Mag-log inLisa membanting pintu ruang kerja Rey, menutupnya dengan keras. Batinnya masih menggerutu marah. Dia mengacungkan jari tengahnya di depan pintu sambil mengucapkan sumpah serapah. Kemudian meninggalkannya dengan langkah kesal.
Sementara itu, tanpa sepengetahuan Lisa, Rey tengah kesulitan menahan senyum kecilnya karena melihat tingkah Lisa dari CCTV di kantornya. Rey menekan ponselnya, menghubungi seseorang. “Berikan saya akses ke CCTV seluruh gedung sekarang juga.”
***
Lisa memutar otaknya selagi menunggu lift mengantarnya kembali turun ke lobby. Jika tidak ada yang mau membantunya, maka dia harus melakukannya sendiri.
Benar. Tidak ada jalan untuk kembali. Lisa sudah memutuskan, maka dia hanya perlu untuk terus melangkah maju.
Lisa menghampiri staf yang bertugas di lobby. “Mohon maaf, apakah saat ini Pak Saka Adhitama ada di ruangannya?” Lisa bertanya ramah sambil tersenyum.
Staf itu balas tersenyum, meminta waktu sebentar untuk menanyakannya pada sekretaris Saka di ruangannya. “Maaf, Bu Lisa. Saat ini Tuan Saka sedang ada rapat di luar kantor. Mungkin beliau akan kembali sekitar satu jam lagi.”
“Yes.” Lisa bersorak dalam hati, mengepalkan tangannya di bawah. “Oh, baiklah. Saya akan menunggu saja di ruangannya. Tidak perlu mengatakan kepada Saka bahwa saya sedang menunggunya.” Lisa tersenyum, berusaha terlihat bertingkah senormal mungkin.
Dua staf perempuan itu tampak tersenyum malu-malu, saling menepuk bahu rekannya. Mungkin mereka mengira Lisa sedang membuat kejutan untuk suami tercintanya. Hah, sungguh sebuah komedi tragis.
Lisa berjalan cepat menuju ruang kantor Saka. Jika tidak bisa menemukan bukti perselingkuhan, maka dia akan mencari bukti apapun untuk mendesak Saka agar mau melepaskannya. Lisa mengeratkan jemarinya, jantungnya berdegup kencang.
Tidak ada siapapun di ruang kantor Saka. Dia melangkah cepat menuju meja kerja. Tangannya dengan cepat memeriksa dokumen yang bertumpuk di atas meja. Matanya awas membaca isinya.
Tiga puluh menit habis untuk memeriksa semua tumpukan dokumen. Tidak ada yang bisa dia gunakan. Lisa melirik jam tangannya. Masih tersisa tiga puluh menit lagi sampai Saka kembali. Nafasnya memburu, jantungnya berdebar semakin kencang.
Tangannya beralih memeriksa komputer. Membuka semua folder di dalamnya, memeriksanya satu-satu. Sepuluh menit. Matanya menangkap sesuatu, ada satu folder dengan judul yang cukup ganjil, Folder X.
Lisa tersenyum, menyeringai “Aku menemukannya.” Dia menyalin file itu dengan ponselnya. Dadanya berdebar, kakinya terasa bergetar selagi menunggu prosesnya selesai. Tiga menit yang terasa panjang. “97, 98, 99,” batinnya ikut berhitung. 100%. Proses selesai. Lisa menyimpan kembali ponselnya.
Cklek!
Pintu ruang kerja tiba-tiba terbuka dari luar. Lisa menoleh dengan jantung yang hampir terlepas dari tempatnya. Saka kembali lebih cepat?
Bukan. Bukan Saka yang baru saja masuk. Rey? Apa yang mau dia lakukan di sini?
Tanpa memberi kesempatan pada Lisa untuk bertanya, Rey menatapnya tajam, setengah melotot. “Cepat duduk, bersikaplah senormal mungkin. Saka sudah kembali.” Rey mengatakannya dengan sedikit berbisik. Dia segera duduk dengan tenang di sofa.
Meski batinnya masih penuh dengan berbagai pertanyaan, Lisa melangkah cepat menirunya.
Cklek!
Pintu terbuka lagi. Benar saja, kali ini Saka yang masuk. Matanya langsung menatap Lisa dan Rey bergantian dengan tatapan menyelidik. “Apa yang kalian lakukan di sini?”
