Share

BAB 4

Author: Rosela2505
last update publish date: 2026-06-26 17:45:13

#Ulang Tahun yang Terlupakan

Malam setelah perdebatan mengenai laptop Lala, Naila tidak langsung bisa tidur meskipun tubuhnya sudah terasa lelah. Ia berbaring memandangi langit-langit kamar sementara Ardi di sampingnya sudah tertidur lebih dulu.

Kalimat demi kalimat yang diucapkan suaminya terus terngiang di kepalanya, terutama ketika Ardi dengan santai mengatakan bahwa ia sudah berjanji akan membelikan laptop baru untuk adiknya menggunakan "uang mereka". Padahal Naila tahu persis bahwa setiap kali kalimat itu diucapkan, yang dimaksud selalu uang hasil kerja kerasnya sendiri.

Menjelang subuh, rasa kantuk akhirnya mengalahkan pikirannya yang kusut. Namun seperti biasa, hidup tidak memberinya waktu untuk terlalu lama memikirkan perasaannya.

Alarm berbunyi, pekerjaan rumah menunggu, dan rutinitas kembali berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Ia menyiapkan sarapan, menyeduh kopi untuk Ardi, lalu membereskan dapur sebelum bersiap berangkat ke kantor.

Hari itu sebenarnya bukan hari biasa bagi Naila. Tepat pada tanggal tersebut, usianya kembali bertambah satu tahun.

Sejak kecil, ulang tahun selalu menjadi hari yang istimewa baginya, bukan karena hadiah atau pesta, melainkan karena kenangan sederhana bersama ayahnya. Lelaki itu tidak pernah memiliki banyak uang, tetapi selalu berusaha membuat hari ulang tahun putrinya terasa spesial.

Kadang hanya dengan sepotong roti yang diberi lilin kecil di atasnya, kadang dengan semangkuk bakso hangat yang mereka makan bersama sambil tertawa.

"Ayah mungkin nggak bisa kasih hadiah mahal," begitu ayahnya sering berkata, "tapi ulang tahun anak ayah nggak boleh lewat begitu saja."

Kenangan itu selalu membuat hati Naila hangat setiap kali mengingatnya.

Saat meletakkan sarapan di meja makan, tanpa sadar matanya beberapa kali melirik layar ponsel. Belum ada pesan apa pun dari Ardi. Ia mencoba berpikir positif.

Mungkin suaminya memang sengaja menunggu waktu yang tepat. Mungkin nanti saat berangkat kerja atau sepulang kantor akan ada kejutan kecil yang tidak ia duga.

Namun harapan itu perlahan memudar ketika Ardi keluar dari kamar, menikmati sarapannya seperti biasa, lalu bersiap berangkat kerja tanpa menunjukkan tanda-tanda mengingat tanggal penting tersebut.

"Aku berangkat dulu, ya."

"Iya, hati-hati."

Tidak ada ucapan selamat ulang tahun. Tidak ada senyum istimewa. Tidak ada pelukan atau perhatian kecil yang selama ini diam-diam ia harapkan.

Setelah pintu rumah tertutup, Naila masih berdiri beberapa saat di dekat meja makan sebelum akhirnya menghela napas pelan. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Ardi hanya lupa karena sedang banyak pikiran.

Di kantor, suasana yang berbeda justru datang dari orang-orang yang tidak pernah ia harapkan. Menjelang jam makan siang, beberapa rekan kerja tiba-tiba menghampirinya sambil membawa sekotak kue kecil.

"Selamat ulang tahun, Naila!"

Naila benar-benar terkejut. Ia bahkan sempat menatap mereka dengan bingung sebelum akhirnya tersenyum.

"Kalian ingat?"

"Ya jelas ingat. Data ulang tahun karyawan ada di HR. Masa kami nggak tahu?"

Tawa langsung pecah di ruangan itu. Seseorang menyanyikan lagu ulang tahun dengan suara yang sengaja dibuat fals, sementara yang lain ikut bertepuk tangan. Suasananya sederhana, bahkan sedikit berisik, tetapi untuk pertama kalinya hari itu Naila merasa dihargai.

