Share

Bab 3

Penulis: Makjos
Pada hari aku pergi mengambil visa, Ibu meneleponku dan memintaku pulang ke rumah.

Kupikir semuanya akan segera berakhir, bertemu sekali lagi dengan ibu kandungku ini juga tidak ada salahnya.

Anggap saja sebagai balasan atas jasa membesarkanku selama bertahun-tahun ini.

Setibanya di rumah, dia terlebih dahulu menunjukkan perhatian dan kepedulian, dan aku menanggapinya satu per satu.

"Selama bertahun-tahun ini kamu sudah banyak menderita, menyembunyikan fakta bahwa kamulah anak Keluarga Lindas yang sebenarnya." Ibu berpura-pura iba sambil mengusap rambutku. "Kamu juga tahu kondisi Viola, anak itu punya depresi yang sangat serius. Aku benar-benar takut terjadi apa-apa padanya ...."

Ya, hanya karena dia punya depresi yang "sangat serius", bahkan suamiku pun harus dipaksa kuserahkan kepadanya.

Hubungan antara Nikos dan Viola, ibuku mengetahui semuanya, tetapi sampai detik ini masih menyembunyikannya dariku.

Bahkan kejadian hari itu, ketika Viola membuat keributan dengan ancaman bunuh diri di rumah dan memohon Nikos datang menemuinya, juga karena Ibu yang menelepon dan meminta Nikos datang.

Saat kami sedang berbicara, dari luar pintu terdengar suara ribut.

"Bu, aku pulang."

Wajah Ibu langsung berubah.

Aku menoleh, di luar pintu berdiri Viola dan Nikos yang mengenakan mantel panjang.

Begitu melihatku, Nikos tertegun sesaat dan segera menjauh dari Viola.

Ibu berkata cemas, "Bukankah aku sudah bilang jangan pulang hari ini?"

Viola menjulurkan lidahnya. "Aku kangen Ibu."

Dia mengangkat mata menatapku, menyunggingkan senyum.

"Kakak juga pulang, ya? Aku dan Kak Ipar kebetulan bertemu di jalan, jadi kami datang bersama."

Aku menatap Nikos dengan geli. "Kebetulan? Kamu juga ingin datang ke rumah Keluarga Lindas? Kenapa?"

Aku selalu suka bertanya meski sudah tahu jawabannya, menikmati rasa sakit saat membuka luka kembali.

Itu membuatku lebih sadar.

Nikos berkata gugup, "Aku datang ke rumah Ibu untuk mengambil sesuatu, jadi sekalian mampir."

Ibu segera menyahut, "Ya, ya. Nikos, aku ambilkan sekarang."

Dia memberi isyarat pada pelayan, yang langsung naik ke atas dan membawa turun sebuah map dokumen.

"Nikos, ini ambil saja."

Nikos mengangguk, lalu menggenggam tanganku. "Aurora, ayo kita pulang."

Namun Viola berkata dengan nada menyindir, "Kakak dan Kak Ipar susah payah pulang ke rumah, nggak mau tinggal makan sebentar?"

Wajah Nikos menggelap seketika. Saat dia hendak menolak, aku menghentikannya.

"Kalau begitu, mari kita makan bersama."

Bagiku ini adalah santapan perpisahan terakhir.

Nikos berdeham ringan. "Aku ke kamar kecil sebentar."

Dia menatap tajam Viola, memberi isyarat agar dia ikut.

Aku diam-diam menonton sandiwara ini. Setelah mereka berdua keluar, aku menyusul dengan sembunyi-sembunyi.

Mereka menuju taman belakang rumah Keluarga Lindas.

"Kamu melakukannya dengan sengaja hari ini, ya." Dengan mata merah dan penuh amarah, Nikos mencengkeram tangan Viola erat-erat. "Kamu sengaja membawaku ke rumah Keluarga Lindas karena kamu tahu kakakmu hari ini pulang!"

