แชร์

Bab 6

ผู้เขียน: Olif S
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-23 20:58:20

“Bu Lisa, tolong jelaskan alasan Anda memutus kontrak dengan RK Entertaiment! Kita semua mengetahui bahwa Rika adalah Brand Ambassador dengan followers terbanyak saat ini. Dia adalah wajah Adhitama Gallery selama dua tahun terakhir. Bukankah keputusan tersebut terlalu gegabah dan tidak masuk akal?” Direktur Harun menepuk meja rapat, wajahnya tampak merah padam. Dia adalah Direktur Pemasaran Adhitama Gallery. Salah satu direktur yang sangat menentang keputusan Lisa.

Pagi ini Adhitama Gallery mengadakan rapat. Pengangkatan Lisa sebagai CEO Adhitama Gallery secara mendadak tentu saja menyebabkan kegaduhan di perusahaan. Tidak sedikit dewan direksi yang mengecam keputusan tersebut. Meski mereka mengakui bakat Lisa sebagai desainer utama perusahaan, tetap saja mereka meragukan kelayakan Lisa sebagai pimpinan manajerial.

Belum lagi keputusan Lisa terkait pemutusan kontrak dengan RK Entertaiment, Brand Ambassador mereka selama dua tahun terakhir. Keputusan tersebut dinilai terlalu gegabah dan merugikan perusahaan.

“Benar,” sela seorang direktur wanita di sebelah Direktur Harun, ikut menguatkan pendapatnya. “Koleksi perhiasan dan gaun terbaru kita menjadi trending topik di media sosial karena dipakai oleh Rika di red carpet. Keputusan ini bisa menurunkan penjualan secara drastis dalam kuartal ini!”

Di sekelilingnya, enam direksi senior Adhitama Gallery tampak manggut-manggut, menatap Lisa dengan raut wajah tidak puas. Berbisik satu sama lain membenarkan pendapat dua direktur tersebut.

Sementara itu, di sudut ruangan, Saka Adhitama duduk di dekat jendela, menyandarkan punggungnya di kursi rapat. Dia menyeringai lebar, menyilangkan tangannya di depan dada. Saka turut hadir sebagai CEO lama Adhitama Gallery. Dia ingin menyaksikan Lisa dipermalukan di ruang rapat pada hari pertamanya.

Saka terkekeh pelan dari sudut ruangan, mengalihkan perhatian peserta rapat. “Sudah kukatakan pada kalian, bukan? Lisa memang desainer yang hebat, tapi dia tidak paham cara mengelola bisnis skala besar. Dia mencampuradukkan urusan pribadi dan perusahaan. Emosi pribadinya hanya akan menghancurkan nilai perusahaan.”

Lisa hanya tersenyum kecil, tidak langsung membalas. Dia memutar pena di jemarinya dengan tenang. Matanya menatap satu persatu peserta rapat. Dia sudah menduga ini sebelumnya.

“Sudah selesai bicara?” Lisa menyunggingkan senyum tenang. “Baiklah, sekarang giliran saya yang berbicara.” Lisa menekan tombol di remotal proyektor. Layar di belakangnya seketika menampilkan grafik keuangan dan diagram analisis pasar.

Lisa beranjak dari kursinya, merapikan ujung blazer-nya, lalu melangkah menuju depan layar dengan percaya diri.

“Mari kita bicara menggunakan data, bukan asumsi.” Suaranya terdengar tegas, namun tetap tenang dan terkendali. “Kalian menyebut Rika memberikan exposure tinggi untuk Adhitama Gallery. Itu benar. Tapi exposure jenis apa?”

Lisa menekan tombol proyektor, menampilkan deretan foto Rika di media sosial.

“Adhitama Gallery bukan sekadar lini pakaian siap pakai. Kita memproduksi barang haute couture, gaun malam eksklusif, tas kulit buatan tangan, sepatu kustom, hingga koleksi perhiasan berlian bernilai ratusan juta rupiah per item,” papar Lisa tanpa keraguan.

