เข้าสู่ระบบEnam tahun pernikahan, hanya ada pesta liar di malam hari, tidak ada kehangatan di siang hari. Alyssa mencintai Daniel dengan sepenuh hati sampai menyerahkan dirinya tanpa syarat. Namun, putri kandung mereka dilarang memanggilnya "Papa", sementara anak cinta pertamanya dipeluk di pangkuan dan diajari memanggil "Papa". Seluruh keluarga memperlakukan anak angkat sebagai pewaris berharga, sementara anak kandung dianggap aib yang tak pantas dilihat. Hingga akhirnya, Alyssa dan putrinya meregang nyawa, dan Daniel menandatangani surat kremasi mereka. Setelah itu, Daniel pergi menghadiri pesta penyambutan Sierra yang baru kembali dari luar negeri dengan membawa anak angkat itu. Saat itu, Alyssa baru sadar ketulusan tidak selalu bisa menukar ketulusan. Orang yang dingin dan kejam memang tidak punya hati. Hidup kembali di dunia yang sama, Alyssa memutuskan untuk sepenuhnya melepaskan pernikahan yang hanya penuh dengan penghinaan dan dingin ini! Di kehidupan sebelumnya, dia dengan bodohnya menyerah atas pendidikan dan menjadi ibu rumah tangga yang rela berkorban untuk keluarga. Di kehidupan kali ini, dia dengan tegas menyerahkan surat perceraian, membawa putrinya jauh dari jurang, menata kembali kariernya, dan kembali ke puncak! Saat Alyssa pergi minggu pertama, Daniel hanya menganggap Alyssa sedang mencari perhatian. Saat Alyssa pergi sebulan pertama, Daniel sama sekali tidak peduli, tetap membiarkannya pergi. Namun, suatu hari, dia malah melihat Alyssa di pertemuan elite teratas industri! Alyssa fokus pada karier, sedangkan putrinya fokus mencari ayah baru. Ternyata mereka tidak membutuhkan Daniel lagi! Pria yang selalu dingin dan sombong itu pun kehilangan akal sehatnya. Tanpa peduli pandangan dunia, dia menahan ibu dan anak itu di depan umum, lalu memohon, "Istriku, aku akan berlutut di sini, maukah kamu mencintaiku sekali lagi?"
ดูเพิ่มเติม[Aletta Azzahra aku ceraikan dirimu dan aku bebaskan kamu dari pernikahan ini. Mulai saat ini, kau bukan lagi istriku dan gugur sudah tanggung jawabku terhadapmu.]
Aku memegangi dadaku saat membaca satu buah pesan yang dikirim suamiku. Kontak dengan nama ‘My Love’ itu, terakhir aktif sepuluh menit yang lalu.
Aku menghubungi suamiku lewat sambungan telepon. Namun, sayang nomornya sudah tidak aktif. Beberapa kali aku mengulangi panggilan, tapi hanya suara operator yang menjawab.
“Mama, kok malah main hape, sih? Rambut Thalita, ‘kan belum selesai diikat. Emh ... Mama kebiasaan deh, suka main hape terus.” Anakku bersedekap dada dengan bibir mengerucut.
Pagi ini, Thalita putriku memang memintaku untuk mengikat rambutnya dengan ikat dua di atas. Baru selesai sebelah, bunyi ponsel mengalihkan konsentrasiku. Apalagi setelah membaca pesan yang masuk, hatiku jadi tak enak dan ingin cepat menghubungi Mas Mirza.
Setelah menyelesaikan ikatan rambut Thalita, aku kembali mengambil ponsel dan mencoba menghubungi suamiku lagi.
“Thalita, anak Mama yang cantik, sekarang Thalita sarapan duluan sama Bibi, ya? Mama harus menelepon seseorang dulu,” kataku pada putriku.
“Mama mau telpon siapa, Papa?” tanya putriku.
Sesak dada ini melihat ekspresi wajah Thalita yang langsung berbinar bahagia.
“Iya, siapa tahu sekarang sudah ada sinyal.”
“Yeee! Nanti, kalau sudah tersambung sama Papa, bilangin ya, kalau Thalita, kangeeeen banget sama Papa. Oke, Ma?” ucapnya antusias.
“Iya, Sayang. Sekarang Thalita sarapan dulu, ya?” kataku lagi.
Akhirnya Thalita menurut dan pergi ke ruang makan. Setelah Thalita keluar, aku terus menghubungi nomor suamiku. Namun, hasilnya tetap sama. Tidak ada jawaban, dan nomornya kembali tidak aktif.