Mata Viola memerah, dia menyahut dengan nada teraniaya, "Mana mungkin aku tahu Kakak pulang! Kamu nggak lihat aku juga membelamu di depannya?"

"Itu kamu sebut membela?" Nikos mendadak melepaskan tangannya dengan kasar, penuh perasaan muak. "Viola, jangan kira aku nggak bisa melihat niatmu! Kita akhiri saja. Aku nggak sanggup menanggung akibat kalau Aurora tahu."

Kali ini Viola benar-benar panik, dia memeluk Nikos erat-erat dan tidak mau melepaskannya.

Dia menangis tersedu-sedu. "Nggak, Kak Nikos, aku salah. Aku nggak akan mengulanginya lagi. Aku pasti akan tahu diri, aku nggak akan pernah membiarkan Kakak tahu hubungan kita."

Nikos berkata dengan tenang, "Kita benar-benar selesai. Hari ini kamu keterlaluan. Sebentar lagi aku akan membawa Aurora pergi, dan setelah itu jangan pernah menghubungiku lagi."

Nikos mendorongnya pergi. Saat dia hendak pergi, Viola berkata dengan gigi terkatup di belakangnya, "Baik, kamu tinggalkan aku, tapi kamu nggak peduli dengan anak kandungmu?"

"Erino juga nggak akan mengakuimu sebagai ibu angkat lagi. Aku akan membawa dia pergi bersamaku!"

"Bukan Erino yang kumaksud." Viola tersenyum kejam, mengelus perutnya dengan suara lembut penuh kemesraan. "Yang ada di dalam perutku ini, anakmu."

Bibir Nikos gemetar.

Mendengar sampai di sini, aku hanya merasa mual, ingin muntah, tetapi tidak keluar apa-apa.

"Sejak kapan ...." Bibir Nikos bergerak, seolah teringat sesuatu, lalu mendongak tiba-tiba. "Malam itu?"

Seharusnya aku sudah memikirkan ini sejak awal. Ketika hati seorang pria sudah berubah, bagaimana mungkin tubuhnya tetap setia padamu?

Aku pergi seakan melarikan diri, tidak ingin terus mendengarnya.

Setelah kembali ke dalam rumah, jantungku masih berdebar kencang.

Melihat keadaanku, Ibu bertanya panik, "Aurora, kamu nggak apa-apa? Kamu melihat sesuatu?"

Aku menatap Ibu yang bahkan sekarang masih melindungi Viola, lalu perlahan menggelengkan-gelengkan kepala.

Nikos dan Viola kembali satu per satu.

Viola diam-diam tersenyum padaku, membentuk kata dengan gerakan bibirnya: Tadi kamu sudah melihat semuanya, 'kan?

Ternyata sejak awal dia sudah tahu aku berada di sana.

Aku meletakkan sendok, mengambil mantel di sofa.

"Aku pulang dulu."

Nikos berdiri. "Aurora mungkin kurang enak badan hari ini. Bu, kami pulang dulu."

Setelah pergi, Nikos terus berjalan di belakangku. Saat dia hendak menggenggam tanganku, aku menghindar pelan.

Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Melihat nama penelepon, ekspresinya berubah, tetapi akhirnya dia tetap mengangkatnya.

"Aku mengerti."

Setelah menutup telepon, Nikos menatapku dengan raut agak kacau.

"Sayang, ada urusan mendesak di perusahaan. Aku nggak bisa mengantarmu. Kamu pulang dulu, ya."

Dia meninggalkan kalimat itu lalu pergi terburu-buru.

Layar ponselku juga menyala di saat yang sama.

Pesan dari Viola.

Sebuah foto pergelangan tangannya yang disayat, darah mengalir deras.

