Share

Bab 5

Penulis: Aldo Kapak
"Hah? Kamu malah merasa jadi korban? Aku yang lebih sedih! Hari ini hari jadi pernikahan kita, tapi kamu malah kencan dengan pria itu. Pernahkah kamu pikirkan perasaanku?"

Radit juga merasa frustrasi, jadi dia mencurahkan isi hatinya.

Lilian terkejut. Dia melihat kemarahan suaminya dan merasakan kesedihan dalam hatinya. Air matanya mengalir, dan dengan bibir cemberut dia bertanya, "Jadi, apa kamu mencintaiku?"

"Menurutmu?" Radit mendengus.

Lilian menangis sambil tertawa. "Sayang, aku mencintaimu!"

Satu jam kemudian, Lilian bersandar di kepala tempat tidur, berkata dengan manja, "Sayang, aku lapar."

Radit beristirahat sejenak dan memulihkan diri. Dia mengangguk dan keluar dari kamar untuk menyiapkan makanan.

Melihat punggung kekarnya keluar melewati pintu, tatapan Lilian menjadi rumit.

Orang bilang pernikahan itu seperti memakai sepatu. Hanya diri sendiri yang tahu apakah pas atau tidak.

Lilian tahu bahwa dalam banyak hal, Radit adalah sepatu yang paling pas untuknya. Lembut, perhatian, dan peka terhadap hal kecil.

Bisa memenuhi semua fantasi cintanya.

Tapi, hidup tidak hanya tentang cinta saja.

Tekanan yang dia rasakan sangat besar. Dari keluarga, orang tua ....

Ah!

Hanya saja, dia tidak menyangka suaminya ternyata memiliki prinsip kesetiaan yang begitu kaku. Jika Radit tahu tentang hal-hal itu ....

Memikirkannya saja, Lilian bergidik ringan dan mengambil keputusan.

Ada hal-hal yang harus disimpan di dalam hati, bahkan sampai mati pun tidak boleh diketahui suaminya.

Setengah jam kemudian.

Setelah kenyang makan dan minum, Lilian bersandar di pelukan Radit, malas-malasan dan tidak ingin bicara.

Radit berkata, "Sayang, ayo kita punya anak."

Setahun lagi, dia akan berusia 30 tahun. Sementara di pedesaan, anak-anak dari para pria seumurannya sudah masuk sekolah.

"Sayang, tunggu dulu dua tahun lagi. Sekarang masih banyak urusan. Bahkan kalau kita punya anak, kita nggak akan bisa merawatnya dengan tenang. Tunggu sampai urusan perusahaan beres dulu, ya?" balas Lilian tidak ragu.

Setelah mendengarkan, mata Radit meredup dan baru berbicara setelah keheningan sejenak.

"Tidurlah."

...

Di tempat lain.

Di sebuah vila mewah.

Victor bersandar di sofa, wajahnya dipenuhi amarah.

Seorang gadis muda bergaun emas panjang dengan wajah bulat dan pipi sedikit berisi tengah memijatnya dengan lembut. "Victor, pijatannya sudah pas?" tanyanya dengan suara halus.

"Hmm."

Victor mengangguk, wajahnya tetap muram.

Perutnya saat ini masih terasa sakit berdenyut-denyut. Tendangan itu terlalu keras, dia hingga kini masih belum pulih sepenuhnya.

"Apa perlu lapor polisi?"

Dari kursi di sampingnya, seorang pria yang memiliki bekas luka di wajah berkata dengan nada acuh tak acuh.

Victor menggeleng, menggertakkan gigi. "Lapor polisi? Paling-paling ditahan beberapa hari. Terlalu ringan. Kutu buku saja berani macam-macam denganku? Dia pasti cari mati. Cari mati!"

Kilatan tajam muncul di mata pria yang penuh bekas luka itu. "Jadi maksudmu ... kita habisi dia?"

"Nggak, dia kan menantu Keluarga Sudibyo, dan Lilian kelihatannya sayang padanya. Membunuhnya akan menimbulkan masalah besar."

Victor langsung menolaknya tanpa pikir panjang.

"Jadi, kita biarkan begitu saja?"

"Hahaha, mana mungkin! Kamu atur saja, buat kedua kakinya lumpuh. Biar dia cacat, lalu aku rebut istrinya. Aku akan membuatnya hidup dalam penderitaan!"

"Siap."

...

Saat Radit bangun pagi itu, istrinya sudah pergi.

Dia melihat ponselnya dan menyadari alarm yang dia pasang telah dimatikan.

Tentu saja, pasti Lilian yang mematikannya.

