MasukPercaya dengan perkataan orang yang bilang, “Semua orang punya kesulitan sendiri-sendiri dalam hidupnya” membuatku tidak yakin. Aku terlalu menyamakan kehidupanku dengan mereka sehingga aku merasa terlalu menyedihkan. Entah hidupku yang terlalu banyak air mata atau hidup mereka yang terlalu rapi menyimpan segalanya. Semua orang yang menyayangi dan mencintaiku perlahan tapi pasti, satu persatu menghilang. Aku dipaksa untuk mengikhlaskan apa yang terjadi di masa lalu dan berdamai dengan masa lalu. Mungkin memang benar bahwa bahagia akan selalu berubah variabelnya, tapi aku tidak yakin akan variabel bahagia yang benar-benar membuatku bahagia. Aku mempertanyakan semua yang terjadi padaku. Apa memang ini takdirku? Mengapa ini terlalu menyedihkan, Tuhan? -- Farina Azzalea --
Lihat lebih banyakSetelah masalah rumah Tante selesai, kami tinggal menunggu kabar dari Gilang yang mengontak pihak bank untuk menanyakan masalah transaksi yang tersisa. Aku duduk di sofa kamar bersama dengan Raka yang berbaring di pahaku. Dia berceloteh dan memainkan robotnya. Mas Arlan masih menyelesaikan pekerjaan yang sudah dia telantarkan beberapa hari lalu. Raka mengajak jalan-jalan tapi terpaksa menunggu Mas Arlan menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu. Aku dan Raka pun menonton TV meski mata Raka tidak menontonnya. Raka terlihat mulai bosan menunggu Papanya yang bekerja di meja belajarku. “Papa, Papa masih lama?” tanya Raka sambil tiduran di pahaku.“Sebentar lagi. Tunggu bentar ya. Habis ini kita ke kafe terus jalan deh ke mana Raka mau,” sahut Mas Arlan. “Raka pingin berenang di water park, tapi Papa lama, ini sudah siang.” Raka sudah terlihat kesal karena Papanya yang masih sibuk kerja. Raka mulai menaruh robotnya dan meminta r
Setelah beberapa hari lalu aku menyelesaikan urusan surat wasiat Tante, aku mengunjungi Om Rafli. Suamiku menggenggam tanganku dan membalas dengan tatapan tajamnya. Dia duduk di depan Om Rafli dan tetap diam menatap tajam pria tua itu. Aku berdeham dan membuat kedua pria itu menoleh. Aku tersenyum melihat suamiku sebentar. Aku mengangguk menenangkan suamiku yang terlihat kesal. “Om, Farin cuma mau tanya. Apa Om buat Tante tersiksa karena semua yang Tante punya jatuh ke tangan Farin, meski tanpa Farin tahu?” tanyaku. “Kamu sudah tahu ternyata. Di mana surat-suratnya?” Om Rafli menanyakannya. Suamiku terlihat tenang, tapi matanya yang tajam mengawasi pergerakan Om Rafli. “Farin urus semua. Farin juga gak berpikir untuk memberikannya. Bukankah selama ini Om sudah menikmatinya? Om gak kerja dan seenaknya bawa anak tanpa ingin merawatnya. Justru Tante Farin yang rawat anak Om.”“Sekarang itu punya Farin dan Hana. Itu ada kekuatan
Bunda terlihat lebih membaik tidak seperti kemarin. Aku masih tinggal di rumah Bunda. Suamiku pun ikut menambah cutinya hingga akhir minggu ini saat aku melakukannya. Hari ini kami mulai menyelesaikan masalah Tante, setelah kemarin aku mengurus akta kematian. Sungguh keterlaluan, tidak ada yang mengurus surat sepenting itu. Beruntung Hana tau kalau Bunda yang menyimpan berkas-berkas punya Tante. Aku pun mengurusnya dengan baik dan hari ini akan menemui Omi. Aku duduk di depan TV saat Raka menemani Lani bermain dan Hana membantu Bunda. Aku mulai menghubungi Omi melalui chat, karena ini terlalu pagi untuk menghubunginya langsung tanpa menanyakan kesibukannya. Omi meneleponku dan aku segera mengangkatnya.Aku mengatakan rencana akan menemui Omi dan seniornya untuk menyelesaikan masalah Tante. Kami pun membuat janji temu. Dia mengatakan untuk aku menemuinya jam 10 nanti. Aku mematikan panggilan setelah mengucapkan salam. Suamiku turun setelah
Aku tidak tidur dan hanya memperhatikan Bunda yang sedang terlelap. Aku sedikit lega karena Bunda tidak separah Kakek. Aku meregangkan tubuhku saat mendengar masijd telah berbunyi. Aku memperhatikan Bunda sebentar dan keluar dari kamar Bunda untuk membangunkan suamiku. Aku membuka pintu kamar dan melihatnya sudah siap.“Kamu gak tidur?” tanyaku mendekat merapikan bajunya. Dia tersenyum melihatku. “Tidur sebentar. Tadi Raka menggeliat, jadi aku bangun deh.” Aku mengangguk dan melihatnya merapikan rambut sebelum menggunakan kopiah. Aku mengecup pipinya membuatnya menggelengkan kepala.“Mau sekarang?” Dia menatapku dengan tatapan menggodanya yang selalu membuatku kesal. Aku mencubit pinggangnya. “Berangkat sana. Makin tua makin ke mana-mana pikiranmu.” Dia tertawa pelan dan menyodorkan tangannya. Aku menyalaminya dan dia mengecup keningku. “Aku berangkat. Assalamualaikum.” Dia keluar dan senyumku me












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.