Share

Bab 4

Penulis: Aldo Kapak
"Duduklah."

Lilian mengabaikan rasa sakit di wajahnya, menutup pintu dengan rapat, lalu menarik Radit kembali ke sofa.

Radit tidak melawan. Dia ingin mendengar apa penjelasan istrinya.

Lilian pun duduk di sofa. Bekas jari di wajahnya semakin jelas, tapi dia tampak tidak terpengaruh sama sekali oleh hal itu. Raut wajahnya tampak sangat tenang.

Dia memang orang yang sangat rasional. Jika tidak, dia tidak akan bisa menduduki posisi direktur Grup Sudibyo.

Lilian sangat menyadari bahwa dia tidak ingin kehilangan pernikahan ini.

Memikirkan hal itu, dia berkata dengan tenang, "Pertama-tama, kita harus sepakat tentang satu hal. Aku nggak menghubungi siapa pun setelah keluar dari hotel, artinya nggak ada kemungkinan aku merencanakan ini lebih dulu dengan orang lain. Penjelasanku bisa dipastikan benar. Kamu setuju?"

Radit mengangguk. "Ya."

"Oke."

Lilian mengeluarkan ponselnya, mencari nomor Victor, terdiam sejenak, lalu menekan tombol panggil.

Jika bukan karena terpaksa, dia tidak akan menelepon.

Lagi pula, dia seorang direktur dengan kekayaan ratusan miliar. Ada beberapa hal yang baginya terasa sangat memalukan jika sampai terungkap.

Suara luar diaktifkan, dan telepon segera terhubung.

"Halo, Lilian."

Suara Victor terdengar.

Lilian menarik napas dalam-dalam, berusaha membuat suaranya terdengar normal. "Kak Victor, aku minta maaf soal kejadian tadi. Lukamu sudah diobati?"

Setelah hening sejenak, tawa dingin yang tertahan terdengar. "Luka? Luka fisik itu bukan apa-apa, tapi luka di hati ... mungkin nggak akan kulupakan! Ini pertama kalinya aku ditendang seumur hidupku."

Jelas, maksud tersiratnya adalah bahwa dia akan terus mengusut masalah ini!

Lilian melirik Radit dengan sedikit cemas. "Aku minta maaf sekali lagi. Suamiku sudah kutegur. Kalau perlu, aku akan minta maaf langsung padamu besok!"

"Nggak perlu. Dia itu dia, kamu itu kamu. Masalah ini nggak akan berpengaruh pada kerja sama kita."

Lilian menghela napas lega.

"Kamu biasanya nggak pernah meneleponku lebih dulu. Ada lagi yang perlu dibicarakan?"

"Ada satu hal yang ingin kutanyakan. Kenapa kamu membuat syarat itu tadi?"

Lilian mengatakan itu, dan Radit mengangkat alisnya. Syarat?

Mungkinkah kenyataannya benar-benar tidak seperti yang dia bayangkan?

Bagaimanapun, ada perbedaan besar antara melakukannya secara sukarela atau karena terpaksa.

"Syarat .... Oh! Maksudmu, waktu turun di depan hotel? Hahaha, kamu tahu perasaanku padamu. Aku menjamin kamu untung 100 miliar. Jadi, pegangan tangan itu nggak terlalu berlebihan, 'kan?"

"Jangan lakukan itu lagi, nanti suamiku salah paham," kata Lilian sambil menghela napas.

Hanya karena syarat itu, dia hampir saja bercerai. Hal itu sangat menyakitkan baginya.

Setelah mengatakan itu, Lilian menutup telepon tanpa menunggu jawaban Victor.

Ruangan menjadi sunyi, keduanya terdiam.

Pikiran Radit berkecamuk. Dia menyalakan sebatang rokok, lalu berkata dengan yang rendah dan berat, "Aku akan percaya kata-katamu, tapi jangan sampai ada yang kedua kali."

Mata lebar Lilian berkaca-kaca, bibir merahnya cemberut, merasa sangat tersakiti. "Kamu menuduhku tanpa alasan, menamparku, bahkan ingin menceraikanku. Kamu harus minta maaf."

"Soal menamparmu, ya, aku minta maaf."

Bagaimanapun juga, memukul wanita yang dicintai adalah hal yang salah, jadi Radit segera meminta maaf.

