LOGINPercaya dengan perkataan orang yang bilang, “Semua orang punya kesulitan sendiri-sendiri dalam hidupnya” membuatku tidak yakin. Aku terlalu menyamakan kehidupanku dengan mereka sehingga aku merasa terlalu menyedihkan. Entah hidupku yang terlalu banyak air mata atau hidup mereka yang terlalu rapi menyimpan segalanya. Semua orang yang menyayangi dan mencintaiku perlahan tapi pasti, satu persatu menghilang. Aku dipaksa untuk mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu dan berdamai dengan masa lalu. Mungkin memang benar bahwa bahagia akan selalu berubah variabelnya, tapi aku tidak yakin akan variabel bahagia yang benar-benar membuatku bahagia. Aku mempertanyakan semua yang terjadi padaku. Apa memang ini takdirku? Mengapa ini terlalu menyedihkan, Tuhan? -- Farina Azzalea --
View MoreMasa awal kuliahku, kuhabiskan dengan tugas, tugas dan tugas. Bahkan hari sabtu yang biasanya aku bisa menghabiskan waktu dengan maraton drama korea, kini semakin jarang. Aku geli sendiri mengingat aku yang semakin kecanduan drama korea karena Laila. Dia sering main ke rumah karena memang dia gagal masuk ke tempat yang diinginkannya. Hari sabtu ini aku sudah muak dengan laptopku yang mengeluarkan rangkaian kalimat yang harus aku buat. Aku memilih untuk menutupnya setelah menyimpan apa yang sudah aku kerjakan. Aku keluar dari kamar dan menghidupkan TV yang mulai jarang ditonton itu. “Assalamualaikum!” Suara salam seseorang yang membuatku merutuki memilih untuk menghidupkan TV. Kubiarkan TV menyala dan menjawab salam itu sembari berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Terlihat sepasang orang tua yang terlihat berusia 60 akhir. Aku mengerutkan keningku melihat mereka tersenyum. Wanita tua itu menarik tubuhku dan memeluknya membuatku membulatkan mataku sempurna.‘Apaan nih orang? Sok k
Pemakaman kakek berjalan lancar, Kak Dana menggandeng tanganku dan Hana untuk meninggalkan gundukan tanah yang baru itu. Aku menyeret langkahku untuk mengikuti langkah kaki Kak Dana. Hana segera masuk ke rumah setelah kami sampai. Aku duduk di depan rumah melihat tempat di mana kakek disucikan. Air mataku jatuh kembali membuat Kak Dana dengan sigap memelukku. Laila datang bersama Tia dan Jihan. Mereka melihatku masih dalam pelukan Kak Dana pun hanya terdiam.“Ada temanmu. Udah sedihnya. Kakak masuk dulu,” pamit Kak Dana. Laila duduk dan memelukku menggantikan Kak Dana. Aku terdiam dalam pelukan Laila. Bukan aku sudah tidak sedih, hanya saja aneh aku menumpahkan kesedihanku pada mereka.“Rin, yang ikhlas ya. Aku dengar dari Papi tadi waktu ujian,” kata Laila saat melepaskan pelukannya. Jihan dan Tia tersenyum memegang tanganku menguatkanku. Aku membalas senyum mereka dengan sedikit terpaksa. ***Mama menyuruhku masuk agar tidak semakin banyak ujian praktik yang harus aku susul. Bunda
Aku melalui masa baru di kelas 3 SMA. Teman sekelasku masih sama, masih ada Vedo, Balkhis dan teman-temannya, tapi juga masih ada Jihan, Tia, dan Laila yang bersamaku. Aku tetap melakukan les tambahan bersama Laila dan belajar bersama dengan Tia dan Jihan. Kakek selalu menyemangatiku dan mendukung semua keinginanku.“Kek, ini aku harus isi data buat BK. Harus isi apa ya, Kek?” tanyaku saat duduk bersama di depan tv dan kubawa lembaran data yang menyatakan jurusan dan universitas mana yang diinginkan. “Kakak mau jadi apa loh? Pertimbangkan dengan baik,” kata Kakek menyerahkan sepenuhnya padaku.“Kakak mundur dari kedokteran, kakak mau jadi dokter sejak dulu. Tapi mahal, kakak gak mau lagi. Otak kakak juga gak akan sampai,” kataku menjelaskan keadaanku. Kakek mendengarkan dengan saksama meskipun matanya masih menatap tayangan tv yang digemarinya.“Kakak mau urus tanah Kakek. Kakak mau masuk pertanian, apa kakak boleh ke IPB?” lanjutku membuat kakek menolehkan kepalanya menatapku.“IPB,
Semester telah berlalu dengan cepat dan hari ini adalah hari terakhir Kak Dana mengerjakan ujian nasional yang telah seminggu ini dijalaninya. Aku duduk di depan TV karena tidak ada kegiatan saat libur seperti ini. Aku berlibur ke rumah Kak Dana selama dia ujian nasional, aku jadi menemaninya belajar dan mendengarkan keluhannya setiap hari. Kak Dana masuk dan duduk di sampingku dengan seragam yang masih melekat di badannya. Dia semakin merebahkan tubuhnya dengan pahaku yang menjadi bantalan untuk kepalanya. “Susah Kak?” tanyaku.“Enggak juga kalau mau belajar” jawabnya.“Kamu bisa gak? Jangan bilang kamu bilang gini karena kamu gak bisa dan semalam kamu gak belajar. Iya kan?” tuduhku. Dia menatapku tajam dari bawahku membuatku takut. Aku menutup matanya dengan tanganku.“Biasa aja lihatnya, gak usah nakutin,” kataku. Dia meraih tanganku dan menyingkirkannya. “Kamu belajar dari sekarang, biar nanti gak susah. Aku bakal lanjut di luar kota, Rin. Kalau hal kaya waktu itu kembali lagi,
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.