ログインSampai pukul tujuh pagi Maxim belum kembali. Margaret menanti kepulangan Maxim dan ingin mendengar cerita dari suaminya itu tentang apa yang sebenarnya terjadi. "Kenapa dia belum juga kembali?" gumam Margaret, ia menetap ke arah jarum jam di dinding. "Tidak mungkin hanya pergi ke rumah sakit saja dari pukul tiga dini hingga pukul tujuh pagi." Wajah Margaret mendadak lesu, wanita itu menatap putri kecilnya yang baru saja tidur setelah dimandikan. Bahkan botol susu formula juga masih ada di meja yang tak jauh dari Margaret berada saat ini. "Nyonya, mau Bibi gantikan menggendong Nona Viony?" tawar Bibi Letiti yang kini berjalan mendekati Margaret. "Tidak usah, Bi. Dia baru saja tidur, nanti malah terbangun," jawab Margaret, tersenyum menatap bayi kecilnya. "Baiklah kalau begi—"Ucapan Bibi Letiti terhenti saat tiba-tiba mendengar bunyi telepon berdering. Wanita itu menatap Margaret sejenak, sebelum ia bergegas mendekati telepon rumah di ruang keluarga. Margaret ikut berjalan ke ar
"Tuan Maxim, permisi..!" Suara Logan berulang kali memanggil Maxim di balik ketukan pintu kamar berkali-kali di pukul tiga dini hari. Margaret yang yang mendengar suara itu, ia segera beranjak dari tidurnya. Wanita itu melirik suaminya yang tidak terusik dengan suara Logan dan ketukan pintu. Pasti Maxim sangat lelah. "Ada apa Logan membangunkan Maxim jam segini?" gerutu Margaret. Ia segera menyahut cardigan miliknya dan berjalan ke arah pintu. Di luar, suara Logan masih tergesa. Margaret membuka pintu kamarnya. Ia melihat ekspresi Logan yang sangat panik. "Logan, ada apa?" tanya Margaret. "Kenapa jam segini kau mengetuk pintu kamar kami?" "Nyonya, maaf mengganggu istirahat Anda dan Tuan. Saya ingin menyampaikan sesuatu, bisakah Anda membangunkan Tuan Maxim sebentar saja? Ada hal penting yang harus saya sampaikan pada Tuan," ujar Logan. "Ada apa lagi?" Suara Maxim terdengar menyahuti. Laki-laki itu bangun dan kini berjalan mendekati Margaret dan Logan di ambang pintu. Margar
"Bagaimana dengan istri Anda, Tuan Maxim? Kalau boleh ... saya ingin bertemu langsung dengannya untuk membahas perihal pembukaan tambang di Barchen." Seorang laki-laki setengah baya menatap Maxim di dalam ruangan meeting."Saya juga demikian. Kalau diizinkan, saya ingin berbincang-bincang dengan istri Anda. Saya yakin, Nyonya Linton adalah wanita yang pintar dan cerdas seperti mendiang Papanya," imbuh seorang pria berambut cokelat kemerahan yang duduk tepat di hadapan Maxim saat ini. Maxim tersenyum kecil dan ia menarik napasnya panjang. Butuh kesabaran ekstra menghadapi para predator seperti mereka yang terus mendesaknya untuk menunjukkan Margaret. "Istri saya baru saja melahirkan. Kami fokus pada bayi kami dulu, untuk urusan tambang, dan perusahaan milik mendiang mertua saya, itu ada di tangan istri saya, Tuan," ujar Maxim pada dua pria itu. "Maka dari itu, Tuan Maxim... saya mohon untuk lain waktu, izinkan saya bertemu dengan Nyonya Linton," pinta Jerome pada Maxim. Menanggapi
Keesokan harinya...Pagi-pagi sekali Maxim bersiap untuk pergi ke kantor. Setelah semalam pulang larut, pagi ini laki-laki itu terlihat sangat terburu-buru. Maxim mendapatkan kabar kalau beberapa rekan kerjanya sudah mulai membicarakan soal tambang milik istrinya di Barchen lagi dan lagi. "Sayang, ini masih pukul setengah tujuh. Apa iya kau mau berangkat sepagi ini?" Margaret memperhatikan suaminya yang tengah bersiap. Maxim menatapnya dari balik cermin meja rias. "Iya, Sayang. Aku harus pergi cepat. Kalau urusan sudah selesai, besok kita pulang ke Laster." "Baiklah," jawab Margaret.Maxim menyahut jas hitamnya, sebelum ia mendekati Margaret dan mengecup kening wanita itu dengan mesra. "Aku berangkat dulu," pamit Maxim. "Heem. Hati-hati di jalan, Sayang..." Laki-laki itu bergegas keluar dari dalam kamar meninggalkan istri dan anaknya. Sementara Margaret kini, ia mendekati ranjang bayi di sebelah tempat tidurnya. Wanita cantik dengan rambut terikat pita merah itu menggendong ba
Maxim mendatangi tempat di mana Logan dan Kalix mengurung Camila. Di sebuah pondok kecil yang berada jauh dari pusat keramaian. Mereka yakin kalau Camila tidak akan bisa kabur dari tempat itu. Hingga Maxim tiba dan Logan membuka pintu tempat itu, Camila yang sejak tadi ketakutan langsung bangun dan sadar dengan kedatangan Maxim. "Kak Maxim..!" Wanita itu menatapnya dengan wajah ketakutan. "Apa maksudmu meminta dua anak buahmu itu mengurungku di sini?!" Maxim tetap diam dan berdiri tegap menatapnya penuh peringatan. "Apapun alasannya, aku rasa tidak penting untukmu," jawab Maxim. Laki-laki itu maju dua langkah mendekati Camila. Berdiri tepat di hadapannya dengan wajah dingin dan tatapan penuh ancaman, seolah ia bisa kapan saja menyakiti dan menghabisi Camila saat ini. Camila menelan ludah saat Maxim menatapnya dalam, tajam, dan mengintimidasi. "A-apa yang kau—""Di mana David?" Maxim menyela ucapan Camila. "Kau tidak usah berbohong padaku kali ini, Camila." "Aku tidak tahu!" pe
Di ruang keluarga, Margaret duduk di sofa sembari menggendong bayinya. Ditemani oleh Bibi Letiti yang kini berdiri di sampingnya. Resah di hari Margaret sedikit mereda saat bayi kecilnya tidak lagi menangis setelah meminum susu formula. "Dia tidur, Bi," ujar Margaret mengusap pipi gembil Viony. "Iya, Nyonya. Sepertinya Nona kecil memang sedang lapar," jawab Bibi Letiti memperhatikan bayi yang tengah tertidur itu. Margaret tersenyum lega. Sebelum akhirnya Bibi Letiti berpamitan ke belakang dan meninggalkan Margaret sendirian di sana. Lagi dan lagi, Margaret menoleh ke arah ruangan kerja suaminya. Ia memperhatikan Maxim yang kini keluar dari dalam ruangannya. Laki-laki dengan pakaian kemeja putih dilapisi vest hitam itu menatapnya, sebelum ia berjalan mendekati Margaret dan Viony. "Sudah tidur?" tanya Maxim memperhatikan putri kecilnya. "Sudah," jawab Margaret pelan. Maxim mengangguk kecil. "Ayo, pindah ke kamar. Ini sudah malam," ajaknya. Barulah Margaret beranjak dari dudukn