“Namun, lihat apa yang Rika lakukan selama ini. Dia menerima endorsement dari puluhan produk fast fashion murah, kosmetik kelas menengah ke bawah, hingga minuman diet di akun pribadinya. Citra Rika telah bergeser dari figur eksklusif menjadi mass market celebrity.”

Para direksi saling pandang. Wajah marah mereka mulai mengendur, membenarkan apa yang Lisa katakan.

Lisa tersenyum kecil melihat reaksi peserta rapat. “Data penjualan koleksi perhiasan musim dingin kita menunjukkan penurunan sebesar 18% di kalangan klien VIP,” lanjutnya. Layar proyektor menampilkan slide berikutnya. “Mengapa? Karena kolektor kaya dan wanita kelas atas tidak mau membeli gaun atau perhiasan seharga ratusan juta jika barang tersebut diidentikkan dengan selebritas yang setiap hari mempromosikan barang murah di internet. Nilai eksklusivitas Adhitama Gallery terdegradasi!”

“Tapi dampaknya pada angka penjualan barang kelas menengah ….” Pak Harun mencoba menyangkal.

“Lini produk menengah bukan tulang punggung Adhitama Gallery, Pak Harun,” potong Lisa cepat. “Marjin keuntungan terbesar kita ada pada karya eksklusif. Kita tidak sedang menjual baju eceran, kita menjual karya seni berkelas tinggi.”

Lisa mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan. Mayoritas peserta rapat yang hadir mengangguk setuju.

“Selain itu, biaya kontrak Rika menyedot 35% dari total anggaran pemasaran galeri setiap tahunnya. Namun conversion rate atau pembelian riil dari penggemarnya hanya mencapai kurang dari 3%. Kita membayarnya terlalu mahal untuk dampak yang amat minim bagi profitabilitas perusahaan.”

Ruang rapat mendadak terasa hening. Tidak ada yang membantah argumen Lisa.

Saka yang tadi tersenyum mengejek, kini wajahnya tampak tegang. Dia sama sekali tak menyangka Lisa bisa menyiapkan pemaparan sedetail dan sekuat ini dalam waktu singkat.

“Lalu, apa rencanamu untuk menggantikan exposure yang hilang?” Saka bertanya dingin, masih berusaha mencari celah untuk menjatuhkan Lisa.

Lisa menoleh pada Saka, tersenyum tipis.

“Saya tidak akan menyewa Brand Ambassador yang haus perhatian media,” jawab Lisa tenang. “Strategiku adalah mengembalikan Adhitama Gallery ke esensinya, yaitu, High End Exclusivity. Kita akan menggelar pameran privat (private exhibition) berbasis undangan terbatas untuk 50 kolektor dan pengusaha papan atas Asia. Semua desain baju, perhiasan, dan koleksi kulit terbaru akan dirancang secara kustom.”

Lisa mengarahkan tatapannya kembali pada para direksi. “Uang yang kita hemat dari pemutusan kontrak Rika akan kita alokasikan untuk meningkatkan kualitas bahan baku sutra, batu permata, dan pengerjaan tangan para pengrajin kita. Dalam dua minggu, pameran privat pertama akan digelar. Jika penjualan kita tidak naik dua kali lipat dari target kuartal ini … saya sendiri yang akan mengundurkan diri dari posisi CEO.”

Para direksi cukup terkejut mendengar ucapan Lisa. Pak Harun berdehem, lalu perlahan menganggukkan kepalanya. “Sebuah rencana yang sangat berani … tapi cukup masuk akal secara finansial. Baiklah, Bu Lisa. Kami akan pegang janji Anda.”

Satu per satu direksi mengangguk setuju, memberikan dukungan penuh atas keputusan Lisa.

Sedangkan Saka mengepalkan jemarinya, menahan amarah. Rencananya untuk mempermalukan Lisa di hadapan direksi telah hancur.

Melihat peseta rapat yang berbalik mendukungnya, Lisa balas mengangguk. “Baiklah, jika semua sudah setuju mari kita akhiri rapat hari ini. Terima kasih atas waktu dan perhatian Bapak, Ibu sekalian," ucap Lisa dengan senyum lebar.