Dia membuka ponselnya dan menemukan pesan dari istrinya.

[Sayang, tidurlah lebih lama hari ini, aku pergi kerja sendiri!]

Radit tersenyum sambil menggelengkan kepala. Biasanya, dialah yang bangun lebih awal, menyiapkan sarapan, lalu membangunkan istrinya.

Dia jarang bisa bangun kesiangan. Dia berbaring di tempat tidur sebentar lagi sebelum bangkit, mandi, lalu ke dapur memasak semangkuk mi. Sarapan sambil menonton video.

Saat keluar rumah, dia melihat mobilnya masih ada di garasi.

Sepertinya, mobil istrinya sudah selesai diperbaiki.

Dia melirik jam tangan, baru saja lewat pukul 8. Dia menyalakan mobil dan melaju perlahan menuju Universitas Selanta.

Universitas Selanta terletak di sebelah timur kota. Kurang dari 20 menit, Radit sudah sampai di kampus.

Dengan rute yang sudah hafal di luar kepala, dia tiba di perpustakaan. Seseorang memanggil namanya saat dia sedang mengunci mobil.

"Pak Radit!"

Suara yang ceria dan penuh kejutan terdengar tidak jauh dari sana.

Radit mendongak dan tersenyum. "Rosie, lama nggak ketemu! Kamu sudah lulus, kenapa datang ke kampus?"

Seorang gadis bertubuh tinggi mendekat, dengan penampilan muda dan menawan serta wajah mungil dan cantik. Namanya Rosie Halim. Beberapa tahun lalu saat kuliah di Universitas Selanta, dia sering menghabiskan waktunya di perpustakaan.

"Tentu saja khusus untuk menemuimu! Sudah setahun nggak ketemu, Pak Radit masih sekuat dulu!"

Bibir Rosie menyunggingkan senyum. Dia mengangkat kepalan tangan kecilnya dan meninju dada Radit dengan lembut. Pipinya sedikit memerah saat mengatakan itu.

Saat itu bulan Juni. Radit mengenakan kaus lengan pendek berwarna hitam, dadanya membusung dan otot perutnya kencang, jelas memperlihatkan tubuh yang atletik.

Rosie sangat cantik, dengan tubuh yang montok dan seksi, sangat menarik perhatian, tapi masih kalah sedikit dibandingkan Lilian. Radit tertawa dan berkata, "Ayo masuk, kita ngobrol di dalam."

Keduanya berjalan berurutan masuk ke perpustakaan. Dua orang tampan dan cantik itu sangat menarik perhatian, terutama Radit, yang menarik banyak pandangan malu-malu dari para gadis.

Faktanya, sejak dia menjadi pustakawan di sana, jumlah gadis yang datang ke perpustakaan meningkat hingga 50 persen.

"Wah, Pak Radit masih jadi idola semua orang. Pasti dapat banyak surat cinta, ya!"

Setelah menemukan tempat yang sepi, keduanya duduk berhadapan, dan Rosie berkata dengan nada bercanda.

Radit mendesah. "Surat cinta itu nggak ada apa-apanya. Beberapa hari yang lalu, ada anak semester dua memasang 999 mawar di depan pintu perpustakaan dan menyatakan cinta di depan umum!"

"Wah, ada juga yang begitu! Terus, kelanjutannya?"

"Apa lagi yang bisa terjadi? Dia lari sambil menangis. Aku kena getahnya, harus bersih-bersih."

"Hahaha, nggak salah lagi. Cuma kamu yang bisa begitu!"

Rosie tertawa membayangkan adegan itu, Radit pun tertawa sambil menggelengkan kepala.

"Lagi pula, dengan pengetahuanmu, kenapa harus terkurung di perpustakaan ini? Ayo, mulai bisnis sendiri. Aku pasti investasi. Pasar saham dan keuangan itu medan pertempuranmu yang sebenarnya!" kata Rosie lagi ketika melihat Radit tidak bicara.

Suaranya tulus dan perasaannya pun asli.

Radit adalah doktor ilmu ekonomi. Setelah meraih gelar, dia tetap tenggelam dalam lautan buku. Kedalaman pengetahuannya sudah melampaui jangkauan orang biasa.

Saat Rosie masih mahasiswa semester satu, dia masuk perpustakaan, mengenal Radit, dan langsung terpesona oleh pengetahuannya.

Radit menggelengkan kepala sambil tertawa. "Kamu nggak mengerti."

Rosie menebak-nebak. "Apa mungkin ... karena istrimu?"

Radit terdiam.

"Huh, sudah kuduga!"

Rosie mendecakkan lidah, hatinya entah kenapa merasa pahit.

