Mag-log inOlivia's reputation as a star student and loyal friend is tested at Velmont Heights Academy when a new brilliant student arrives and threatens her spot. With her father's health declining, her brother's wayward life, and a mother worn out from constant hospital visits, her academic excellence is the one thing that keeps her going. Then there's Andrew, her male friend who may be more than just a friend. Lola, her girlfriend — the life of the party who hides behind her laughter. Davis, the guy who loves to tease her but maybe there's something more to it. Jack, who plays the piano and always seems to show up at the right moments. And Nora? Whose absence speaks louder than words. Her desperate attempts to hold everything together only lead to more chaos. As rivalries are triggered and alliances formed, secrets unravel and relationships break. Olivia is forced to confront the cracks in her facade and the truths she's tried so hard to hide. Will she find the strength to face her fears and be real... or will everything she's built come crashing down?
view more“Dan… Pemenang aktris terbaik tahun ini jatuh kepada…,” MC menjeda kalimatnya untuk menciptakan suasana tegang di antara semua hadirin, terutama pada empat dari lima nominator yang tampak diam, fokus menyimak apa yang akan MC ucapkan selanjutnya.
Dua dari empat nominator yang hadir di sana tampak terdiam karena tegang, berharap nama merekalah yang akan keluar sebagai pemenangnya. Sementara dua lainnya terlihat cukup tenang karena mereka —juga hampir semua hadirin— sebenarnya sudah bisa menebak aktris mana yang akan keluar sebagai pemenang penghargaan. Lalu, sesuai dengan apa yang ada dalam benak kedua aktris itu, nama yang sudah selama beberapa tahun belakangan selalu menyabet penghargaan paling prestisius itulah yang dikumandangkan dengan penuh semangat oleh sang MC.
“Jessica Wright…!” seru MC, disambut tepuk tangan meriah seluruh hadirin yang kemudian serempak berdiri, memberikan respek pada sang pemenang.
Ribuan hadirin yang terdiri dari para produser, sutradara, aktor, aktris, selebriti, dan fans dari profesi-profesi yang telah disebutkan, memang berdiri dan bertepuk tangan, namun tidak dengan ekspresi bahagia yang seharusnya tergambar di wajah mereka.
Walau ada di antara mereka yang tersenyum, tapi senyum tersebut bukanlah senyum kebahagiaan yang seharusnya diberikan pada seseorang yang telah memenangi sebuah penghargaan. Senyum mereka lebih terlihat sebagai senyum penuh rasa simpati yang tanpa sadar mereka lakukan setelah teringat akan musibah yang telah menimpa sang pemenang penghargaan.
Sebuah usaha pembunuhan yang terjadi pada Jessica Wright, sang pemenang penghargaan, telah membuat aktris cantik —yang sangat dipuja karena bakat luar biasanya dalam seni peran— itu kini telah terbaring koma setelah hampir meregang nyawa.
❀❀❀❀❀❀❀
Klik…
Remaja berparas manis yang sejak tadi menonton acara penghargaan tahunan melalui ponselnya, mematikan layar ponsel setelah merasa muak mendengar tepuk tangan disertai ekspresi sedih hampir semua orang yang ditampilkan di sana.
Andai masih hidup dalam tubuhnya sendiri, ia tentu akan pergi ke acara tersebut untuk menerima penghargaan yang didapatkannya, dan tentu akan membuat semua orang yang berada di aula itu —yang sebagian besar adalah fansnya— dapat merayakan kemenangannya dengan tawa bahagia bersamanya —tidak seperti yang dilihatnya barusan.
Gadis itu meletakkan ponselnya di meja kecil yang berada dekat ranjang tidurnya, lalu beranjak pergi ke jendela untuk menghirup udara segar setelah merasa mual dengan aroma khas rumah sakit di mana ia sedang dirawat untuk pemulihan diri setelah mengalami sebuah insiden kecelakaan kecil.
“Sudah dua hari berlalu tapi tidak ada seorangpun dari pihak agensi yang datang mengunjungiku,” desisnya, mengumpatkan rasa kesal sekaligus keprihatinannya pada sosok Anna Briel, aktris muda yang kini telah menjadi wadah dari jiwanya.
“Apa karena mereka menganggap kalau Anna cuma mengalami sebuah kecelakaan kecil?”
