Share

Bab 4

Penulis: Olif S
last update Tanggal publikasi: 2026-06-17 22:07:45

Lisa membanting pintu ruang kerja Rey, menutupnya dengan keras. Batinnya masih menggerutu marah. Dia mengacungkan jari tengahnya di depan pintu sambil mengucapkan sumpah serapah. Kemudian meninggalkannya dengan langkah kesal.

Sementara itu, tanpa sepengetahuan Lisa, Rey tengah kesulitan menahan senyum kecilnya karena melihat tingkah Lisa dari CCTV di kantornya. Rey menekan ponselnya, menghubungi seseorang. “Berikan saya akses ke CCTV seluruh gedung sekarang juga.”

***

Lisa memutar otaknya selagi menunggu lift mengantarnya kembali turun ke lobby. Jika tidak ada yang mau membantunya, maka dia harus melakukannya sendiri.

Benar. Tidak ada jalan untuk kembali. Lisa sudah memutuskan, maka dia hanya perlu untuk terus melangkah maju.

Lisa menghampiri staf yang bertugas di lobby. “Mohon maaf, apakah saat ini Pak Saka Adhitama ada di ruangannya?” Lisa bertanya ramah sambil tersenyum.

Staf itu balas tersenyum, meminta waktu sebentar untuk menanyakannya pada sekretaris Saka di ruangannya. “Maaf, Bu Lisa. Saat ini Tuan Saka sedang ada rapat di luar kantor. Mungkin beliau akan kembali sekitar satu jam lagi.”

“Yes.” Lisa bersorak dalam hati, mengepalkan tangannya di bawah. “Oh, baiklah. Saya akan menunggu saja di ruangannya. Tidak perlu mengatakan kepada Saka bahwa saya sedang menunggunya.” Lisa tersenyum, berusaha terlihat bertingkah senormal mungkin.

Dua staf perempuan itu tampak tersenyum malu-malu, saling menepuk bahu rekannya. Mungkin mereka mengira Lisa sedang membuat kejutan untuk suami tercintanya. Hah, sungguh sebuah komedi tragis.

Lisa berjalan cepat menuju ruang kantor Saka. Jika tidak bisa menemukan bukti perselingkuhan, maka dia akan mencari bukti apapun untuk mendesak Saka agar mau melepaskannya. Lisa mengeratkan jemarinya, jantungnya berdegup kencang.

Tidak ada siapapun di ruang kantor Saka. Dia melangkah cepat menuju meja kerja. Tangannya dengan cepat memeriksa dokumen yang bertumpuk di atas meja. Matanya awas membaca isinya.

Tiga puluh menit habis untuk memeriksa semua tumpukan dokumen. Tidak ada yang bisa dia gunakan. Lisa melirik jam tangannya. Masih tersisa tiga puluh menit lagi sampai Saka kembali. Nafasnya memburu, jantungnya berdebar semakin kencang.

Tangannya beralih memeriksa komputer. Membuka semua folder di dalamnya, memeriksanya satu-satu. Sepuluh menit. Matanya menangkap sesuatu, ada satu folder dengan judul yang cukup ganjil, Folder X.

Lisa tersenyum, menyeringai “Aku menemukannya.” Dia menyalin file itu dengan ponselnya. Dadanya berdebar, kakinya terasa bergetar selagi menunggu prosesnya selesai. Tiga menit yang terasa panjang. “97, 98, 99,” batinnya ikut berhitung. 100%. Proses selesai. Lisa menyimpan kembali ponselnya.

Cklek!

Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka dari luar. Lisa menoleh dengan jantung yang hampir terlepas dari tempatnya. Saka kembali lebih cepat?

Bukan. Bukan Saka yang baru saja masuk. Rey? Apa yang mau dia lakukan di sini?

Tanpa memberi kesempatan pada Lisa untuk bertanya, Rey menatapnya tajam, setengah melotot. “Cepat duduk, bersikaplah senormal mungkin. Saka sudah kembali.” Rey mengatakannya dengan sedikit berbisik. Dia segera duduk dengan tenang di sofa.

Meski batinnya masih penuh dengan berbagai pertanyaan, Lisa melangkah cepat menirunya.

Cklek!

Pintu terbuka lagi. Benar saja, kali ini Saka yang masuk. Matanya langsung menatap Lisa dan Rey bergantian dengan tatapan menyelidik. “Apa yang kalian lakukan di sini?”