Rey berdiri dengan tenang, mendekati Saka. Tangannya memegang beberapa lembar dokumen. “Aku mau membahas terkait kontrak investasi dengan RK Entertainment.” Suaranya terdengar tenang dan terkendali. Rey menyerahkan dokumen di tangannya.
Saka merebutnya dengan kasar, mengendurkan dasinya. “Bukankah kita sudah sepakat untuk memperpanjangnya?” Saka menjawab sambil berjalan ke tempat duduknya.
“Ada agensi lain yang lebih cocok dan lebih menguntungkan bagi perusahaan.”
“Aku tidak peduli. Kau sudah menyepakatinya kemarin. Jadi untuk apa mengatakan omong kosong lagi. Pergilah jika hanya itu yang mau kau sampaikan.”
“Baiklah. Terserah kau saja.” Rey berkata tenang. Tak berminat mendebat Saka lagi. Dia melangkah hendak meninggalkan ruangan.
Lisa semakin heran melihat apa yang sedang terjadi di hadapannya sekarang. Hah? Apa yang sebenarnya sedang Rey lakukan? Jika hanya untuk mengatakan itu bukankah dia tidak perlu jauh-jauh pergi ke kantor Saka?
“Lisa! Apa yang kau lakukan di sini?” Belum genap benaknya menyusun pertanyaan, suara dingin Saka sontak menyadarkannya. Lisa tergagap. Dia belum sempat menyiapkan jawaban masuk akal.
“Mungkin dia hendak mengajakmu makan malam. Perutnya berbunyi sejak tadi.” Rey menceletuk sembarang sebelum menutup pintu. Sebuah celetukan yang menyelamatkan situasi Lisa.
Lisa tersenyum lebar pada Saka yang menatapnya enggan. “Ah ya, bagaimana dia bisa tahu?” tertawa canggung. “Kita sudah lama tidak makan malam bersama, bukan? Jadi aku sengaja menunggumu.”
Saka berdecak kesal “Ck. Kalian memang benar-benar mengesalkan. Hentikan omong kosongmu, Lisa. Makanlah sendiri. Kau perlu kusuapi, hah?”
“Ah, baiklah baiklah. Kau terlihat sangat kesal. Jadi, aku akan pergi sekarang.” Lisa beranjak berdiri sebelum Saka sempat mencurigainya.
Saka hanya mendengus tak peduli. Dia benar-benar terlihat lelah dan kesal. Mungkin rapatnya berjalan cukup alot.
***
Lisa merasakan pergelangan tangannya ditarik cukup keras begitu dia menutup pintu kantor Saka. Rey. Dia menarik tangan Lisa ke dalam lift. Rahangnya terlihat mengeras. Rey membawa Lisa ke atap gedung.
“Kau sudah gila, hah!” Tanpa aba-aba Rey berteriak marah. Wajahnya tampak merah dan nafasnya tidak teratur.
“Apa yang kau rencanakan! Kau tidak berpikir semua gedung di awasi CCTV? Menurutmu apa yang akan Saka lakukan jika dia tahu kau menggeledah kantornya, hah?! Kau ini ceroboh atau benar-benar bodoh?”
Rey menyugar rambutnya ke belakang dengan frustasi. Menatap Lisa separuh marah separuh putus asa, tangannya berkacak pinggang.
Lisa menarik nafasnya dalam. Menyeringai lebar. Jadi ini alasannya? Hah, lucu sekali.
Matanya balas menatap Rey tak kalah tajam. “Apa pedulimu, hah?! Ya, kau benar! Aku memang gila, aku ceroboh, dan bodoh. Lantas apa pedulimu, hah! Ini semua bukan urusanmu!” Lisa balas berteriak marah.
Rey terdiam sejenak. Berusaha mengatur nafas dan mengendalikan emosinya. Masalah gadis di depannya ini memang sama sekali bukan urusannya. Namun entah apa yang membuat hati dan pikirannya begitu terusik.
“Lantas apa rencanamu selanjutnya? Apa yang baru saja kau dapatkan?” Rey bertanya dengan lebih pelan setelah emosinya mengendur.
Lisa masih mendengus kesal, dia tidak menjawab dan memalingkan wajahnya.
Rey merebut paksa ponsel Lisa dari genggamannya. Membukanya. Layar ponsel langsung menampakkan isi Folder X yang baru saja berhasil dicurinya dari komputer Saka.
