LOGINThis is a SEQUEL TO TOGETHER WITH LOVE story. Mireya Waters was such a charming girl, who would light up the whole place with her smile. She is beautiful. She loves Alexander since middle school and admires him knowing that he is would never notice her, not to mention he is a player. She is an outcast, Alexander never notices her until she saves his sister Isabella from getting bullied. Alexander Knight is a cocky, arrogant, rich bastard who plays around girls. He slept with most of the girls in his college. All he does is use girls for sex and dump them after it. What happens when a particular amethyst eye colored girl Mireya Waters grabs his attention? Little did she know he is falling for her. Little did she know he is going to claim her as his. Little did he know that she likes him for years. Little did he know he started falling for her deep down in his heart. The past from both of their lives resurfaces. Their relationship is tested at all costs. A lot of love, betrayal, hardships, and kisses...
View More"Mas Bram, Liyah kangen banget sama Mas. Malam ini Mas Bram manjain Liyah lagi dengan brutal. Mas pasti rinduin Liyah kan? Kok ganggu Liyah terus sih dalam mimpi?" Ucap seorang wanita pada ponsel ditangannya.
Wanita itu terkikik geli, ia memutar ulang pesan suara yang telah dikirimkan pada suaminya itu. Lalu bergidik ngeri dan jijik mendengar suara manjanya sendiri. Akan tetapi, wajahnya tersenyum dengan puas. Setiap hari, pagi, siang, dan malam ia tak pernah absen menyapa suaminya itu. Jika seseorang pernah melihat room chatnya dengan orang yang berlabelkan 'Om-om Tua Penculik Akoh', mereka akan dibuat kagum dengan kegigihannya dalam menggapai suami yang setinggi dan sedingin gunung everest itu. Pasalnya dari oktober 2021 hingga Januari 2024, sejak kontak saling tersambung, tak ada satu pun pesan yang mendapatkan balasan kembali! "Mbak Liyah cepat! Sutradara udah manggil dari tadi!" panggil seorang perempuan dengan panik. "Ah, tunggu-tunggu." Dengan cepat Aliyah menyimpan ponselnya, menambahkan sedikit lipstik merah pada bibirnya. Lalu berlari kecil menuju ruang studio. Romi Rahadi, sutradara ternama industri perfilman saat ini, menggelengkan kepala dengan lesu. "Hais ..." ringisnya saat melihat sang model cantik itu. Bukan karena kagum! Tapi karena merasa sedih, ia dapat membayangkan bagaimana hancurnya film layar lebarnya kali ini. Ia akui dengan sangat bersungguh-sungguh, bahwa Aliyah sangat berbakat sebagai seorang model. Pamornya sebagai model pakaian sangat terkenal, banyak sekali merek-merek besar yang memburunya. Tapi wanita centil itu suka sekali menerima merek pakaian seksi. Didukung dengan kurva tubuh yang seperti gitar spanyol itu, tak heran jikalau kariernya sebagai model pakaian melejit tinggi. Tapi itukan model, bukan sebagai aktris! Kenapa harus dirinya yang menjadi korban pertama, menerima seorang gadis yang ingin bermain-main menjadi seorang aktris. Dari mana datangnya keterampilan akting? "Oke, kita mulai scene 31," ucapnya dengan lesu. Ia terlalu malas untuk memberi saran adegan kepada wanita itu. Sama saja dengan memainkan biola dihadapan sapi! Mengkode kameramen untuk segera bersiap-siap. "Camera roll action!" ucap Romi. Aliyah segera menyesuaikan dirinya. Peran yang didapatkannya pada film itu adalah sebagai seorang penderita leukemia yang menyedihkan, pemeran kedua ini akan mati tepat pada saat sang suami menikah dengan pemeran utama wanita. Kali ini pada scene ke-31, memerankan akting sebagai Ayumi, ia yang telah lama sakit dan dalam keadaan lemah, dengan sengaja berdandan untuk menyambut sang suami pulang, dan menyiapkan malam musim semi yang indah. Pintu villa terbuka, seorang pria berjas hitam masuk dengan langkah besar. Raut bahagia segera terpasang di wajah Aliyah, berlari kecil mendekat kepada pria itu, dan segera memeluk pinggangnya. "Mas Bray, selamat datang ... Yumi punya kejutan malam ini," bisik Aliyah tersenyum dengan lembut pada Jery, sang aktor yang berperan sebagai suaminya itu. Dari awal Aliyah memulai hingga sampai sekarang ini, Romi