selalu ia lakukan saat menghadapi masalah rumit."Kenapa, Sabiya? Apa kau sudah sadar?"Mendengar pertanyaan yang me







