LOGIN“Bu Lisa, tolong jelaskan alasan Anda memutus kontrak dengan RK Entertaiment! Kita semua mengetahui bahwa Rika adalah Brand Ambassador dengan followers terbanyak saat ini. Dia adalah wajah Adhitama Gallery selama dua tahun terakhir. Bukankah keputusan tersebut terlalu gegabah dan tidak masuk akal?” Direktur Harun menepuk meja rapat, wajahnya tampak merah padam. Dia adalah Direktur Pemasaran Adhitama Gallery. Salah satu direktur yang sangat menentang keputusan Lisa.
Pagi ini Adhitama Gallery mengadakan rapat. Pengangkatan Lisa sebagai CEO Adhitama Gallery secara mendadak tentu saja menyebabkan kegaduhan di perusahaan. Tidak sedikit dewan direksi yang mengecam keputusan tersebut. Meski mereka mengakui bakat Lisa sebagai desainer utama perusahaan, tetap saja mereka meragukan kelayakan Lisa sebagai pimpinan manajerial. Belum lagi keputusan Lisa terkait pemutusan kontrak dengan RK Entertaiment, Brand Ambassador mereka selama dua tahun terakhir. Keputusan tersebut dinilai terlalu gegabah dan merugikan perusahaan. “Benar,” sela seorang direktur wanita di sebelah Direktur Harun, ikut menguatkan pendapatnya. “Koleksi perhiasan dan gaun terbaru kita menjadi trending topik di media sosial karena dipakai oleh Rika di red carpet. Keputusan ini bisa menurunkan penjualan secara drastis dalam kuartal ini!” Di sekelilingnya, enam direksi senior Adhitama Gallery tampak manggut-manggut, menatap Lisa dengan raut wajah tidak puas. Berbisik satu sama lain membenarkan pendapat dua direktur tersebut. Sementara itu, di sudut ruangan, Saka Adhitama duduk di dekat jendela, menyandarkan punggungnya di kursi rapat. Dia menyeringai lebar, menyilangkan tangannya di depan dada. Saka turut hadir sebagai CEO lama Adhitama Gallery. Dia ingin menyaksikan Lisa dipermalukan di ruang rapat pada hari pertamanya. Saka terkekeh pelan dari sudut ruangan, mengalihkan perhatian peserta rapat. “Sudah kukatakan pada kalian, bukan? Lisa memang desainer yang hebat, tapi dia tidak paham cara mengelola bisnis skala besar. Dia mencampuradukkan urusan pribadi dan perusahaan. Emosi pribadinya hanya akan menghancurkan nilai perusahaan.” Lisa hanya tersenyum kecil, tidak langsung membalas. Dia memutar pena di jemarinya dengan tenang. Matanya menatap satu persatu peserta rapat. Dia sudah menduga ini sebelumnya. “Sudah selesai bicara?” Lisa menyunggingkan senyum tenang. “Baiklah, sekarang giliran saya yang berbicara.” Lisa menekan tombol di remotal proyektor. Layar di belakangnya seketika menampilkan grafik keuangan dan diagram analisis pasar. Lisa beranjak dari kursinya, merapikan ujung blazer-nya, lalu melangkah menuju depan layar dengan percaya diri. “Mari kita bicara menggunakan data, bukan asumsi.” Suaranya terdengar tegas, namun tetap tenang dan terkendali. “Kalian menyebut Rika memberikan exposure tinggi untuk Adhitama Gallery. Itu benar. Tapi exposure jenis apa?” Lisa menekan tombol proyektor, menampilkan deretan foto Rika di media sosial. “Adhitama Gallery bukan sekadar lini pakaian siap pakai. Kita memproduksi barang haute couture, gaun malam eksklusif, tas kulit buatan tangan, sepatu kustom, hingga koleksi perhiasan berlian bernilai ratusan juta rupiah per item,” papar Lisa tanpa keraguan. “Namun, lihat apa yang Rika lakukan selama ini. Dia