Share

Chapter 3

"Ibu kamu dirawat di ruangan apa?" entah mengapa pertanyaan itu tiba-tiba meluncur dari mulutku.

Sejenak tampak raut wajah Lia keheranan. Namun tak lama kemudian ia pun menjawab,

"Kamar Mawar No. 3, Pak."

"Baiklah, kamu boleh pergi."

Dan beberapa detik kemudian, Lia telah lenyap dari pandanganku.

"Astagfirullah," ucapku lirih.

"Apa yang kamu lakukan, Lio?" batinku seraya menggeleng-gelengkan kepala heran dengan diriku sendiri. Kemudian segera beranjak ke ruang rapat.

"Ayah pasti sudah menunggu," batinku.

***

Adelia POV

Aku melangkahkan kaki keluar dari ruangan pak Lio. Rasanya masih seperti mimpi bisa menginjakkan kaki di lantai 5 dari bangunan megah ini. Bahkan dijamu oleh sang CEO dengan begitu baik. Jujur aku tak menyangka, bahwa CEO dari rumah sakit semegah ini ternyata masih sangat muda dan tampan.

Rumah Sakit dr. Mahendra sudah menjadi tempat yang tak asing lagi bagiku, karena sejak 3 bulan belakangan, aku keluar masuk rumah sakit ini untuk menjaga Ibu.

Ibuku sudah lama mengidap penyakit Leukimia. Kondisinya semakin hari semakin parah, hingga terpaksa harus dirujuk ke rumah sakit ini untuk mendapatkan penanganan dan perawatan terbaik.

Rumah Sakit Dr. Mahendra memang rumah sakit terbesar di Bali. Fasilitasnya lengkap, pelayanannya pun sangat baik. Tapi ibu selalu menolak tiap kali kutawari berobat kemari. Sampai pada akhirnya kondisi lah yang membawanya sampai ke tempat ini.Entah apa alasannya? Padahal untuk biaya pengobatannya sudah ditanggung oleh perusahaan asuransi.

Jujur, melihat kondisi Ibu saat ini sangat menyakitkan bagiku. Beliau satu-satunya yang kumiliki di dunia ini, kini hanya bisa terbaring lemah tak berdaya. Segala upaya telah aku lakukan demi kesembuhan Ibu, tetapi kondisinya tak kunjung membaik.

Bayangan tentang Ibu yang akan menyusul Ayah dan meninggalkanku seorang diri di dunia ini selalu menghantui. Bukan aku berburuk sangka bahwa Tuhan akan segera memanggilnya, tetapi kondisi ibu yang semakin hari semakin menurun membuat aku semakin pesimis dan takut hal yang tak diinginkan itu semakin dekat terjadi.

Terkadang terbesit sebuah penyesalan dalam hati, seandainya Ayah tak meninggalkan kami secepat ini, mungkin kondisi kami akan lebih baik. Setidaknya aku masih memiliki sandaran di saat-saat seperti ini.

Akan tetapi, semua itu tak akan terjadi. Jangankan mengharap bisa bersandar di dadanya, bahkan yang kutahu dari ayah hanya gambar dan tulisan nama di batu nisannya. Tidak ada kenangan indah yang tertinggal di memori. Tidak ada nasihat-nasihat yang dapat menguatkanku ketika menghadapi semua masalah ini seorang diri, karena Ayah meninggalkanku saat masih di dalam kandungan Ibu.

Seringkali ku keluhkan bahwa hidup ini tak adil bagiku. Namun, Ibu selalu mengatakan, " Tuhan tidak akan menguji hambanya melebihi batas kemampuannya." Ah, Ibu. Dialah satu-satunya penguatku di dunia ini.

Aku terus melangkahkan kaki menyusuri koridor rumah sakit, melewati taman-taman di depan ruang rawat yang begitu indah, berbagai macam bunga tertanam rapih di sana. Di taman yang beralaskan rumput hijau itu juga terdapat kolam ikan dengan suara gemericik air yang menenangkan, juga kandang burung yang menghasilkan suara kicauan saling bersahutan. Bangku-bangku dan beberapa gazebo juga tersedia di sana. Benar-benar suasana yang nyaman.

Teringat kemarin sore saat Ibu memaksa ingin dibawa kesana untuk menikmati suasana yang indah sembari saling bercerita.

"Nak, Ibu ingin kamu kembali bekerja seperti sedia kala," pinta Ibu sore itu.

Ya, sebelumnya aku memang bekerja berprofesi sebagai perawat di rumah sakit daerah. Namun, sudah tiga bulan ini aku memutuskan untuk resign dari pekerjaanku agar bisa fokus merawat Ibu.

