Home / Romansa / Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku / Bab 49. Maxim Mengetahui Apa yang Disembunyikan David

Share

Bab 49. Maxim Mengetahui Apa yang Disembunyikan David

Author: Te Anastasia
last update Last Updated: 2025-11-01 17:56:47

Setelah seharian Maxim menunggu Logan, akhirnya sore ini ajudannya pun telah kembali. Pria dengan balutan mantel hitam itu menghadap Maxim yang kini berada di ruangan kerjanya seorang diri.

"Informasi apa yang kau dapatkan? Ke mana saja dia?" tanya Maxim dengan raut wajah kakunya.

Logan mendekati Maxim dan pria itu meletakkan beberapa lembar foto di atas meja kerja Maxim.

"Setelah Tuan David bertemu dengan Tuan Bastian Bristell, saya mengikuti Tuan David lagi, Tuan. Beliau bertemu dengan seorang wanita di dalam foto ini. Hanya jarak beberapa meter saja saya berada di dekat mereka. Saya mendengar Tuan David memanggil wanita bernama Licia ini dengan panggilan Sayang. Bahkan, mereka berjanjian malam ini akan bermalam bersama di apartemen milik wanita ini."

Maxim menatap foto itu sekilas dan kembali menatap Logan yang tampak belum selesai menjelaskan padanya.

"Lalu?" lanjut Maxim. "Apa David sudah kembali ke sini?"

"Sudah, Tuan. Baru saja beliau kembali," jawab Logan.

Maxim
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 227. Mempercayai Suamiku

    Dua hari berlalu...Setelah sekian lama akhirnya Margaret kembali ke Fratz. Kota besar yang dulu menjadi bagian dari tujuan rencanannya membalas dendam, sebelum semuanya gagal total untuk ia raih sendiri, tapi setidaknya sedikit berhasil dengan adanya Maxim. Sepanjang perjalanan menuju kediaman keluarga Valdemar, Margaret tampak jemu menatap pemandangan kota besar itu. Semuanya masih sama dan tidak ada yang berubah. "Saat tiba di rumah, kau harus segera istirahat setelah makan siang," ujar Maxim menoleh pada Margaret. "Kalau kau sendiri?" Wanita cantik itu balik bertanya. "Aku akan ke kantor. Ada beberapa urusan yang harus aku urus. Dan pertemuan dengan beberapa orang," jawab Maxim menjelaskan. "Heem, baiklah." Maxim melirik Margaret yang masih diam dan menatap kembali ke arah pemandangan di luar. Rasa ragu mulai menyelimuti Maxim. Ia ingin membahas tentang perusahaan dan pertambangan milik Margaret, setidaknya, Maxim ingin sedikit saja menanyakan pada istrinya, apakah Margaret

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 226. Ternyata Cemburu

    Beberapa hari kemudian...Setelah tiga hari yang lalu Bibi Margaret pulang kembali ke Yards, Margaret kembali merasa kesepian.Maxim juga mulai sibuk dengan pekerjaannya, meskipun bekerja dari rumah, namun Margaret tidak menemuinya karena ia takut mengganggu suaminya bekerja. Kini, ia berada di dalam kamar. Margaret duduk diam di sana, ia membuka beberapa lembar berkas-berkas milik Maxim yang tertinggal di kamarnya. "Hem, berkas dari Barchen," lirih Margaret, gadis itu meraih sebuah dokumen dengan sampul biru bergambar logo berlian berwarna emas. Margaret membukanya dan membacanya dengan seksama. "Perjanjian kerja sama perusahaan," lirih Margaret. Ia kembali menutup berkas itu. Margaret terdiam dan mengusap perutnya. "Maxim sangat sibuk, sampai-sampai dia mengutus beberapa orang untuk menetap di Barchen. Tetapi..," ucapan Margaret tiba-tiba berhenti. Ia berbaring menatap langit-langit kamarnya. "Aku merasa senang setidaknya dia ada di sini menemaniku. Mungkin sampai aku melahi

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 225. Jangan Khawatir, Istriku

