Share

Chapter 2

Aku membalikkan badan ke arah suara tersebut, dan benar sesuai dugaanku, Om Mario lah pemilik suara itu.

Om Mario adalah asisten pribadi Ayah, termasuk salah satu orang kepercayaannya. Badannya tinggi dan kekar. Maklum, dalam memilih asisten pribadinya, Ayah benar-benar selektif. Tidak hanya yang pintar dan berprestasi, tetapi dia juga harus pandai bela diri, karena dia lah yang akan mendampingi dan menjaga Ayah di mana pun beliau pergi.

"Eh, Om Mario. Apa kabar, Om?"

"Alhamdulillah Om sehat, Kamu apa kabar, Lio? Lama tak jumpa sudah makin keren aja dokter muda ini sekarang," puji Om Mario dengan memandangiku dari atas ke bawah.

"Ah, Om bisa aja. Alhamdulilah aku sehat, Om," jawabku basi-basi.

" Oiya, Jam segini udah stand by aja, Om? Bukannya acara masih satu jam lagi, ya?"

"Iya, tadi dr. Mahendra minta Om untuk berangkat lebih awal, karena harus memastikan calon penggantinya sampai di sini dengan selamat."

" Oiya?"

"Of course,"  jawab Om Mario dengan  senyuman khasnya. Beliau lalu melirik Adelia di belakangku.

"Siapa dia, Lio? Sudah punya calon eh rupanya? Cantik lagi. Kamu gak mau kenalin ke Om?"

Ku lirik Adelia di belakangku, Ia tampak canggung berdiri di sana, mungkin karena mendengar pernyataan Om Mario yang cukup frontal. Entah mengapa aku sangat terhibur melihatnya salah tingkah seperti itu. Air wajahnya yang tiba-tiba memerah membuatnya tampak semakin indah.

"Betul, Om," jawabku singkat dengan senyuman penuh pesona. Entah mengapa tiba-tiba terbesit keinginan untuk menjahilinya.

Mendengar jawabanku sontak kedua mata Adelia membulat sempurna. Dan tentu saja pemandangan itu berhasil membuat perutku kaku menahan tawa.

"Maksud Lio dia calon karyawan baru disini, Om," lanjut ku cepat sebelum Adelia merasa semakin tidak nyaman.

Kulihat ia menggaruk-garuk kepalanya yang terbalut hijab.

"Hahaha 10 tahun di USA ternyata tidak merubahmu ya, Lio. Kamu tetap Lio yang humoris yang Om kenal," kekeh Om Mario.

Aku hanya tersenyum sopan.

"Ya sudah, kamu lanjutkan apa yang harus kamu lanjutkan. Om harus melihat dan memastikan semua persiapan acara sudah Ready."

"Oh, iya silahkan, Om."

Om Mario lalu pergi meninggalkan kami berdua. Aku membuka knop pintu dan mempersilahkan Adelia masuk dan duduk di sofa tamu. Kuambil dua minuman dingin dari kulkas dan duduk di hadapan Adelia.

"Silahkan diminum," ucapku seraya meletakkan sebotol kopi kemasan di hadapannya.

"Terima kasih, Pak. Tapi bapak tidak perlu repot-repot begini," sahutnya sungkan.

"Sama sekali tidak repot. Minumlah, kamu pasti haus setelah berdebat dengan Wiraguna tadi."

"Terima kasih," ucapnya kemudian meminum minuman yang aku berikan.

Sesaat suasana menjadi hening. Kupandangi sekeliling, ruangan ini tidak pernah berubah, baik tata letak maupun semua perabotnya yang serba berwarna putih. Hanya warna catnya saja yang selalu diperbarui.

Begitulah Ayah, selera beliau tidak pernah berubah. Ayah memang berpendirian teguh, tak mudah menggoyahkan hatinya jika sudah memiliki tekad.

Seperti  keberadaanku di ruangan ini, salah satu contoh keputusan Ayah yang tak bisa dibantah. Ia begitu yakin aku mampu menggantikannya. Penolakanku dengan alasan minim pengalaman pun beliau tolak. Menurutnya, ini adalah cara terbaik untuk aku memulai pengalamanku.

Kulihat Adelia sudah meletakkan minumannya di meja.

"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, karena Bapak sudah membantu saya tadi," ucapnya.

"Sama-sama. Sudah menjadi kewajiban saya sebagai sesama manusia," balasku.