Mengingat kembali apa yang telah dirinya dan Anna alami, gadis itu tak habis pikir kenapa kenyataan yang sebenarnya terjadi telah berubah tanpa ia tahu apa penyebabnya.
Ia, Jessica Wright, yang jiwanya kini berada di dalam tubuh gadis remaja berusia 17 tahun, Anna Briel, seharusnya sudah mati setelah diserang tunangannya. Ia merasakan saat-saat terakhirnya sebelum kehilangan kesadaran dan yakin telah meregang nyawa.
Rasa sesak, kehilangan kesadaran setelah berliter darah mengalir dari puluhan lubang tusukan yang tunangannya berikan menggunakan pisau dapur, bagaimana mungkin ia bisa selamat dari insiden itu?
Anehnya, dari berita yang dibacanya melalui surat kabar online, dirinya diberitakan ‘hanya’ mengalami 3 luka tusuk —dari puluhan tusukan yang dirasakannya saat kejadian— di bagian perut yang mengakibatkannya mengalami koma, dan tubuhnya sekarang sedang terbaring di ruangan lain, di rumah sakit yang sama dengan tempat Anna dirawat.
Sedangkan Anna Briel, yang saat itu juga ada di tempat kejadian, malah bisa ia pastikan telah mati terlebih dahulu sebelum dirinya diserang tunangannya. Ia melihat sendiri Anna melompat dari balkon apartemennya yang berada di lantai 33 gedung apartemen.
“Andai selamat pun, tubuh ini seharusnya mengalami kerusakan yang lebih parah dari tubuhku, kan? Kenapa tubuh ini baik-baik saja?” Bertanya-tanya, Jessica memerhatikan kedua tangan Anna, juga pantulan wajah gadis itu melalui kaca jendela. “Wajahnya juga tidak memiliki satupun luka gores. Cuma luka kecil di lututnya saja akibat terjatuh setelah tertabrak pesepeda.”
Kejadian itulah yang para suster dan dokter beritahukan padanya. Anna dibawa ke rumah sakit setelah mengalami kecelakaan kecil ditabrak pesepeda yang menerobos jalur pejalan kaki.
Anna pingsan di dekat trotoar sebelum akhirnya dibawa ke rumah sakit. Pingsannya pun bukan karena kecelakaan yang gadis itu alami, melainkan karena kelelahan berlebih yang didapatnya setelah seharian bekerja di dua tempat berbeda. Hal itu juga yang membuat Anna harus dirawat lebih dari dua hari —akibat kelelahan.
Jessica yang kini berada di dalam tubuh Anna tentu saja tidak bisa membantah apa yang suster dan dokter katakan karena ia sendiri sebenarnya mengingat kejadian itu dengan sangat jelas. Entah bagaimana, ia telah mendapatkan seluruh ingatan Anna sejak gadis itu kecil sampai yang terakhir kali, saat melihat sepeda melaju ke arahnya sebelum akhirnya tertabrak dan jatuh pingsan. Jessica hanya bertanya pada para suster dan dokter untuk memastikan ingatan itu saja.
Anehnya lagi, justru ingatan Anna setelah melompat dari balkon lah yang menghilang.
Mengurutkan dan menggabungkan ingatan Anna, yang didapatkannya, dengan ingatannya sendiri, kejadiannya seperti berikut;
Malam itu Anna pergi ke apartemen Jessica sepulang dari pekerjaan sambilannya di gudang persinggahan. Secara kebetulan Anna bertemu dengan tunangan Jessica yang juga sedang menunggu kepulangan Jessica di apartemen wanita itu.
Menolak ajakan tunangan Jessica masuk ke dalam apartemen untuk menunggu Jessica bersama, Anna malah disergap dan dipaksa masuk hingga hampir diperkosa sebelum rencana itu digagalkan oleh kepulangan Jessica yang memergoki mereka.
Mengira Anna sengaja menggoda tunangannya, tentu saja Jessica marah dan memakinya sedemikian parah sampai Anna hanya bisa menangis saking takutnya dengan kemarahan Jessica yang statusnya adalah bos Anna di agensi keartisan.
Tunangannya sendiri tentu tak lolos dari kemarahannya. Selain memberikan banyak kata-kata hinaan, Jessica yang memiliki keahlian bela diri juga menyerang pria itu secara fisik, menghajarnya sampai akhirnya terkapar di dekat dapur.
