Share

Bab 4

Penulis: Makjos
Setelah Nikos meninggalkan diriku, beberapa hari berlalu dan dia tidak pulang ke rumah.

Selama periode ini, Viola terus memperbarui linimasa.

Setiap unggahan memang samar, tetapi aku tahu semuanya berkaitan dengan Nikos.

Hari ini dia mengunggah foto punggung Nikos yang sedang menyiapkan sarapan.

[Dengan ayah yang begitu bertanggung jawab, setelah bayi lahir pasti akan sangat bahagia.]

Kolom komentar dipenuhi oleh teman SMA dan teman bersama kami.

[Wah, selamat ya mau jadi ibu.]

[Kok sosok suamimu terlihat sangat familier, seperti pernah lihat di mana.]

[Sedikit mirip Nikos. Viola ternyata masih belum bisa melupakannya, sampai cari pengganti.]

[Siapa tahu yang asli?]

[Siapa yang nggak tahu Nikos menganggap Aurora sebagai hidupnya. Bukankah Viola juga memberi ucapan selamat di pernikahan mereka? Viola sudah lama move on.]

...

Hari ini adalah hari kepergianku dari sini.

Entah harus berpamitan pada siapa. Kupikirkan lingkaran sosialku selama bertahun-tahun ini, selain Nikos, ternyata tidak ada siapa-siapa lagi.

Setelah membereskan koper, aku menatap rumah yang kutinggali lebih dari sepuluh tahun ini.

Tidak ada rasa perih, juga tidak ada rasa berat.

Saat aku hendak pergi, tiba-tiba terdengar keributan dari luar. Aku menyembunyikan koper.

Nikos pulang membawa anak kami.

"Sayang," ucapnya dengan ceria. "Aku pulang. Kangen aku nggak?"

Dia memelukku, tetapi tubuhnya penuh aroma parfum Viola.

Aku terdiam.

"Bu, Ayah beli banyak makanan enak. Hari ini mau masakkan bubur abalon untukmu!"

Aku tiba-tiba teringat, di tahun pertama pernikahan kami, Nikos tidak bisa memasak.

Kondisi tubuhku kurang sehat, dan setelah hamil, reaksi tubuhku sangat berat, sering membuat Nikos khawatir.

Sampai di akhir kehamilan aku tidak bisa turun dari tempat tidur, Nikos pun mulai belajar memasak untukku.

Setiap kali tangannya penuh luka pisau, tetapi dia tidak pernah berani memberitahukan aku.

"Kalau kamu suka, aku akan memasak untukmu seumur hidup."

Dia membawa seluruh hatinya memasuki duniaku, tetapi kini hati itu sudah membusuk di lumpur.

Dan aku tidak ingin memungutnya kembali.

Aku menahan air mata yang hampir jatuh, dan dengan suara bergetar mengucapkan kalimat terakhir.

"Nikos, aku ingin makan bubur abalon."

Nikos tidak tahu apa yang terjadi, dia hanya merasa Aurora hari ini sangat aneh.

Melihat wanita itu seperti ini, hatinya diliputi kegelisahan tanpa sebab.

Pria itu sendiri merasa bersalah, tentu takut perbuatannya diketahui Aurora.

Namun semua itu karena terpaksa.

Viola mencintainya, mencintainya selama puluhan tahun. Selama puluhan tahun ini, relasi rumit dengan Viola membuatnya merasa bersalah pada gadis itu.

Namun urusan cinta, bagaimana mungkin dipaksakan?

Nikos sangat mencintai Aurora, dan hanya mencintai Aurora seorang.

Sampai hari itu ....

Viola mabuk dan ingin menyayat pergelangan tangan untuk membunuh diri.

Dia memohon Nikos datang menemuinya, hanya memohon Nikos menemuinya sekali.

Hari itu, Bu Verena menelepon sambil menangis memohon Nikos datang melihat Viola.

"Ini anak yang kubesarkan sendiri. Aku tahu hubunganmu dengan Aurora baik, Aurora juga nggak akan menyalahkanmu."

Setelah ragu-ragu sesaat, Nikos tetap memutuskan pergi, berpikir apa pun yang terjadi dia harus menjelaskannya dengan Viola.

