MasukNara menjalani pernikahan yang perlahan terasa seperti penjara dingin. Raka, pria yang dulunya menghujaninya dengan kehangatan dan kasih sayang, perlahan berubah menjadi sosok yang cuek, dingin, dan selalu menomorduakan dirinya. Di tengah hampa dan kesepian yang mengikis batinnya, penerbangan demi penerbangan menjadi satu-satunya pelarian Nara. Namun, penerbangan itu tak lagi sama sejak Kapten Dion—pilot atasan dengan pesona dominan, tampan, dan agresif—secara terang-terangan menunjukkan ketertarikannya. Dion menghadirkan gairah, perhatian intens, dan ketegangan fisik yang tak pernah lagi Nara rasakan dari suaminya. Meski rasa bersalah terus menghantuinya, pendekatan Dion yang manipulatif sekaligus memikat perlahan meruntuhkan benteng pertahanan Nara. Hubungan gelap berisiko tinggi pun terjalin di balik pintu rumah tangga. Saat Nara mulai tenggelam dalam pusaran gairah dan konflik batin yang makin bergejolak, sebuah penemuan tak terduga mengungkap tabir di balik dinginnya Raka selama ini—sebuah rahasia yang menghancurkan semua asumsinya dan membawa hubungan mereka ke jurang keputusan terbesar.
Lihat lebih banyakJarum jam dinding di ruang tamu menunjukkan pukul dua dini hari.
Suara dentingannya memecah keheningan rumah dua lantai yang luas.
Nara duduk di sudut sofa, mendekap erat kedua lututnya. Gaun tidur bahan sutra tipis berwarna krem yang dikenakannya tak mampu menghalau rasa dingin yang merayap. Bukan dari pendingin ruangan, melainkan dari kekosongan yang makin menggerogoti dadanya.
Nara sudah menunggu sejak pukul delapan malam. Lengkap dengan meja makan yang ditata rapi dan tiga jenis masakan kesukaan suaminya yang kini sudah mendingin di bawah tudung saji.
Nara tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang menyayat hatinya sendiri.
Dulu, Raka tidak pernah mengabaikan pesannya, apalagi pulang terlambat tanpa memberi kabar.
Dulu, Raka adalah pria yang akan memeluknya dari belakang saat ia memasak. Menyandarkan dagu di bahunya, dan berbisik betapa beruntungnya ia memiliki Nara.
Lalu suara raungan mesin mobil yang familiar masuk ke garasi memecahkan lamunan Nara. Jantung Nara berdesir cepat. Ada setitik harapan yang membumbung tinggi, berharap malam ini kehangatan Raka yang lama hilang akan kembali.
Nara bergegas berdiri, merapikan rambut panjangnya yang terurai, lalu berjalan menuju pintu depan. Saat gagang pintu diputar dari luar, Nara menyambut pria bertubuh jangkung yang melangkah masuk itu dengan senyuman terbaiknya.
"Kamu baru pulang, Mas? Mau aku panasin makanannya dulu?" bisik Nara lembut, menyambut jas hitam yang baru saja dilepas Raka.
Raka tidak langsung menjawab. Wajah tampan berahang tegas yang dulu selalu memancarkan kehangatan itu kini tampak begitu lelah. Tatapan matanya redup, nyaris tak melirik mata Nara.
"Gak usah, Nara. Aku sudah makan di luar," jawab Raka pendek. Suaranya datar, tanpa nada romantis yang dulu selalu menjadi candu bagi Nara.
Nara menahan napas sejenak, merasakan sengatan kecil di dadanya. "Makan di luar? Sama siapa, Mas? Katanya tadi sore ada pertemuan sama klien..."
Raka menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang menyiratkan kekesalan tersembunyi. "Sama rekan kantor. Sudah, ya, aku capek banget malam ini. Pengin langsung mandi terus tidur."
Pria itu melangkah melintasi Nara begitu saja.
Nara berdiri mematung di lorong menuju kamar. Tidak ada kecupan di kening seperti biasa. Tidak ada rangkulan hangat di pinggang. Raka berjalan seolah-olah Nara hanyalah bayangan tak kasat mata yang kebetulan menghuni rumah yang sama.
Nara menyusul masuk ke kamar utama beberapa saat kemudian. Ia melihat Raka sudah selesai membersihkan diri. dan kini melemparkan tubuhnya ke atas ranjang berukuran king size.
Sebelum Nara sempat membaringkan diri di sampingnya, Raka sudah menarik selimut tebal dan membalikkan tubuhnya—membelakangi sisi tempat tidur Nara.
Punggung lebar itu terasa seperti tembok tebal yang tak tertembus. Nara mengulurkan tangannya yang gemetar, mencoba menyentuh bahu Raka.
"Mas... kita sudah jarang sekali bicara minggu ini," gumam Nara lirih di dalam kegelapan kamar. "Aku besok ada penerbangan ke Singapura. Kamu gak mau ngobrol sebentar?"
"Nara, tolonglah," suara Raka terdengar ketus dari balik selimut. "Aku butuh tidur. Jangan mulai ngeluh jam segini. Kita bicarain lagi nanti kalau kamu sudah pulang tugas."
Tangan Nara berhenti di udara, lalu perlahan ditariknya kembali. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes hangat, membasahi bantal satinnya.
Pernikahan yang baru berjalan tiga tahun ini perlahan-lahan terasa mati. Raka tidak memukulnya, Raka tidak memaki-makinya, tetapi sikap dingin dan pengabaian yang terjadi bertubi-tubi ini membunuhnya secara perlahan dari dalam.
Nara tidak bisa memejamkan mata sepanjang malam. Rasa gelisah merayapi benaknya.
