MasukBab 145: Lembaran Baru Hari masih pagi saat mobil yang dikemudikan oleh Melvin akhirnya sampai di depan sebuah bangunan yang masih kokoh. Bangunan dengan warna dominan putih bercampur coklat kayu seolah menegaskan jati dirinya. Sebuah gedung juga berdiri megah di samping bangunan itu, gedung yang jauh lebih besar itu adalah Puskesmas kecamatan setempat."Akhirnya kita sampai. Mari kita keluar, Sayang." Pria itu membuka pintu mobil, dan dengan setengah berlari dia membuka pintu mobil satunya, lalu menuntun Vina turun dari mobil.Gerak-geriknya begitu berhati-hati karena menyadari jika putra kecil mereka masih berusia 3 bulan.Udara di daerah tersebut terasa sangat bersih dan sejuk, jauh dari hiruk-pikuk polusi perkotaan yang biasa mereka rasakan. Melvin menghirup napas dalam-dalam menikmati aroma tanah dan pepohonan yang menenangkan. Vina berdiri di samping Melvin, menatap bangunan rumah dinas di hadapan mereka dengan binar mata yang campur aduk—ada rasa gugup, namun didominasi ole
Bab 144: Jalan yang Berbeda"Apa?! Rumah ini disita?" Seluruh persendian di tubuh Atika seketika lemas tak bertenaga, sementara matanya menghitung beberapa orang yang kini tengah berdiri di hadapannya."Sepertinya kalian adalah penghuni rumah ilegal, jadi tidak tahu tentang hutang piutang mendiang Nyonya Desti." Pria itu balas menatap dengan menyelidik."Kami tidak tahu soal hutang piutang almarhumah Desti. Kami adalah kerabat jauh yang ditugaskan untuk tinggal di rumah ini, karena almarhumah tidak memiliki keluarga dekat yang lebih berhak untuk mewarisi hartanya." Atika mengarang cerita dengan cepat, seraya menatap Moana Gadis itu hanya diam dengan wajah yang ditekuk."Oke, oke, apapun alasan kalian, tetapi nyatanya kami sudah memberikan penjelasan. Seharusnya rumah ini sudah lama dikosongkan, jadi tidak perlu sampai ada drama untuk menyuruh anggota keluarga yang lain tinggal di sini." Pria yang berada di samping pria yang memperlihatkan tumpukan berkas itu menambahkan.Kedua pria
Bab 143: Sayang, Siapa Dia?William tetap berdiri protektif di samping Anya, namun dengan posisi agak maju ke depan. Tubuh Anya menempel ketat padanya. Dadanya naik turun, napasnya memburu bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang tertahan. Seseorang baru saja mencoba mencelakai istri dan calon bayinya.Ini bukan main-main.Bagi seseorang yang sudah belasan tahun hidup di ruang dunia bawah tanah, si pelaku ini wajib mendapatkan balasan yang setimpal. Melihat pengendara motor itu tak bergerak di dekat pohon besar dengan darah yang mulai mengalir dari balik helm, William melangkah waspada, masih dengan Anya yang ia paksa tetap menempel ketat padanya. Dia berlutut dan dengan hati-hati membuka kaca helm full-face yang retak tersebut untuk melihat siapa pelakunya.Seketika itu juga, Anya mematung."Desti...?" gumam Anya tak percaya. Melihat keadaan Desti yang mengenaskan, membuat Anya merasa ngeri, dia bahkan tanpa sadar berpegang kuat pada bahu William.Sudah belasan tahun
Bab 142: Ancaman Tak TerdugaSuasana hening yang mencekam masih menyelimuti ruangan setelah Karina selesai berbicara. Semua mata tertuju pada Anya. William pun tetap tidak melepaskan genggamannya, justru memberikan kebebasan penuh pada istrinya untuk mengambil keputusan.Anya menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum tipis, senyum khas seorang wanita yang telah kenyang dengan asam garam kehidupan.Dia sudah pernah kehilangan sesuatu yang sangat penting di dalam hidupnya dan itu adalah pelajaran yang berharga. Waktu sepuluh tahun, bayangkan. Itu bukan waktu yang sebentar. Hidup di dalam pengasingan membuatnya menyadari jika terkadang menjadi orang yang tidak dikenal merupakan sebuah kebaikan.Sementara jika dia dan William memilih untuk go public, bukan tidak mungkin musuh-musuhnya atau orang-orang yang iri dengki kepadanya akan kembali bereaksi. Anya lebih baik mengalah dan menjadi tidak dikenal, asalkan dia dan suaminya yang sekarang bisa hidup dengan tenang, apalagi kini dia tenga
Bab 141: Kabar BahagiaSuasana di ruang tengah terasa hangat. Ratih dan Bima duduk berdampingan lesehan di karpet tebal, sembari memantau putri mereka yang tengah bermain bersama dengan pengasuhnya.Anya dan William saling bertukar pandang sebelum akhirnya William berdeham."Mohon maaf... mungkin ini terlalu cepat buat kalian tapi rasanya kalian semua pasti akan bisa menerimanya," ujar William dengan nada suara yang bergetar namun penuh kebahagiaan, "Memangnya ada apa sih, Om. Kok kayaknya serius sekali? Apa Mama Anya sakit?" Bima langsung menduga karena melihat raut wajah Anya yang masih terlihat pucat."Bukan! Mama kalian tidak sakit...." Lagi-lagi sepasang suami istri itu berpandangan. Melihat raut wajah Anya yang terlihat ragu, William hanya mampu meneguk ludahnya.Ini memang kabar bahagia, tetapi bukan berarti bisa dengan mudah dimengerti, meskipun William yakin, pasti Ratih dan Bima akan bisa menerima kehamilan Anya dengan baik. Namun mengingat usia Ratih yang sudah dewasa,
Bab 140: Retaknya RahasiaTangannya mengepal, kuat sekali, sampai buku-buku jarinya memutih, kemarahannya sudah sampai di ubun-ubun. Desti menatap nyalang pecahan kaca yang berserakan di sekelilingnya. Pigura itu sudah hancur, dan tangannya langsung lembaran foto yang tergeletak di lantai. Desti merobeknya hingga menjadi serpihan kecil, penuh kebencian.Dulu, foto ini yang menjadi penyemangatnya. Desti berharap, setelah Anya menghilang, Aliando kembali teringat kepadanya. Namun harapan itu pupus, karena ternyata justru Atika yang dibawa masuk ke dalam keluarga Pramudita. Desti sempat berharap, bahkan berusaha mencari Aliando saat pria itu jatuh dan ditinggalkan oleh Atika, berharap ia bisa melakukan suatu hal yang dulu pernah dilakukan Anya terhadap Aliando, demi memenangkan hati pria itu. Namun lagi-lagi usahanya gagal. Sebelum sempat menemukan Aliando, kabar kematiannya sudah lebih dulu sampai ke telinga Desti.Cintanya tetap bertepuk sebelah tangan!Bahkan sampai jasad pria itu
Bab 137: Cinta Tak Bersyarat Keheningan yang khidmat menyelimuti ruang VIP setelah semua kisah pengasingan sepuluh tahun itu terungkap. Ratih masih menyandarkan kepalanya di bahu Anya, merasakan kehangatan yang selama ini hilang.Ratih masih sibuk mengisi tangki cintanya setelah 10 tahun kosong
Bab 136: Muara Air Mata dan KebenaranSuara riuh kilatan kamera dan bisik-bisik wartawan seolah lenyap dari indera pendengaran Ratih. Kakinya yang gemetar membawa tubuhnya berlari turun dari podium, menghambur ke dalam pelukan wanita berbaju marun itu."Mama...!" jerit Ratih histeris. Isaknya pe
Bab 135: Kejutan yang Tak TerdugaDi tengah hiruk pikuk dan sorak sorai yang menggema saat Ratih menggunting pita yang menjadi tanda diresmikannya perusahaan baru, sebuah mobil meluncur memasuki halaman gedung megah itu.Suara ban mobil yang berdecit seolah menjadi penanda akan babak baru yang akan
Bab 134: Babak Baru yang BerbedaHasna mendongak, menatap Atika dan Moana bergantian dengan tatapan menuntut. Tidak ada sisa keanggunan seorang nyonya besar di wajahnya yang kuyu. Penampilannya begitu berbeda. Dari seorang wanita sosialita yang lekat dengan barang bermerek terkenal, menjadi seora







