LOGINAku ikut makan bersama dengan Raka dan Mas Arlan yang menungguku. Raka menanyakan banyak tentang ayam. Aku hanya menanggapinya sepengetahuanku. Aku tidak tahu banyak tentang ayam. Mas Arlan pun terlihat sama.
Raka terus mengoceh bahkan saat kami sudah selesai sarapan dan aku menata belanjaan di dapur. Dia mengajak Papanya melihat anak ayamnya. Aku menggelengkan kepala saat dia menarik tangan Papanya untuk menemaninya. Mas Arlan pun tidak menolak. Lama sudah kami tidak menghabisAku menjemput Raka dengan Laila yang menemaniku. Aku melihat Raka yang berlari dan memelukku erat, dia terlihat bahagia saat melihatku. Aku mengusap rambutnya dan mengajaknya masuk ke mobil Laila. Raka menyalamiku dan Laila. Dia masuk ke bangku belakang dan berdiri di sela bangkuku dan Laila.Dia menceritakan apa yang hari ini diajarkan oleh gurunya. Aku mendengarnya dan dia memberikan sebuah bebek kertas hasil karyanya padaku. Aku menerimanya dan mengatakan bahwa dia sudah sangat bagus menerima semua pelajaran.“Papa belum telepon?” tanya Raka.“Sudah tadi, habis antar Raka, Papa telepon. Nanti kita telepon lagi aja. Sekarang Papa masih kerja, Sayang.” Raka menganggukkan kepalanya dan duduk saat Laila memasukkan mobilnya ke halaman rumah Bunda. Raka membuka pintu mobil dan berlari masuk ke rumah.Aku melihat Laila yang masih duduk. Laila terlihat sedih, aku jadi merasa tidak enak. Yang aku tahu, Laila harusnya punya anak seumu
Raka sudah masuk sekolah kembali. Aku mengantarnya dengan berjalan kaki. Kami berjalan sambil bercerita hangat. Pria kecil itu bersemangat kembali ke sekolahnya dan mengatakan nanti untuk menjemputnya. Aku pun mengatakan untuk tidak berjanji, karena bapaknya melarangku untuk terlalu lelah.Raka pun bisa mengerti, dia sudah bahagia menghabiskan banyak waktu bersamaku. Pria kecil ini memang sangat mudah untuk membuatnya merasa bahagia dan merasa lebih baik. Raka menggenggam tanganku saat kami menyebrerang dan berhenti di depan sekolah Raka.“Belajar yang baik, ya, Raka. Mama sayang Raka.” Aku dengan susah payah menyamakan tinggiku dengan anakku. “Mama bisa berdiri?” tanya Raka. Aku berdiri perlahan dan Raka naik ke sebuah penghalang selokan dan menyamakan tingginya denganku. “Biar Raka yang cium Mama. Raka juga sayang Mama. Raka kangen Papa, tapi Raka jauh lebih kangen Mama kalau gak ketemu Mama.”Raka memelukku dengan erat. Aku
Satu minggu sudah Raka ikut bersama Mas Arlan di negara tetangga dan tidak pernah seharipun dia lupa menghubungiku. Dia selalu melaporkan apa yang dia lakukan dan papanya lakukan. Bahkan saat Mas Arlan pulang terlambat, Raka melaporkan padaku dan memintaku memarahi papanya. Sungguh aku merindukan dua pria itu.Aku menatap layar hpku yang menampilkan wajah Raka yang tengkurap di tempat tidur dan membelakangi papanya. Aku melihat Mas Arlan yang sedang menggunakan dasinya di belakang Raka. Pria kecil itu mengoceh banyak hal tentang keluhannya pada papanya membuat Mas Arlan menjawab sesekali.“Pokoknya Papa nakal kemarin, Mama.” Wajah kesal Raka membuatku menahan tawa.“Mana ada. Bohong dia, Sayang. Aku gak ngapa-ngapain. Serius deh.” Mas Arlan mengelak dan menyusul Raka di samping anaknya. Dia mengecup pipi Raka dengan gemas. “Mas, bajumu bisa kusut.” Mas Arlan duduk dan memangku Raka. “Raka, jangan suka berantem sama Papa dong.