Ia hanya tersenyum sopan.

"Oiya, tadi saya tidak sengaja membaca nama "Adelia Maharani" di antara berkas-berkas kamu. Apa benar itu nama kamu?"

"Iya benar, Pak."

Aku manggut-manggut paham. Sedikit merasa aneh dengan kemiripan nama kita, sungguh kebetulan yang sangat mengganjal di hati.

"Ngomong-ngomong ternyata nama kita mirip, lho. Perkenalkan, nama saya Adelio Mahendra. Kamu bisa panggil saya, Lio."

"Baik Pak Lio, senang bisa mengenal Anda. Anda juga bisa memanggil saya Lia." 

"Oke Lia, Jadi apa tujuanmu datang ke rumah sakit ini? " Tanyaku memulai obrolan.

"Saya datang hari ini dengan tujuan untuk melamar kerja, Pak. Sebenarnya pagi ini saya ada jadwal interview dengan pihak HRD. Tetapi, karena satu dan lain hal saya gagal menghadiri undangan interview tersebut."

"Oh, maaf. Itu pasti karena saya mengajak kamu ke ruangan saya, ya? Kalau begitu kamu boleh pergi sekarang, sebelum semakin terlambat," titahku merasa bersalah telah mengajaknya kemari.

"Tidak kok, Pak. Saya memang datang terlambat karena saya harus mampir ke ruangan ibu saya terlebih dahulu untuk menyelesaikan hajatnya, karena itu saya tadi terburu-buru sampai tak sengaja menabrak pak Wiraguna," jelasnya.

Aku manggut-manggut faham.

"Oh, Jadi apakah ibu kamu juga bekerja di rumah sakit ini?"

"Tidak, Pak. Ibu saya sedang dirawat di sini," Jawab Lia dengan raut wajah yang tiba-tiba berubah. Tampak sekali ia tengah mengemban beban yang berat.

"Maaf, saya tidak tahu, Lia," sesalku.

"Tidak apa-apa, Pak," jawab Lia sembari tersenyum manis.

Kulirik jam di tanganku, sudah menunjukkan pukul 8.20. Lalu terdengar suara notifikasi dari hpku. Ternyata pesan dari Ayah.

[Kamu sudah siap, Lio? Ayah baru sampai. Sepertinya langsung menuju ruang rapat, karena acara perkenalan kamu akan dimulai 10 menit lagi. Kita ketemu di sana, ya.]

Kubaca pesan dari Ayah.

Aku menghela nafas sejenak, sebelum kemudian mengetikkan balasan untuk pesan dari Ayah.

[Oke, Yah.] balasku singkat. Lalu meletakkan kembali Hpku di saku celana yang kukenakan.

"Maaf, Lia,"

"Maaf, Pak,"

Ucapku dan Adelia bersamaan.

"Ehem," aku berdehem salah tingkah.

"Silakan bapak dulu," ucapnya mempersilahkan.

" Oh iya, maaf sebelumnya, sepertinya saya harus pergi karena ada suatu urusan."

"Baik, Pak. Saya juga harus ke ruangan ibu saya," pamit Lia.

"Baiklah, kalau begitu kamu tinggal saja CV kamu di sini. Nanti biar saya periksa. Kebetulan hari ini saya juga ada pertemuan dengan kepala HRD."

"Wah, terima kasih banyak, Pak. Rasanya saya sangat bersyukur hari ini dipertemukan dengan orang sebaik Bapak," ucap Lia dengan senyuman bahagia. Sangat menenangkan dan indah dipandang.

Aku tersenyum melihatnya,

"Sama-sama," jawabku singkat.

"Kalau begitu saya permisi, Pak."

"Silahkan. Salam untuk ibu kamu, ya. Semoga lekas sembuh."

"Baik, Pak. Pasti akan saya sampaikan."

Kemudian Lia beranjak dari tempatnya, dan pandanganku tak lepas mengikuti langkahnya. Sampai ketika ia hendak meraih knop pintu ruanganku, entah mengapa aku begitu ingin menahannya.

"Eh, Lia," panggilku menghentikan langkah Lia.

"Iya, Pak? " Jawab Lia seraya berbalik ke arahku.

Aku terdiam, merutuki diri sendiri yang tiba-tiba mencegah Lia keluar tanpa tujuan.

"Ada apa, Pak?" Tanya Lia menegaskan.

'Astaga, apa yang harus kukatakan?' 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status