dibuat ternganga takjub. Apakah ini masih seorang pemula yang ia katakan tadi? "Oke ... Bagus ..." ucapnya bersemangat. Aliyah tetap fokus pada perannya, "Mas Bray pasti suka," ucapnya lalu tersenyum dengan wajah tersipu malu, bersandar dengan manja pada aktor itu. Sutradara mengerutkan keningnya saat melihat sang aktor yang terpaku dan tidak memerankan skrip miliknya. "Cut!" Teriakan Romi menggelagar seisi studio. "Jery! Bray harus berwajah dingin, melepaskan tangan Yumi, lalu mengatakan penolakan yang kejam seperti yang ada di skrip! Lalu ada apa wajah konyol kamu itu?" Sang sutradara itu tak segan mengkritik aktornya. Jery tersadar kembali setelah mendapatkan bentakan itu. Ia menggelengkan kepala dan memijit pelipisnya. Bagaimana bisa ia mengalami hal yang seperti tadi? Tak biasanya ia tak fokus. Tapi tadi ia sedikit salah fokus dengan kecantikan aktris lawan mainnya itu. Padahal ia sudah bersiap diri sebelumnya. Kecantikan Aliyah yang memiliki bibir merah, dan bergaun tidur merah merekah yang senada membuatnya hilang kendali. Apalagi saat wanita itu berlari kepadanya dan menatapnya dengan lembut. "Maaf, Bang Rom. Gue tadi masih belum siap," ucap Jery menyesal pada Romi. Romi kembali menduduki bangkunya, "Oke, sekali lagi. Camera action!" Kali ini scene itu sukses diambil. Romi berdiri dengan tepuk tangan yang keras. "Bagus! Pertahankan kerja kalian. Aliyah saya gak menyangka kalau kamu sangat berbakat di dunia akting." Dewi, asisten pribadi Aliyah segera membawakan mantel tertutup untuk artisnya itu. "Kalau gitu kapan-kapan bisa dong Aliyah jadi pemeran utama wanita?" canda wanita itu mengangkat sebelah alisnya. Candaan itu mendapatkan balasan tawa senang dari Romi. "Oke ... kita lihat gimana kerjaan kamu kedepannya, dan tunggu kabar baik dari saya." Scene Aliyah hanya satu itu hari ini, dibantu oleh Dewi dengan cepat ia membersihkan riasan dan mengganti bajunya dengan gaun kuning pucat yang ia pakai sebelumnya. "Mbak Aliyah hebat banget! Dewi gak nyangka kalau Mbak bisa akting sebagus itu," puji Dewi sambil membantu melepaskan anting berlian dari telinga Aliyah. Aliyah mengoleskan bedak tipis, dengan berbangga berkata pada Dewi melalui cermin rias. "Aku udah bilang kan, gak yang gak bisa dilakukan oleh seorang Aliyah." Dewi menganggukkan kepalanya cepat, memang benar apa yang dikatakan artisnya itu. Tiba-tiba teringat sesuatu olehnya dan menghentikan anggukannya. "Gak. Masih ada satu yang gak bisa Mbak Aliyah lakuin!" ucap Dewi dengan menggebu-gebu. Aliyah mengerutkan keningnya, berpikir keras akan apa hal itu. Berbalik melihat kepada Dewi, ia bertanya "Apa?" Dewi menggigit bibir bawahnya, "Mbak Aliyah masih belum bisa nakhlukin Pak Bram." cicit Dewi kecil. Melihat pada sekitarnya Dewi menghela napas lega, saat tak melihat seorang pun disana. Ini adalah rahasia besar model kecantikan yang sedang naik daun itu, Aliyah sudah memiliki seorang suami! Aliyah tertawa ringan mendengarnya, ia merasa lucu dihatinya, asistennya itu tak tau saja dengan keadaan yang sesungguhnya. Senyum miring terbit di wajah wanita itu. "Kamu gak tau aja, aku udah sukses menjalankan misi sejati." Mempercepat waktu Dewi membantu menyisir rambut sang majikan. "Misi sejati?" tanyanya dengan bingung. "Hn ... misi menjauhi om-om tua itu." Dewi menggelengkan kepalanya, raut khawatir terpampang segera. Melihat dengan khawatir pada artisnya itu. "Mbak Aliyah gak sakit kan?" tanyanya sambil meletakkan punggung tangannya ke dahi Aliyah. Jangan sampai majikannya itu putus asa dan menjadi gila karena telah ditinggalkan tanpa kabar selama 3 tahun oleh suaminya. Aliyah memutar matanya, menghembuskan napas lelah. "Gak mungkinkan Mbak menjauhi Pak Bram dengan cara nunjukin perhatian dan cinta yang membara itu." Aliyah tersenyum miring, "Itu sengaja, biar dia ilfeel, and you see .... dia gak pernah pulang sekalipun." Rahang Dewi jatuh, matanya membola besar, dan menghirup napas tertahan. Apalagi saat mendengar kata-kata selanjutnya dari Aliyah, ia dibuat hampir pingsan olehnya. "Dan aku harus berhasil buat dia ceraikan aku