[Kakak, menurutmu setelah Kak Nikos mendengar kabar aku mau bunuh diri sambil membawa anaknya, apa dia akan meninggalkanmu begitu saja?]
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Setelah Suamiku Memilih Si Putri Palsu, Aku Lenyap   Bab 7

    Nikos menoleh ke arahku.Dia tampak jauh lebih terpuruk, janggut tidak terurus, rambut berantakan, sudut matanya memerah."Aurora."Dia membuka mulut, suaranya serak dan kebingungan."Aurora, benar-benar kamu."Aku mengalihkan pandangan. "Kamu salah orang."Dia bergegas maju, menggenggam tanganku. "Aku menghabiskan semua relasi yang aku punya, akhirnya bisa membeli kabar tentangmu. Aku mencarimu selama setahun. Setahun ini, kamu tahu bagaimana aku hidup?"Dia menangis, menangis sejadi-jadinya."Aurora, aku mohon padamu, aku benar-benar nggak bisa hidup tanpamu. Tanpamu aku hampir mati.""Lepaskan aku!"Aku memberontak, tetapi tenaganya terlalu besar, aku tidak berdaya.Tiba-tiba, Nikos dipukul keras seseorang, tubuhnya langsung terempas ke tanah.Loran berdiri tinggi menatapnya dari atas."Bersikap sekasar ini bukan perilaku seorang kesatria!"Tatapan Loran dingin luar biasa, Nikos bangkit dengan susah payah, menatapnya tajam."Kamu ini siapa."Dia berkata dengan nada mengejek, "Aku pa

  • Setelah Suamiku Memilih Si Putri Palsu, Aku Lenyap   Bab 6

    Nikos akhirnya terlambat satu langkah.Aku sudah menaiki penerbangan menuju Isviko.Di dalam pesawat, aku memandangi pemandangan di luar jendela, hatiku terasa sangat gembira.Aku menggunakan jalur khusus untuk menghapus seluruh identitasku di dalam negeri.Lalu meminta orang lain menguruskan identitas baru untukku.Sejak saat itu, aku akan berganti wajah dan identitas, tidak lagi menjadi Aurora yang ditinggalkan dan diinjak-injak orang lain.Setelah mendarat, aku melempar kartu SIM lamaku ke laut, sebagai perpisahan total dengan masa lalu.Memasang kartu SIM baru, aku menelepon pemilik rumah kontrakan baruku.Pemilik rumah itu adalah pria tampan berdarah campuran lokal, masih muda, dan sepertinya juga tuan muda dari keluarga terkenal di daerah ini."Nona Aurora Lindas, halo!" Suara pria itu magnetis dan penuh daya tarik. "Selamat datang di rumahku."Bahasa lokalnya yang terpatah-patah membuatku terkekeh pelan."Terima kasih.""Kamu tahu? Di sini kamu bisa melihat aurora, sangat indah.

  • Setelah Suamiku Memilih Si Putri Palsu, Aku Lenyap   Bab 5

    [Nikos, ketika kamu membaca surat ini, tolong jangan pernah mencariku lagi, karena aku pergi setelah menumpuk cukup banyak kekecewaan. Saat Viola pertama kali mengirimkan foto kalian kepadaku, yang kuinginkan hanyalah satu penjelasan darimu. Namun yang kudapat hanyalah kebohongan tanpa akhir. Setiap hari aku hidup dalam siksaan, aku pikir seenggaknya kamu akan selalu berdiri di pihakku.Sepanjang hidupku, aku nggak pernah dipilih dengan tegas. Sejak kecil aku dan Viola tertukar saat digendong, Ibu selalu menganggap dia sebagai anak kandungnya. Pada hari aku diakui kembali, aku tumbuh dalam kemiskinan dan belajar membaca suasana. Aku bisa merasakan sikap Ibu terhadapku adalah dingin dan waspada, tanpa sedikit pun kegembiraan. Keluarga Lindas bagiku bukanlah tempat pulang. Nggak satu pun dari mereka akan memilihku, sampai kemunculanmu.Nikos, kamu pernah menjadi cahayaku. Kamu pernah berkata akan melindungiku seumur hidup dan memperlakukanku dengan baik seumur hidup. Janji itu pun kamu t