Mata Rey tampak terbelalak. Tangannya yang menggulir layar ponsel tampak sedikit bergetar. “Apa yang kau rencanakan dengan ini?” Rey bertanya ragu.
Lisa merebut kembali ponselnya. “Bukan urusanmu.”
Rey menarik nafasnya. “Kau mau menggunakan bukti itu untuk mengancam Saka? Atau mau melaporkannya kepada kakek? Kau pikir Saka akan jatuh begitu saja? Bukan hanya Saka yang akan hancur jika file itu bocor. Adhitama dan Wijaya juga akan ikut terseret. Lantas kau pikir keluargamu akan diam saja dan melindungimu? Bukan tidak mungkin kau yang akan disingkirkan pertama kali.” Rey mencoba mengatakannya setenang mungkin, meski nadanya masih terdengar tinggi.
Lisa menatap mata Rey dengan nanar. Emosinya memuncak dan dia kesulitan untuk menahan tangis. “Lantas menurutmu aku harus diam saja, hah! Sedangkan si bajingan keparat itu akan terus memanfaatkanku sesukanya? Menurutmu aku harus menerima nasibku dan mati dengan menyedihkan?”
Lisa tidak mampu lagi menahannya. Lututnya lemas, dan tubuhnya luruh. Menumpahkan seluruh derita dan air matanya dengan pilu.
Bab 27Ruang kerja pribadi milik Rey yang tersembunyi di balik perpustakaan apartemennya menjadi markas operasi senyap malam itu. Tirai tebal tertutup rapat, membendung pendar cahaya kota. Di atas meja kaca berukuran besar, tiga buah laptop canggih menyala terang, memancarkan pendar biru yang menerangi wajah empat orang yang sedang berkumpul mengelilinginya: Lisa, Rey, Juna, dan Hana.“Aku sudah menceritakan semuanya,” ujar Lisa, memecah keheningan yang tegang. Matanya menatap Juna dan Hana secara bergantian dengan pendar ketegasan yang dingin. “Kakek memilih untuk membungkam kejahatan Saka demi menjaga nama baik Adhitama Group. Jadi, kita tidak punya pilihan lain. Kita tidak bisa lagi berharap pada keadilan korporasi. Kita akan mencuri seluruh dana gelap milik Saka sebelum dia sempat menggunakannya.”Hana menyandarkan punggungnya di kursi, menyilangkan tangan di dada. Mula-mula dahi wanita itu mengernyit, namun senyum tipis yang sarat akan ide gila perlahan terukir di bibirnya. “Ide
Bab 26“Adhitama Gallery.” Lisa berkata mantap, menatap Ketua Adhitama tanpa keraguan. “Berikan kewanangan penuh kepada Lisa atas kendali manajemennya,” sambungnya.Suasana meja makan seketika berubah tegang. Semua mata menatap Lisa terperangah. Sama sekali tidak menyangka Lisa akan meminta hal sebesar itu.“Lisa! Apa-apaan kamu?!”Saka tiba-tiba berdiri kasar hingga kursi jati yang didudukinya terdorong ke belakang. Wajahnya memerah padam, matanya melotot tajam menatap istrinya.“Kau gila, hah?!” bentak Saka dengan suara memburu. “Adhitama Gallery itu anak perusahaan di bawah naungan Adhitama Group! Bagaimana mungkin kamu dengan lancangnya meminta unit bisnis sebesar itu hanya untuk dirimu sendiri?!”Ibu Saka tidak tinggal diam. Wanita itu ikut berdiri, menatap Ketua Adhitama. “Tidak bisa, Ayah. Adhitama Gallery itu milik Saka. Ayah telah berjanji akan mewariskannya pada Saka.” seru Sinta tak terima.Tentu Saka dan ibunya menentang habis-habisan permintaan Lisa. Adhitama Gallery adal