Para direksi mulai beranjak meninggalkan ruangan. Saat itulah Lisa merasakan denyutan nyeri yang tiba-tiba menjalar dari pangkal kepalanya ke area pelipis. Penglihatannya mendadak mengabur selama dua detik. Jemari Lisa memegang tepi meja, menahan napas agar tubuhnya tidak limbung di depan semua orang.

“Tidak, jangan sekarang …” batin Lisa menahan rasa sakitnya.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 31

    Sinar matahari pagi masuk melewati kaca jendela ruang kerja Saka Adhitama di gedung lantai 40. Cahayanya berpendar hangat membasahi wajah Saka yang tampak berbinar senang. Bagaimana tidak? Hari ini ia akan resmi meneken kontrak pembangunan hotel mewah di pusat kota bersama Wijaya Group. Ia sudah membayangkan namanya akan tertulis di berbagai media, disertai dengan berbagai pujian atas keberhasilannya.Dewan direksi pasti juga akan memberikan dukungan kepadanya dalam suksesi kepemimpinan selanjutnya. Meneruskan jabatan Kakeknya yang akan segera pensiun sebagai Ketua Adhitama Group.Saka Adhitama yang tengah duduk di kursi kerjanya menyeringai lebar. Menatap sebuah kartu yang berisi username dan password sebuah akun kripto berisi empat ratus juta dolar dengan jantung berdebar. Tadi malam saat Sekretaris Andra menyerahkannya, ia menahan diri, tidak langsung membukanya. Lebih memilih lebih dulu merayakannya dengan berpesta dan bersenang-senang bersama Rika. Pagi ini Saka berniat mengak

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 30

    Bab 30Bugh!Juna melayangkan pukulan telak. Preman terakhir akhirnya tersungkur, tak mampu bangkit lagi.Setelah Hana datang membantu, pertahanan Juna kembali kuat. Serangannya lebih buas. Mereka berhasil menaklukan lima belas preman dalam waktu lima menit.Hana juga sama lincah dan kuatnya. Ia berhasil menumbangkan lima preman dengan pukulannya.Juna melangkah pelan, mendekati seorang preman yang tampak seperti pemimpinnya. Ia berjongkok, membisikkan sesuatu di telinga preman tersebut.Seketika wajah preman itu berubah. Ia buru-buru bangkit berdiri dengan tertatih. Meneriaki anak buahnya agar segera kembali ke mobil van mereka.Mobil van tersebut langsung meninggalkan parkiran.“Ssshh.” Juna mendesis lirih. Memegang perutnya yang terkena tusukan. Darah mengalir, merembes membuat kemeja putihnya berubah warna.“Pak Juna, Anda berdarah cukup banyak.” Hana berseru tertahan. Matanya menampakkan kekhawatiran. Ia melangkah mendekat, melepas jas miliknya.Juna tak menjawab. Pria itu berusa

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 29

    “Pak Juna, apa yang harus kita lakukan?” Hana menoleh ke arah Juna, berbisik pelan. Ia terlihat gelisah. Sejak tadi ujung sepatunya mengetuk-ngetuk lantai.Di sebelahnya, Juna masih duduk tenang. Namun matanya sejak tadi sibuk mengawasi sekitar. Menghitung langkah yang akan mereka lakukan. “Tenanglah, Nona Hana. Kecemasanmu sama sekali tidak membantu.”Mereka sedang duduk di ruang tunggu keberangkatan bandara. Terpisah beberapa bangku di belakang istri dan anak-anak Sekretaris Andra.Ting.Notifikasi pesan masuk. Juna melirik ponselnya.(Amankan istri dan anak-anak Sekretaris Andra, Juna)Perintah baru diterima. Juna bangkit dari duduknya. “Mulai ke langkah selanjutnya, Nona Hana. Antar mereka ke tempat aman.”Hana mengerti, ia ikut berdiri. Mengikuti langkah Juna yang telah berjalan menuju tempat duduk istri Sekretaris Andra.“Permisi, Nyonya.” Juna menyapa pelan.Istri Sekretaris Andra mendongak ke arahnya. Raut wajahnya tampak pucat, keringat dingin tampak mengalir di pelipisnya. J