Ia menyadari sesuatu yang cukup menyedihkan. Orang-orang yang hanya mengenalnya sebagai rekan kerja ternyata masih menyempatkan diri mengingat hari ulang tahunnya, sementara orang yang setiap hari hidup serumah dengannya justru melupakannya.

Sore hari, ia pulang sambil membawa kotak kue pemberian teman-teman kantor. Di sepanjang perjalanan, sebagian dirinya masih berharap Ardi hanya sedang berpura-pura lupa. Barangkali malam nanti ada makan malam sederhana atau sekadar ucapan yang terlambat.

Namun ketika membuka pintu rumah, harapan itu kembali mengecil.

Rumah dalam keadaan kosong, tak lama kemudian sebuah pesan masuk dari Ardi.

"Aku pulang agak malam. Ada rapat mendadak."

Naila membaca pesan itu beberapa saat sebelum membalas singkat.

"Iya."

Ia kemudian menyimpan kue ulang tahunnya ke dalam kulkas dan menghabiskan malam seorang diri.

Televisi menyala sebagai teman, tetapi pikirannya melayang ke mana-mana. Sesekali ia membuka ponsel, berharap ada pesan yang terlewat. Namun tidak ada apa-apa.

Sementara itu, beberapa kilometer dari rumah mereka, Ardi justru sedang duduk di sebuah restoran yang cukup ramai.

Di depannya, seorang wanita muda berambut panjang tersenyum sambil mengaduk minumannya perlahan. Mereka berbincang santai tentang pekerjaan, kehidupan sehari-hari, dan berbagai hal ringan yang membuat waktu terasa berjalan lebih cepat.

"Kamu nggak buru-buru pulang?" tanya wanita itu.

Ardi melirik jam tangannya sekilas lalu mengangkat bahu.

"Masih ada waktu."

"Kalau istrimu marah?"

Ardi tertawa kecil,

"Naila nggak pernah banyak tanya."

Wanita itu ikut tersenyum sebelum melanjutkan cerita yang membuat Ardi kembali tertawa. Tidak ada yang terlalu istimewa dari pertemuan itu jika dilihat sepintas, tetapi ada kenyamanan yang membuat Ardi betah berlama-lama di sana.

Ketika akhirnya mereka berpisah di area parkir, wanita itu berdiri cukup dekat saat mengucapkan salam perpisahan.

Parfum yang dikenakannya meninggalkan aroma bunga yang lembut dan elegan, aroma yang tanpa disadari menempel samar pada kemeja Ardi.

Saat Ardi tiba di rumah, jam sudah mendekati pukul sebelas malam.

"Nay, aku pulang."

"Hm."

"Rapatnya molor."

"Iya."

Naila tidak banyak bertanya. Ia terlalu lelah untuk memperpanjang percakapan. Beberapa menit kemudian, Ardi sudah tertidur dengan tenang, sementara hari ulang tahun Naila berakhir begitu saja tanpa satu ucapan pun dari suaminya.

Keesokan paginya, saat sedang memilah pakaian kotor untuk dicuci, tangan Naila mendadak berhenti ketika mengangkat kemeja yang dipakai Ardi semalam.

Ada aroma yang langsung menarik perhatiannya. Wanginya lembut dengan sentuhan bunga yang manis, aroma yang jelas berbeda dari parfum pria yang biasa digunakan suaminya.

Awalnya ia mengira dirinya hanya salah sangka. Namun setelah mengangkat kemeja itu lebih dekat, ia semakin yakin bahwa aroma tersebut berasal dari parfum wanita.

Saat Ardi keluar dari kamar sambil mengenakan sepatu, Naila menoleh ke arahnya.

"Mas, kamu pakai parfum baru?"

Ardi terlihat sedikit terkejut mendengar pertanyaan itu.

"Parfum baru? Nggak."

Naila mengangkat kemeja yang masih berada di tangannya.

"Aku mencium aroma parfum perempuan."

Hanya sepersekian detik, tetapi Naila sempat melihat perubahan ekspresi di wajah suaminya sebelum Ardi menjawab.

"Mungkin dari kantor. Banyak karyawan perempuan di sana."