menerima endorsement dari puluhan produk fast fashion murah, kosmetik kelas menengah ke bawah, hingga minuman diet di akun pribadinya. Citra Rika telah bergeser dari figur eksklusif menjadi mass market celebrity.” Para direksi saling pandang. Wajah marah mereka mulai mengendur, membenarkan apa yang Lisa katakan. Lisa tersenyum kecil melihat reaksi peserta rapat. “Data penjualan koleksi perhiasan musim dingin kita menunjukkan penurunan sebesar 18% di kalangan klien VIP,” lanjutnya. Layar proyektor menampilkan slide berikutnya. “Mengapa? Karena kolektor kaya dan wanita kelas atas tidak mau membeli gaun atau perhiasan seharga ratusan juta jika barang tersebut diidentikkan dengan selebritas yang setiap hari mempromosikan barang murah di internet. Nilai eksklusivitas Adhitama Gallery terdegradasi!” “Tapi dampaknya pada angka penjualan barang kelas menengah ….” Pak Harun mencoba menyangkal. “Lini produk menengah bukan tulang punggung Adhitama Gallery, Pak Harun,” potong Lisa cepat. “Marjin keuntungan terbesar kita ada pada karya eksklusif. Kita tidak sedang menjual baju eceran, kita menjual karya seni berkelas tinggi.” Lisa mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Mayoritas peserta rapat yang hadir mengangguk setuju. “Selain itu, biaya kontrak Rika menyedot 35% dari total anggaran pemasaran galeri setiap tahunnya. Namun conversion rate atau pembelian riil dari penggemarnya hanya mencapai kurang dari 3%. Kita membayarnya terlalu mahal untuk dampak yang amat minim bagi profitabilitas perusahaan.” Ruang rapat mendadak terasa hening. Tidak ada yang membantah argumen Lisa. Saka yang tadi tersenyum mengejek, kini wajahnya tampak tegang. Dia sama sekali tak menyangka Lisa bisa menyiapkan pemaparan sedetail dan sekuat ini dalam waktu singkat. “Lalu, apa rencanamu untuk menggantikan exposure yang hilang?” Saka bertanya dingin, masih berusaha mencari celah untuk menjatuhkan Lisa. Lisa menoleh pada Saka, tersenyum tipis. “Saya tidak akan menyewa Brand Ambassador yang haus perhatian media,” jawab Lisa tenang. “Strategiku adalah mengembalikan Adhitama Gallery ke esensinya, yaitu, High End Exclusivity. Kita akan menggelar pameran privat (private exhibition) berbasis undangan terbatas untuk 50 kolektor dan pengusaha papan atas Asia. Semua desain baju, perhiasan, dan koleksi kulit terbaru akan dirancang secara kustom.” Lisa mengarahkan tatapannya kembali pada para direksi. “Uang yang kita hemat dari pemutusan kontrak Rika akan kita alokasikan untuk meningkatkan kualitas bahan baku sutra, batu permata, dan pengerjaan tangan para pengrajin kita. Dalam dua minggu, pameran privat pertama akan digelar. Jika penjualan kita tidak naik dua kali lipat dari target kuartal ini … saya sendiri yang akan mengundurkan diri dari posisi CEO.” Para direksi cukup terkejut mendengar ucapan Lisa. Pak Harun berdehem, lalu perlahan menganggukkan kepalanya. “Sebuah rencana yang sangat berani … tapi cukup masuk akal secara finansial. Baiklah, Bu Lisa. Kami akan pegang janji Anda.” Satu per satu direksi mengangguk setuju, memberikan dukungan penuh atas keputusan Lisa. Sedangkan Saka mengepalkan jemarinya, menahan amarah. Rencananya untuk mempermalukan Lisa di hadapan direksi telah hancur. Melihat peseta rapat yang berbalik mendukungnya, Lisa