INICIAR SESIÓNAku baru selesai membuat makan malam setelah beristirahat sebentar. Raka masih di kamar bersama Mas Arlan. Dia menemani anaknya yang tidak ingin tidur meski kami khawatir dia jatuh sakit jika kelelahan.
Aku memasak sup tahu karena Mas Arlan belanja bahan itu. Aku memanggil anak dan suamiku saat makanan sudah selesai. Raka berlari keluar kamar dan memanggilku. Aku melihatnya menunjukkan karyanya.“Ini Mama, Papa, Raka. Bagus gak, Mama?” tanya Raka.“Usahaku dan keluargaku mengumpulkan sebagian uang kami akhirnya terkumpul. Aku berada di bank tempat Tante menggadaikan sertifikat rumah. Aku menunggu prosesnya dan menerima kembali sertifikat yang menjadi jaminan. Aku bernapas lega dan mengucapkan terima kasih ke suamiku yang membantu menyelesaikan semuanya. Bunda pun sudah berangsur baik. Kebahagiaanku bertambah karena kondisi Bunda. Aku masuk ke mobil bersama suamiku dan menuju ke kafe untuk memantau perkembangan kafe. “Gimana kafe bulan ini?” tanyaku saat manajer kafe menyambut kami. Manajer kafe menjelaskan tentang inovasi masakan Korea dan Jepang yang saat ini menjadi menu baru yang diminati. “Mau coba ramennya dong. Aku tunggu di sana, ya. Jangan lupa, laporan keuangan bulan ini, ya.” Aku menunjuk meja kosong dan memesan dua porsi ramen. Aku duduk di depan suamiku dan mengedarkan pandangan. “Keren juga idemu. Sekarang makin banyak orang suka makanan luar. Banyak yang lebih memilih nongkrong di kafe gini, daripada di warung
Aku duduk bersama suamiku dan Kak Dana. Sedangkan, Mbak Putri menemani anak-anak di kamar. Kak Dana mulai menanyakan tentang Bunda. Aku pun jujur apa yang terjadi akhir-akhir ini. Kak Dana terkejut dan menahan amarahnya. Dia menggelengkan kepalanya menatapku. Aku menggigit bibir bagian dalamku. Aku masih saja takut jika Kak Dana sudah marah. “Kakak sudah pernah bilang, jangan berurusan lagi sama Tante. Sekarang, kamu mau gimana?” tanya Kak Dana.“Tante mengembalikan lahannya atas nama Farin dan Hana, rumahnya atas nama Farin, Farin gunakan itu buat melunasi rumah besar Kakek. Sebentar aja, Farin akan sewakan itu. Farin gak mau menjualnya.” Kak Dana menganggukkan kepalanya. Dia paling anti jika ada yang harus menjual harta waris demi Tante.“Kalau ada yang bisa Kakak bantu, telepon Kakak. Nanti Kakak lihat Bunda. Kamu check lagi rekening lamamu. Ayah sering minta Kakak kirim uang hasil panen lahan Bundamu. Kakak gak ngomong karena Kakak pikir kamu tahu. Bunda yang minta kirim ke kamu
Aku bangun pagi sekali dan menuju dapur untuk memasak. Aku masih tinggal di rumah Bunda bersama Mas Arlan dan Raka. Ayah pun masih berada di rumah ini karena ingin bermain dengan cucunya. Hari ini masih, hari minggu membuatku memiliki waktu banyak untuk Raka. Besok aku akan kembali bekerja meski mungkin aku lebih banyak meminta Reyna mengantar berkas padaku.Aku baru ingat, aku harus mengurus tanah di desa dan melihat perkembangan di sana. Biasanya Kak Dana yang melihatnya. Karena aku terlalu sibuk dengan Raka. Kali ini aku ingin mengajak Raka ke desa. Pria kecilku belum pernah aku ajak ke sana. Aku memasak dengan segera dan menyajikannya di meja makan. Aku masuk kembali ke kamar dan menghubungi Kak Dana menanyakan apakah bulan ini dia sudah mengunjungi desa atau belum. Ternyata, pria itu akan mengunjungi hari ini dan sudah berada di perjalanan. “Aku juga ke sana. Bunda sakit. Kakak gak mau mampir ke rumah besar?” tanyaku. “Iya, nanti aku ke sana. Kenapa baru bilang kalau Bunda sak