Hari pertama Mas Arlan pergi semua masih baik-baik saja, Gilang masih izin dan bisa menemaniku ke mana pun aku pergi seperti yang diminta Mas Arlan, tapi hari ini Gilang sudah masuk kerja. Aku dan Bunda hanya sendirian di rumah. Aku bukan tipe orang yang bisa diam jika bosan.Saat ini aku sudah bosan dan berada di kamarku. Aku sudah membaca banyak buku yang ada di kamarku. Bahkan aku sempat membuka buku pelajaran saat aku sekolah dan iseng mengerjakan soal matematika yang membuatku menyerah dulu. Pada akhirnya, aku juga bosan. Tadi pagi sebelum Mas Arlan berangkat kerja, kedua priaku itu sudah menelpon dan Mas Arlan mengingatkanku untuk banyak minum air putih, tapi sekarang aku sudah merindukan mereka lagi. Aku membuka laptop semasa sekolahku yang sengaja aku biarkan di rumah Bunda dan tetap merawatnya. Aku membuka beberapa file yang ada di sana dan menemukan drama korea jadul yang dulu membuatku sangat jatuh cinta dengan drama korea.
Raka masih saja mendiamkan Mas Arlan. Saat berhadapan dengan papanya, dia akan lebih banyak menunduk. Hari ini sudah Rabu, dua hari lagi Mas Arlan berangkat. Hari ini kami tetap melakukan rutinitas biasa. Sarapan bersama meski Raka tidak banyak bicara seperti sebelumnya. Aku melihat Mas Arlan yang memperhatikan anaknya yang menjadi lebih diam. Aku tersenyum saat Raka melihatku. Pria kecilku masih saja terlihat sedih. Mas Arlan masuk ke ruangannya untuk mengambil berkas sebelum berangkat. Aku berdua dengan Raka di meja makan.“Sayang, gak baik diamkan Papa kayak gitu. Papa sedih lihat Raka diam gini. Papa ‘kan pamit pergi sebentar. Raka mau ikut Papa sebentar? Tapi, Mama gak bisa ikut. Raka ikut aja sekalian liburan sama Papa. Nanti, Mama minta Tante Hana temani Raka. Gimana?” tawarku.“Kalau Mama gak ikut, gimana Raka sama Papa di sana?” tanya Raka.“Raka sama Tante Hana kalau Papa kerja. Pulang Papa Kerja, Raka sama Papa. Sel
Setelah menyelesaikan masalah Mas Arlan yang tiba-tiba harus ke Thailand, aku mengingatkan suamiku itu untuk meminta izin juga pada anaknya. Mas Arlan pun mengiyakan dan berniat izin hari ini, tapi Raka terlihat masih bermain dengan teman-teman dan Lani. Raka mengajak teman-temannya bermain di rumah Bunda dan Lani pun ikut bergabung. Raka menjaga Lani yang baru saja jatuh saat bermain dengan Raka di belakang rumah. Lani semakin menempel dengan Raka dan tidak mau berdekatan dengan Ali.“Kakak,” rengek Lani yang melihat Ali mendekat. Dia memegang tangan Raka dengan erat.“Enggak papa. Udah main aja sama kakak.” Raka menyusun kembali lego bersama Lani. Ali mendekat dan merusak susunan lego punya Lani dan Raka membuat Lani menangis. Raka memarahi Ali dan menenangkan Lani. Aku tidak ingin ikut campur dan melihat Raka menenangkan Lani.“Kak Ali nakal. Lani gak suka main sama Kak Ali. Lani gak mau.” Raka memeluk Lani dan mengusap ram