Anggap saja menutup kisah cinta sepihak Viola.

Namun setibanya di rumah Viola, dia baru menyadari bahwa Viola sudah pingsan karena kehilangan darah terlalu banyak.

Dia segera membawanya ke rumah sakit.

Setelah diselamatkan, Viola sadar dan menangis bersembunyi di pelukan Nikos.

"Kak Nikos, aku hanya punya kamu. Aku hanya punya kamu. Jangan tinggalkan aku, ya?"

Hari itu, Nikos mengalah.

Bagaimanapun ini adalah satu nyawa, dan bagaimanapun juga dia adalah adik kandung Aurora.

Asal menyembunyikannya dari Aurora dan menemani Viola untuk sementara waktu, mungkin depresinya akan membaik?

Namun perkembangan keadaan bagaikan kuda liar yang terlepas kendali.

Suatu hari Viola mabuk. Dia mengenakan pakaian yang sangat seksi, terus menempelkan tubuhnya ke Nikos.

"Kak Nikos, seseorang memberiku obat. Aku benar-benar merasa sangat tersiksa."

Wajah Viola sangat menawan, sangat berbeda dengan kelembutan Aurora.

Dia melingkarkan tangan di leher Nikos, helai rambutnya berputar di ujung hidung pria itu.

"Kak Nikos, aku mohon, milikilah aku."

Mungkin karena suasana, mungkin karena pengaruh alkohol.

Nikos kehilangan kendali sesaat.

Satu malam penuh keterikatan.

Keesokan paginya dia sangat menyesal, tetapi nasi sudah menjadi bubur, dia hanya bisa bertanggung jawab pada Viola.

Namun di dalam hatinya dia merasa bersalah pada Aurora, terjepit di antara dua orang.

Siapa sangka anak mereka justru sangat menyukai Viola sebagai bibi kecilnya, sering merengek ingin menemuinya.

Ini pun menjadi alasan bagi Nikos untuk pergi menemuinya.

Sering kali pria itu membatin, aku pergi hanya demi anak.

Mungkin kebohongan yang terus diulang, pada akhirnya menipu diri sendiri.

...

Ketika kesadarannya kembali, dia menatap Aurora di hadapannya yang tersenyum lebih menyakitkan daripada menangis, hatinya diliputi rasa tidak nyaman yang tak terkatakan.

Dia merasa selalu ada sesuatu yang akan segera lepas dari kendalinya.

"Erino, masuk tidur dulu," katanya sambil menyuruh anaknya masuk kamar. "Sayang, aku akan memasakkan bubur untukmu. Kamu masuk kamar dan istirahat dulu, nanti kalau sudah jadi aku panggil."

"Baik."

Aurora mengangguk, sama seperti dulu. Gadis yang penurut dan pengertian ini selalu mendengarkan kata-katanya.

Nikos menyiapkan bahan-bahan: abalon, udang segar, kerang arktik, sayuran, memenuhi satu meja.

Setiap langkah dilakukan seperti biasanya.

Tiba-tiba dia teringat beberapa hari ini, Viola selalu memeluknya diam-diam dari belakang saat dia memasak, bermesraan di pelukannya.

Mereka seperti pasangan suami istri yang manis.

Namun Aurora tidak pernah melakukannya.

Tiba-tiba hatinya diliputi rasa kehilangan.

Satu jam kemudian, satu meja penuh hidangan siap, termasuk bubur abalon kesukaan Aurora yang masih mengepul panas.

"Sayang, makanan sudah siap."

Tidak ada jawaban.

Nikos memanggil lagi, tetapi Aurora tetap tidak menjawab.

Dia membuka pintu, di dalam hanya ada anak yang sedang tidur nyenyak, dan lemari pakaian yang kosong.

Keanehan Aurora akhir-akhir ini membuatnya teringat sesuatu.

Dia panik. Dia mengubrak-abrik mencari, tetapi tidak menemukan KTP dan paspor Aurora.

Suara pencarian yang terlalu berisik membangunkan sang anak.

"Erino, Ibu pergi ke mana!"

Mungkin karena penampilan Nikos saat ini terlalu menakutkan, Erino ketakutan sampai menangis.