secepatnya!" ucap Aliyah terkekeh dengan puas.ALEX'S POV:After five years,Verse 1 (Alex): I see your face in every dream, A love so pure, it makes me scream, The echoes of your laughter fade, In memories, your light will never shade.Pre-Chorus (Adam): You were my hope, my guiding star, Now I'm left with these scars, In every shadow, I see your grace, But I can't hold you, can't erase.Chorus (Both): Forever in our hearts, you stay, A love that time can't take away, You're the song we sing, In every tear, in everything.Verse 2 (Alex): Your touch, your smile, your gentle ways, They haunt my nights, they fill my days, In every breath, I feel your loss, A life without you is such a heavy cost.Pre-Chorus (Adam): You gave us strength, you gave us love, An angel sent from up above, Now the skies have called you home, But in our hearts, you're not alone.Chorus (Both): Forever in our hearts, you stay, A love that time can't take away, You're the song we sing, In every tear, in everything.Bridge (Alex): I clos
ALEX'S POV:"Alex," Adrian's voice cut through the fog of my grief, gentle but insistent. "You need to eat something. You need to take care of yourself."I shook my head, not looking up. "I can't," I whispered. "I can't do anything without her."He sat beside me, his hand on my shoulder, his own grief evident in his eyes. "I know," he said softly. "But Mireya wouldn't want you to waste away. She would want you to live, to find a way to go on."I knew he was right, but the thought of living without her was unbearable. How could I go on when the love of my life was gone? How could I face each day knowing she wouldn't be there to share it with me? It's been a week, but I can't still move on or do anything without her beside me. "Just try," Adrian urged, his voice breaking. "For her. For all the love you shared."I nodded, though I didn't know if I could. But I owed it to Mireya to try, to find a way to honor her memory, even if it felt impossible."You know, the human brain relives for s
ALEXANDER'S POV:I wiped the blackish blood from my hands as I stared at the emergency room in the hospital. She has been in there for almost three hours and I refuse to do anything. My mind was in a whirlwind, filled with images of her in pain, her beautiful white wedding gown stained with black colored blood. I refused to leave, refused to do anything but wait for some news, any news. The thought of losing her was unbearable. Every minute stretched into an eternity, and I could feel my heart breaking with each passing second.I had never felt so helpless in my life. The pain in her eyes, her anguished screams—those images haunted me as I waited for any news from the doctors.Family and friends were gathered around, their faces etched with worry and sorrow. My parents were trying to console Mireya's mother, who looked like she had aged a decade in just a few hours. Adrian was sitting with his head in his hands, tears streaming down his face. Finally, after what felt like an eternity,
MIREYA'S POV:Finally, it's my wedding day...I stood in front of the mirror, hardly believing that the reflection staring back at me was really me. My wedding gown was everything I had ever dreamed of – a delicate blend of elegance and simplicity, with intricate lace details that cascaded down to the floor. The dress hugged my figure perfectly, accentuating my curves... well, not curves, just bones, and still, it made me feel like a princess. The dress was everything I had ever dreamed of and more.Everything was ready and prepared because of all of them. They have been surprisingly planning a Wedding for Alex and me. They hid the fact that they had been preparing for this a couple of months ago. I was so dumb to realize it. I was so immersed in taking videos for each family member. I want to leave them only the happiest memories even if I'm gone someday. I want them to remember me only in their best and happiest memories. I don't want them to remember the sadness or the moment they
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews