Share

Bab 3

Author: Aldo Kapak
Lilian duduk di kursi penumpang depan, menoleh menatap Radit.

Dari sudut pandang ini, dia bisa melihat sisi wajahnya yang tegas, dan samar-samar bisa merasakan kemarahannya.

Lilian mengerutkan kening, merasa tidak senang. Apa perlu memperbesar masalah sekecil ini?

Dia tidak menyangka Radit pendendam dan berpikiran sempit. Dia benar-benar salah menilainya!

Keduanya tetap diam sepanjang perjalanan, menciptakan suasana muram di dalam mobil. Setelah lebih dari sepuluh menit, mereka berhenti di tempat parkir bawah tanah Griya Nirwana.

"Ayo masuk."

Radit berkata dengan nada dingin, berjalan lebih dulu menuju lift.

Rumah mereka berada di lantai 10, dengan dua unit apartemen per lantai, luasnya hampir 400 meter persegi.

Setelah memindai sidik jari dan membuka pintu, mereka masuk ke dalam. Saat itu, kemarahan Lilian sudah mencapai puncaknya.

Dia merasa sudah cukup memberi hormat kepada Radit. Dia hanya makan malam di luar bersama teman, tapi suaminya malah datang dan membuat keributan tanpa alasan, bahkan memukul temannya. Dan pada akhirnya, dia pun mengikuti suaminya pulang tanpa memedulikan luka temannya.

Memikirkan hal itu, Lilian mengerutkan kening. Saat masuk ke dalam rumah dan hendak berbicara, matanya tertuju pada meja makan setelah Radit menyalakan lampu.

Dia terdiam tercengang.

Bunga mawar, anggur merah, lilin!

Radit ... menyiapkan makan malam romantis?

Memangnya ada hari istimewa apa?

Dalam sekejap, Lilian menyadari bahwa hari ini ... hari jadi pernikahan mereka!

Rasa bersalah langsung membanjiri hatinya. Dia menarik napas dalam-dalam dan memaksakan senyuman manis di bibirnya. "Sayang! Maaf, aku nggak tahu ...."

Dia meminta maaf.

Dia memang salah, pergi makan malam dengan pria lain di hari sepenting ini.

Sayangnya, Radit memotongnya sebelum dia selesai bicara. "Cukup, kata-kata itu nggak ada gunanya."

Sambil memandang istrinya yang sangat cantik, Radit teringat kembali kejadian di pintu masuk hotel beberapa saat lalu, dan amarah yang tidak bisa dijelaskan membuncah di dalam dirinya.

Dia duduk dengan keras di sofa.

Menatap Lilian lekat-lekat. "Katakan padaku, sejak kapan? Sudah sejauh mana?

Lilian mengerutkan kening. "Apa maksudmu? Yang jelas kalau bicara."

Radit mencibir.

Klik.

Dia menyalakan sebatang rokok dan mengucapkan satu kata.

"Selingkuh!"

Lilian tiba-tiba membelalakkan mata, sangat marah. "Sembarangan! Kamu anggap apa aku? Aku cuma makan malam biasa, apa perlu kamu menuduhku begitu? Cepat minta maaf. Kalau nggak, aku nggak akan memaafkanmu!"

"Cuma makan malam biasa ?"

"Omong kosong. Kamu keterlaluan! Kamu harus minta maaf padaku! Dan kamu juga harus minta maaf padanya. Kamu memukulnya, masalah ini nggak mungkin selesai semudah itu."

"Kamu suruh aku minta maaf ke selingkuhanmu?"

Radit tertawa marah, jarinya menuding Lilian. "Aku nggak bisa. Aku nggak semurahan kamu!"

"Aah!"

Lilian merasa hampir gila. Suaminya seolah-olah berubah menjadi orang yang berbeda. Kelembutan dan ketenangan yang biasanya telah lenyap, digantikan oleh sikap dingin dan kejam.

Tanpa berpikir panjang, dia langsung menyahut, "Dia cuma rekan bisnis, cuma teman biasa. Nggak sekotor yang kamu bayangkan! Radit, kamu terlalu berlebihan! Dengar ya, aku nggak akan memaafkanmu! Kamu ... kamu ... kamu sudah keterlaluan!"

"Oh, begitu?"

Lilian marah, tapi Radit tidak peduli. Tidak punya keinginan untuk menenangkannya sama sekali. Dia hanya menatap dengan dingin, mengeluarkan ponselnya dan mengirimkan sebuah foto.

Lilian menggertakkan giginya dan mengeluarkan ponselnya. Setelah melihat foto itu dengan jelas, dia terkejut. Tangannya gemetar dan ponselnya terjatuh ke lantai.

