Masuk"Orang itu sudah tiga kali mengirim bunga kemari. Harusnya kalian menyelidiki siapa orang itu sebenarnya!" Maxim mengomeli Andrew dan dua anak buahnya yang menghadap padanya malam ini. Kekesalan itu Maxim ungkapkan karena ia telah menyerahkan segala keamanan pada anak buah Andrew, namun masih saja ada penguntit yang diam-diam berusaha mengusik. "Surat-surat yang ada di dalam bunga itu berisi pengancaman yang ditulis dengan bahasa yang halus. Logan dan Kalix sudah menyuruh kalian berdua untuk mengikuti pengantar bunga itu kan?!" sentak Maxim pada Josh dan Killian. "Sudah, Tuan. Tapi pemuda itu benar-benar pegawai toko bunga," jawab Killian, saya sudah mengikutinya dua hari terakhir. "Biar saya dan Kalix saja yang mengikuti orang itu, Tuan," sahut Logan dari belakang Maxim. "Saya akan mencari, sampai ke akar-akarnya." Maxim melirik Logan dan Kalix yang mengangguk padanya. "Logan benar, Tuan. Saya juga sangat penasaran, siapa yang menyuruh pemuda itu," sahut Kalix dengan wajah mura
Kabar kelahiran anak pertama Maxim kini telah menyebar di seluruh pelosok negeri. Semua rekan-rekan kerja maupun rekan bisnisnya saling mengucapkan selamat untuk Maxim dan Margaret atas kelahiran anak pertama mereka. "Ya ampun Nyonya, sejak pagi tadi banyak hadiah yang berdatangan. Semuanya dari rekan-rekan Tuan Maxim," ujar Pelayan Sondia meletakkan beberapa box hadiah di dalam kamar Margaret. "Iya, Bi. Aku juga tidak menyangka kalau Viony akan mendapatkan hadiah sebanyak ini," balas Margaret, ia menatap tumpukan hadiah yang datang. Sementara di depan, para rekan-rekan Maxim berdatangan bersama istri mereka, dan Margaret baru saja membawa Viony masuk ke dalam kamar karena bayinya menangis. Saat diam menatap putri kecilnya yang tertidur, Margaret kepikiran Bibi Erika. Apakah dia sudah tahu kalau Margaret telah melahirkan? "Bibi Letiti," panggil Margaret pada wanita yang tengah menata baju-baju bayi di depan sana. "Ya, Nyonya?" Wanita setengah baya itu menoleh cepat. "Apa Bibi
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, hari ini Margaret dan bayinya diizinkan pulang. Margaret sangat senang, sepanjang perjalanan pulang ia menggendong putri kecilnya yang masih tertidur. Maxim yang duduk di sampingnya, terus merangkulnya dan sesekali mengusap si bayi mungil dalam pelukan Margaret. "Akhirnya, kita pulang juga, Sayang," ujar Margaret mengelus lembut pipi si kecil. "Viony sudah tidak sabar ingin melihat rumah, iya kan, Nak?" Margaret terkekeh gemas dan mengecup pipi kecil bayi cantik itu. "Dia sama sekali tidak mau bangun, ya," ujar Maxim berdecak kagum menatap putri kecilnya itu. "Heem. Dia terbangun saat ingin minum ASI saja, dan buang air. Sisanya, dia tidur saja," balas Margaret. "Dasar tukang tidur." Maxim tersenyum dan mengecup pelipis Margaret. Rasanya, Maxim sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah. Meskipun kali ini ia harus kembali ke kediaman keluarga Valdemar, tapi Maxim sudah memutuskan untuk dua hari saja di Fratz, sebelum na
Margaret duduk lama di atas kursi roda, menggendong bayi mungilnya dan memberikan ASI untuk pertama kalinya pada si kecil Baby Viony. Baik Margaret maupun Maxim tidak ada yang tahu, apa warna mata si mungil ini, karena Viony selalu tertidur sepanjang hari. Apakah dia memiliki manik mata biru seperti Margaret, atau hitam seperti milik Maxim?"Sssttt ... ya ampun! Ternyata sakit sekali!" Margaret meringis kesakitan saat bayi kecil itu menyesap ASI. "Ya ampun, Sayang." Margaret mengelus kening putri kecilnya. Meskipun ini pertama kali untuknya memberikan ASI untuk bayinya, dan ternyata rasanya sangat sakit. Margaret tidak mau berhenti, ia tetap memberikan ASI untuk putri kecilnya. Karena ia ingin menjadi ibu yang baik untuk anak kesayangannya. "Sayang, kalau sangat sakit lebih baik tidak usah—""Tidak apa-apa," sela Margaret cepat. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dan kembali menatap bayinya yang menyesap ASI dengan kuat.Margaret tersenyum lembut menahan sakit. "Dulu, waktu aku masi
"Tuan, apakah kabar kelahiran Nona kecil tidak akan Tuan umumkan? Biasanya ... rekan-rekan kerja Tuan selalu mengadakan acara setiap mereka memiliki bayi yang baru lahir." Logan menatap Maxim yang kini duduk di sampingnya. Dengan suara berbisik, mereka duduk di luar kamar rawat inap Margaret. Helaan napas panjang menjadi jawaban pertama dari Maxim atas pertanyaan Logan barusan. "Entahlah. Sepertinya nanti," jawabnya tenang. "Yang terpenting sekarang adalah kondisi istriku. Dia harus segera pulih terlebih dahulu." "Iya, Tuan." Maxim tertunduk, ia menatap ke arah arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Sebelum akhirnya laki-laki berbalut jas berwarna navy itu beranjak dari duduknya. Langkah Maxim menuju ke arah kamar rawat inap Margaret. Ia membuka pintu ruangan itu dan berjalan masuk ke dalam menghampiri istrinya yang baru saja bangun. "Kau tidak lapar, Sayang?" tanya Maxim, mengusap kening Margaret. "Heem," jawab Margaret bergumam dan mengangguk. "Aku ingin makan bubur
Kondisi Margaret benar-benar melemah setelah melahirkan. Ia dan bayinya dipisah kamar untuk beberapa waktu. Sementara Maxim sibuk mengurus banyak hal tentang berkas rumah sakit untuk bayinya dan juga istrinya. Begitu hari sudah menjelang sore, Maxim kembali ke dalam kamar perawatan Margaret. Di sana, ia melihat Margaret yang masih terbaring dengan sepasang terpejam.Usai beberapa menit melahirkan, Margaret pingsan karena kehilangan banyak darah dan tubuhnya semakin melemah hingga butuh perawatan khusus. Maxim terlihat gelisah dan gundah. Ia duduk di samping Margaret dan menggenggam tangannya."Bangunlah, Sayang... Viony mencarimu," bisik Maxim dengan hati sedih. Maxim menundukkan kepalanya di samping kepala Margaret. Ia masih menggenggam tangan Margaret, dan tak terhitung berapa kali ia mengecup kening dan pucuk kepala istrinya. Dokter berkata, sore ini mungkin Margaret sudah bangun. Namun tetap saja, Maxim sangat cemas karena sang istri belum memberikan tanda-tanda sadarkan diri.