balas mengangguk. “Baiklah, jika semua sudah setuju mari kita akhiri rapat hari ini. Terima kasih atas waktu dan perhatian Bapak, Ibu sekalian," ucap Lisa dengan senyum lebar. Para direksi mulai beranjak meninggalkan ruangan. Saat itulah Lisa merasakan denyutan nyeri yang tiba-tiba menjalar dari pangkal kepalanya ke area pelipis. Penglihatannya mendadak mengabur selama dua detik. Jemari Lisa memegang tepi meja, menahan napas agar tubuhnya tidak limbung di depan semua orang. “Tidak, jangan sekarang …” batin Lisa menahan rasa sakitnya.Bab 27Ruang kerja pribadi milik Rey yang tersembunyi di balik perpustakaan apartemennya menjadi markas operasi senyap malam itu. Tirai tebal tertutup rapat, membendung pendar cahaya kota. Di atas meja kaca berukuran besar, tiga buah laptop canggih menyala terang, memancarkan pendar biru yang menerangi wajah empat orang yang sedang berkumpul mengelilinginya: Lisa, Rey, Juna, dan Hana.“Aku sudah menceritakan semuanya,” ujar Lisa, memecah keheningan yang tegang. Matanya menatap Juna dan Hana secara bergantian dengan pendar ketegasan yang dingin. “Kakek memilih untuk membungkam kejahatan Saka demi menjaga nama baik Adhitama Group. Jadi, kita tidak punya pilihan lain. Kita tidak bisa lagi berharap pada keadilan korporasi. Kita akan mencuri seluruh dana gelap milik Saka sebelum dia sempat menggunakannya.”Hana menyandarkan punggungnya di kursi, menyilangkan tangan di dada. Mula-mula dahi wanita itu mengernyit, namun senyum tipis yang sarat akan ide gila perlahan terukir di bibirnya. “Ide
Bab 26“Adhitama Gallery.” Lisa berkata mantap, menatap Ketua Adhitama tanpa keraguan. “Berikan kewanangan penuh kepada Lisa atas kendali manajemennya,” sambungnya.Suasana meja makan seketika berubah tegang. Semua mata menatap Lisa terperangah. Sama sekali tidak menyangka Lisa akan meminta hal sebesar itu.“Lisa! Apa-apaan kamu?!”Saka tiba-tiba berdiri kasar hingga kursi jati yang didudukinya terdorong ke belakang. Wajahnya memerah padam, matanya melotot tajam menatap istrinya.“Kau gila, hah?!” bentak Saka dengan suara memburu. “Adhitama Gallery itu anak perusahaan di bawah naungan Adhitama Group! Bagaimana mungkin kamu dengan lancangnya meminta unit bisnis sebesar itu hanya untuk dirimu sendiri?!”Ibu Saka tidak tinggal diam. Wanita itu ikut berdiri, menatap Ketua Adhitama. “Tidak bisa, Ayah. Adhitama Gallery itu milik Saka. Ayah telah berjanji akan mewariskannya pada Saka.” seru Sinta tak terima.Tentu Saka dan ibunya menentang habis-habisan permintaan Lisa. Adhitama Gallery adal
Pameran itu benar-benar sukses besar. Semua stok koleksi produk fashion Adhitama Gallery langsung terjual habis begitu dirilis. Antrean panjang mengular di setiap cabang butik yang tersebar di berbagai kota besar.Nama Adhitama Gallery terus menjadi perbincangan hangat di dunia mode internasional. Wajah Jess sebagai brand ambassador muncul di halaman terdepan majalah mode, sosial media, spanduk-spanduk, hingga layar megatron yang terpasang di gedung-gedung pencakar langit.Pesan berisi berbagai tawaran kerja sama tak henti-hentinya masuk ke surel resmi Adhitama Gallery. Nilai saham bahkan naik hingga lima kali lipat, jauh lebih besar dari perkiraan awal.Papa Lisa tertawa lebar saat menelponnya, mengucapkan selamat dan memujinya. Mamanya juga ikut senang, ribut meminta Lisa untuk mempertemukannya lagi dengan Jess, Rose, dan Jenny. Lisa hanya balas tertawa lebar, menjelaskan bahwa mereka sudah kembali sibuk dengan urusan masing-masing.Foto Lisa bersama Jenny, Rose, dan Jess di acara pa