"Ini yang kamu sebut rekan bisnis? Teman biasa?" tanya Radit dengan nada sinis.

Wajah Lilian memucat, bibirnya bergerak-gerak. "Bukan ... bukan seperti yang kamu pikirkan ...."

Melihat dia kehabisan kata-kata, Radit semakin marah. Dia menggertakkan giginya dan menggeram, "Bukan? Kalau begitu, katakan padaku, istri mana yang membohongi suaminya, diam-diam menggandeng tangan pria lain dan pergi kencan dengan pria itu? Biar kuberi tahu, aku sebelum ini selalu percaya tanpa syarat padamu. Aku suka baca buku, kamu suka menghasilkan uang, jadi aku jamin kamu nggak perlu memikirkan yang lain-lain lagi. Secapek apa pun kamu, selalu ada rumah yang hangat menantimu!"

"Tapi, jangan pikir aku mudah ditindas! Ini pengkhianatan, pengkhianatan besar bagiku!"

"Kamu malah suruh aku minta maaf padanya? Jangankan menendangnya, membunuhnya pun aku lebih sukarela!"

Lilian belum pernah melihat Radit sebegitu marahnya. Dia gemetar dan segera berkata, "Jangan berpikir yang aneh-aneh. Aku nggak mengkhianatimu. Aku nggak akan pernah mengkhianatimu."

"Dia Victor Wijaya, putra sulung keluarga pemilik perusahaan Kencana Konstruksi. Aku sedang membicarakan proyek kerja sama dengannya! Ayahnya ketua dewan direksi Kencana Konstruksi, dan Victor mendirikan perusahaan sendiri. Dengan dukungan Kencana Konstruksi, dia pasti bisa menghasilkan uang. Aku cuma mau ikut investasi di proyeknya untuk mencari keuntungan, jadi waktu dia mengajakku makan bersama, aku nggak bisa menolaknya. Jangan terlalu dipikirkan ...."

Dia berbicara cepat, menjelaskan dengan wajah panik.

Foto itu benar-benar menghancurkan ketenangannya.

Radit mendengarkan penjelasan istrinya. Bukannya merasa lega, dia justru tertawa sinis. "Oh, anak orang kaya? Kalau begitu, tunggu apa lagi? Cepat bercerai dariku, biar kalian berdua bisa hidup bahagia selamanya."

"Kamu gila, ya?" Kata-kata sinis Radit juga menyulur amarah Lilian. Dia berteriak, "Kamu mau begitu saja menyerahkan istrimu ke orang lain? Kalau memang aku cari orang kaya, apa aku akan memilihmu dulu? Kamu cuma berkhayal dan membayangkan semuanya. Aku sudah bilang, aku nggak akan mengkhianatimu!"

Radit sangat kecewa. Menurutnya, istrinya hanya mencari-cari alasan.

Tidak ada istri yang bisa sembarangan menggandeng tangan pria lain. Itu adalah kemesraan yang hanya dilakukan pasangan kekasih.

Dia menghela napas, berdiri dan berjalan menuju pintu, berkata dengan tenang, "Ya sudahlah, nggak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kita cerai saja."

Radit tidak bisa memberi toleransi pada sedikit pun noda dalam hubungan. Sekali kepercayaan itu ternoda, maka baginya semua telah berakhir tanpa ada jalan kembali.

Jika istrinya tidak bisa menghilangkan rasa curiganya, mereka berdua tidak bisa hidup bersama lagi.

"A-apa kamu bilang? Kamu mau cerai cuma karena masalah sepele begini?"

Lilian tidak percaya dengan telinganya sendiri. Dia sama sekali tidak menyangka kata-kata meminta cerai akan keluar dari mulut Radit.

Menurutnya, sekalipun harus bercerai, seharusnya dia yang mengatakannya.

Radit tidak menghiraukannya, hanya meliriknya dengan dingin, berjalan menuju pintu. "Aku nggak akan kembali lagi malam ini. Besok pagi jam 9, kita ke Kantor Catatan Sipil untuk mengurus perceraian."

Lilian benar-benar panik. Dia memiliki firasat bahwa jika dia membiarkan Radit keluar, pernikahan mereka mungkin akan hancur.

Mulai sekarang, dia akan hidup sendirian, tanpa ada yang merawatnya lagi. Dan saat pulang ke rumah, yang menantinya hanyalah tempat tidur yang dingin ....

Rasa sakit yang menyesakkan tiba-tiba muncul di hatinya, dan dia refleks menggigil. Tanpa berpikir panjang, dia meraih lengan Radit. "Jangan pergi!"