Rey berdiri dengan tenang, mendekati Saka. Tangannya memegang beberapa lembar dokumen. “Aku mau membahas terkait kontrak investasi dengan RK Entertainment.” Suaranya terdengar tenang dan terkendali. Rey menyerahkan dokumen di tangannya.

Saka merebutnya dengan kasar, mengendurkan dasinya. “Bukankah kita sudah sepakat untuk memperpanjangnya?” Saka menjawab sambil berjalan ke tempat duduknya.

“Ada agensi lain yang lebih cocok dan lebih menguntungkan bagi perusahaan.”

“Aku tidak peduli. Kau sudah menyepakatinya kemarin. Jadi untuk apa mengatakan omong kosong lagi. Pergilah jika hanya itu yang mau kau sampaikan.”

“Baiklah. Terserah kau saja.” Rey berkata tenang. Tak berminat mendebat Saka lagi. Dia melangkah hendak meninggalkan ruangan.

Lisa semakin heran melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya sekarang. Hah? Apa yang sebenarnya sedang Rey lakukan? Jika hanya untuk mengatakan itu bukankah dia tidak perlu jauh-jauh pergi ke kantor Saka?

“Lisa! Apa yang kau lakukan di sini?” Belum genap benaknya menyusun pertanyaan, suara dingin Saka sontak menyadarkannya. Lisa tergagap. Dia belum sempat menyiapkan jawaban masuk akal.

“Mungkin dia hendak mengajakmu makan malam. Perutnya berbunyi sejak tadi.” Rey menceletuk sembarang sebelum menutup pintu. Sebuah celetukan yang menyelamatkan situasi Lisa.

Lisa tersenyum lebar pada Saka yang menatapnya enggan. “Ah ya, bagaimana dia bisa tahu?” tertawa canggung. “Kita sudah lama tidak makan malam bersama, bukan? Jadi aku sengaja menunggumu.”

Saka berdecak kesal “Ck. Kalian memang benar-benar mengesalkan. Hentikan omong kosongmu, Lisa. Makanlah sendiri. Kau perlu kusuapi, hah?”

“Ah, baiklah baiklah. Kau terlihat sangat kesal. Jadi, aku akan pergi sekarang.” Lisa beranjak berdiri sebelum Saka sempat mencurigainya.

Saka hanya mendengus tak peduli. Dia benar-benar terlihat lelah dan kesal. Mungkin rapatnya berjalan cukup alot.

***

Lisa merasakan pergelangan tangannya ditarik cukup keras begitu dia menutup pintu kantor Saka. Rey. Dia menarik tangan Lisa ke dalam lift. Rahangnya terlihat mengeras. Rey membawa Lisa ke atap gedung.

“Kau sudah gila, hah!” Tanpa aba-aba Rey berteriak marah. Wajahnya tampak merah dan nafasnya tidak teratur.

“Apa yang kau rencanakan! Kau tidak berpikir semua gedung di awasi CCTV? Menurutmu apa yang akan Saka lakukan jika dia tahu kau menggeledah kantornya, hah?! Kau ini ceroboh atau benar-benar bodoh?”

Rey menyugar rambutnya ke belakang dengan frustasi. Menatap Lisa separuh marah separuh putus asa, tangannya berkacak pinggang.

Lisa menarik nafasnya dalam. Menyeringai lebar. Jadi ini alasannya? Hah, lucu sekali.

Matanya balas menatap Rey tak kalah tajam. “Apa pedulimu, hah?! Ya, kau benar! Aku memang gila, aku ceroboh, dan bodoh. Lantas apa pedulimu, hah! Ini semua bukan urusanmu!” Lisa balas berteriak marah.

Rey terdiam sejenak. Berusaha mengatur nafas dan mengendalikan emosinya. Masalah gadis di depannya ini memang sama sekali bukan urusannya. Namun entah apa yang membuat hati dan pikirannya begitu terusik.

“Lantas apa rencanamu selanjutnya? Apa yang baru saja kau dapatkan?” Rey bertanya dengan lebih pelan setelah emosinya mengendur.

Lisa masih mendengus kesal, dia tidak menjawab dan memalingkan wajahnya.

Rey merebut paksa ponsel Lisa dari genggamannya. Membukanya. Layar ponsel langsung menampakkan isi Folder X yang baru saja berhasil dicurinya dari komputer Saka.

Mata Rey tampak terbelalak. Tangannya yang menggulir layar ponsel tampak sedikit bergetar. “Apa yang kau rencanakan dengan ini?” Rey bertanya ragu.

