MasukRey mengantar Lisa ke rumahnya setelah Lisa menghentikan tangisannya. Dia menghentikan mobilnya di depan gerbang rumah Lisa.
Rey menatap Lisa dengan lebih baik. Bukan lagi tatapan dingin seolah tak peduli. “Apa yang membuatmu sangat ingin bercerai dengan suamimu? Bukankah selama ini kau hidup nyaman dengannya?” tanyanya sesaat sebelum Lisa membuka pintu mobil. Lisa balas menatapnya, matanya masih terlihat bengkak dan tampak lelah. Dia hanya diam, tak menjawab pertanyaan Rey. Seolah Lisa sudah tak memiliki energi untuk menjawabnya. Rey menghela nafasnya, tak ingin mendesak Lisa. “Baiklah. Kau tak perlu menjawabnya. Namun kau juga harus tahu, Saka bukan orang yang bisa dijatuhkan dengan mudah. Bertindak gegabah hanya akan melukai dirimu sendiri.” Rey mengatakannya dengan serius, penuh empati. Dia menyerahkan bungkusan plastik berisi makanan kepada Lisa. “Untukmu. Kau melewatkan makan siang dan makan malam,” ucapnya sambil tersenyum tipis. Lisa menerimanya tanpa banyak bicara, dia hanya mengangguk kecil. Energinya sudah habis untuk menangis. “Terima kasih,” ucapnya pelan. Dia membuka pintu mobil, membungkuk sedikit sebelum meninggalkan Rey. Saka belum pulang ketika Lisa sampai di rumah. Dia baru sadar, selama ini Saka memang sering pulang larut malam. Dulu dia mengira pekerjaan Saka memang berat dan mengharuskannya untuk lembur. Kini Lisa tahu, mungkin Saka sedang bersama Rika saat ini. Lisa melangkah menuju pantry, terduduk dengan lesu. Diletakkannya bungkusan makanan dari Rey di meja pantry begitu saja. Nafsu makannya sudah hilang sejak tadi. Lisa membuka lagi berkas curiannya di ponsel. Menghela nafas panjang. Berkas itu berisi bukti perbuatan curang Saka. Tetapi informasinya masih acak dan perlu diselidiki lebih dalam. Lisa berusaha memutar otaknya. Apa yang bisa dia lakukan dengan berkas itu di tangannya? Sebuah ide melintas di benaknya. Melaporkannya kepada Kakek? Lisa tersenyum menyeringai. Mengapa tidak? *** Wajah Ketua Adhitama tampak gusar ketika melihat berkas yang Lisa serahkan. Dia mengerutkan dahinya, rahangnya mengeras. “Apa maksudmu dengan semua ini, Lisa?” Lisa tersenyum, menatap wajah Ketua Adhitama Group dengan keyakinan penuh. “Dua bulan, Kek. Beri Lisa kesempatan untuk membongkar semuanya. Lisa yakin, jika kita tidak menghentikannya sekarang, bukan hal yang mustahil Adhitama Group akan runtuh karena keserakahan Saka. Sebagai gantinya, ijinkan Lisa bercerai dengan Saka. Lisa berjanji tidak akan menimbulkan kerugian dengan perceraian kami” Ketua Adhitama terdiam cukup lama, menatap tajam ke arah Lisa. “Kamu mau bercerai dengan Saka? Kenapa?” Lisa terdiam sejenak, menundukkan kepalanya, dan menarik nafas dalam sebelum menjawab. “Lisa menangkap basah perselingkuhan Saka, Kek. Lisa melihatnya dengan mata kepala Lisa sendiri. Maafkan Lisa, tetapi Lisa tidak bisa menahannya, Kek. Lisa tidak bisa menerima pengkhianatan ini.” Ketua Adhitama semakin mengerutkan dahi. Jemarinya mengepal, dia juga marah sekaligus terkejut mendengar kelakuan bodoh cucunya itu. Di sisi lain, dia juga merasa kasihan terhadap Lisa. Gadis itu terlalu baik untuk mendapat perlakuan yang tidak adil. Keluarga Wijaya adalah sekutu bisnis yang sangat kuat dan menguntungkan, dan Lisa adalah aset mereka yang paling berharga. Dengan bodohnya Saka