Radit menunduk, mengerutkan kening, dan membentak, "Lepas."

Lilian menatapnya dengan keras kepala. "Aku nggak akan lepas. Ini rumahmu, kamu nggak boleh pergi ke mana pun."

"Kamu nggak bisa menghentikanku."

Radit sudah bertekad untuk pergi, Tanpa ragu-ragu, dia mengayunkan lengannya, berusaha melepaskan diri dari Lilian.

Tenaganya sangat kuat, tapi Lilian menggunakan kedua tangan, mencengkeramnya dengan erat hingga jari-jarinya memutih, sehingga Radit tidak bisa melepaskan diri dengan mudah.

Radit merasa kesal dan tiba-tiba berbalik, tanpa sadar mengayunkan tangan satunya.

Plak!

Keduanya tercengang sejenak.

Bekas merah segera muncul di wajah putih Lilian.

Beberapa saat kemudian, Radit menarik napas dalam-dalam, lalu berkata dengan serius, "Jangan halangi aku."

Setelah itu, dia berbalik dan membuka pintu lebar-lebar.

"Radit! Berhenti!"

"Kalau kamu pergi dari rumah ini malam ini, kamu pasti akan menyesal."

"Kamu ingin penjelasan, 'kan? Aku jelaskan sekarang!"

Radit berbalik dan menatap Lilian lagi.

Tamparan itu membuat Lilian tenang. Dia tahu dia harus mengungkapkan kebenarannya sekarang.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 50

    Pukul 10 pagi, Radit tiba di depan kantor Bahtera Konstruksi.Begitu masuk, pemandangannya menakjubkan. Para karyawan tampak sangat bersemangat, bekerja dengan giat.Area kantor dipenuhi suara ketikan keyboard.Tampaknya, pernyataan Rosie dalam konferensi pers itu sangat efektif dan menginspirasi.Radit menggelengkan kepala, berpikir dalam hati, ‘Kalian belum tahu, bos kalian sebenarnya sudah kehabisan uang. Semua itu cuma janji-janji kosong.’‘Tapi, selama aku ada di sini, aku akan mengubah janji-janji kosong itu menjadi kenyataan.’Setelah masuk ke ruang kantor Rosie, gadis itu berseru gembira, "Pak Radit!"Radit mengangguk dan bertanya, "Bagaimana situasinya sekarang?"Rosie menggelengkan kepala. "Kurang optimis. Di rekening perusahaan cuma ada 20 miliar, dan aku sendiri punya 40 miliar. Ditotal pun cuma 60 miliar. Belum ada apa-apanya sama sekali, nggak cukup untuk memulai proyek."Bahkan chef terhebat pun tidak bisa memasak tanpa nasi. Sebagus apa pun rancangan arsitekturnya, tida

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 49

    Sambil berbicara, Lilian mengulurkan jari-jarinya yang halus dan menggambar lingkaran-lingkaran di dada Radit.Radit tidak bergeming. Dia hanya mengeluarkan kotak itu dan memperlihatkannya. "Lihat, ini gaun tidurmu bukan? Aku dapat paket ini tadi siang."Lilian merasa bingung. Dia membuka kotak itu, dan ekspresinya seketika berubah. Dia langsung membuangnya ke tempat sampah sambil berkata, "Siapa kirim barang begitu? Menjijikkan.""Harusnya aku yang tanya. Itu kan gaun tidurmu?" Radit menanyai dengan nada menuduh.Sikapnya membuat Lilian marah. Sambil menuding tempat sampah, dia berkata, "Apa maksudmu? Kamu nggak bisa lihat jebakan segampang itu? Itu cuma baju bekas, bahkan belum tentu milikku, tapi kamu langsung curiga dan ingin memancingku bicara. Aku bahkan sudah lupa gaun tidur ini, mungkin sudah kubuang sejak lama. Kalau nanti orang lain mengirim celana dalam padamu, apa kamu akan menceraikanku? Radit, kamu benar-benar membuatku kecewa!"Radit mengibaskan tangannya. "Jangan marah.