Jawaban itu terdengar wajar, tetapi entah mengapa terasa terlalu cepat.

Naila tidak melanjutkan pertanyaan tersebut. Ia hanya mengangguk pelan dan kembali menatap kemeja di tangannya setelah Ardi berangkat kerja.

Selama bertahun-tahun menikah, ia tidak pernah sekalipun meragukan suaminya. Namun pagi itu, untuk pertama kalinya, sebuah pertanyaan yang tidak pernah muncul sebelumnya mulai mengusik pikirannya.

Apakah Ardi benar-benar sedang bekerja setiap kali pulang larut malam?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
roselaadele
author gassssssss lanjut
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Setelah Diceraikan, Mereka Baru Tahu Aku CEO   BAB 77

    #BAYANGAN DI BELAKANG NAILA SESEORANG SEDANG MENGAWASIKUSenyum di wajah Naila perlahan berubah menjadi lebih lembut. Ia menunduk sejenak, tidak tahu harus menjawab apa, karena ada ketulusan dalam suara Erik yang membuat dadanya terasa hangat.“Aku juga senang bisa menghabiskan waktu seperti ini,” jawabnya akhirnya.Erik tidak meminta penjelasan lebih jauh. Ia hanya mengangguk, seolah jawaban sederhana itu sudah cukup baginya untuk malam ini.Setelah mengantar Naila pulang, Erik memastikan perempuan itu masuk ke rumah dengan selamat sebelum kembali menuju mobilnya. Naila berdiri sebentar di balik pintu, memandangi kendaraan Erik yang perlahan menjauh dari halaman rumahnya.Begitu mobil itu menghilang dari pandangan, ia menyandarkan punggung pada pintu dan menutup wajahnya dengan kedua tangan. Senyum lebar muncul tanpa bisa ditahan.Ia merasa konyol karena bersikap seperti seorang gadis yang baru pertama kali menerima pe

  • Setelah Diceraikan, Mereka Baru Tahu Aku CEO   BAB 76

    #DEBARAN YANG KEMBALIPRIA YANG BERANI MELANGKAHNaila menghabiskan beberapa menit untuk memeriksa dokumen bersama Erik sebelum akhirnya menyadari bahwa pria itu tidak segera meninggalkan ruangannya seperti biasanya. Setelah pekerjaan utama mereka selesai, Erik justru menutup berkas yang ada di hadapannya dan menatap Naila dengan ekspresi yang sulit ditebak.“Ada apa?” tanya Naila ketika menyadari tatapan tersebut.“Aku ingin mengajakmu makan malam.”Naila yang sedang merapikan dokumen langsung menghentikan gerakannya. Ia mengangkat wajah, memastikan bahwa dirinya tidak salah mendengar perkataan Erik.“Makan malam?”“Ya. Kita sudah cukup lama bekerja bersama, tetapi hampir semua waktu yang kita habiskan selalu berkaitan dengan pekerjaan. Aku ingin mengajakmu pergi ke suatu tempat tanpa harus membicarakan laporan, rapat, atau urusan perusahaan.”Naila menatapnya beberapa saat sebelum tertawa kecil. “Bukankah kita

  • Setelah Diceraikan, Mereka Baru Tahu Aku CEO   BAB 75

    #PRIA YANG BERANI MELANGKAHLELAKI DI BALIK JABATANArdi tidak bisa berhenti memikirkan Erik sejak percakapan terakhirnya dengan teman kuliah mereka. Semakin ia mengingat masa lalu, semakin banyak hal yang terasa janggal, terutama keputusan Erik yang tiba-tiba menjauh ketika dirinya mulai menjalin hubungan dengan Naila. Selama bertahun-tahun, Ardi menganggap perubahan itu sebagai sesuatu yang wajar karena setiap orang memiliki jalan hidup masing-masing. Namun, setelah mengetahui bahwa Erik mungkin menyimpan perasaan kepada Naila sejak masa kuliah, ia mulai melihat kenangan lama mereka dari sudut pandang yang berbeda.Pagi itu, Ardi duduk di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan, ditemani ponsel yang sejak tadi menampilkan sejumlah halaman hasil pencarian. Ia sengaja menggunakan jaringan internet gratis di tempat tersebut karena tidak ingin menghabiskan uang untuk sesuatu yang belum tentu memberinya jawaban. Kehidupannya sekarang jauh berbeda dibandingkan beberapa bulan lalu. Ia ha