Menjelang fajar, ketika napas Raka sudah terdengar teratur dalam tidur lelapnya, Nara memutuskan untuk bangun. Ia merapikan kamar, menyiapkan seragam pramugarinya, dan mulai mengumpulkan pakaian kotor Raka untuk dimasukkan ke dalam keranjang laundry sebelum ia berangkat ke bandara.
Nara mengambil jas hitam yang semalam ditaruhnya di atas kursi. Saat ia membalikkan jas tersebut untuk memeriksa saku-sakunya, matanya menangkap sesuatu yang terikat rapat di salah satu kancing jas bawah suaminya.
Nara mendekatkan jas itu ke dadanya, lalu menunduk untuk memperhatikan lebih dekat.
Jantungnya seolah berhenti berdetak saat jemarinya mencabut benda yang hampir tak terlihat itu. Itu bukan benang. Itu adalah sehelai rambut panjang berwarna cokelat terang dengan tekstur bergelombang—sangat berbeda dengan rambut Nara yang lurus dan hitam pekat.
Dan saat jas itu terangkat mendekati wajahnya, aroma yang menyengat langsung menerpa indra penciumannya.
Bukan parfum woody maskulin milik Raka. Bukan pula parfum floral milik Nara.
Itu adalah aroma parfum manis yang asing—harum vanilla berry yang sangat menyengat, melekat di kain jas suaminya.
Nara menatap pesan dari Kapten Dion di layar ponselnya dengan dada berdebar kencang. Jemarinya melayang di atas papan ketik virtual, diliputi keraguan mendalam.Sebagian kecil dalam dirinya—bagian yang terluka dan merasa kesepian—tertarik untuk menyambut ajakan itu, sekadar untuk merasa dihargai. Namun, nurani dan statusnya sebagai seorang istri sah menahannya kuat-kuat.Ia menelan ludah, menetralkan desiran aneh di dadanya, lalu mulai mengetik balasan dengan formal dan hati-hati.“Terima kasih atas perhatiannya, Kapten. Tapi mohon maaf, saya sudah sangat lelah setelah penerbangan tadi dan ingin segera istirahat di kamar. Selamat malam.”Nara menekan tombol kirim.Nara menghela napas lega, merasa telah mengambil keputusan yang tepat. Ia tidak boleh melintasi batasan profesionalitas, apalagi memberikan ruang bagi pria lain untuk masuk ke dalam celah keretakan rumah tangganya.Ia meletakkan ponsel itu di atas meja samping tempat tidur, lalu berjalan menuju cermin untuk menyisir rambut h
Aroma mint yang menenangkan bercampur hangat tubuh Dion terasa membekas di benak Nara.Sentuhan kuat di pinggangnya di ruang galley beberapa jam lalu terus terngiang, seolah menolak sirna meski roda pesawat kini telah menyentuh landasan Bandara Changi, Singapura.Nara berusaha bersikap seprofesional mungkin hingga proses deboarding usai.Namun, setiap kali pandangannya secara tak sengaja bertemu dengan manik mata cokelat gelap milik Dion yang berdiri di pintu kokpit saat menyapa penumpang keluar, dadanya selalu berdesir kencang.Ada binar penuh arti di mata pria itu, sarat akan makna terselubung yang makin sulit Nara abaikan.Setelah seluruh proses penerbangan selesai dan prosedur administrasi ditutup, para awak pesawat dijemput oleh bus khusus maskapai menuju hotel transit di kawasan Marina Bay.Di sepanjang perjalanan, Nara lebih banyak melemparkan pandangan ke luar jendela bus, menatap gemerlap lampu kota Singapura yang memantul di atas permukaan air.Maya yang duduk di sampingnya
Sensasi hangat dari sentuhan Dion di punggung tangannya seolah masih terasa di kulit Nara. Membuatnya menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan kekacauan di dalam dadanya.Prosedur boarding berlangsung cepat dan efisien. Penumpang mengalir masuk mengisi lorong-lorong kabin kelas bisnis dan ekonomi.Sebagai pramugari senior, Nara memamerkan senyum terbaiknya. Menyapa setiap penumpang dengan nada suara yang hangat dan anggun.Namun di balik kedok profesional itu, pikiran Nara terus melayang. Terbagi antara helai rambut di jas Raka dan tatapan memikat Dion yang seolah bisa membaca semua rahasia emosinya."Pintu kabin sudah cross-check dan teratur, Mbak Nara," lapor Maya seraya menghampirinya di area galley depan."Terima kasih, Maya. Persiapkan diri untuk take-off," jawab Nara tenang.Tak lama kemudian, suara bariton yang sudah sangat familiar terdengar memecah keheningan kabin melalui sistem Public Address. Suara Kapten Dion mengudara, memberikan informasi penerbangan dengan gaya bica
Atmosfer di dalam briefing room terasa menegang seketika.Dion melangkah mantap menuju ujung meja oval, membiarkan topi kaptennya tergeletak santai di atas permukaan kaca. Posturnya yang tegap dan garis wajahnya yang tegas memancarkan otoritas yang tak terbantahkan.Pria itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, menatap satu per satu awak kru pesawat yang berdiri kaku dalam posisi siap."Selamat pagi," ulang Dion dengan suara yang menggema di setiap sudut ruangan. "Penerbangan kita hari ini menuju Singapura. Cuaca di rute prediksi cerah berawan, namun kita tetap harus waspada terhadap potensi turbulensi ringan di atas Kepulauan Riau."Semua kru menyahut serentak dengan nada hormat. Nara ikut mengangguk, berusaha menjaga pandangannya tetap tertuju pada dokumen cetak di tangannya.Namun, Nara bisa merasakan ketegangan aneh—sebuah insting yang memberitahunya bahwa ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya dengan intensitas yang berbeda.Saat Dion memberikan pengarahan terkait pr


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.