LOGINAlya hanya ingin hidup sederhana—mengelola toko buku kecil peninggalan ayahnya, menikmati kesunyian, dan perlahan melupakan masa lalunya. Namun semua itu buyar ketika Raka, mantan kekasih yang dulu ia tinggalkan, kembali muncul. Raka bukan sekadar mantan biasa. Ia adalah luka, kenangan pahit, sekaligus bayangan yang tak pernah rela melepaskan. Obsesi Raka pada Alya berubah menjadi bayangan kelam yang mengintai setiap langkahnya. Di saat yang sama, hadir Ardi, sahabat lama yang kini kembali ke kehidupannya. Kehangatan dan ketulusan Ardi menjadi sandaran Alya, membuatnya perlahan berani membuka hati. Tapi semakin ia mencoba bangkit, semakin kuat pula jerat yang Raka pasang. Cinta bagi Alya seharusnya indah, tapi mengapa justru terasa seperti rasa sakit yang terus membekas? Apakah ia bisa benar-benar bebas dari bayangan masa lalu? Dan beranikah ia memperjuangkan cinta yang tak menyakitkan bersama seseorang yang dengan sabar menunggunya? Mencintaimu Adalah Rasa Sakit adalah kisah tentang luka, obsesi, dan keberanian untuk menemukan cinta yang sehat. Sebuah drama kehidupan sehari-hari yang penuh air mata, ketakutan, sekaligus harapan baru. ---
View MorePagi itu rumah sakit terasa lebih tenang dari biasanya. Sinar matahari menembus jendela besar, menari di antara tirai putih yang bergoyang pelan. Di dalam kamar nomor 307, suara detak alat monitor menjadi satu-satunya irama yang menemani Ardi membuka matanya perlahan. Tubuhnya masih terasa berat. Luka di bahu kiri belum sepenuhnya pulih, namun kehangatan yang terasa di tangannya membuat segalanya terasa lebih ringan. Alya tertidur di kursi samping ranjang, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tenang. Di atas pangkuannya, sebuah buku catatan kecil terbuka — berisi tulisan tangan yang Ardi kenal betul. Ia tersenyum samar. Dengan tangan kanan yang masih lemah, Ardi mencoba menyentuh buku itu. Tulisan pertama di halaman atas berbunyi: > “Jika suatu hari aku harus memilih antara menyerah atau percaya, aku akan selalu memilih percaya — pada Ardi.” Senyum Ardi melebar, tapi matanya berkaca-kaca. Kata-kata itu sederhana, namun maknanya begitu dalam — seolah menjadi alasan untuk
Malam itu, seluruh kota tenggelam dalam hujan yang tak berhenti. Langit hitam, petir sesekali membelah langit dengan cahaya menyilaukan. Di dalam markas tua yang kini menjadi pusat kerja Alya dan Dimas, suara generator dan kipas pendingin bersahutan. Udara di dalam ruangan terasa berat — seperti menyimpan sesuatu yang tak semestinya hidup di dunia ini. Alya duduk di depan meja logam, menatap selembar blueprint kusam yang terbuka di depannya. Coretan-coretan rumit memenuhi kertas itu — rancangan Neural Gate, proyek terakhir Ardi sebelum dunia menganggapnya mati. Kini, ia bertekad untuk menyelesaikannya. “Kalau aku ingin membawanya kembali,” gumamnya pelan, “aku harus menyeberang ke tempat di mana logika berhenti.” Dimas yang duduk di sisi lain meja menatapnya dengan khawatir. “Alya, ini bukan sekadar eksperimen. Ini melanggar semua batas yang pernah ada. Kau bicara tentang membuka jalur antara pikiran manusia dan sistem digital. Sekali saja salah langkah—kau bisa kehilangan segalan
Suara mesin server berputar pelan, menyelinap di antara kesunyian malam. Di ruang bawah tanah markas lama VORTEX, udara berbau debu dan besi tua, sisa-sisa masa lalu yang selama ini dikubur bersama rahasia. Alya berdiri di depan konsol besar yang telah ia hidupkan kembali setelah berjam-jam bekerja. Layar-layar kecil di depannya menampilkan deretan kode yang berdenyut seperti detak jantung. Dimas duduk di sampingnya, matanya tak lepas dari grafik sinyal samar yang muncul di monitor utama. “Ini… kode dari Alpha-01,” gumam Dimas pelan. “Tapi bentuknya aneh. Bukan sinyal fisik, bukan juga jaringan standar.” Alya menatap layar dengan pandangan kosong namun fokus. “Bukan dunia digital biasa,” katanya lirih. “Ini lapisan antara data dan kesadaran. Lapisan tempat Ardi pernah menulis eksperimen terakhirnya.” Ia menekan beberapa tombol, lalu menatap deretan angka yang berubah cepat. “Dia meninggalkan sesuatu di sini. Bukan pesan biasa, tapi… jejak dirinya.” Dimas menelan ludah. “Kau yakin
Suara ledakan masih menggema di antara pepohonan. Asap bercampur kabut membuat pandangan menjadi buram, sementara hujan deras menutupi aroma darah yang kian menyengat. Ardi berdiri di tengah kepungan, tubuhnya setengah roboh, namun matanya masih menyala tajam — biru bercampur hitam, seperti badai yang berjuang untuk tetap hidup. Di sekitar, pasukan VORTEX mulai menutup jarak. Suara logam dari sepatu taktis mereka memantul di tanah berlumpur. > “Subjek Alpha mendekati batas kestabilan,” terdengar suara dari earpiece salah satu agen. “Izinkan aktivasi ulang sistem kendali.” Alya berlari dari balik reruntuhan pohon, napasnya tersengal. Ia menatap Ardi yang kini dikelilingi, dan meski wajahnya penuh lumpur, sorot matanya tak gentar sedikit pun. “Ardi!” serunya keras, suaranya menembus derasnya hujan. “Jangan biarkan mereka mengendalikanmu lagi!” Namun kepala Ardi tiba-tiba menunduk — cahaya biru di tubuhnya berkedip cepat, dan terdengar dengung mekanis yang kian tinggi. Ia berlutut
Lorong bawah tanah itu sunyi — terlalu sunyi untuk tempat pelarian. Air menetes dari pipa tua di atas kepala, menciptakan gema lembap yang menyelinap di antara napas mereka yang menahan ledakan emosi. Alya berdiri membeku, menatap sosok di hadapannya yang separuh wajahnya tertutup masker. Tapi mat
Sudah tiga hari sejak malam itu. Tiga hari sejak ledakan besar yang seharusnya mengakhiri segalanya. Tapi bagi Alya, itu justru menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih berbahaya. Ia kini berdiri di depan gedung tua di distrik utara — markas bawah tanah yang dulu digunakan Ardi untuk menyembunyik
Suara sirene darurat meraung di seluruh ruangan bawah tanah itu. Lampu merah berputar cepat, menciptakan bayangan yang menari di wajah mereka. Asap tebal keluar dari salah satu tabung kaca yang pecah, menyebarkan bau logam dan bahan kimia tajam. Alya menutup hidungnya dengan tangan, sementara matan
Udara di ruang bawah tanah itu begitu pengap, seolah menyimpan ribuan rahasia yang tak pernah ingin diungkap. Dinding-dindingnya lembap, berlumut, dan di beberapa bagian terlihat bekas coretan tangan — entah siapa yang pernah berusaha meninggalkan pesan di tempat gelap seperti ini. Alya melangkah p












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews