Share

Bab 6

Penulis: Kirana Manis
"Iya … jika memang ada kebutuhan, seharusnya suami dan istri bekerja sama."

"Baik." Darian menyetujuinya.

"Ayo pergi." Darian berjalan menuju arah lift.

Isyana menutup wajahnya yang memerah, mengikuti di belakang Darian dan berjalan masuk ke dalam lift.

Dia menuduk malu-malu. Tubuhnya basah kuyup berdiri di belakang Darian, seperti anak anjing kecil yang baru saja dipungut olehnya.

Sementara Darian, meskipun setelan jas dan celana mahalnya meneteskan air, dan di sisinya membawa koper yang rusak akibat terjatuh, tetap tak menunjukkan sedikit pun tanda-tanda canggung atau malu.

Dia memiliki karisma alami yang membuatnya sulit dijangkau orang lain, ketenangan batin, stabilitas pribadi yang membuatnya menonjol tanpa perlu berusaha keras.

Isyana tidak lagi merasa begitu bingung.

Karena pria itu adalah satu-satunya orang yang bisa menyelamatkannya dari jurang keputusasaan.

Tidak ada seorang gadis pun yang bisa menolak ketika dijaga dengan penuh perhatian di saat paling putus asa.

Meski masing-masing dari mereka memiliki keperluannya sendiri.

"Sudah sampai." Darian keluar sambil membawa koper Isyana, menatap wanita kecil yang berdiri terpaku di sana.

Isyana terkejut, mengangkat pandangan, menjawab singkat lalu langsung mengikuti Darian.

Saat keluar dari lift, dia menatap interior vila itu.

Nuansa abu-abu yang tenang membuat seluruh ruangan terasa dingin tetapi segar, sangat mirip dengan kepribadian Darian.

Namun, setiap detailnya dipoles dengan cermat, bak sebuah karya seni, membuat orang terpesona.

Ini adalah kali pertama dia memasuki rumah besar yang begitu indah.

"Kamar tamuku belum pernah dipakai. Nanti aku ambilkan satu set seprai dari kamarku untukmu. Kamu mandi dan ganti baju dulu." Darian pun menyerahkan koper kepada Isyana.

Setiap kata yang dia ucapkan membuat Isyana merasakan semacam rasa dikendalikan oleh atasannya.

Suaranya dingin dan tegas, berbicara dengan nada datar, tetapi memancarkan wibawa.

Isyana sama sekali tidak berani menatapnya, hanya mengangguk patuh. "Baik."

Isyana pun menyeret koper yang salah satu rodanya lepas, lalu memutar gagang pintu kamar tamu.

Hanya ada sebuah tempat tidur baru dan sofa. Dibandingkan dengan kamar kecilnya di rumah yang hanya ruang penyimpanan yang dimodifikasi, kamar ini seperti rumah impiannya.

Bersih dan terang, ukurannya tujuh hingga delapan kali lebih besar dari tempat dia tinggal sebelumnya, dan bahkan memiliki kamar mandi dan toilet sendiri.

Isyana sangat menyukainya.

Dia segera menyeret koper masuk, bersiap mencari pakaian untuk mandi dan membersihkan diri.

Tapi setelah membuka koper, dia terkejut.

Tak heran koper terasa sangat berat. Ternyata koper itu rusak karena jatuh dan kemasukan air.

Pakaian Isyana semuanya basah.

Isyana membuka seluruh isi koper dan memeriksa, tetapi tidak ada satu pun yang bisa dipakai.

"Semua basah?" Darian ikut maju dan melirik koper Isyana.

Isyana menggigit bibir bawahnya, agak kesal, lalu mengangguk. "Nanti aku pakai pengering rambut untuk mengeringkannya."

"Kuambilkan satu pakaian untukmu." Darian kembali menoleh dan meninggalkan kamar.

Isyana menatap celana pria itu yang basah kuyup. Wanita itu pun berjongkok di lantai, jelas ini hanya percakapan sederhana, tetapi entah kenapa jantungnya terasa tak terkendali, terus berdetak lebih cepat.

Sangat panas … sangat panas.

Rasanya pakaian yang basah kuyup di tubuhnya bisa dikeringkan oleh panas tubuhnya sendiri.

Isyana bersiap mengangkat semua pakaian untuk dicuci bersih.

Saat dia masih mengacak-acak koper, Darian sudah kembali, membawa sebuah kemeja hitam miliknya.

"Mandi di tempatku saja, di sini tidak ada air panas dan sabun mandi."

Isyana menatap kemeja hitam yang tergantung di depannya, mengangkat wajah kecilnya yang basah, matanya yang sembab memancarkan sedikit rasa takut.

Dia begitu menatap Darian, jelas sekali sedang ragu-ragu.

"Jangan sampai masuk angin. Aku akan membantumu mencucinya." Darian melemparkan bajunya ke Isyana, lalu membungkuk dan mengambil semua pakaian dari koper.

Perbedaan kekuatan antara pria dan wanita memang sangat besar. Isyana sudah mencoba mengangkatnya sejak tadi tetapi tidak berhasil.

Namun, bisa membuat Darian dengan rela menundukkan diri mencuci pakaian untuknya, Isyana benar-benar tidak tahu bagaimana harus menggambarkan perasaannya.

Melihat sosok pria itu yang basah kuyup, wajahnya makin memerah.

Isyana bingung sebentar memegang kemeja hitam di tangannya, tetapi dia teringat Darian, dari saat dia menjemputnya hingga sekarang, selalu bersikap sopan.

Isyana pun tidak terlalu memikirkannya.

Apalagi mereka belum resmi menikah, dia masih bisa dianggap sopan. Hari ini seharusnya tidak akan terjadi apa-apa .…

Akan tetapi, Isyana meremehkan sifat asli pria.

Atau mungkin, Darian juga meremehkan batas kesabarannya sendiri.

Setelah memasukkan semua pakaian Isyana ke dalam mesin cuci, Darian sekalian melepas kemejanya sendiri dan ikut memasukkannya.

Saat dia kembali, dia melihat Isyana seperti seekor kura-kura pemalu merayap ke kamarnya sendiri. Mata hitam Darian yang jernih sedikit menyipit.

Isyana sampai di kamar Darian. Dia menatap kamar besar yang luasnya ratusan meter persegi itu sampai tertegun.

Jadi orang kaya memang enak. Kamar tidur saja bisa sebanding dengan apartemen tiga kamar milik orang lain.

Isyana sempat tidak tahu di mana kamar mandinya.

Saat dia masih terdiam, Darian sudah melangkah mendekat di belakangnya.

Begitu Isyana mendorong pintu kamar mandi, tubuhnya langsung dipeluk seorang pria dari belakang dengan satu tangan, lalu diangkat masuk.

Krak.

Pintu kamar mandi di belakangnya tertutup. Isyana basah kuyup, lengket dan tak nyaman. Dengan terkejut, dia menatap Darian.

"Kamu … kenapa?"

Baru tadi pria itu rapi dan tenang, tetapi sekarang malah menanggalkan pakaiannya dan masuk ke kamar mandi bersamanya!

"Takut kedinginan, jadi ikut mandi." Suara jernihnya dan kata-katanya membuat Isyana langsung merasa malu dan ingin segera melarikan diri.

"Tidak, kamu dulu yang mandi. Aku nanti saja." Isyana berusaha melepaskan diri dan ingin turun lari.

Darian melihat ekspresi malu dan canggungnya, lalu melepaskannya. Namun, dia justru mengangkat Isyana dan menempatkannya duduk di atas wastafel, sambil mundur satu langkah ke samping, kedua tangannya menopang di sisi tubuh Isyana.

"Kamu malu?"

"Tidak." Isyana menggeleng.

Rambutnya masih meneteskan air hujan, dipadukan dengan wajah kecilnya yang pucat dan bening, terlihat lembut dan mudah disakiti.

Di depannya, Darian berdiri sangat dekat, dan bagaimanapun Isyana melihat, matanya selalu tertuju pada bayangan pria itu tanpa pakaian.

Darian mengangkat tangan dan menggenggam wajah kecil Isyana.

"Kamu kemarin menggigit dan mencengkeramku, jadi hari ini hukumanmu adalah memandikanku, tidak berlebihan, 'kan? Hmm?"

Di kamar mandi yang sunyi, suara pria itu dalam dan rendah, membawa sensasi menggoda yang membuat hati berdebar.

Wajah Isyana memerah sampai seperti kepiting rebus, matanya menatap malu ke dada Darian.

Tubuh Darian sangat bagus, termasuk tinggi dan proporsional sempurna. Air hujan yang menetes di ujung rambutnya mengalir di kulitnya yang kecokelatan, mengikuti lekuk tubuhnya yang seperti pahatan, menuruni leher, melewati jakun, lalu melewati dada yang kekar ke bawah.

Di otot dadanya memang tampak bekas gigitan dari Isyana. Itu karena dia menyakiti Isyana, lalu Isyana membalas dengan menggigit.