  • Setelah Diceraikan, Mereka Baru Tahu Aku CEO   BAB 74

    TEMAN LAMA YANG MENYIMPAN RAHASIAIa teringat pada bunga, cokelat, dan berbagai hadiah yang belakangan ini sering dibawa ke ruangan mantan istrinya. Dahulu, ia tidak pernah terlalu memedulikannya. Namun, sekarang, setelah mendengar pengakuan Erik tentang perempuan yang telah ditunggunya selama tujuh tahun, setiap hal kecil terasa seperti potongan teka-teki yang mungkin mengarah pada jawaban yang sama.“Hadiah itu dikirim oleh siapa?” tanya Ardi kepada petugas resepsionis.Perempuan di balik meja itu menggeleng sopan. “Maaf, Pak. Nama pengirimnya tidak tercantum.”Ardi terdiam. Ia sebenarnya tidak berhak mencampuri kehidupan pribadi Naila lagi, apalagi mempertanyakan siapa yang mengirimkan hadiah kepadanya. Namun, ketika membayangkan Erik berdiri di ruangan Naila dan menyaksikan perempuan itu tersenyum karena hadiah dari seseorang yang identitasnya dirahasiakan, dadanya mendadak terasa sesak.Ia tidak tahu apakah rasa tidak nyaman itu munc

  • Setelah Diceraikan, Mereka Baru Tahu Aku CEO   BAB 73

    PENGAGUM RAHASIAPagi itu, Ardi masih belum bisa mengusir percakapan semalam dari pikirannya. Bahkan setelah matahari muncul dan suara kendaraan mulai memenuhi jalanan, kalimat Erik yang didengarnya di kafe terus terngiang, seolah sengaja mengingatkannya pada sesuatu yang selama ini tidak pernah ia anggap penting.Aku sebentar lagi akan mendapatkan cinta yang selama ini aku tunggu tujuh tahun.Ardi duduk di tepi ranjang kecil di kamar kontrakannya, menatap foto lama yang masih tergeletak di atas meja. Dalam foto itu, ia berdiri di samping Erik dengan senyum lebar, sementara Erik hanya menunjukkan senyum tipis seperti kebiasaannya dahulu. Mereka pernah begitu dekat, berbagi banyak hal sebagai teman kuliah, tetapi ternyata ada bagian dari kehidupan Erik yang tidak pernah benar-benar ia ketahui.Jika perempuan yang dimaksud Erik memang Naila, lalu sejak kapan perasaan itu tumbuh? Apakah sejak masa kuliah, ketika mereka masih sering menghabi

  • Setelah Diceraikan, Mereka Baru Tahu Aku CEO   BAB 72

    KECURIGAAN YANG TIDAK BISA DIHENTIKANNaila tidak tahu siapa pria yang mengirimkannya. Ia juga tidak tahu bahwa ada seseorang yang telah menunggu dirinya selama tujuh tahun. Lebih dari itu, Naila belum menyadari bahwa orang tersebut sebenarnya sudah berada sangat dekat dengannya, seseorang yang setiap hari ia percaya dan selama ini hanya ia anggap sebagai teman lama.Seseorang bernama Erik.Ardi tidak bisa tidur dengan tenang malam itu. Meskipun tubuhnya terasa lelah setelah seharian bekerja sebagai tukang ojek, pikirannya terus dipenuhi percakapan yang ia dengar di kafe. Perkataan Erik tentang penantian selama tujuh tahun terus terngiang di telinganya, membuatnya kembali mengingat masa kuliah, ketika pria itu pernah bercerita bahwa dirinya sedang mencintai seseorang, tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengungkapkan perasaannya.Selama bertahun-tahun, Ardi tidak pernah merasa perlu mengingat percakapan tersebut. Baginya, itu hanyalah cerita lama di antara dua orang teman yang ki

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status