FAZER LOGINSetelah makan malam, Raka mengerjakan tugas yang diberikan guru lesnya ditemani Lani yang ikut menggambar di samping Raka. Mereka duduk di ruang keluarga dan sambil bercengkerama Raka mengajarkan Lani juga menulis. Suamiku ikut duduk di sampingku melihat anaknya belajar menghitung. Gilang sedang berjalan-jalan mengajak Bunda dan Ayah berkeliling agar lebih mendapat udara segar. Bunda sudah lama tidak pernah jalan-jalan. Lani pun akhirnya dititipkan padaku. Aku bersandar di bahu suamiku dan tetap memperhatikan Raka. Dia pun merangkulku dengan erat dan ikut melihat anaknya belajar. Raka menghitung dengan cara yang diajarkan gurunya tadi. “Dua ditambah satu … satu, dua, tiga.” Raka menulis setelah menghitungnya sungguh mengemaskan. Aku mendongakkan wajahku melihat suamiku yang tersenyum melihat Raka. “Lucu, ya, Mas. Kita masukkan Raka langsung TK aja, gimana? Dia gak harus PAUD, dia les aja di Mama Lina
Aku pulang dan melihat mobil Kak Dana sudah berada di depan rumah lagi. Pria keras kepala itu sudah ada di sini lagi, meski harusnya saat ini dia tinggal saja di Sidoarjo dan aku yang akan menghubunginya. Ternyata dia sudah berada di sini. Aku masuk dan hanya melihat Kak Dana yang menyeruput teh di depan TV. “KAKAK!” Aku memeluknya dengan erat membuatnya terganggu karena sedang menikmati tontonannya. Mas Arlan masuk dan menyapa Kak Dana. “Kok sepi, Kak?” tanyaku. “Mana aku tahu, aku ikan,” jawabnya. Aku mencebik bibirku kesal. Dia hanya tertawa pelan melihatku kesal.“Kakak sendiri ke sini?” tanyaku.“Iya, Aldi sekolah. Salsa juga kasihan dong kalau diajak keluar kota terus. Putri juga pasti capek di jalan kalau diajak terus. Sendirian aja deh, jadinya. Toh cuma sebentar. Gimana, jadinya?” balas Kak Dana.“Selesai, semua selesai dan sertifikat rumah ini sudah kembali. Nih.” Aku menyodorkan map yan
Setelah masalah Riko barusan, Mas Arlan masih belum menanyakan lagi apa penyebab Riko bisa seperti itu. Aku juga menceritakan baru dia yang mengejarku habis-habisan bahkan di depan Reyna. Reyna pun sudah menjelaskan pada Riko, tapi pria sialan itu tidak mempercayai hingga hari ini bertemu dengan Mas Arlan. Beruntung bertemu Riko di saat semua urusanku selesai dan aku memang sedang cuti kerja, jika tidak, semua akan rusak karena moodku yang hancur. Riko sungguh bisa menghancurkan moodku hanya dengan muncul di depanku. Aku masih sangat dongkol hingga selama di dalam mobil Mas Arlan hanya diam.Aku tidak tahu diamnya kali ini karena marah atau karena dia tidak ingin menggangguku yang sedang dongkol habis. Aku melirik Mas Arlan yang memutar lagu di audio mobilnya. Lagu AKMU terputar membuatku masih memperhatikan Mas Arlan. Banyak lagu yang memang aku sukai di HP Mas Arlan dan kali ini dia memutarnya dengan menyambungkan pada audio mobil. Mas A
Usahaku dan keluargaku mengumpulkan sebagian uang kami akhirnya terkumpul. Aku berada di bank tempat Tante menggadaikan sertifikat rumah. Aku menunggu prosesnya dan menerima kembali sertifikat yang menjadi jaminan. Aku bernapas lega dan mengucapkan terima kasih ke suamiku yang membantu menyelesaikan semuanya. Bunda pun sudah berangsur baik. Kebahagiaanku bertambah karena kondisi Bunda. Aku masuk ke mobil bersama suamiku dan menuju ke kafe untuk memantau perkembangan kafe. “Gimana kafe bulan ini?” tanyaku saat manajer kafe menyambut kami. Manajer kafe menjelaskan tentang inovasi masakan Korea dan Jepang yang saat ini menjadi menu baru yang diminati. “Mau coba ramennya dong. Aku tunggu di sana, ya. Jangan lupa, laporan keuangan bulan ini, ya.” Aku menunjuk meja kosong dan memesan dua porsi ramen. Aku duduk di depan suamiku dan mengedarkan pandangan. “Keren juga idemu. Sekarang makin banyak orang suka makanan luar. Banyak yang lebih memilih nongkrong di kafe gini, daripada di warung
Aku duduk bersama suamiku dan Kak Dana. Sedangkan, Mbak Putri menemani anak-anak di kamar. Kak Dana mulai menanyakan tentang Bunda. Aku pun jujur apa yang terjadi akhir-akhir ini. Kak Dana terkejut dan menahan amarahnya. Dia menggelengkan kepalanya menatapku. Aku menggigit bibir bagian dalamku. Aku masih saja takut jika Kak Dana sudah marah. “Kakak sudah pernah bilang, jangan berurusan lagi sama Tante. Sekarang, kamu mau gimana?” tanya Kak Dana.“Tante mengembalikan lahannya atas nama Farin dan Hana, rumahnya atas nama Farin, Farin gunakan itu buat melunasi rumah besar Kakek. Sebentar aja, Farin akan sewakan itu. Farin gak mau menjualnya.” Kak Dana menganggukkan kepalanya. Dia paling anti jika ada yang harus menjual harta waris demi Tante.“Kalau ada yang bisa Kakak bantu, telepon Kakak. Nanti Kakak lihat Bunda. Kamu check lagi rekening lamamu. Ayah sering minta Kakak kirim uang hasil panen lahan Bundamu. Kakak gak ngomong karena Kakak pikir kamu tahu. Bunda yang minta kirim ke kamu
Aku bangun pagi sekali dan menuju dapur untuk memasak. Aku masih tinggal di rumah Bunda bersama Mas Arlan dan Raka. Ayah pun masih berada di rumah ini karena ingin bermain dengan cucunya. Hari ini masih, hari minggu membuatku memiliki waktu banyak untuk Raka. Besok aku akan kembali bekerja meski mungkin aku lebih banyak meminta Reyna mengantar berkas padaku.Aku baru ingat, aku harus mengurus tanah di desa dan melihat perkembangan di sana. Biasanya Kak Dana yang melihatnya. Karena aku terlalu sibuk dengan Raka. Kali ini aku ingin mengajak Raka ke desa. Pria kecilku belum pernah aku ajak ke sana. Aku memasak dengan segera dan menyajikannya di meja makan. Aku masuk kembali ke kamar dan menghubungi Kak Dana menanyakan apakah bulan ini dia sudah mengunjungi desa atau belum. Ternyata, pria itu akan mengunjungi hari ini dan sudah berada di perjalanan. “Aku juga ke sana. Bunda sakit. Kakak gak mau mampir ke rumah besar?” tanyaku. “Iya, nanti aku ke sana. Kenapa baru bilang kalau Bunda sak