Lisa merebut kembali ponselnya. “Bukan urusanmu.”

Rey menarik nafasnya. “Kau mau menggunakan bukti itu untuk mengancam Saka? Atau mau melaporkannya kepada kakek? Kau pikir Saka akan jatuh begitu saja? Bukan hanya Saka yang akan hancur jika file itu bocor. Adhitama dan Wijaya juga akan ikut terseret. Lantas kau pikir keluargamu akan diam saja dan melindungimu? Bukan tidak mungkin kau yang akan disingkirkan pertama kali.” Rey mencoba mengatakannya setenang mungkin, meski nadanya masih terdengar tinggi.

Lisa menatap mata Rey dengan nanar. Emosinya memuncak dan dia kesulitan untuk menahan tangis. “Lantas menurutmu aku harus diam saja, hah! Sedangkan si bajingan keparat itu akan terus memanfaatkanku sesukanya? Menurutmu aku harus menerima nasibku dan mati dengan menyedihkan?”

Lisa tidak mampu lagi menahannya. Lututnya lemas, dan tubuhnya luruh. Menumpahkan seluruh derita dan air matanya dengan pilu.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 31

    Sinar matahari pagi masuk melewati kaca jendela ruang kerja Saka Adhitama di gedung lantai 40. Cahayanya berpendar hangat membasahi wajah Saka yang tampak berbinar senang. Bagaimana tidak? Hari ini ia akan resmi meneken kontrak pembangunan hotel mewah di pusat kota bersama Wijaya Group. Ia sudah membayangkan namanya akan tertulis di berbagai media, disertai dengan berbagai pujian atas keberhasilannya.Dewan direksi pasti juga akan memberikan dukungan kepadanya dalam suksesi kepemimpinan selanjutnya. Meneruskan jabatan Kakeknya yang akan segera pensiun sebagai Ketua Adhitama Group.Saka Adhitama yang tengah duduk di kursi kerjanya menyeringai lebar. Menatap sebuah kartu yang berisi username dan password sebuah akun kripto berisi empat ratus juta dolar dengan jantung berdebar. Tadi malam saat Sekretaris Andra menyerahkannya, ia menahan diri, tidak langsung membukanya. Lebih memilih lebih dulu merayakannya dengan berpesta dan bersenang-senang bersama Rika. Pagi ini Saka berniat mengak

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 30

    Bab 30Bugh!Juna melayangkan pukulan telak. Preman terakhir akhirnya tersungkur, tak mampu bangkit lagi.Setelah Hana datang membantu, pertahanan Juna kembali kuat. Serangannya lebih buas. Mereka berhasil menaklukan lima belas preman dalam waktu lima menit.Hana juga sama lincah dan kuatnya. Ia berhasil menumbangkan lima preman dengan pukulannya.Juna melangkah pelan, mendekati seorang preman yang tampak seperti pemimpinnya. Ia berjongkok, membisikkan sesuatu di telinga preman tersebut.Seketika wajah preman itu berubah. Ia buru-buru bangkit berdiri dengan tertatih. Meneriaki anak buahnya agar segera kembali ke mobil van mereka.Mobil van tersebut langsung meninggalkan parkiran.“Ssshh.” Juna mendesis lirih. Memegang perutnya yang terkena tusukan. Darah mengalir, merembes membuat kemeja putihnya berubah warna.“Pak Juna, Anda berdarah cukup banyak.” Hana berseru tertahan. Matanya menampakkan kekhawatiran. Ia melangkah mendekat, melepas jas miliknya.Juna tak menjawab. Pria itu berusa

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 29

    “Pak Juna, apa yang harus kita lakukan?” Hana menoleh ke arah Juna, berbisik pelan. Ia terlihat gelisah. Sejak tadi ujung sepatunya mengetuk-ngetuk lantai.Di sebelahnya, Juna masih duduk tenang. Namun matanya sejak tadi sibuk mengawasi sekitar. Menghitung langkah yang akan mereka lakukan. “Tenanglah, Nona Hana. Kecemasanmu sama sekali tidak membantu.”Mereka sedang duduk di ruang tunggu keberangkatan bandara. Terpisah beberapa bangku di belakang istri dan anak-anak Sekretaris Andra.Ting.Notifikasi pesan masuk. Juna melirik ponselnya.(Amankan istri dan anak-anak Sekretaris Andra, Juna)Perintah baru diterima. Juna bangkit dari duduknya. “Mulai ke langkah selanjutnya, Nona Hana. Antar mereka ke tempat aman.”Hana mengerti, ia ikut berdiri. Mengikuti langkah Juna yang telah berjalan menuju tempat duduk istri Sekretaris Andra.“Permisi, Nyonya.” Juna menyapa pelan.Istri Sekretaris Andra mendongak ke arahnya. Raut wajahnya tampak pucat, keringat dingin tampak mengalir di pelipisnya. J

