LOGINDi ruang keluarga, Margaret duduk di sofa sembari menggendong bayinya. Ditemani oleh Bibi Letiti yang kini berdiri di sampingnya. Resah di hari Margaret sedikit mereda saat bayi kecilnya tidak lagi menangis setelah meminum susu formula. "Dia tidur, Bi," ujar Margaret mengusap pipi gembil Viony. "Iya, Nyonya. Sepertinya Nona kecil memang sedang lapar," jawab Bibi Letiti memperhatikan bayi yang tengah tertidur itu. Margaret tersenyum lega. Sebelum akhirnya Bibi Letiti berpamitan ke belakang dan meninggalkan Margaret sendirian di sana. Lagi dan lagi, Margaret menoleh ke arah ruangan kerja suaminya. Ia memperhatikan Maxim yang kini keluar dari dalam ruangannya. Laki-laki dengan pakaian kemeja putih dilapisi vest hitam itu menatapnya, sebelum ia berjalan mendekati Margaret dan Viony. "Sudah tidur?" tanya Maxim memperhatikan putri kecilnya. "Sudah," jawab Margaret pelan. Maxim mengangguk kecil. "Ayo, pindah ke kamar. Ini sudah malam," ajaknya. Barulah Margaret beranjak dari dudukn
"Bajingan! Apa yang kau lakukan, hah?!" Camila berteriak marah saat dua ajudan Maxim membawanya. Mereka berdua mendorongnya di sebuah sofa di dalam sebuah rumah kecil yang jauh dari kota. Kedua mata Camila melebar dan menyala-nyala, ia takut, juga panik saat Logan dan Kalix berdiri di hadapannya dengan tatapan mengerikan. "Jadi kau, orang yang setiap hari meneror dan mengirim bunga bersama surat-surat itu untuk Nyonya Margaret?" Kalix menatap rendah wanita di hadapannya saat ini. Camila berdecak angkuh. "Aku tidak punya urusan dengan kalian! Kalian berdua hanyalah bawahan. Jadi, panggilah Tuan kalian dan suruh dia ke sini kalau ada yang dibicarakan denganku!" pekik Camila pada mereka. "Tuan Maxim sibuk dengan istri dan anaknya. Sepertinya tidak ada waktu untuk wanita sepertimu," sahut Logan, ucapannya yang sarkastik, tatapannya yang tajam dan berbahaya. "Tuan Maxim sudah menyerahkan semua tugas-tugas ini padaku. Termasuk ... menangkapmu." Rahang Camila mengeras kuat, ia langsung
Seperti yang diperintahkan Maxim pada Logan dan Kalix. Pagi ini, dua pria berbadan gagah dengan pakaian serba hitam itu, berada di depan toko bunga yang baru saja buka. Kalix mengenakan kaca mata hitam dan topi hitamnya, menutup mulut dan hidungnya dengan masker berwarna senada. "Dia kan?" Logan menaikkan dagunya saat seorang pemuda muncul di depan toko bunga dan merapikan bunga-bunga. "Heem. Sepertinya Killian jujur, dia hanya pegawai toko itu," ujar Kalix. "Tapi ... yang perlu kita selidiki adalah siapa yang menyuruhnya." Logan menyergah napas, ia duduk bersantai di dalam sebuah cafe bersama Killian saat ini. Menikmati secangkir kopi pahit dan membuka kotak cerutu, mengambil sebatang gulungan tembakau itu dan membakar ujungnya, sebelum pria tampan bermata abu-abu itu menyesap asap cerutunya dan mengepulkan asap ke udara. "Kau mau taruhan, siapa yang menyuruh anak muda itu?" tantang Kalix pada Logan. "Tidak perlu. Dugaan kita akan sama," jawabnya. "Camila?" Kalix menaikkan sal
"Orang itu sudah tiga kali mengirim bunga kemari. Harusnya kalian menyelidiki siapa orang itu sebenarnya!" Maxim mengomeli Andrew dan dua anak buahnya yang menghadap padanya malam ini. Kekesalan itu Maxim ungkapkan karena ia telah menyerahkan segala keamanan pada anak buah Andrew, namun masih saja ada penguntit yang diam-diam berusaha mengusik. "Surat-surat yang ada di dalam bunga itu berisi pengancaman yang ditulis dengan bahasa yang halus. Logan dan Kalix sudah menyuruh kalian berdua untuk mengikuti pengantar bunga itu kan?!" sentak Maxim pada Josh dan Killian. "Sudah, Tuan. Tapi pemuda itu benar-benar pegawai toko bunga," jawab Killian, saya sudah mengikutinya dua hari terakhir. "Biar saya dan Kalix saja yang mengikuti orang itu, Tuan," sahut Logan dari belakang Maxim. "Saya akan mencari, sampai ke akar-akarnya." Maxim melirik Logan dan Kalix yang mengangguk padanya. "Logan benar, Tuan. Saya juga sangat penasaran, siapa yang menyuruh pemuda itu," sahut Kalix dengan wajah mura
Kabar kelahiran anak pertama Maxim kini telah menyebar di seluruh pelosok negeri. Semua rekan-rekan kerja maupun rekan bisnisnya saling mengucapkan selamat untuk Maxim dan Margaret atas kelahiran anak pertama mereka. "Ya ampun Nyonya, sejak pagi tadi banyak hadiah yang berdatangan. Semuanya dari rekan-rekan Tuan Maxim," ujar Pelayan Sondia meletakkan beberapa box hadiah di dalam kamar Margaret. "Iya, Bi. Aku juga tidak menyangka kalau Viony akan mendapatkan hadiah sebanyak ini," balas Margaret, ia menatap tumpukan hadiah yang datang. Sementara di depan, para rekan-rekan Maxim berdatangan bersama istri mereka, dan Margaret baru saja membawa Viony masuk ke dalam kamar karena bayinya menangis. Saat diam menatap putri kecilnya yang tertidur, Margaret kepikiran Bibi Erika. Apakah dia sudah tahu kalau Margaret telah melahirkan? "Bibi Letiti," panggil Margaret pada wanita yang tengah menata baju-baju bayi di depan sana. "Ya, Nyonya?" Wanita setengah baya itu menoleh cepat. "Apa Bibi
Setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit, hari ini Margaret dan bayinya diizinkan pulang. Margaret sangat senang, sepanjang perjalanan pulang ia menggendong putri kecilnya yang masih tertidur. Maxim yang duduk di sampingnya, terus merangkulnya dan sesekali mengusap si bayi mungil dalam pelukan Margaret. "Akhirnya, kita pulang juga, Sayang," ujar Margaret mengelus lembut pipi si kecil. "Viony sudah tidak sabar ingin melihat rumah, iya kan, Nak?" Margaret terkekeh gemas dan mengecup pipi kecil bayi cantik itu. "Dia sama sekali tidak mau bangun, ya," ujar Maxim berdecak kagum menatap putri kecilnya itu. "Heem. Dia terbangun saat ingin minum ASI saja, dan buang air. Sisanya, dia tidur saja," balas Margaret. "Dasar tukang tidur." Maxim tersenyum dan mengecup pelipis Margaret. Rasanya, Maxim sudah tidak sabar ingin segera sampai di rumah. Meskipun kali ini ia harus kembali ke kediaman keluarga Valdemar, tapi Maxim sudah memutuskan untuk dua hari saja di Fratz, sebelum na