Saat itulah Jessica menyadari Anna menghilang dari sudut ruangan di mana gadis itu sebelumnya meringkuk, menangis setelah mendapatkan murka darinya. Saat berkeliling apartemen untuk mencarinya, ketika itulah ia menemukan Anna sudah memanjat pagar balkon bersiap melompat ke luar gedung.
Terlambat mengingatkan Anna untuk tidak melakukan tindakan bodoh hanya karena kemarahannya, Anna sudah terlanjur melompat ke sisi lain pagar —ke luar gedung.
Ingatan ketika Anna melayang-layang di udara setelah melompat itulah yang telah menghilang, menyimpang ke sebuah ingatan saat Anna tiba-tiba saja muncul di sebuah area pejalan kaki sebelum tertabrak pesepeda yang mengira jalanan itu kosong.
I sat down on the seat I usually used for my study sessions. Looking at Lola’s funny smirk and Andrew’s innocent face, I realized my anger had been momentary. I just had to let it go.There were more important things to tackle anyway. Honestly, I was tired of the drama.“It’s alright, guys. No need for a formal apology. I’m fine. Just give me a few minutes to shower, then I’ll join you.” I hopped off the bed and hurried into the bathroom.A few minutes later, I joined Lola on top of my big bed. Andrew had claimed the bunk bed across the room—his favorite spot whenever he visited.It wasn’t like I had everything in the world, but my room was spacious enough for the three of us to be comfortable. That’s one thing I owed my parents: they always made sure I lacked nothing.“Hey guys,” Lola started, “I have something to say about Sara. She’s only… wait! Andrew, have you seen her in school recently?” She tossed the question at Andrew like she suspected something.He just hummed, shooting h
The path Nora was taking wasn’t quite what I had expected.I had heard from one of our classmates that there were houses along this path, but you’d need a strong mind to follow it. Now that I had entered the bush, I understood exactly what he meant.The howling of owls, the chattering of birds, and even the squeaking of squirrels filled the bush. It felt like I was walking straight into a wild forest of animals. I even thought I heard the barking of wild dogs. My heart beat so fast that I almost turned back. What if something happened to me? How would I explain to Mum that I was secretly trailing someone on her own business?Still, I kept following her. At one point, she stopped to look around. I thought she had noticed someone was following her. She stood still for a few minutes. I think she was looking in my direction.The way I dived into a nearby bush, you’d think I had just caught a big squirrel. I landed right inside a pothole, and my face went from fine to… well, not so fine.
The walk back home felt like it would never end. Maybe because my head was crammed with everything that had been happening lately. Truly, there are some troubles that even “sorry” can’t fix overnight. You just have to live through them.My legs were shaky, the heaviness and hotness of my head was trying to weigh me down. All I could think about was finding the nearest grocery shop to grab a chilled bottle of water or a soft drink to cool my head. Sadly, there wasn’t one anywhere near the school, except the canteen — which, as usual, was closed after lunchtime.As soon as I reached home, I dived straight into my neatly arranged room. I hadn’t even taken off my uniform. My room gave me that reassuring feeling like it understood my tiredness. The silence and stillness were exactly what I needed.When I checked Mum’s room, she was gone off to the hospital to stay with Dad. She usually came home at three, sometimes even before I got back from school. Then, after making sure the house was i
The walk to Mr. Smith’s office felt longer than the school’s football field. My mind wouldn’t shut up — what had gone wrong this time?Usually, being summoned here meant you’d done something worth writing your name in the school’s Hall of Shame or fame.When Andrew and I stepped inside, the room was already staged like a courtroom. Three staff members sat in a neat row beside Mr. Smith, pens poised over open notebooks. He sat in the middle, silent, watching us the way a hawk watches a field mouse. If this were a trial, he was the judge.And in the far corner, there was Nora.My stomach flipped. That girl was a walking, talking pot of trouble.“Nora, step outside. You’ll be called in shortly,” Miss Jane, our English teacher, told her. She gave Nora a look I couldn’t quite read — part pity, part warning.The door clicked shut behind her.“Alright,” Miss Jane said, her eyes moving between Andrew and me, “you’re going to be asked some simple questions.”I muttered in my head, Let those qu
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.