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 28

    Beberapa jam sebelumnya.Ting. (Sekretaris Andra baru saja keluar dari kantornya).Rey melirik ponselnya. Pesan singkat dari Juna baru saja masuk, mengonfirmasi pergerakan Sekretaris Andra. Ia menoleh pada Lisa yang duduk tegang di kursi penumpang. “Sekretaris Andra mulai bergerak. Kau sudah siap, Lisa?”Lisa balas menatapnya. Mengangguk mantap. Ia sudah siap sejak tadi.Rey balas mengangguk. Jemarinya dengan cekatan mengirim pesan balasan kepada Juna.(Aku dan Lisa segera berangkat. Kalian juga segera bergegas ke bandara. Jalankan sesuai rencana).Mobil Sekretaris Andra terlihat keluar dari tempat parkir. Tanpa menunggu lagi, Rey juga menghidupkan mesin mobilnya, bergerak mengikuti mobil Sekretaris Andra.***Empat puluh lima menit. Mobil yang dikemudikan Rey mulai meninggalkan pusat kota. Melewati jalanan sepi di tepi sungai. Tidak ada kendaraan lain yang tampak melintas.. “Lisa, berpegangan yang erat.” Rey menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Mobilnya melaju lebih kencang, menyali

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 27

    “Kau yakin harus mencurinya, Lisa?” Rey bertanya pelan, sekali lagi memastikan keputusan Lisa.Lisa menatap Rey datar, tidak ada raut keraguan di wajahnya. Ia sangat serius.“Aku yakin, Rey. Saka telah kehilangan kendali atas Adhitama Gallery. Posisinya di grup melemah, mau tak mau dia harus segera mengeksekusi proyek pembangunan hotel mewah di pusat kota agar tidak kehilangan dukungan dari dewan direksi.”Lisa mengatakannya tanpa berkedip. Rahangnya tampak mengeras dibalik paras cantiknya.Rey menatapanya lembut. Mendengarkan tanpa menyela ucapan Lisa.Lisa menarik napasnya, mengembuskannya perlahan. “Proyek itu akan dikerjakan bersama Wijaya Group. Aku akan mencuri dana gelap Saka, dengan begitu Saka tidak akan memiliki dana untuk mendanai proyeknya. Dan Adhitama Group akan mengambil alih. Hanya itu cara agar Papa mengizinkan aku bercerai dengan Saka.”Rey mengangguk paham, tersenyum lembut, menatap Lisa penuh empati. “Baiklah, Lisa. Jika itu keputusanmu, maka kita akan mencuri dana

  • Setelah Dendam Usai, Aku Melupakanmu   Bab 26

    Bab 26“Adhitama Gallery.” Lisa berkata mantap, menatap Ketua Adhitama tanpa keraguan. “Berikan kewanangan penuh kepada Lisa atas kendali manajemennya,” sambungnya.Suasana meja makan seketika berubah tegang. Semua mata menatap Lisa terperangah. Sama sekali tidak menyangka Lisa akan meminta hal sebesar itu.“Lisa! Apa-apaan kamu?!”Saka tiba-tiba berdiri kasar hingga kursi jati yang didudukinya terdorong ke belakang. Wajahnya memerah padam, matanya melotot tajam menatap istrinya.“Kau gila, hah?!” bentak Saka dengan suara memburu. “Adhitama Gallery itu anak perusahaan di bawah naungan Adhitama Group! Bagaimana mungkin kamu dengan lancangnya meminta unit bisnis sebesar itu hanya untuk dirimu sendiri?!”Ibu Saka tidak tinggal diam. Wanita itu ikut berdiri, menatap Ketua Adhitama. “Tidak bisa, Ayah. Adhitama Gallery itu milik Saka. Ayah telah berjanji akan mewariskannya pada Saka.” seru Sinta tak terima.Tentu Saka dan ibunya menentang habis-habisan permintaan Lisa. Adhitama Gallery adal

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status