Adhitama malah mengkhianati keluarga mereka. Saka bahkan tidak sadar kecerobohan dan keserakahannya akan menghancurkan perusahaan. “Saka tidak bodoh, Lisa,” ucap Ketua Adhitama dengan suara berat, mulai menimbang-nimbang. “Dia tidak akan setuju menceraikanmu begitu saja. Dia akan curiga begitu kamu mencampuri urusan perusahaan.” Lisa tersenyum tipis. “Lisa akan melakukannya dengan hati-hati, Kek. Selain itu, Saka tidak mungkin menolak perintah Kakek.” Ketua Adhitama mengetuk-ngetukan jarinya di atas meja, berpikir keras sebelum akhirnya berdehem pelan. Menyetujui permintaan Lisa. "Adhitama Gallery. Kau boleh menempati posisi CEO. Kau harus bersiap, bisa dipastikan Saka akan mengamuk saat mengetahuinya.” Mendengar hal itu, jantung Lisa berdegup kencang. Bibirnya menyunggingkan senyum lebar. Dia mengengguk cepat. “Itu tempat yang sempurna, Kek. Tentang Saka, Lisa sudah bersiap, bahkan jika dia berniat membunuh Lisa sekalipun.” “Baiklah. Aku akan mengeluarkan surat keputusan pengangkatanmu sebagai CEO Adhitama Gallery besok pagi. Selidiki apa yang sebenarnya sedang direncanakan Saka tanpa menimbulkan kegaduhan, Lisa. Tentang perceraianmu, akan kupertimbangkan setelah urusan ini selesai. Tapi ingat, jika kamu gagal dan memicu kekacauan di dalam grup, kamu harus bertanggung jawab dan menerima akibatnya.” “Lisa mengerti, Kek. Terima kasih atas kepercayaannya.” Lisa membungkuk hormat, matanya berbinar antusias. *** Braak! Pintu ruang kerja Lisa dibuka dengan kasar dari luar. Benar saja. Belum sempat Lisa duduk di kursinya, Saka sudah datang dan bersiap mengamuk. Dia menerobos masuk ke ruang kerja Lisa, ruang CEO Adhitama Gallery. Wajahnya tampak merah padam dengan jemari yang mengepal erat. “Apa yang kau rencanakan, hah?! Kenapa tiba-tiba ikut campur urusan perusahaan?!” Saka langsung berteriak marah setelah membanting pintu. Matanya melotot tajam ke arah Lisa. Lisa yang sudah menduganya hanya tersenyum tenang. “Kenapa memangnya? Kau takut aku merebut posisimu? Atau … kau takut aku membongkar semua kebusukanmu?” Wajah Saka tampak semakin tegang. “Hentikan omong kosongmu, Lisa. Lakukan seperti biasa. Tugasmu hanyalah mendesain untukku!” Lisa melangkah pelan mendekat ke arah Saka. Tangannya memegang lembut bahu Saka yang tegang. Mulutnya mendekat, berbisik di telinga Saka. “Aku bukan lagi Lisa bodoh yang bisa kau manfaatkan sesukamu.” Saka menepis kasar tangan Lisa dari bahunya. Matanya melotot tajam tepat di depan wajah Lisa. “Lakukan sesukamu, tapi jangan harap kau bisa lepas dariku. Besok pagi kupastikan kau akan angkat kaki dari sini.” “Hhh, menurutmu begitu? Baiklah. Kita lihat saja siapa yang akan segera angkat kaki dari sini.” Drrt, drrrt, drrt. Ponsel Saka tiba-tiba berdering. Notifikasi panggilan masuk. Dia merogoh sakunya dengan kasar. Mengangkatnya dengan tidak sabar begitu melihat nama yang tertera di layar ponsel. Namun, wajahnya tampak semakin marah ketika dia mendengar apa yang dikatakan orang menelponnya. Saka menutup telepon dengan kasar. Menatap tajam ke arah Lisa. “Kau!” telunjuknya teracung tepat di depan wajah Lisa yang tengah menyeringai menatapnya. “Tunggu saja akibat dari perbuatanmu hari ini!” Saka meninggalkan ruangan Lisa dengan marah, kembali membanting pintunya dengan keras. Sedangkan Lisa menatap kepergian