"Nggak, Bu, Lia ingin fokus merawat Ibu di sini sampai sembuh. Kalau Lia kerja, siapa yang akan merawat Ibu? Lagi pula Lia juga sudah resign, Bu," jawabku.

"Tapi hidup kamu harus terus berjalan, Nak. Kamu butuh biaya untuk melanjutkan hidup," ungkap ibu mengkhawatirkanku.

"Ibu tenang aja, ya. Tabungan Lia InsyaAllah masih cukup untuk bertahan, kok. Yang terpenting sekarang adalah kesembuhan Ibu, " ucapku menenangkannya sembari menghambur ke pelukannya.

Ibu lalu mencium keningku penuh cinta,

"Terima kasih ya, Nak. Kamu memang anak terbaik Ibu."

"Sama-sama, Bu. Ini sudah menjadi kewajiban Lia sebagai anak Ibu," jawabku dengan mengeratkan pelukanku. Sejenak menikmati kehangatan pelukan ibu yang selalu kurindu di kala jauh.

"Tapi menurut ibu tidak ada salahnya kamu mencoba melamar kerja lagi, Nak. Kamu kan bisa melamar kerja di rumah sakit ini. Jadi kamu tetap bisa memantau Ibu."

Ku lepaskan pelukanku dan menatap ibu sejenak,

"Ibu yakin?"

Lalu ibu menganggukkan kepalanya cepat.

"Tapi Lia gak yakin bakal diterima, Bu. Ini kan rumah sakit elite, pasti mereka juga akan sangat selektif dalam memilih tenaga kerjanya. Sedangkan Lia masih sangat minim pengalaman," jelasku ragu.

"Kamu jangan menyerah sebelum berperang dong, nggak ada salahnya kan kalau kamu coba dulu? Ibu akan selalu mendoakan kamu, Nak," ucap ibu menyemangati.

Aku berfikir sejenak, mungkin kali ini harus aku coba saran ibu, siapa tahu keberuntungan sedang berpihak padaku. "

"Oke, Bu. Bismillah, besok Lia akan coba melamar kerja, " jawabku mantap.

"Alhamdulillah," ucap Ibu tersenyum bangga.

Kemudian kami menghabiskan sore bersama, saling bercanda dan tertawa bahagia.

****

Acara peresmian Adelio Mahendra sebagai CEO baru telah usai. dr. Mahendra berpamitan undur diri terlebih dahulu sebab ada urusan yang harus ia selesaikan. Sedang hadirin yang lain bersiap meninggalkan ruangan.

" Oiya, Pak Sigit ikut saya ke ruangan ya, saya ada perlu," ucap Lio kepada Kepala HRD.

"Baik, Pak," jawab Pak Sigit.

"Dan Anda juga pak Wiraguna. Ikut saya ke ruangan, ada hal yang ingin saya sampaikan."

"Baik, Pak," Jawab Wiraguna dengan wajahnya yang pucat pasi. Kejadian pagi tadi membuatnya menciut di hadapan sang pengganti dr. Mahendra. Ia tak eornah menyangka bahwa seseorang yang berhadapan dengannya tadi adalah atasan barunya.

Lio berdiri dan melangkahkan kaki menuju ruangannya, diikuti kepala HRD dan Direktur utama di belakangnya.

Sesampainya di ruangan, Lio mempersilahkan keduanya duduk. Kemudian ia menyerahkan berkas milik Adelia pada kepala HRD.

"Pak Sigit, ini CV salah satu pelamar kerja yang tidak sengaja bertemu dengan saya tadi pagi." Lio menjeda kalimatnya sekejap, lalu melirik ke arah Wiraguna. Tampak Wiraguna hanya menundukkan kepalanya.

"Seharusnya dia ikut interview hari ini, namun karena satu dan lain hal dia gagal hadir," lanjut Lio penuh penekanan membuat Wiraguna semakin ciut.

"Saya sudah sempat interview singkat dengan dia tadi, dan kalau melihat berkasnya sepertinya dia seorang perawat. Secara kepribadian dia sangat baik, tinggal Pak Sigit cek lagi bagaimana pengalaman kerja dia sebelumnya, ya," sambung Lio dengan menyerahkan berkasnya kepada Pak Sigit.

Kepala HRD itu lalu segera mengecek CV yang diberikan atasannya.

"Adelia Maharani, Pak?"

"Ya, betul"

"Kalau begitu saya tidak perlu mengeceknya secara mendetail, karena nama ini adalah rekomendasi Dr.Mahendra sendiri," jawab Pak Sigit mantap.

"Rekomendasi Ayah?" 

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status