LOGINAku bangun pagi dan melihat Mas Arlan yang tertidur di sampingku. Aku segera ke kamar mandi sebelum membangunkan Mas Arlan untuk sholat subuh. Aku membangunkan Mas Arlan dan pria itu langsung pamit ke masjid setelah dari kamar mandi.
Aku segera sholat dan membereskan kamar terlebih dahulu. Kamar sudah seperti lama tidak berpenghuni. Aku tidak betah melihatnya. Aku mengganti seprai dan membereskan semua yang terlihat mengganggu. Mas Arlan masuk dan membantuku memasang seprHari pertama Mas Arlan pergi semua masih baik-baik saja, Gilang masih izin dan bisa menemaniku ke mana pun aku pergi seperti yang diminta Mas Arlan, tapi hari ini Gilang sudah masuk kerja. Aku dan Bunda hanya sendirian di rumah. Aku bukan tipe orang yang bisa diam jika bosan.Saat ini aku sudah bosan dan berada di kamarku. Aku sudah membaca banyak buku yang ada di kamarku. Bahkan aku sempat membuka buku pelajaran saat aku sekolah dan iseng mengerjakan soal matematika yang membuatku menyerah dulu. Pada akhirnya, aku juga bosan. Tadi pagi sebelum Mas Arlan berangkat kerja, kedua priaku itu sudah menelpon dan Mas Arlan mengingatkanku untuk banyak minum air putih, tapi sekarang aku sudah merindukan mereka lagi. Aku membuka laptop semasa sekolahku yang sengaja aku biarkan di rumah Bunda dan tetap merawatnya. Aku membuka beberapa file yang ada di sana dan menemukan drama korea jadul yang dulu membuatku sangat jatuh cinta dengan drama korea.
Raka masih saja mendiamkan Mas Arlan. Saat berhadapan dengan papanya, dia akan lebih banyak menunduk. Hari ini sudah Rabu, dua hari lagi Mas Arlan berangkat. Hari ini kami tetap melakukan rutinitas biasa. Sarapan bersama meski Raka tidak banyak bicara seperti sebelumnya. Aku melihat Mas Arlan yang memperhatikan anaknya yang menjadi lebih diam. Aku tersenyum saat Raka melihatku. Pria kecilku masih saja terlihat sedih. Mas Arlan masuk ke ruangannya untuk mengambil berkas sebelum berangkat. Aku berdua dengan Raka di meja makan.“Sayang, gak baik diamkan Papa kayak gitu. Papa sedih lihat Raka diam gini. Papa ‘kan pamit pergi sebentar. Raka mau ikut Papa sebentar? Tapi, Mama gak bisa ikut. Raka ikut aja sekalian liburan sama Papa. Nanti, Mama minta Tante Hana temani Raka. Gimana?” tawarku.“Kalau Mama gak ikut, gimana Raka sama Papa di sana?” tanya Raka.“Raka sama Tante Hana kalau Papa kerja. Pulang Papa Kerja, Raka sama Papa. Sel
Setelah menyelesaikan masalah Mas Arlan yang tiba-tiba harus ke Thailand, aku mengingatkan suamiku itu untuk meminta izin juga pada anaknya. Mas Arlan pun mengiyakan dan berniat izin hari ini, tapi Raka terlihat masih bermain dengan teman-teman dan Lani. Raka mengajak teman-temannya bermain di rumah Bunda dan Lani pun ikut bergabung. Raka menjaga Lani yang baru saja jatuh saat bermain dengan Raka di belakang rumah. Lani semakin menempel dengan Raka dan tidak mau berdekatan dengan Ali.“Kakak,” rengek Lani yang melihat Ali mendekat. Dia memegang tangan Raka dengan erat.“Enggak papa. Udah main aja sama kakak.” Raka menyusun kembali lego bersama Lani. Ali mendekat dan merusak susunan lego punya Lani dan Raka membuat Lani menangis. Raka memarahi Ali dan menenangkan Lani. Aku tidak ingin ikut campur dan melihat Raka menenangkan Lani.“Kak Ali nakal. Lani gak suka main sama Kak Ali. Lani gak mau.” Raka memeluk Lani dan mengusap ram
Kami masih mengobrol bersama di ruang keluarga dengan Raka dan Lani yang bermain di dekat kami. Bunda menanyakan kondisi kehamilanku dan menasehatiku dengan banyak wejangan seperti biasanya yang juga aku dengar saat aku mengandung Raka. Mas Arlan dan Gilang pamit keluar untuk mencari makan siang. Aku mengatakan untuk mencari rujak juga untukku. Aku menginginkan rujak buah secara tiba-tiba. Mas Arlan mengangguk dan berangkat menggunakan motor. Raka mengajarkan banyak hal pada Lani, meski tangannya juga masih aktif menyusun lego. Raka melihatku dan tersenyum saat aku memperhatikannya. Raka memang sangat menawan, dia akan tumbuh menjadi pria yang sangat rupawan nantinya. “Raka udah kayak bibit unggul kamu sama Arlan, ya. Ganteng, iya, pintar iya, baik, iya, rajin, iya, tipe-tipe yang akan disukai banyak gadis nantinya.” Bunda mengeluarkan pendapatnya tentang Raka.“Mungkin. Farin beruntung punya Raka yang mendekati sempurna. Di
Setelah sarapan, kami berangkat ke sekolah Raka. Raka seperti biasa meminta berdiri di depanku dan berceloteh sendiri. Dia terkadang bernyanyi sesuka hatinya. Aku hanya diam dan menatap ke samping memperhatikan pinggir jalan yang terdapat beberapa orang berjalan di sana. Aku tersenyum melihat beberapa gadis berjalan bersama dan bersenda gurau. Aku jadi mengingat masa mudaku saat bersama Audrey, Febi dan Shania. Raka menepuk lenganku pelan. Aku segera menoleh ke arahnya dan menaikkan alisku. “Mama kenapa? Marahan sama Papa?” tanya Raka. Aku tersenyum dan menggelengkan kepalaku. Aku menarik pelan tubuh Raka mendekat. “Mama lihat di trotoar tadi ada kakak-kakak yang jalan di trotoar. Jadi ingat Tante Febi, Tante Audrey, sama Tante Shania. Raka ingat sama tantenya?” tanyaku. Raka terlihat mengingat. “Iya, Tante Shania itu yang matanya agak sipit itu ‘kan Mama?” tanya Raka. Aku menganggukkan kepala dan menyandarkan tubuhnya pada
Aku terbangun saat jam dinding di kamar Raka menunjukkan pukul 12 malam. Aku terkejut dan aku mengingat, jika aku berjanji untuk kembali ke kamar karena Mas Arlan memiliki sesuatu untuk dibicarakan. Aku segera turun dari tempat tidur Raka dan membenarkan selimut Raka. Aku berjalan masuk ke kamar dan melihat Mas Arlan masih belum tidur sambil memainkan HPnya. Aku melepas cardigan dan membersihkan wajahku sebentar. Setelah itu, aku naik ke tempat tidur dan duduk di samping Mas Arlan. Aku memeluk pinggangnya saat dia masih sibuk dengan HPnya. “Mas, maaf aku ketiduran di kamar Raka. Kamu kok gak bangunkan aku?” tanyaku. “Gak papa, aku memang belum tidur, aku masih urus kerjaan, nih.” Mas Arlan menunjukkan layar HPnya padaku dan memang benar dia sedang chatting dengan Roland. “Apa yang mau kamu bicarakan? Tentang aku atau Raka? Apa tentang kerjaan?” tanyaku. Mas Arlan menaruh HPnya dan merangkul bahuku. Dia j