Lilian mendengarnya dan merasa semakin sedih, air mata berjatuhan deras, tanpa dihapus, menatap suaminya dengan keras kepala. Membuatnya tampak lebih mengundang ibanya.

Radit melihat semuanya dan merasakan sakit yang menusuk di hatinya. Jika bukan karena sangat mencintainya, apa mungkin semuanya sampai seperti ini?

Ada dorongan dalam hati untuk memeluknya erat-erat dan mencurahkan seluruh kasih sayangnya.

Namun, pada akhirnya, dia tidak melakukan dorongan itu. Seolah-olah masih ada duri yang terus menusuk hatinya, membuatnya merasa tidak nyaman. Setelah ragu-ragu sejenak, dia akhirnya mengungkapkan apa yang ada di hatinya.

"Hal terpenting dalam pernikahan itu kepercayaan. Kamu hari ini bohong dan menyembunyikan soal makan dengan pria lain. Itu sangat salah. Dan lagi, kamu demi uang menyetujui syaratnya yang sudah kelewat batas. Itu adalah penghinaan bagiku. Menurutku, itu sangat salah."

"Jadi, kita berdua sebaiknya menenangkan diri sejenak."

Karena sudah diklarifikasi bahwa Lilian tidak memiliki hubungan terlarang dengan pria itu, perceraian tentu tidak perlu terjadi. Namun, Radit tidak akan memaafkan perilaku Lilian begitu saja.

Dia akan menyerahkannya kepada waktu.

Setelah mengatakan itu, Radit bangkit, mengambil pakaian ganti, dan menuju ke kamar mandi.

Lilian tidak berkata apa-apa. Air matanya tidak kunjung berhenti. Dua jejak air mata meluncur di wajahnya yang putih mulus, menetes ke lantai.

Dia merasa tersakiti dan marah. Kenapa suami yang sangat baik hati tiba-tiba berubah menjadi seperti ini?

Apakah dia benar-benar salah?

Tapi, sesalah apa pun dia, itu tidak sesalah menamparnya.

Selama beberapa saat berikutnya, keduanya tidak saling berbicara. Yang satu masih terjebak dalam perasaan yang mengganjal, yang lain merasa kesal.

Hingga lampu dimatikan, pasangan itu tetap berbaring saling membelakangi.

Radit tidak bisa tidur, merasa patah hati tanpa alasan yang jelas. Di rumah yang sangat dia kenal ini, dia merasa seolah ada sesuatu yang berubah.

Di depannya terdapat sebuah meja dengan foto pernikahan mereka yang dibingkai.

Dalam foto tersebut, dia tertawa lepas, dan istrinya tampak manis dan cantik. Pasangan yang serasi layaknya dewa dan dewi, bahkan fotografer pun memuji mereka, menyebut mereka pasangan yang paling serasi.

Tak dapat dipungkiri bahwa Radit sangat mencintai istrinya. Jika tidak, dengan kemampuannya, membangun kerajaan bisnis dari nol yang melampaui seluruh Grup Sudibyo bukanlah hal yang sulit.

Dia sangat menyesal.

Seandainya dia tadi tidak iseng membuka aplikasi itu, tidak menyaksikan adegan itu, akankah cinta mereka akan tetap sempurna tanpa cela?

Tidak bisa.

Hal yang sudah terjadi tidak bisa dihapus begitu saja. Yang bisa dia lakukan adalah menghadapinya.

Tenggelam dalam pikiran, akhirnya dia tertidur dengan susah payah.

Sementara itu, Lilian masih terjaga dengan gelisah, tidak bisa tidur sama sekali.

Dia marah dan kesal. Belum pernah ada yang memukulnya seumur hidupnya.

Dia menutupi wajahnya dengan tangan, air mata mengalir deras. Saat suaminya mengatakan cerai tadi, jantungnya seolah berhenti berdetak. Rasa sakitnya begitu mendalam, tak terlukiskan.

Kenapa Victor mengajukan syarat sialan itu, dan kenapa harus dilihat oleh suaminya?

Dia sangat menyesal. Seandainya tahu akan jadi seperti ini, dia tidak akan pernah menyetujuinya.

Ya sudahlah, minta maaf dan mengalah saja, itu tidak sulit.