Tepat pukul 10.00 a.m., Pameran Privat Adhitama Gallery resmi dimulai.Lisa duduk di barisan kursi VIP bersama keluarganya, di dampingi Rey, Juna, dan Hana. Ia menahan napas, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.Tamu yang hadir bukan orang sembarangan. Mulai dari investor besar kelas internasional, pengusaha korporasi multinasional, hingga para pesohor papan atas. Wajah-wajah mereka tidak asing, biasa mengisi halaman majalah-majalah bisnis dengan kisah suksesnya.Ting!Lampu hall diredupkan. Musik pengiring mulai diputar.Seluruh pandangan tamu undangan seketika tertuju pada panggung. Decak kagum dan tatapan terpesona seketika memenuhi ruangan begitu model pertama melangkah anggun di atas catwalk.Pameran berlangsung dengan lancar hingga akhir acara, kemudian dilanjutkan dengan pesta perayaan.Para tamu tertawa puas, menyalami Lisa, serta mengucapkan selamat dan berbagai kalimat pujian. Bahkan tidak sedikit yang langsung menawarkan kerja sama dengan Adhitama Gallery. Lisa m
Hari-H Pameran Privat Adhitama GalleryKesibukan telah dimulai sejak pagi buta. Bahkan, ada beberapa kru yang belum sempat tidur dan beristirahat sejak gladi bersih kemarin. Petugas keamanan acara telah bersiap di berbagai titik krusial dengan setelan jas dan celana hitam, lengkap dengan earpiece yang terpasang di telinga mereka.Begitu pula dengan Lisa. Raut wajahnya tampak sangat serius saat melangkah cepat di lorong Grand Hotel menuju ballroom tempat pameran diadakan. Hana juga tak kalah seriusnya, tangannya menggenggam erat sebuah tablet seraya berjalan cepat mengimbangi Lisa.Sesekali mereka berpapasan dengan satu dua kru yang juga tengah mempersiapkan detail acara. Mereka mngangguk kecil, tersenyum tipis menyapa Lisa. Lisa balas tersenyum tipis.“Semua kru telah bersiap di posisinya, Bu Lisa. Para model juga telah selesai di-makeup,” ujar Hana seraya memeriksa layar tabletnya. “Media sudah berdatangan sejak kemarin malam. Saat ini mereka tengah bersiap di ballroom.”Lisa mengang
H-1 Pameran Privat Adhitama Gallery.Ballroom megah Adhitama Grand Hotel telah disulap menjadi area pameran privat bernuansa musim panas. Videotron raksasa di latar panggung menampilkan pemandangan pantai yang hangat, dipadukan dengan sorotan warm spotlight yang memancar tepat di atas area catwalk. Rangkaian bunga segar tersusun rapi di sekeliling panggung, menghadirkan kesan indah dan elegan yang memikat.Di kanan kiri panggung, kursi-kursi di susun rapi, berbaris memanjang mengelilingi panggung. Papa Lisa telah hadir bersama mamanya, duduk di kursi VIP. Begitu juga Ketua Adhitama Group dan kedua mertua Lisa, mereka duduk bersisian.Saka belum terlihat batang hidungnya, entah ada dimana pria itu saat ini. Mungkin sedang mengamuk melihat persiapan gladi bersih hari ini tetap berjalan dengan semestinya tanpa adanya kepanikan.Lisa dan Hana masih sibuk, berjalan ke sana ke mari memeriksa setiap detail, memastikan semuanya sempurna.Rey dan Juna terlihat memasuki ruangan.Pandangan Rey l