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 48

    Pengirimnya tidak diketahui, membuat Radit merasa bingung. Dia tidak membeli apa-apa.Tanpa berpikir lebih lama lagi, dia langsung membuka kotak itu dan menemukan sebuah gaun tidur sutra yang kusut, dengan secarik kertas di dalamnya.[Gaun tidur Lilian nggak sengaja tertinggal di tempatku. Tolong bantu kembalikan padanya, terima kasih.]Mata Radit berkedut, wajahnya mendung.Ini adalah gaun tidur berwarna merah muda, bahannya lembut dan sangat halus, tapi sekarang dipenuhi noda-noda yang mengeras, membuat gaun tidur itu kusut dan berkerut-kerut.Ini gaun tidur milik istrinya, tentu saja dia tahu.Karena istrinya dulu sangat menyukai gaun tidur tanpa lengan ini. Radit juga suka melihatnya mengenakan ini, membungkus tubuhnya yang montok, sangat cantik dan seksi.Namun, dia sudah lama tidak pernah melihat istrinya mengenakan gaun tidur ini.Tak disangka, hari ini muncul lagi."Awas saja kalau aku tahu siapa orangnya!" Radit mendesis tajam.Kemungkinan besar bukan Victor, karena istrinya k

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 47

    Seseorang seperti ayah Rosie seharusnya tidak berpikiran sempit, bukan?Seorang tokoh besar di dunia bisnis seharusnya dapat melihat keuntungan di balik ini, apalagi gambar desainnya sudah diberikan kepadanya.Dia pun berkata, "Oke, aku mengerti. Soal uang, kita tunda dulu. Hari ini istirahat, besok kita bicarakan lagi."Dia menutup telepon, masih benar-benar bingung.Jika proyek ini berjalan lancar dan hasil rancangan dapat ditampilkan dengan sempurna, manfaatnya bagi Bahtera Konstruksi tentu saja sangat besar.Bahkan bisa menjadi tolok ukur industri konstruksi.Karena ini adalah proyek yang akan mengangkat nama Selanta, bahkan gubernur dan pejabat pemerintah tidak akan berpandangan sempit.Nantinya, Bahtera Konstruksi akan jadi terkenal. Semua orang tahu akan tahu perusahaan ini hanya mengerjakan bangunan berkualitas tinggi. Dengan begitu, proyek-proyek yang diterima di masa depan pasti juga berkualitas tinggi. Menghasilkan uang pun akan menjadi hal yang mudah.Empat ratus miliar ini

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 46

    "Ketiga, kapan proyek ini akan selesai?""Ini adalah satu hal yang sangat saya sesalkan. Karena Bahtera Konstruksi mengutamakan kualitas, Panti Jompo Asri tidak dapat diresmikan tepat waktu. Saya akan bertanggung jawab penuh atas segala konsekuensi yang timbul akibat keterlambatan ini. Mari kita lihat bersama ...."Sambil berbicara, Rosie menekan tombol remot di tangannya.Di layar besar di belakangnya, muncul gambar-gambar visualisasi desain Panti Jompo Asri setelah selesai dibangun nanti.Seketika itu juga, suasana menjadi riuh.Seiring bergulirnya gambar-gambar tersebut, para hadirin semakin terkejut, bahkan terpesona!Sebuah pikiran muncul di benak mereka. Jika selesai dibangun, pasti akan menjadi bangunan ikonik di Selanta!Dibandingkan dengan rancangan sebelumnya, bisa dibilang perbedaannya bagaikan langit dan bumi.Para pejabat pun tercengang, mulut mereka menganga lebar.Rosie tersenyum lembut dan berkata, "Ini rancangan yang dipesan oleh Bahtera Konstruksi dengan biaya sepuluh

  • Setelah Cerai, Aku Jadi Raja Bisnis   Bab 45

    Luna masuk dan tersenyum tipis kepada Rosie.Wajah Rosie pun memerah, dia batuk pelan dan berkata, "Gambar rencananya sudah ada, jadi selanjutnya bagaimana?"Radit mengembuskan napas panjang, perasaannya yang bergejolak perlahan mereda. Dia berkata, "Saatnya keluarkan kartu as kita. Besok kita adakan konferensi pers, perlihatkan rancangannya, dan tekankan bahwa semua biaya pembangunan ditanggung oleh Bahtera Konstruksi. Setelah konferensi pers, semua opini negatif akan mereda, dan selanjutnya akan berjalan lancar!""Ya!"Rosie setuju, lalu mereka mendiskusikan beberapa detail lagi sebelum Radit pergi.Dia tidak berani berlama-lama di sana. Luna tidak bisa diandalkan, dan dia sendiri cacat. Dia harus waspada hadapan Rosie, tidak boleh ada kesempatan untuk berdua saja.Setelah keduanya pergi, Rosie buru-buru berlari ke ruang istirahat di dalam kantor.Dia mengingat kejadian tadi dan menunduk malu-malu. "Pantas saja istrinya nggak mau melepaskannya ...."Tiba-tiba, dia terpikir sesuatu da

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status