Sambil memikirkan hal itu, dia menyenggol lembut Radit dengan lengannya.

Satu kali, dua kali.

Tidak ada reaksi.

Tak lama kemudian, dia mendengar suara napas yang teratur.

Mata Lilian membelalak. Si berengsek ini benar-benar tertidur?

Masih bisa tidur!

Lilian pun marah, bangun dengan geram dan menerjang suaminya.

Radit yang dipaksa bangun pun membuka matanya, bercampur antara marah dan ingin tertawa. "Lilian, ini tengah malam, kenapa kamu nggak tidur?"

Lilian duduk di pangkuannya dengan mata merah, cemberut sambil menatap wajah tampan dan tegas itu. Dia masih seperti pemuda yang diingatnya dulu, tinggi dan kuat.

"Aku sedih, aku kecewa! Aku memang bohong dan menyembunyikan sesuatu darimu, tapi itu demi keluarga dan masa depan kita! Aku nggak akan mengkhianatimu, jadi kenapa kamu menamparku dan mengabaikan aku!"
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 50

    Pukul 10 pagi, Radit tiba di depan kantor Bahtera Konstruksi.Begitu masuk, pemandangannya menakjubkan. Para karyawan tampak sangat bersemangat, bekerja dengan giat.Area kantor dipenuhi suara ketikan keyboard.Tampaknya, pernyataan Rosie dalam konferensi pers itu sangat efektif dan menginspirasi.Radit menggelengkan kepala, berpikir dalam hati, ‘Kalian belum tahu, bos kalian sebenarnya sudah kehabisan uang. Semua itu cuma janji-janji kosong.’‘Tapi, selama aku ada di sini, aku akan mengubah janji-janji kosong itu menjadi kenyataan.’Setelah masuk ke ruang kantor Rosie, gadis itu berseru gembira, "Pak Radit!"Radit mengangguk dan bertanya, "Bagaimana situasinya sekarang?"Rosie menggelengkan kepala. "Kurang optimis. Di rekening perusahaan cuma ada 20 miliar, dan aku sendiri punya 40 miliar. Ditotal pun cuma 60 miliar. Belum ada apa-apanya sama sekali, nggak cukup untuk memulai proyek."Bahkan chef terhebat pun tidak bisa memasak tanpa nasi. Sebagus apa pun rancangan arsitekturnya, tida

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 49

    Sambil berbicara, Lilian mengulurkan jari-jarinya yang halus dan menggambar lingkaran-lingkaran di dada Radit.Radit tidak bergeming. Dia hanya mengeluarkan kotak itu dan memperlihatkannya. "Lihat, ini gaun tidurmu bukan? Aku dapat paket ini tadi siang."Lilian merasa bingung. Dia membuka kotak itu, dan ekspresinya seketika berubah. Dia langsung membuangnya ke tempat sampah sambil berkata, "Siapa kirim barang begitu? Menjijikkan.""Harusnya aku yang tanya. Itu kan gaun tidurmu?" Radit menanyai dengan nada menuduh.Sikapnya membuat Lilian marah. Sambil menuding tempat sampah, dia berkata, "Apa maksudmu? Kamu nggak bisa lihat jebakan segampang itu? Itu cuma baju bekas, bahkan belum tentu milikku, tapi kamu langsung curiga dan ingin memancingku bicara. Aku bahkan sudah lupa gaun tidur ini, mungkin sudah kubuang sejak lama. Kalau nanti orang lain mengirim celana dalam padamu, apa kamu akan menceraikanku? Radit, kamu benar-benar membuatku kecewa!"Radit mengibaskan tangannya. "Jangan marah.

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 48

    Pengirimnya tidak diketahui, membuat Radit merasa bingung. Dia tidak membeli apa-apa.Tanpa berpikir lebih lama lagi, dia langsung membuka kotak itu dan menemukan sebuah gaun tidur sutra yang kusut, dengan secarik kertas di dalamnya.[Gaun tidur Lilian nggak sengaja tertinggal di tempatku. Tolong bantu kembalikan padanya, terima kasih.]Mata Radit berkedut, wajahnya mendung.Ini adalah gaun tidur berwarna merah muda, bahannya lembut dan sangat halus, tapi sekarang dipenuhi noda-noda yang mengeras, membuat gaun tidur itu kusut dan berkerut-kerut.Ini gaun tidur milik istrinya, tentu saja dia tahu.Karena istrinya dulu sangat menyukai gaun tidur tanpa lengan ini. Radit juga suka melihatnya mengenakan ini, membungkus tubuhnya yang montok, sangat cantik dan seksi.Namun, dia sudah lama tidak pernah melihat istrinya mengenakan gaun tidur ini.Tak disangka, hari ini muncul lagi."Awas saja kalau aku tahu siapa orangnya!" Radit mendesis tajam.Kemungkinan besar bukan Victor, karena istrinya k