Sebulan yang lalu, Mas Mirza ijin untuk pergi ke luar kota. Katanya kantor cabang membutuhkan dia di sana. Tanpa curiga dan banyak bertanya, aku pun mengiyakan. Karena ini bukan yang pertama juga dia pergi untuk urusan pekerjaan.
"Ini tidak mungkin," lirihku seraya menatap ponsel.
Kejanggalan memang sudah aku rasakan sejak satu minggu dia di sana. Mas Mirza jadi jarang menghubungiku. Mas Mirza bilang, di tempatnya tinggal kini sangat susah signal. Jangankan untuk bervideo call, untuk sekedar sambungan telepon tanpa internet pun, sangat sulit.
Jika bertukar kabar, dia hanya berpesan agar aku selalu menjaga kesehatanku dan menjaga Thalita buah hatiku.
Kembali aku membaca pesan yang dia kirim. Sama, tidak berubah satu kata pun. Seperti ada belati yang menancap hati, perih dan sangat sakit. Air mata yang sedari tadi menggenang, kini tumpah dan mengalir deras membasahi pipiku.
“Benarkah kamu yang menulis ini, Mas?” lirihku dengan tetap melihat pesan yang Mas Mirza kirim.
Apa yang membuat Mas Mirza menalakku tanpa alasan? Itulah yang ingin aku tahu. Setahuku, aku tidak pernah melakukan kesalahan fatal yang membuat dirinya sakit hati atau kecewa.
Aku mengingat kembali kejadian-kejadian sebelum keberangkatannya. Kami masih sangat mesra dan saling melempar canda. Tidak ada tanda kalau dia pergi dengan membawa amarah atau luka dariku.
[Mas, kenapa kamu menalakku? Apa alasan kamu menceraikanku, Mas?]
[Mas, hanya bercanda, kan?]
[Tapi, aku sedang tidak ulang tahun. Anniversary kita juga masih tiga bulan lagi, Mas.]
Aku mengirimkan beberapa pesan melalui W******p ke nomor Mas Mirza. Seperti biasa, tidak ada balasan. Jangankan dibaca, pesannya pun hanya centang satu.
[Mas, Leta sangat merindukan, Mas. Satu bulan loh, kita tidak jumpa, masa Mas mengerjaiku dengan menalakku. Tega, deh.]
[Jangan main-main sama talak, Mas. Aletta takut, nanti kalau beneran gimana?]
Tanganku lihai mengetik pesan yang langsung aku kirim pada suamiku.
[Nanti, kalau sudah ada sinyal, hubungi Leta ya, Mas. Thalita juga sangat merindukan Papanya.]
[Oh ... aku tahu, Mas pasti sudah jalan pulang, ya? Mas ngerjain aku nih, nanti taunya meluk aja dari belakang seperti waktu dulu. Iya, 'kan?]
Lagi, aku kirimkan rentetan pesan kepada suamiku, berharap ada satu saja pesan balasan dari Mas Mirza untukku.
Aku tidak boleh panik. Aku harus berpikir positif, tidak boleh suudzon pada suami. Meskipun hatiku sudah tidak baik-baik saja.
Aku keluar dari kamar. Pergi ke dapur dan menemani putriku yang sedang sarapan.
“Mama, gimana ada telpon dari Papa?” Putriku yang berusia lima tahun itu langsung menanyakan Papanya. Hampir saja air mataku kembali keluar, tapi aku tahan dengan sekuat tenaga.
Aku harus tetap berpikir positif, tidak ada apa-apa antara aku dan Mas Mirza. Dia hanya mengerjaiku.
“Belum, Sayang. Sepertinya masih tidak ada sinyal di sana. Doakan Papa, ya ... supaya selalu sehat dan Allah selalu jagain Papa,” ujarku mengelus kepala putriku.
Hatiku kembali berdenyut, sesak kini kurasakan. Tapi, aku selalu meyakinkan hati ini bahwa semuanya baik-baik saja.
Setelah selesai sarapan, aku berinisiatif untuk memasak beberapa makanan kesukaan Mas Mirza. Karena aku yakin, kalau saat ini dia sedang dalam perjalanan pulang. Namun, dia merahasiakan kepulangannya.
“Wah, Ibu mau masak banyak, kok itu isi kulkas dikeluarin semua begitu?” ujar Niar ART-ku.
“Iya, Ni. Aku mau masakin makanan kesukaannya Mas Mirza, sebentar lagi dia pulang. Kamu bantuin potong-potong sayur sama daging, ya?”