Mungkin ini pertama kalinya Isyana melihat pria dengan cara yang begitu langsung. Dia tidak tahu bagaimana harus mengalihkan pandangan, sehingga matanya terus bersinar memandangi tubuh Darian.

Apalagi ketika melihat delapan otot perut yang terkena air itu. Garis-garis otot yang tegas memancarkan aroma hormon yang kuat, setiap bagian pernah dia sentuh ketika sedang bingung dan tergoda.

Pertama kali menyentuhnya, tetapi rasanya luar biasa enak.

Lalu ada garis otot perut yang belum masuk ke dalam celana, dan lebih ke bawah lagi adalah .…

Isyana merasa tubuhnya mulai panas.

Darian menatap setiap perubahan ekspresinya dengan saksama.

"Kalau tidak pakai baju, apakah terlihat lebih bagus? Hmm?"

Isyana yang ditanya merasa malu sampai ingin mencari lubang untuk bersembunyi.

"Aku tidak ingin menjawab pertanyaan ini." Dia menutup wajahnya sambil menolak.

Namun, Darian membawanya ke bawah pancuran.

Aliran air hangat menyiram tubuhnya, menambah sensasi panas pada kulit yang sebenarnya sudah terbakar.

Darian menggenggam tangan kecil Isyana dan menaruhnya di celananya. Dia lalu menunduk di samping Isyana sambil berbisik dengan suara serak menggoda, "Bantu aku buka."
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Menikah, Hatiku Terperangkap   Bab 50

    Acara makan itu membuat Isyana benar-benar tegang hingga jantungnya berdebar kencang.Sejak Darian duduk, suasana menjadi sangat dingin. Semua orang makan dengan tenang dan fokus."Aku pergi ke toilet. Kalian makan dulu saja," kata Isyana pelan, lalu berdiri.Dia juga sempat melirik Nana.Nana tidak berani bergerak, karena di sebelahnya adalah sang CEO. Dia hanya bisa menggelengkan kepala.Melihat itu, Isyana pergi sendiri ke toilet.Saat Darian menaruh kembali garpunya, Kak Diana turun tangan untuk menenangkan suasana."Pak Darian, untuk makan malam hari ini aku belum bisa melayani dengan baik. Kalau ada kesempatan lain, aku akan berterima kasih atas perhatian dan penghargaan Pak Darian.""Kalau kemampuanmu memang sudah menonjol, tidak perlu ucapan terima kasih tambahan. Kamu tidak perlu bayar makanan ini. Kerjalah dengan seimbang antara kerja dan istirahat," kata Darian. Setelah itu, dia dengan elegan menyeka mulutnya, melirik jam di pergelangan tangan, lalu bangkit berdiri dan pergi

  • Setelah Menikah, Hatiku Terperangkap   Bab 49

    Pelayan bahkan lebih perhatian. Dia membawa kursi dan meletakkannya di belakang Darian."Pak Darian, silakan duduk."Darian duduk dengan anggun. Pandangan matanya yang dalam dan dingin menatap Isyana. "Steiknya dipotong dengan sangat baik, ya."Isyana terkejut hingga bulu matanya bergetar hebat.Dia pun mengumpulkan keberanian untuk melirik pria yang duduk di sisi depannya. Wajahnya yang dingin tanpa ekspresi membuat jantung Isyana seakan melompat ke tenggorokan."Mm .…" Isyana terlalu tegang, jadi suaranya terdengar agak teredam."Pak Darian suka makan apa?" Evan bertanya dengan sopan."Aku rasa yang sudah dipotong itu cukup bagus." Darian menatap wajah Isyana yang tampak canggung, pandangannya menurun sampai ke ujung matanya.Isyana jelas tahu, pandangan pria itu yang seolah ingin memakannya, sejak awal tak pernah benar-benar berpindah."Belum aku makan, Pak Darian. Kalau Bapak tidak keberatan, silakan makan dulu."Isyana perlahan mendorong steik yang baru dipotong dan masih mengepul

  • Setelah Menikah, Hatiku Terperangkap   Bab 48

    Di restoran, semuanya pertama-tama bersulang segelas jus untuk Kak Diana, memberi selamat atas kenaikan jabatannya.Ketiganya kemudian mengobrol sebentar lagi.Selama itu, percakapan paling seru terjadi antara Nana dan Kak Diana. Nana benar-benar memperlakukan kakak kelasnya seolah anggota keluarganya sendiri. Sama sekali tidak menahan diri untuk membicarakan Linda, membuat suasananya terasa sangat puas dan lega."Kak Evan, kamu tidak boleh bocorin ya. Aku masih harus bekerja di bawahnya." Nana tak lupa menekankan."Tenang, aku tidak dengar apa-apa. Kalian mengobrol saja. Aku potongkan steik buat kalian." Evan benar-benar menempatkan dirinya seperti pelayan di meja makan. Kadang-kadang dia juga ikut mengobrol beberapa kata.Dia dengan serius memotong steik untuk ketiga perempuan itu.Satu tangan memegang pisau, satu tangan memegang garpu, gerakannya sopan dan enak untuk dilihat."Bu Diana, ini sirloin steikmu. Hati-hati panas.""Baik, terima kasih, Pak Evan. Kamu benar-benar perhatian.

  • Setelah Menikah, Hatiku Terperangkap   Bab 47

    "Yuk, kita naik dulu cari tempat duduk. Pak Darian bilang bulan ini aku sudah dapat gaji manajer, jadi hari ini makan apa saja, aku yang bayar.""Boleh, boleh." Isyana tersenyum, pipinya sampai memerah.Dulu, saat keuangan pas-pasan, dia selalu merasa takut ikut kumpul atau makan bersama tim, karena itu bisa menghabiskan banyak uang bulanannya, dan dia juga tidak berani menerima terlalu banyak perhatian, takut berutang budi pada orang lain.Namun sekarang, setelah memutus beberapa hubungan, dia merasa lega, dan berani menerima kebaikan orang lain karena dia bisa membalasnya di lain waktu.Isyana sangat menyukai paket steik di restoran ini.Keduanya pun masuk ke restoran, lalu memilih sudut yang tenang dan indah untuk duduk.Isyana awalnya ingin duduk bersama Kak Diana, tetapi Kak Diana tidak duduk, melainkan pergi ke meja kasir untuk membicarakan sesuatu.Mungkin dia pergi menukarkan kartu kerja untuk mendapatkan diskon karyawan.Isyana pun duduk dengan tenang, membuka dan melihat-liha

  • Setelah Menikah, Hatiku Terperangkap   Bab 46

    Suasana hati Isyana pagi itu agak kurang baik, lalu mencoba mengalihkan perhatian dengan bekerja.Kak Diana pergi ke bagian HR sebentar. Setelah kembali, saat melihat kartu kerja yang baru, dia terus menundukkan kepala sambil tersenyum diam-diam."Selamat ya, Kak Diana, sudah naik jabatan jadi manajer." Nana dengan wajah nakal dan ceria tiba-tiba mulai ribut.Baru saat itu Isyana menyadari bahwa Kak Diana sudah kembali dari bagian HR."Selamat ya, Kak Diana, semoga terus naik jabatan. Sekarang sudah menjadi manajer …." Isyana juga bertepuk tangan memberi selamat."Terima kasih atas dukungan kalian. Aku bisa naik jabatan juga karena menumpang keberuntunganmu, Isyana. Siang ini aku traktir, bagaimana kalau kita makan bersama?" kata Kak Diana, dan setelah itu kantor kembali dipenuhi sorak sorai."Maaf, aku sudah janji dengan seseorang. Tidak ada waktu." Asisten Linda, Anna, menolak dengan wajah dingin.Kelompok mereka sendiri memang sudah sedikit anggotanya, dan bahkan terbagi menjadi dua

  • Setelah Menikah, Hatiku Terperangkap   Bab 45

    Saat itu, para rekan kerja yang sedang menonton drama pun ramai-ramai mengirimkan stiker ekspresi mereka.Jelas, masalah ini tampaknya tidak akan segera reda.Isyana mulai sedikit marah.Dia tidak membalas, tetapi Darian yang angkat bicara.Pria yang biasanya tidak pernah berkomentar di grup utama itu, setelah mengirim dua pesan sejak pagi, kali ini berbicara lagi, tetapi sudah tidak selembut tadi pagi.Darian: [Di grup perusahaan, selain pengumuman resmi, tidak boleh mengobrol sembarangan!]Begitu perkataan itu keluar, semua orang yang tadinya masih santai ikut menonton drama langsung menjadi serius, dan pesan-pesan yang masuk pun langsung membanjiri layar."William, atur grupnya. Hanya aku yang boleh berbicara, yang lain semua dibisukan." Wajah tampan Darian yang dingin terlihat muram dan menakutkan.William langsung mengeluarkan ponselnya untuk mengatur."Beres."Setelah melihat notifikasi semua orang dibisukan, layar tidak lagi sibuk memperbarui pesan secara gila-gilaan.Darian: [L

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status