"Aku nggak tahu, aku nggak tahu Ibu pergi ke mana."

Erino menangis keras, tetapi Nikos tidak sempat mengurusnya dan berlari keluar kamar.

Di atas meja ruang tamu, tergeletak sepucuk surat.

Dengan tangan gemetar dan mata berkaca-kaca, dia membukanya.
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Suamiku Memilih Si Putri Palsu, Aku Lenyap   Bab 7

    Nikos menoleh ke arahku.Dia tampak jauh lebih terpuruk, janggut tidak terurus, rambut berantakan, sudut matanya memerah."Aurora."Dia membuka mulut, suaranya serak dan kebingungan."Aurora, benar-benar kamu."Aku mengalihkan pandangan. "Kamu salah orang."Dia bergegas maju, menggenggam tanganku. "Aku menghabiskan semua relasi yang aku punya, akhirnya bisa membeli kabar tentangmu. Aku mencarimu selama setahun. Setahun ini, kamu tahu bagaimana aku hidup?"Dia menangis, menangis sejadi-jadinya."Aurora, aku mohon padamu, aku benar-benar nggak bisa hidup tanpamu. Tanpamu aku hampir mati.""Lepaskan aku!"Aku memberontak, tetapi tenaganya terlalu besar, aku tidak berdaya.Tiba-tiba, Nikos dipukul keras seseorang, tubuhnya langsung terempas ke tanah.Loran berdiri tinggi menatapnya dari atas."Bersikap sekasar ini bukan perilaku seorang kesatria!"Tatapan Loran dingin luar biasa, Nikos bangkit dengan susah payah, menatapnya tajam."Kamu ini siapa."Dia berkata dengan nada mengejek, "Aku pa

  • Setelah Suamiku Memilih Si Putri Palsu, Aku Lenyap   Bab 6

    Nikos akhirnya terlambat satu langkah.Aku sudah menaiki penerbangan menuju Isviko.Di dalam pesawat, aku memandangi pemandangan di luar jendela, hatiku terasa sangat gembira.Aku menggunakan jalur khusus untuk menghapus seluruh identitasku di dalam negeri.Lalu meminta orang lain menguruskan identitas baru untukku.Sejak saat itu, aku akan berganti wajah dan identitas, tidak lagi menjadi Aurora yang ditinggalkan dan diinjak-injak orang lain.Setelah mendarat, aku melempar kartu SIM lamaku ke laut, sebagai perpisahan total dengan masa lalu.Memasang kartu SIM baru, aku menelepon pemilik rumah kontrakan baruku.Pemilik rumah itu adalah pria tampan berdarah campuran lokal, masih muda, dan sepertinya juga tuan muda dari keluarga terkenal di daerah ini."Nona Aurora Lindas, halo!" Suara pria itu magnetis dan penuh daya tarik. "Selamat datang di rumahku."Bahasa lokalnya yang terpatah-patah membuatku terkekeh pelan."Terima kasih.""Kamu tahu? Di sini kamu bisa melihat aurora, sangat indah.

  • Setelah Suamiku Memilih Si Putri Palsu, Aku Lenyap   Bab 5

    [Nikos, ketika kamu membaca surat ini, tolong jangan pernah mencariku lagi, karena aku pergi setelah menumpuk cukup banyak kekecewaan. Saat Viola pertama kali mengirimkan foto kalian kepadaku, yang kuinginkan hanyalah satu penjelasan darimu. Namun yang kudapat hanyalah kebohongan tanpa akhir. Setiap hari aku hidup dalam siksaan, aku pikir seenggaknya kamu akan selalu berdiri di pihakku.Sepanjang hidupku, aku nggak pernah dipilih dengan tegas. Sejak kecil aku dan Viola tertukar saat digendong, Ibu selalu menganggap dia sebagai anak kandungnya. Pada hari aku diakui kembali, aku tumbuh dalam kemiskinan dan belajar membaca suasana. Aku bisa merasakan sikap Ibu terhadapku adalah dingin dan waspada, tanpa sedikit pun kegembiraan. Keluarga Lindas bagiku bukanlah tempat pulang. Nggak satu pun dari mereka akan memilihku, sampai kemunculanmu.Nikos, kamu pernah menjadi cahayaku. Kamu pernah berkata akan melindungiku seumur hidup dan memperlakukanku dengan baik seumur hidup. Janji itu pun kamu t

  • Setelah Suamiku Memilih Si Putri Palsu, Aku Lenyap   Bab 4

    Setelah Nikos meninggalkan diriku, beberapa hari berlalu dan dia tidak pulang ke rumah.Selama periode ini, Viola terus memperbarui linimasa.Setiap unggahan memang samar, tetapi aku tahu semuanya berkaitan dengan Nikos.Hari ini dia mengunggah foto punggung Nikos yang sedang menyiapkan sarapan.[Dengan ayah yang begitu bertanggung jawab, setelah bayi lahir pasti akan sangat bahagia.]Kolom komentar dipenuhi oleh teman SMA dan teman bersama kami.[Wah, selamat ya mau jadi ibu.][Kok sosok suamimu terlihat sangat familier, seperti pernah lihat di mana.][Sedikit mirip Nikos. Viola ternyata masih belum bisa melupakannya, sampai cari pengganti.][Siapa tahu yang asli?][Siapa yang nggak tahu Nikos menganggap Aurora sebagai hidupnya. Bukankah Viola juga memberi ucapan selamat di pernikahan mereka? Viola sudah lama move on.]...Hari ini adalah hari kepergianku dari sini.Entah harus berpamitan pada siapa. Kupikirkan lingkaran sosialku selama bertahun-tahun ini, selain Nikos, ternyata tidak

  • Setelah Suamiku Memilih Si Putri Palsu, Aku Lenyap   Bab 3

    Pada hari aku pergi mengambil visa, Ibu meneleponku dan memintaku pulang ke rumah.Kupikir semuanya akan segera berakhir, bertemu sekali lagi dengan ibu kandungku ini juga tidak ada salahnya.Anggap saja sebagai balasan atas jasa membesarkanku selama bertahun-tahun ini.Setibanya di rumah, dia terlebih dahulu menunjukkan perhatian dan kepedulian, dan aku menanggapinya satu per satu."Selama bertahun-tahun ini kamu sudah banyak menderita, menyembunyikan fakta bahwa kamulah anak Keluarga Lindas yang sebenarnya." Ibu berpura-pura iba sambil mengusap rambutku. "Kamu juga tahu kondisi Viola, anak itu punya depresi yang sangat serius. Aku benar-benar takut terjadi apa-apa padanya ...."Ya, hanya karena dia punya depresi yang "sangat serius", bahkan suamiku pun harus dipaksa kuserahkan kepadanya.Hubungan antara Nikos dan Viola, ibuku mengetahui semuanya, tetapi sampai detik ini masih menyembunyikannya dariku.Bahkan kejadian hari itu, ketika Viola membuat keributan dengan ancaman bunuh diri

  • Setelah Suamiku Memilih Si Putri Palsu, Aku Lenyap   Bab 2

    Keesokan harinya, aku tidak berdandan mewah dan juga tidak memakai riasan, hanya mengenakan pakaian rumah biasa lalu keluar.Begitu masuk ke ruang privat, Nikos sudah menunggu sejak lama.Dia menengadah dengan penuh kejutan ke arah pintu. Namun saat melihatku, ekspresinya sempat membeku sejenak.Dia tampak sedikit terluka. "Sayang, hari ini hari jadi pernikahan kita ...."Aku tersenyum. "Kita sudah seperti pasangan lama, masih perlu memikirkan rasa seremonial segala?"Setelah aku duduk, anak kami duduk di sampingnya, memandangku dengan tatapan menghindar.Aku tahu.Viola sudah lama memberitahukan diriku, bahwa anakku Erino, sudah mengakui dia sebagai ibu angkat.Nikos tidak terlalu senang, aku bisa melihatnya, tetapi aku sudah malas memedulikan apa yang dia pikirkan.Sejak aku diakui kembali oleh Keluarga Lindas, bertahun-tahun ini aku hidup dengan sangat hati-hati, takut membuat siapa pun tidak senang, takut mereka akan meninggalkan diriku.Aku sudah ditelantarkan lebih dari sepuluh t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status