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 47

    Seseorang seperti ayah Rosie seharusnya tidak berpikiran sempit, bukan?Seorang tokoh besar di dunia bisnis seharusnya dapat melihat keuntungan di balik ini, apalagi gambar desainnya sudah diberikan kepadanya.Dia pun berkata, "Oke, aku mengerti. Soal uang, kita tunda dulu. Hari ini istirahat, besok kita bicarakan lagi."Dia menutup telepon, masih benar-benar bingung.Jika proyek ini berjalan lancar dan hasil rancangan dapat ditampilkan dengan sempurna, manfaatnya bagi Bahtera Konstruksi tentu saja sangat besar.Bahkan bisa menjadi tolok ukur industri konstruksi.Karena ini adalah proyek yang akan mengangkat nama Selanta, bahkan gubernur dan pejabat pemerintah tidak akan berpandangan sempit.Nantinya, Bahtera Konstruksi akan jadi terkenal. Semua orang tahu akan tahu perusahaan ini hanya mengerjakan bangunan berkualitas tinggi. Dengan begitu, proyek-proyek yang diterima di masa depan pasti juga berkualitas tinggi. Menghasilkan uang pun akan menjadi hal yang mudah.Empat ratus miliar ini

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 46

    "Ketiga, kapan proyek ini akan selesai?""Ini adalah satu hal yang sangat saya sesalkan. Karena Bahtera Konstruksi mengutamakan kualitas, Panti Jompo Asri tidak dapat diresmikan tepat waktu. Saya akan bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang timbul akibat keterlambatan ini. Mari kita lihat bersama ...."Sambil berbicara, Rosie menekan tombol remot di tangannya.Di layar besar di belakangnya, muncul gambar-gambar visualisasi desain Panti Jompo Asri setelah selesai dibangun nanti.Seketika itu juga, suasana menjadi riuh.Seiring bergulirnya gambar-gambar tersebut, para hadirin semakin terkejut, bahkan terpesona!Sebuah pikiran muncul di benak mereka. Jika selesai dibangun, pasti akan menjadi bangunan ikonik di Selanta!Dibandingkan dengan rancangan sebelumnya, bisa dibilang perbedaannya bagaikan langit dan bumi.Para pejabat pun tercengang, mulut mereka menganga lebar.Rosie tersenyum lembut dan berkata, "Ini rancangan yang dipesan oleh Bahtera Konstruksi dengan biaya sepuluh

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 45

    Luna masuk dan tersenyum tipis kepada Rosie.Wajah Rosie pun memerah, dia batuk pelan dan berkata, "Gambar rencananya sudah ada, jadi selanjutnya bagaimana?"Radit mengembuskan napas panjang, perasaannya yang bergejolak perlahan mereda. Dia berkata, "Saatnya keluarkan kartu as kita. Besok kita adakan konferensi pers, perlihatkan rancangannya, dan tekankan bahwa semua biaya pembangunan ditanggung oleh Bahtera Konstruksi. Setelah konferensi pers, semua opini negatif akan mereda, dan selanjutnya akan berjalan lancar!""Ya!"Rosie setuju, lalu mereka mendiskusikan beberapa detail lagi sebelum Radit pergi.Dia tidak berani berlama-lama di sana. Luna tidak bisa diandalkan, dan dia sendiri cacat. Dia harus waspada hadapan Rosie, tidak boleh ada kesempatan untuk berdua saja.Setelah keduanya pergi, Rosie buru-buru berlari ke ruang istirahat di dalam kantor.Dia mengingat kejadian tadi dan menunduk malu-malu. "Pantas saja istrinya nggak mau melepaskannya ...."Tiba-tiba, dia terpikir sesuatu da

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status