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 28

    Beberapa jam sebelumnya.Ting. (Sekretaris Andra baru saja keluar dari kantornya).Rey melirik ponselnya. Pesan singkat dari Juna baru saja masuk, mengonfirmasi pergerakan Sekretaris Andra. Ia menoleh pada Lisa yang duduk tegang di kursi penumpang. “Sekretaris Andra mulai bergerak. Kau sudah siap, Lisa?”Lisa balas menatapnya. Mengangguk mantap. Ia sudah siap sejak tadi.Rey balas mengangguk. Jemarinya dengan cekatan mengirim pesan balasan kepada Juna.(Aku dan Lisa segera berangkat. Kalian juga segera bergegas ke bandara. Jalankan sesuai rencana).Mobil Sekretaris Andra terlihat keluar dari tempat parkir. Tanpa menunggu lagi, Rey juga menghidupkan mesin mobilnya, bergerak mengikuti mobil Sekretaris Andra.***Empat puluh lima menit. Mobil yang dikemudikan Rey mulai meninggalkan pusat kota. Melewati jalanan sepi di tepi sungai. Tidak ada kendaraan lain yang tampak melintas.. “Lisa, berpegangan yang erat.” Rey menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Mobilnya melaju lebih kencang, menyali

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 27

    “Kau yakin harus mencurinya, Lisa?” Rey bertanya pelan, sekali lagi memastikan keputusan Lisa.Lisa menatap Rey datar, tidak ada raut keraguan di wajahnya. Ia sangat serius.“Aku yakin, Rey. Saka telah kehilangan kendali atas Adhitama Gallery. Posisinya di grup melemah, mau tak mau dia harus segera mengeksekusi proyek pembangunan hotel mewah di pusat kota agar tidak kehilangan dukungan dari dewan direksi.”Lisa mengatakannya tanpa berkedip. Rahangnya tampak mengeras dibalik paras cantiknya.Rey menatapanya lembut. Mendengarkan tanpa menyela ucapan Lisa.Lisa menarik napasnya, mengembuskannya perlahan. “Proyek itu akan dikerjakan bersama Wijaya Group. Aku akan mencuri dana gelap Saka, dengan begitu Saka tidak akan memiliki dana untuk mendanai proyeknya. Dan Adhitama Group akan mengambil alih. Hanya itu cara agar Papa mengizinkan aku bercerai dengan Saka.”Rey mengangguk paham, tersenyum lembut, menatap Lisa penuh empati. “Baiklah, Lisa. Jika itu keputusanmu, maka kita akan mencuri dana

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 26

    Bab 26“Adhitama Gallery.” Lisa berkata mantap, menatap Ketua Adhitama tanpa keraguan. “Berikan kewanangan penuh kepada Lisa atas kendali manajemennya,” sambungnya.Suasana meja makan seketika berubah tegang. Semua mata menatap Lisa terperangah. Sama sekali tidak menyangka Lisa akan meminta hal sebesar itu.“Lisa! Apa-apaan kamu?!”Saka tiba-tiba berdiri kasar hingga kursi jati yang didudukinya terdorong ke belakang. Wajahnya memerah padam, matanya melotot tajam menatap istrinya.“Kau gila, hah?!” bentak Saka dengan suara memburu. “Adhitama Gallery itu anak perusahaan di bawah naungan Adhitama Group! Bagaimana mungkin kamu dengan lancangnya meminta unit bisnis sebesar itu hanya untuk dirimu sendiri?!”Ibu Saka tidak tinggal diam. Wanita itu ikut berdiri, menatap Ketua Adhitama. “Tidak bisa, Ayah. Adhitama Gallery itu milik Saka. Ayah telah berjanji akan mewariskannya pada Saka.” seru Sinta tak terima.Tentu Saka dan ibunya menentang habis-habisan permintaan Lisa. Adhitama Gallery adal

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status