Saka dengan seringai lebar . Hari ini dia memutus kontrak kerja sama dengan RK Entertaiment. Agensi yang menaungi Rika. Bisa dipastikan tadi adalah telepon dari Rika yang merengek meminta penjelasan dari Saka. “Tenang saja, Saka. Ini baru permulaan," batinnya. Hana, sekretaris pribadinya masuk tak lama setelah Saka keluar dari ruang kerja Lisa. Dia sedikit membungkukkan badannya sebelum menyampaikan pesan. "Mohon maaf, Bu Lisa. Dewan direksi telah berkumpul untuk melaksanakan rapat darurat." Lisa tersenyum, dia juga sudah menduganya. "Baiklah, saya akan segera ke sana," jawabnya tenang.Sinar matahari pagi masuk melewati kaca jendela ruang kerja Saka Adhitama di gedung lantai 40. Cahayanya berpendar hangat membasahi wajah Saka yang tampak berbinar senang. Bagaimana tidak? Hari ini ia akan resmi meneken kontrak pembangunan hotel mewah di pusat kota bersama Wijaya Group. Ia sudah membayangkan namanya akan tertulis di berbagai media, disertai dengan berbagai pujian atas keberhasilannya.Dewan direksi pasti juga akan memberikan dukungan kepadanya dalam suksesi kepemimpinan selanjutnya. Meneruskan jabatan Kakeknya yang akan segera pensiun sebagai Ketua Adhitama Group.Saka Adhitama yang tengah duduk di kursi kerjanya menyeringai lebar. Menatap sebuah kartu yang berisi username dan password sebuah akun kripto berisi empat ratus juta dolar dengan jantung berdebar. Tadi malam saat Sekretaris Andra menyerahkannya, ia menahan diri, tidak langsung membukanya. Lebih memilih lebih dulu merayakannya dengan berpesta dan bersenang-senang bersama Rika. Pagi ini Saka berniat mengak
Bab 30Bugh!Juna melayangkan pukulan telak. Preman terakhir akhirnya tersungkur, tak mampu bangkit lagi.Setelah Hana datang membantu, pertahanan Juna kembali kuat. Serangannya lebih buas. Mereka berhasil menaklukan lima belas preman dalam waktu lima menit.Hana juga sama lincah dan kuatnya. Ia berhasil menumbangkan lima preman dengan pukulannya.Juna melangkah pelan, mendekati seorang preman yang tampak seperti pemimpinnya. Ia berjongkok, membisikkan sesuatu di telinga preman tersebut.Seketika wajah preman itu berubah. Ia buru-buru bangkit berdiri dengan tertatih. Meneriaki anak buahnya agar segera kembali ke mobil van mereka.Mobil van tersebut langsung meninggalkan parkiran.“Ssshh.” Juna mendesis lirih. Memegang perutnya yang terkena tusukan. Darah mengalir, merembes membuat kemeja putihnya berubah warna.“Pak Juna, Anda berdarah cukup banyak.” Hana berseru tertahan. Matanya menampakkan kekhawatiran. Ia melangkah mendekat, melepas jas miliknya.Juna tak menjawab. Pria itu berusa
“Pak Juna, apa yang harus kita lakukan?” Hana menoleh ke arah Juna, berbisik pelan. Ia terlihat gelisah. Sejak tadi ujung sepatunya mengetuk-ngetuk lantai.Di sebelahnya, Juna masih duduk tenang. Namun matanya sejak tadi sibuk mengawasi sekitar. Menghitung langkah yang akan mereka lakukan. “Tenanglah, Nona Hana. Kecemasanmu sama sekali tidak membantu.”Mereka sedang duduk di ruang tunggu keberangkatan bandara. Terpisah beberapa bangku di belakang istri dan anak-anak Sekretaris Andra.Ting.Notifikasi pesan masuk. Juna melirik ponselnya.(Amankan istri dan anak-anak Sekretaris Andra, Juna)Perintah baru diterima. Juna bangkit dari duduknya. “Mulai ke langkah selanjutnya, Nona Hana. Antar mereka ke tempat aman.”Hana mengerti, ia ikut berdiri. Mengikuti langkah Juna yang telah berjalan menuju tempat duduk istri Sekretaris Andra.“Permisi, Nyonya.” Juna menyapa pelan.Istri Sekretaris Andra mendongak ke arahnya. Raut wajahnya tampak pucat, keringat dingin tampak mengalir di pelipisnya. J