Pameran itu benar-benar sukses besar. Semua stok koleksi produk fashion Adhitama Gallery langsung terjual habis begitu dirilis. Antrean panjang mengular di setiap cabang butik yang tersebar di berbagai kota besar.Nama Adhitama Gallery terus menjadi perbincangan hangat di dunia mode internasional. Wajah Jess sebagai brand ambassador muncul di halaman terdepan majalah mode, sosial media, spanduk-spanduk, hingga layar megatron yang terpasang di gedung-gedung pencakar langit.Pesan berisi berbagai tawaran kerja sama tak henti-hentinya masuk ke surel resmi Adhitama Gallery. Nilai saham bahkan naik hingga lima kali lipat, jauh lebih besar dari perkiraan awal.Papa Lisa tertawa lebar saat menelponnya, mengucapkan selamat dan memujinya. Mamanya juga ikut senang, ribut meminta Lisa untuk mempertemukannya lagi dengan Jess, Rose, dan Jenny. Lisa hanya balas tertawa lebar, menjelaskan bahwa mereka sudah kembali sibuk dengan urusan masing-masing.Foto Lisa bersama Jenny, Rose, dan Jess di acara pa
Tepat pukul 10.00 a.m., Pameran Privat Adhitama Gallery resmi dimulai.Lisa duduk di barisan kursi VIP bersama keluarganya, di dampingi Rey, Juna, dan Hana. Ia menahan napas, mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan.Tamu yang hadir bukan orang sembarangan. Mulai dari investor besar kelas internasional, pengusaha korporasi multinasional, hingga para pesohor papan atas. Wajah-wajah mereka tidak asing, biasa mengisi halaman majalah-majalah bisnis dengan kisah suksesnya.Ting!Lampu hall diredupkan. Musik pengiring mulai diputar.Seluruh pandangan tamu undangan seketika tertuju pada panggung. Decak kagum dan tatapan terpesona seketika memenuhi ruangan begitu model pertama melangkah anggun di atas catwalk.Pameran berlangsung dengan lancar hingga akhir acara, kemudian dilanjutkan dengan pesta perayaan.Para tamu tertawa puas, menyalami Lisa, serta mengucapkan selamat dan berbagai kalimat pujian. Bahkan tidak sedikit yang langsung menawarkan kerja sama dengan Adhitama Gallery. Lisa m
Hari-H Pameran Privat Adhitama GalleryKesibukan telah dimulai sejak pagi buta. Bahkan, ada beberapa kru yang belum sempat tidur dan beristirahat sejak gladi bersih kemarin. Petugas keamanan acara telah bersiap di berbagai titik krusial dengan setelan jas dan celana hitam, lengkap dengan earpiece yang terpasang di telinga mereka.Begitu pula dengan Lisa. Raut wajahnya tampak sangat serius saat melangkah cepat di lorong Grand Hotel menuju ballroom tempat pameran diadakan. Hana juga tak kalah seriusnya, tangannya menggenggam erat sebuah tablet seraya berjalan cepat mengimbangi Lisa.Sesekali mereka berpapasan dengan satu dua kru yang juga tengah mempersiapkan detail acara. Mereka mngangguk kecil, tersenyum tipis menyapa Lisa. Lisa balas tersenyum tipis.“Semua kru telah bersiap di posisinya, Bu Lisa. Para model juga telah selesai di-makeup,” ujar Hana seraya memeriksa layar tabletnya. “Media sudah berdatangan sejak kemarin malam. Saat ini mereka tengah bersiap di ballroom.”Lisa mengang
H-1 Pameran Privat Adhitama Gallery.Ballroom megah Adhitama Grand Hotel telah disulap menjadi area pameran privat bernuansa musim panas. Videotron raksasa di latar panggung menampilkan pemandangan pantai yang hangat, dipadukan dengan sorotan warm spotlight yang memancar tepat di atas area catwalk. Rangkaian bunga segar tersusun rapi di sekeliling panggung, menghadirkan kesan indah dan elegan yang memikat.Di kanan kiri panggung, kursi-kursi di susun rapi, berbaris memanjang mengelilingi panggung. Papa Lisa telah hadir bersama mamanya, duduk di kursi VIP. Begitu juga Ketua Adhitama Group dan kedua mertua Lisa, mereka duduk bersisian.Saka belum terlihat batang hidungnya, entah ada dimana pria itu saat ini. Mungkin sedang mengamuk melihat persiapan gladi bersih hari ini tetap berjalan dengan semestinya tanpa adanya kepanikan.Lisa dan Hana masih sibuk, berjalan ke sana ke mari memeriksa setiap detail, memastikan semuanya sempurna.Rey dan Juna terlihat memasuki ruangan.Pandangan Rey l