"Cerita tentang dirimu saja. Kamu pergi ke mana habis lulus?" Radit tersenyum dan membuka pembicaraan, mengalihkan topik.

Sebenarnya, setelah kejadian kemarin, Radit sudah memiliki beberapa ide lain. Dia masih mempertimbangkan dan memikirkannya.

Lilian sudah sangat sibuk. Waktu mereka bertemu pun terbatas. Jika dia mulai berbisnis, waktu berduaan mereka jelas akan semakin berkurang, yang pasti akan memengaruhi hubungan mereka ....

Dia memiliki kemampuan untuk menghasilkan uang, tapi dia tidak terlalu ingin melakukannya.

Rosie mengambil sebuah buku secara acak dari rak di sampingnya, meletakkannya di depannya, dan berkata dengan acuh tak acuh, "Aku disuruh Ayah belajar di kantor pusat satu tahun ini. Barusan ini pulang dan mulai bisnis sendiri. Aku mengambil alih perusahaan konstruksi."

Saat masih sekolah, Radit sudah tahu bahwa latar belakang keluarga Rosie tidak biasa. Tapi, dia tidak berniat mengorek-ngorek. Dia mengangguk dan bertanya, "Industri konstruksi itu nggak gampang. Perusahaannya cuma cangkang atau yang sudah punya proyek?"

Rosie tampak bersemangat dan tersenyum lebar. "Tentu saja yang sudah punya proyek! Kami sedang membangun Panti Jompo Asri dan hampir selesai!"

"Panti Jompo Asri? Proyek pemerintah, 'kan? Potensinya memang besar!"

Radit bergumam kagum, bisa memenangkan tender proyek pemerintah adalah pencapaian yang hebat.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 50

    Pukul 10 pagi, Radit tiba di depan kantor Bahtera Konstruksi.Begitu masuk, pemandangannya menakjubkan. Para karyawan tampak sangat bersemangat, bekerja dengan giat.Area kantor dipenuhi suara ketikan keyboard.Tampaknya, pernyataan Rosie dalam konferensi pers itu sangat efektif dan menginspirasi.Radit menggelengkan kepala, berpikir dalam hati, ‘Kalian belum tahu, bos kalian sebenarnya sudah kehabisan uang. Semua itu cuma janji-janji kosong.’‘Tapi, selama aku ada di sini, aku akan mengubah janji-janji kosong itu menjadi kenyataan.’Setelah masuk ke ruang kantor Rosie, gadis itu berseru gembira, "Pak Radit!"Radit mengangguk dan bertanya, "Bagaimana situasinya sekarang?"Rosie menggelengkan kepala. "Kurang optimis. Di rekening perusahaan cuma ada 20 miliar, dan aku sendiri punya 40 miliar. Ditotal pun cuma 60 miliar. Belum ada apa-apanya sama sekali, nggak cukup untuk memulai proyek."Bahkan chef terhebat pun tidak bisa memasak tanpa nasi. Sebagus apa pun rancangan arsitekturnya, tida

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 49

    Sambil berbicara, Lilian mengulurkan jari-jarinya yang halus dan menggambar lingkaran-lingkaran di dada Radit.Radit tidak bergeming. Dia hanya mengeluarkan kotak itu dan memperlihatkannya. "Lihat, ini gaun tidurmu bukan? Aku dapat paket ini tadi siang."Lilian merasa bingung. Dia membuka kotak itu, dan ekspresinya seketika berubah. Dia langsung membuangnya ke tempat sampah sambil berkata, "Siapa kirim barang begitu? Menjijikkan.""Harusnya aku yang tanya. Itu kan gaun tidurmu?" Radit menanyai dengan nada menuduh.Sikapnya membuat Lilian marah. Sambil menuding tempat sampah, dia berkata, "Apa maksudmu? Kamu nggak bisa lihat jebakan segampang itu? Itu cuma baju bekas, bahkan belum tentu milikku, tapi kamu langsung curiga dan ingin memancingku bicara. Aku bahkan sudah lupa gaun tidur ini, mungkin sudah kubuang sejak lama. Kalau nanti orang lain mengirim celana dalam padamu, apa kamu akan menceraikanku? Radit, kamu benar-benar membuatku kecewa!"Radit mengibaskan tangannya. "Jangan marah.