Beberapa jam sebelumnya.Ting. (Sekretaris Andra baru saja keluar dari kantornya).Rey melirik ponselnya. Pesan singkat dari Juna baru saja masuk, mengonfirmasi pergerakan Sekretaris Andra. Ia menoleh pada Lisa yang duduk tegang di kursi penumpang. “Sekretaris Andra mulai bergerak. Kau sudah siap, Lisa?”Lisa balas menatapnya. Mengangguk mantap. Ia sudah siap sejak tadi.Rey balas mengangguk. Jemarinya dengan cekatan mengirim pesan balasan kepada Juna.(Aku dan Lisa segera berangkat. Kalian juga segera bergegas ke bandara. Jalankan sesuai rencana).Mobil Sekretaris Andra terlihat keluar dari tempat parkir. Tanpa menunggu lagi, Rey juga menghidupkan mesin mobilnya, bergerak mengikuti mobil Sekretaris Andra.***Empat puluh lima menit. Mobil yang dikemudikan Rey mulai meninggalkan pusat kota. Melewati jalanan sepi di tepi sungai. Tidak ada kendaraan lain yang tampak melintas.. “Lisa, berpegangan yang erat.” Rey menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Mobilnya melaju lebih kencang, menyali
“Kau yakin harus mencurinya, Lisa?” Rey bertanya pelan, sekali lagi memastikan keputusan Lisa.Lisa menatap Rey datar, tidak ada raut keraguan di wajahnya. Ia sangat serius.“Aku yakin, Rey. Saka telah kehilangan kendali atas Adhitama Gallery. Posisinya di grup melemah, mau tak mau dia harus segera mengeksekusi proyek pembangunan hotel mewah di pusat kota agar tidak kehilangan dukungan dari dewan direksi.”Lisa mengatakannya tanpa berkedip. Rahangnya tampak mengeras dibalik paras cantiknya.Rey menatapanya lembut. Mendengarkan tanpa menyela ucapan Lisa.Lisa menarik napasnya, mengembuskannya perlahan. “Proyek itu akan dikerjakan bersama Wijaya Group. Aku akan mencuri dana gelap Saka, dengan begitu Saka tidak akan memiliki dana untuk mendanai proyeknya. Dan Adhitama Group akan mengambil alih. Hanya itu cara agar Papa mengizinkan aku bercerai dengan Saka.”Rey mengangguk paham, tersenyum lembut, menatap Lisa penuh empati. “Baiklah, Lisa. Jika itu keputusanmu, maka kita akan mencuri dana
Bab 26“Adhitama Gallery.” Lisa berkata mantap, menatap Ketua Adhitama tanpa keraguan. “Berikan kewanangan penuh kepada Lisa atas kendali manajemennya,” sambungnya.Suasana meja makan seketika berubah tegang. Semua mata menatap Lisa terperangah. Sama sekali tidak menyangka Lisa akan meminta hal sebesar itu.“Lisa! Apa-apaan kamu?!”Saka tiba-tiba berdiri kasar hingga kursi jati yang didudukinya terdorong ke belakang. Wajahnya memerah padam, matanya melotot tajam menatap istrinya.“Kau gila, hah?!” bentak Saka dengan suara memburu. “Adhitama Gallery itu anak perusahaan di bawah naungan Adhitama Group! Bagaimana mungkin kamu dengan lancangnya meminta unit bisnis sebesar itu hanya untuk dirimu sendiri?!”Ibu Saka tidak tinggal diam. Wanita itu ikut berdiri, menatap Ketua Adhitama. “Tidak bisa, Ayah. Adhitama Gallery itu milik Saka. Ayah telah berjanji akan mewariskannya pada Saka.” seru Sinta tak terima.Tentu Saka dan ibunya menentang habis-habisan permintaan Lisa. Adhitama Gallery adal