“Siap, Bu.” Niar bergegas mengambil beberapa sayur untuk dipotong.
*
Setelah hampir dua jam aku berkutat di dapur dengan peralatan masak, akhirnya semua makanan kesukaan suamiku telah terhidang di meja makan. Biasanya, Mas Mirza akan sampai pukul satu siang, itu artinya masih ada waktu untukku mempercantik diri menyambut kedatangan Mas Mirza.
Aku gegas pergi ke kamar untuk mandi dan bersolek. Tidak lupa aku membuka kembali ponsel, berharap Mas Mirza akan mengirim balasan pesan padaku.
“Tidak, ada.” Aku mendengkus, kembali aku masuk ke kamar mandi.
Dalam guyuran air shower, ingatanku kembali pada pesan yang masuk ke ponselku. Sesak kembali terasa, tapi aku segera menepisnya. Yakin, kalau itu bukan pesan dari Mas Mirza.
Setelah selesai, aku mengenakan pakaian terbaikku. Kupoles wajah ini dengan makeup natural andalan. Biasanya Mas Mirza langsung memujiku jika aku berdandan seperti ini.
“Aduuh ... istrinya siapa ini cantik sekali? Jadi tambah jatuh cinta terus, sama Mamanya Thalita.” Itu pujian yang selalu aku dengar dari bibir suamiku.
Setelah selesai, aku kembali ke bawah. Duduk di kursi meja makan dan menunggu datangnya pujaan hati.
Thalita sengaja aku suruh bermain di taman kompleks bersama Niar. Aku sangat merindukan suamiku, aku ingin menyambutnya dengan sepenuh hati. Ini adalah kepergian terlamanya. Biasanya hanya tiga hari atau satu minggu dia berada di luar kota. Sekarang sudah satu bulan, jelaslah aku sangat menunggu kepulangannya.
Sekarang sudah pukul dua, tanda-tanda mobil masuk ke garasi pun tidak ada. Ponsel yang sedari aku letakan di dekatku, tidak berbunyi satu kali pun.
"Mas Mirza sudah di mana?" kataku seraya megetuk-ketukan jari pada meja.
Makanan yang aku masak mulai dingin. Hatiku semakin gusar. Bayangan sebuah perpisahan menari indah di pelupuk mata. Secepat mungkin aku mengusir bayangan itu.
Aku menundukkan kepala, menempelkan kening pada tangan yang aku lipat di atas meja. Aku mendongak saat pundakku diusap lembut.
“Mas Mirza!”
Daniel bahkan sudah menunduk demi masa depan mereka berdua dan meminta maaf pada perempuan seperti Alyssa. Masa dia masih tidak bisa menurunkan harga dirinya?Dia mengertakkan gigi, lalu menatap Alyssa. "Kak Alyssa, maaf. Ke depannya aku akan lebih hati-hati."Pandangan Anita melirik ke arah Alyssa, seolah-olah menanyakan apakah dia puas dengan permintaan maaf itu.Tentu saja Alyssa tidak akan bersikap memojokkan dalam situasi seperti ini. Anita tak lain hanya ingin membelanya. Alyssa juga paham benar posisi dirinya saat ini.Alyssa mengangkat pandangan dengan tenang. "Nek, aku nggak apa-apa."Dia tidak mengatakan memaafkan, juga tidak mengatakan tidak memaafkan. Hanya satu kalimat sederhana itu, tetapi cukup untuk mengakhiri suasana yang ada.Dalam keadaan seperti ini, tentu saja Sierra tidak akan terus tinggal di sini. Dia segera bangkit dan berdiri. "Kak Alyssa, karena kesalahpahaman sudah terurai, aku berharap ke depannya nggak ada lagi keraguan soal kemurnian hubunganku dengan Dan
Mendengar ucapan itu, Sierra seketika membelalakkan mata, merasa sulit dipercaya."Aku minta maaf?" Dia hampir saja menggebrak meja dan berdiri, lalu mengertakkan gigi. "Aku sama sekali nggak melakukan kesalahan. Kenapa aku harus minta maaf?"Anita menatapnya dengan tatapan tenang. Tanpa perlu marah, dia sudah terlihat berwibawa. "Kalau begitu, perusahaan yang Daniel dirikan untukmu akan ditarik kembali sebagai aset Grup Arthadika."Hati Sierra langsung mencelos. Meganova adalah batas terakhirnya. Selama ini, dia juga sudah menanamkan banyak modal di Meganova. Bagaimana mungkin di saat genting seperti ini perusahaan itu ditarik begitu saja? Bukankah itu berarti semua yang dia miliki akan rugi besar?Dia mengepalkan tangannya. "Nenek, ini urusan bisnis, nggak ada kaitannya dengan urusan keluarga.""Jangan kira aku nggak tahu apa yang kamu lakukan di belakang sana." Anita mengamatinya dengan tajam. "Aku memanggilmu ke sini untuk bicara baik-baik karena masih mengingat hubungan lama, berh