Setelah masalah rumah Tante selesai, kami tinggal menunggu kabar dari Gilang yang mengontak pihak bank untuk menanyakan masalah transaksi yang tersisa. Aku duduk di sofa kamar bersama dengan Raka yang berbaring di pahaku. Dia berceloteh dan memainkan robotnya. Mas Arlan masih menyelesaikan pekerjaan yang sudah dia telantarkan beberapa hari lalu. Raka mengajak jalan-jalan tapi terpaksa menunggu Mas Arlan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Aku dan Raka pun menonton TV meski mata Raka tidak menontonnya. Raka terlihat mulai bosan menunggu Papanya yang bekerja di meja belajarku. “Papa, Papa masih lama?” tanya Raka sambil tiduran di pahaku.“Sebentar lagi. Tunggu bentar ya. Habis ini kita ke kafe terus jalan deh ke mana Raka mau,” sahut Mas Arlan. “Raka pingin berenang di water park, tapi Papa lama, ini sudah siang.” Raka sudah terlihat kesal karena Papanya yang masih sibuk kerja. Raka mulai menaruh robotnya dan meminta r
Setelah beberapa hari lalu aku menyelesaikan urusan surat wasiat Tante, aku mengunjungi Om Rafli. Suamiku menggenggam tanganku dan membalas dengan tatapan tajamnya. Dia duduk di depan Om Rafli dan tetap diam menatap tajam pria tua itu. Aku berdeham dan membuat kedua pria itu menoleh. Aku tersenyum melihat suamiku sebentar. Aku mengangguk menenangkan suamiku yang terlihat kesal. “Om, Farin cuma mau tanya. Apa Om buat Tante tersiksa karena semua yang Tante punya jatuh ke tangan Farin, meski tanpa Farin tahu?” tanyaku. “Kamu sudah tahu ternyata. Di mana surat-suratnya?” Om Rafli menanyakannya. Suamiku terlihat tenang, tapi matanya yang tajam mengawasi pergerakan Om Rafli. “Farin urus semua. Farin juga gak berpikir untuk memberikannya. Bukankah selama ini Om sudah menikmatinya? Om gak kerja dan seenaknya bawa anak tanpa ingin merawatnya. Justru Tante Farin yang rawat anak Om.”“Sekarang itu punya Farin dan Hana. Itu ada kekuatan
Bunda terlihat lebih membaik tidak seperti kemarin. Aku masih tinggal di rumah Bunda. Suamiku pun ikut menambah cutinya hingga akhir minggu ini saat aku melakukannya. Hari ini kami mulai menyelesaikan masalah Tante, setelah kemarin aku mengurus akta kematian. Sungguh keterlaluan, tidak ada yang mengurus surat sepenting itu. Beruntung Hana tau kalau Bunda yang menyimpan berkas-berkas punya Tante. Aku pun mengurusnya dengan baik dan hari ini akan menemui Omi. Aku duduk di depan TV saat Raka menemani Lani bermain dan Hana membantu Bunda. Aku mulai menghubungi Omi melalui chat, karena ini terlalu pagi untuk menghubunginya langsung tanpa menanyakan kesibukannya. Omi meneleponku dan aku segera mengangkatnya.Aku mengatakan rencana akan menemui Omi dan seniornya untuk menyelesaikan masalah Tante. Kami pun membuat janji temu. Dia mengatakan untuk aku menemuinya jam 10 nanti. Aku mematikan panggilan setelah mengucapkan salam. Suamiku turun setelah