  • Setelah Suamiku Memilih Si Putri Palsu, Aku Lenyap   Bab 4

    Setelah Nikos meninggalkan diriku, beberapa hari berlalu dan dia tidak pulang ke rumah.Selama periode ini, Viola terus memperbarui linimasa.Setiap unggahan memang samar, tetapi aku tahu semuanya berkaitan dengan Nikos.Hari ini dia mengunggah foto punggung Nikos yang sedang menyiapkan sarapan.[Dengan ayah yang begitu bertanggung jawab, setelah bayi lahir pasti akan sangat bahagia.]Kolom komentar dipenuhi oleh teman SMA dan teman bersama kami.[Wah, selamat ya mau jadi ibu.][Kok sosok suamimu terlihat sangat familier, seperti pernah lihat di mana.][Sedikit mirip Nikos. Viola ternyata masih belum bisa melupakannya, sampai cari pengganti.][Siapa tahu yang asli?][Siapa yang nggak tahu Nikos menganggap Aurora sebagai hidupnya. Bukankah Viola juga memberi ucapan selamat di pernikahan mereka? Viola sudah lama move on.]...Hari ini adalah hari kepergianku dari sini.Entah harus berpamitan pada siapa. Kupikirkan lingkaran sosialku selama bertahun-tahun ini, selain Nikos, ternyata tidak

  • Setelah Suamiku Memilih Si Putri Palsu, Aku Lenyap   Bab 3

    Pada hari aku pergi mengambil visa, Ibu meneleponku dan memintaku pulang ke rumah.Kupikir semuanya akan segera berakhir, bertemu sekali lagi dengan ibu kandungku ini juga tidak ada salahnya.Anggap saja sebagai balasan atas jasa membesarkanku selama bertahun-tahun ini.Setibanya di rumah, dia terlebih dahulu menunjukkan perhatian dan kepedulian, dan aku menanggapinya satu per satu."Selama bertahun-tahun ini kamu sudah banyak menderita, menyembunyikan fakta bahwa kamulah anak Keluarga Lindas yang sebenarnya." Ibu berpura-pura iba sambil mengusap rambutku. "Kamu juga tahu kondisi Viola, anak itu punya depresi yang sangat serius. Aku benar-benar takut terjadi apa-apa padanya ...."Ya, hanya karena dia punya depresi yang "sangat serius", bahkan suamiku pun harus dipaksa kuserahkan kepadanya.Hubungan antara Nikos dan Viola, ibuku mengetahui semuanya, tetapi sampai detik ini masih menyembunyikannya dariku.Bahkan kejadian hari itu, ketika Viola membuat keributan dengan ancaman bunuh diri

  • Setelah Suamiku Memilih Si Putri Palsu, Aku Lenyap   Bab 2

    Keesokan harinya, aku tidak berdandan mewah dan juga tidak memakai riasan, hanya mengenakan pakaian rumah biasa lalu keluar.Begitu masuk ke ruang privat, Nikos sudah menunggu sejak lama.Dia menengadah dengan penuh kejutan ke arah pintu. Namun saat melihatku, ekspresinya sempat membeku sejenak.Dia tampak sedikit terluka. "Sayang, hari ini hari jadi pernikahan kita ...."Aku tersenyum. "Kita sudah seperti pasangan lama, masih perlu memikirkan rasa seremonial segala?"Setelah aku duduk, anak kami duduk di sampingnya, memandangku dengan tatapan menghindar.Aku tahu.Viola sudah lama memberitahukan diriku, bahwa anakku Erino, sudah mengakui dia sebagai ibu angkat.Nikos tidak terlalu senang, aku bisa melihatnya, tetapi aku sudah malas memedulikan apa yang dia pikirkan.Sejak aku diakui kembali oleh Keluarga Lindas, bertahun-tahun ini aku hidup dengan sangat hati-hati, takut membuat siapa pun tidak senang, takut mereka akan meninggalkan diriku.Aku sudah ditelantarkan lebih dari sepuluh t

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status