"Nenek sekarang salah paham soal hubunganku dengan Daniel. Kamu harus bantu jelaskan ya."Alyssa menurunkan pandangan, melihat Sierra menarik tangannya. Dia menarik kembali tangannya dengan dingin. "Kalau mau bicara, bicara saja. Nggak perlu sok dekat. Antara kita nggak ada ikatan apa pun."Jadi, memang tidak ada sandiwara yang bisa dimainkan. Setiap sentuhan fisik hanya membuatnya merasa jijik.Sikap Alyssa terhadap Sierra tampak sangat dingin. Anita yang bermata tajam bisa menangkap beberapa kejanggalan di antara mereka."Kamu nggak percaya padaku?" Wajah Sierra tampak sangat tersakiti."Kak Alyssa, kalau kamu nggak percaya padaku, setidaknya percayalah pada Daniel. Antara aku dan dia benar-benar bersih. Gosip yang disebarkan orang-orang itu semua fitnah. Jangan biarkan hal seperti itu merusak hubungan kita."Anita duduk di tempatnya, memegang cangkir teh dan mengusapnya perlahan. Pandangannya bolak-balik di antara mereka berdua.Menghadapi berbagai penjelasan dari Sierra, ekspresi A
Anita mengundangnya kemari hari ini, pada akhirnya pasti untuk membicarakan hal-hal penting.Sierra berdandan dengan sangat serius hari ini. Dia meninggalkan gaya tomboy yang biasa, mengenakan gaun panjang putih, tampak anggun dan berwibawa. Dengan sepatu hak tinggi, dia berdiri di hadapan Alyssa. Tatapan di matanya penuh dengan rasa meremehkan.Hubungannya dengan Merry selama ini memang sangat baik. Calon ibu mertua bahkan secara pribadi memilihkan gaun pengantin untuknya. Sekarang, Anita juga memanggilnya secara khusus.Di dalam hatinya, rasa gembira dan antusiasme nyaris tak terbendung."Karena kamu tahu aku datang menemui Nenek, seharusnya kamu juga paham apa sebenarnya tujuan Nenek mencariku.""Kamu sudah jadi mantan istri. Ke depannya, sebaiknya jangan terlalu sering muncul di depan Keluarga Arthadika. Kamu juga tahu sendiri, mereka nggak suka kamu."Dia adalah ibu kandung Rafa. Baginya, masuk ke Keluarga Arthadika hanya soal waktu.Alyssa mendengarkan setiap kata yang diucapkan
Cangkir teh menggesek wajah Daniel, lalu terhempas keras ke lantai. Suara pecahannya menggetarkan hati, serpihan keramik berserakan di mana-mana.Sejak awal hingga akhir, raut wajah Anita tetap dingin. Dia mengangkat pandangan menatap wajah Daniel yang memerah setelah terkena hantaman itu."Kalau ka
Alyssa menundukkan pandangan, wajah tetap tenang saat melihat gaun di tangannya. "Kalau kamu nggak punya uang, telepon saja anakmu suruh datang bayar."Merry malah tertawa. "Anakku itu 'kan suamimu? Kamu bayar sama saja dia yang bayar. Untuk apa dia harus repot-repot ke sini? Kamu sudah pegang uang
Dia selalu bisa membedakan prioritas, dan sebelumnya juga sudah menanyakan ke Evans apakah Alyssa punya waktu di jam ini, jadi dia sengaja menelepon pada waktu tersebut. Alyssa menyetujui, lalu setelah menutup telepon dia menoleh pada Evans."Jadi ...."Evans tersenyum pelan. "Aku nggak ikut campur
Zizi duduk di kursi belakang. Kedua kakinya bergoyang-goyang. "Mama, kalau Mama sudah cerai dari Papa, apa Mama nanti bakal cari Papa baru buat aku?"Mata kecilnya berkilat terang, seolah membawa sedikit harapan.Alyssa melihat ekspresi putrinya melalui kaca spion. Tangannya yang memegang setir tanp
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
คะแนน
ความคิดเห็นเพิ่มเติม