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 48

    Pengirimnya tidak diketahui, membuat Radit merasa bingung. Dia tidak membeli apa-apa.Tanpa berpikir lebih lama lagi, dia langsung membuka kotak itu dan menemukan sebuah gaun tidur sutra yang kusut, dengan secarik kertas di dalamnya.[Gaun tidur Lilian nggak sengaja tertinggal di tempatku. Tolong bantu kembalikan padanya, terima kasih.]Mata Radit berkedut, wajahnya mendung.Ini adalah gaun tidur berwarna merah muda, bahannya lembut dan sangat halus, tapi sekarang dipenuhi noda-noda yang mengeras, membuat gaun tidur itu kusut dan berkerut-kerut.Ini gaun tidur milik istrinya, tentu saja dia tahu.Karena istrinya dulu sangat menyukai gaun tidur tanpa lengan ini. Radit juga suka melihatnya mengenakan ini, membungkus tubuhnya yang montok, sangat cantik dan seksi.Namun, dia sudah lama tidak pernah melihat istrinya mengenakan gaun tidur ini.Tak disangka, hari ini muncul lagi."Awas saja kalau aku tahu siapa orangnya!" Radit mendesis tajam.Kemungkinan besar bukan Victor, karena istrinya k

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 47

    Seseorang seperti ayah Rosie seharusnya tidak berpikiran sempit, bukan?Seorang tokoh besar di dunia bisnis seharusnya dapat melihat keuntungan di balik ini, apalagi gambar desainnya sudah diberikan kepadanya.Dia pun berkata, "Oke, aku mengerti. Soal uang, kita tunda dulu. Hari ini istirahat, besok kita bicarakan lagi."Dia menutup telepon, masih benar-benar bingung.Jika proyek ini berjalan lancar dan hasil rancangan dapat ditampilkan dengan sempurna, manfaatnya bagi Bahtera Konstruksi tentu saja sangat besar.Bahkan bisa menjadi tolok ukur industri konstruksi.Karena ini adalah proyek yang akan mengangkat nama Selanta, bahkan gubernur dan pejabat pemerintah tidak akan berpandangan sempit.Nantinya, Bahtera Konstruksi akan jadi terkenal. Semua orang tahu akan tahu perusahaan ini hanya mengerjakan bangunan berkualitas tinggi. Dengan begitu, proyek-proyek yang diterima di masa depan pasti juga berkualitas tinggi. Menghasilkan uang pun akan menjadi hal yang mudah.Empat ratus miliar ini

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 46

    "Ketiga, kapan proyek ini akan selesai?""Ini adalah satu hal yang sangat saya sesalkan. Karena Bahtera Konstruksi mengutamakan kualitas, Panti Jompo Asri tidak dapat diresmikan tepat waktu. Saya akan bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang timbul akibat keterlambatan ini. Mari kita lihat bersama ...."Sambil berbicara, Rosie menekan tombol remot di tangannya.Di layar besar di belakangnya, muncul gambar-gambar visualisasi desain Panti Jompo Asri setelah selesai dibangun nanti.Seketika itu juga, suasana menjadi riuh.Seiring bergulirnya gambar-gambar tersebut, para hadirin semakin terkejut, bahkan terpesona!Sebuah pikiran muncul di benak mereka. Jika selesai dibangun, pasti akan menjadi bangunan ikonik di Selanta!Dibandingkan dengan rancangan sebelumnya, bisa dibilang perbedaannya bagaikan langit dan bumi.Para pejabat pun tercengang, mulut mereka menganga lebar.Rosie tersenyum lembut dan berkata, "Ini rancangan yang dipesan oleh Bahtera Konstruksi dengan biaya sepuluh

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 45

    Luna masuk dan tersenyum tipis kepada Rosie.Wajah Rosie pun memerah, dia batuk pelan dan berkata, "Gambar rencananya sudah ada, jadi selanjutnya bagaimana?"Radit mengembuskan napas panjang, perasaannya yang bergejolak perlahan mereda. Dia berkata, "Saatnya keluarkan kartu as kita. Besok kita adakan konferensi pers, perlihatkan rancangannya, dan tekankan bahwa semua biaya pembangunan ditanggung oleh Bahtera Konstruksi. Setelah konferensi pers, semua opini negatif akan mereda, dan selanjutnya akan berjalan lancar!""Ya!"Rosie setuju, lalu mereka mendiskusikan beberapa detail lagi sebelum Radit pergi.Dia tidak berani berlama-lama di sana. Luna tidak bisa diandalkan, dan dia sendiri cacat. Dia harus waspada hadapan Rosie, tidak boleh ada kesempatan untuk berdua saja.Setelah keduanya pergi, Rosie buru-buru berlari ke ruang istirahat di dalam kantor.Dia mengingat kejadian tadi dan menunduk malu-malu. "Pantas saja istrinya nggak mau melepaskannya ...."Tiba-tiba, dia terpikir sesuatu da

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status