    "Jadi, kemarin-kemarin Bibi hanya mengirim satu hadiah untukku, Bi?" Margaret menatap Erika yang duduk di hadapannya. Wanita setengah baya yang tengah menyeduh teh hijau itu pun mengangguk dengan polos penuh kejujuran. "Ya. Bibi hanya mengirim satu, Nona. Bibi juga memberi surat di dalamnya, kan?" Erika menatap wajah bingung Margaret. "Memangnya kenapa?" Margaret terdiam sejenak, jemari tangannya meremas rok panjang putih yang ia pakai sebelum menggeleng-gelengkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Bi. Aku sangat menyukai hadiah yang Bibi berikan," jawab Margaret sembari tersenyum manis. Erika ikut tersenyum. "Syukurlah kalau Nona suka. Bibi juga membuatkan selai khusus dari Raspberry pilihan yang ada di kebun Nenek. Bahkan beberapa pakaian bayinya juga Bibi buat sendiri." "Iya, Bi. Aku tahu," jawab Margaret sambil tersenyum manis. “Aku sangat terharu atas kerja keras Bibi.”Margaret terdiam sejenak. Ia mulai memikirkan hadiah kedua yang ia terima kemarin. Bila bukan Bibi Erika yang me

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 224. Wanitaku yang Berseri-seri

    Maxim menepati janjinya atas permintaan Margaret untuk mendatangkan Bibi Erika ke Laster, meskipun kini tengah dalam perjalanan dijemput oleh Logan. Sudah lebih dari lima kali Margaret menengok ke arah pintu depan, menanti-nanti, dan memprediksi harusnya Bibi Erika sudah datang. Dari arah ruang keluarga, Maxim duduk tegap menyilangkan kakinya sambil menyangga kepala, dan memperhatikan istrinya tanpa berkedip. Sampai akhirnya Margaret tersentak begitu sadar ia tengah diperhatikan oleh suaminya tersebut. "Me-mengapa menatapku seperti itu?" tanya Margaret dengan alis menukik. "Kenapa kau bingung sendiri? Bibi Erika pasti akan datang sebentar lagi," ujar Maxim sebelum ia meraih bantalan sofa di sampingnya. "Lebih baik duduk di sini, temani aku." Bibir tipis Margaret cemberut. Wanita itu berjalan mendekatinya dan duduk di samping Maxim. Kepatuhan kecil Margaret membuat Maxim tersenyum senang. Laki-laki itu merangkul pundaknya dan mengecup pipi Chloe lebih dari dua kali. "Wangi seka

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 223. Hadiah Misterius

    Hadiah yang datang itu ternyata bukan dari orang luar. Maxim yang sempat mencemaskannya, akhirnya bisa bernapas lega. Hadiah itu berasal dari Bibi Erika, memberikan surat-surat berisi ucapan selamat. Hadiah-hadiah sederhana namun sangat bermakna. "Selimut flanel, selai Raspberry buatan Bibi, dan ... pakaian bayi untuk Viony nanti. Bibi Erika, aku sangat merindukanmu," lirih Margaret menatap isi kotak itu dengan perasaan terharu. Maxim menatap istrinya yang tampak senang, namun juga sedih sekaligus. "Apa kita perlu mengirimkan hadiah balasan untuk Bibi Erika?" tawar Maxim pada istrinya. Margaret menoleh pada suaminya yang berdiri sedikit terbungkuk menyentuh pucuk kepala Margaret dan menatap wajahnya dari samping. "Tidak bisakah kau meminta Logan untuk menjemput Bibi, Maxim?" pintanya. "Satu hari saja, aku ingin berbicara banyak hal dengan Bibi." Maxim tersenyum manis dan mengangguk. "Baiklah, nanti aku akan meminta Logan untuk menjemputnya," jawab laki-laki itu. Margaret langs

  • Setiap Malam, Paman Suamiku Membelaiku   Bab 222. Hadiah Pernikahan, dari Siapa?

    Lilitan tangan kekar memeluk pinggang Margaret dengan erat. Embusan napas hangat terasa jelas menyentuh kulitnya. Suara cuitan burung-burung di luar terdengar hingga ke dalam kamar. Margaret membuka sepasang matanya dan menatap ke arah jendela kamar. Hari masih petang, berkabut, dan embun tebal. Wanita cantik itu mengulurkan tangannya menekan saklar lampu kamar, sebelum ia menoleh ke samping, di mana Maxim masih tertidur memeluknya. "Maxim," lirih Margaret mengusap pipi laki-laki itu. Margaret tersenyum tipis. "Suamiku," panggilnya pelan dan tenang. "Emm..." Gumaman itu membuat Margaret terkejut. Ia pikir Maxim masih tidur, tapi justru merespon panggilannya. "Selamat pagi, Suamiku," ucap Margaret seraya mengelus rambut hitam Maxim. Laki-laki itu tersenyum, alih-alih ia terbangun, Maxim justru merengkuh tubuh Margaret dan menyandarkan kepalanya pada dada wanita itu. Di depan banyak orang, laki-laki ini memang dikenal dingin dan menyeramkan. Tapi di depan Margaret seperti ini,

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status