MasukKaida thought forever was the deal with her boyfriend, Liam, the captain of the Runners Hockey Team, until he broke up with her and reunited with his childhood lover, who had returned after several years of being away. Heartbroken and angry, Kaida decided to make her ex-boyfriend jealous by kissing her best friend's older brother, Maverick. Unfortunately, she reignited the flame he'd been trying to quench for years. Now, there was no turning back and no quenching the obsessive flame burning inside Maverick for her. After some time, Liam realized he truly loved Kaida and wanted her back, but Maverick wasn't letting her go. Kaida was his now, and he would go to the end of the earth for her sake. What began as revenge against her ex turned into something twisted and dark: something beyond words and certainly beyond obsession.
Lihat lebih banyak“Ayah, Ayah!”
Di tengah jalan raya, di samping mobil yang sudah hancur remuk, seorang laki-laki berteriak sambil menekan luka pada bagian perut seorang laki-laki paruh baya di depannya dengan kedua tangannya.
Pria tua yang terbaring di jalanan itu meringis kesakitan. Dengan tangan bersimbah darah, dia memegang tangan laki-laki tersebut dan mulai berbicara dengan suara yang serak.
“Cukup Di!. Simpan tenagamu, tidak ada gunanya!”
“Maafkan Ardi, Yah. Seharusnya Ardi mendengarkan kata-kata Ayah sejak awal!”
Ardi yang merasa tidak rela harus kehilangan Ayahnya seperti ini, hanya bisa meminta maaf terus menerus. Air matanya mengucur deras. Yang bisa dilakukannya hanyalah menekan perut ayahnya yang terluka parah sekuat tenaga.
“Ingat Di!. Jangan pernah menaruh kepercayaanmu kepada orang lain sepenuhnya,” Angin malam yang dingin tampak membuat pria tua itu mengigil dan tidak bisa melanjutkan perkataannya.
Tidak berselang lama, sebuah mobil SUV hitam datang. Beberapa pria bersetelan hitam turun dari mobil tersebut dan berlari menghampiri Ardi dan ayahnya.
“Tuan,” ujar salah satu pria tersebut yang langsung berlutut di samping Ardi. Orang itu tampak kebingungan harus melakukan apa.
“Hold this!”
Ardi memerintahkan pria yang berlutut tersebut untuk menggantikannya menahan luka Sang Ayah sekuat mungkin. “Ambulans akan segera datang, jaga Ayah terus dan laporkan keadaannya, apapun yang terjadi!”
Dia lalu bangkit berdiri, “Tenang saja Dad. Aku tidak akan melepaskan orang yang sudah merencanakan ini semua,” ucapnya sebelum berjalan pergi dari tempat dia berdiri sekarang ini.
Dia juga sempat menyeka air matanya sebelum masuk ke dalam mobilnya. Dia juga sempat melirik ke belakang, sebelum menutup pintu dan pergi meninggalkan Ayahnya bersama para bodyguardnya.
Tanpa berpikir panjang, karena emosi yang menguasai dirinya. Dia memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi sambil berusaha menelepon seseorang. Dalam pikirannya sekarang hanyalah satu, menghabisi orang yang sudah menyebabkan Ayahnya kecelakaan. Dan dia sudah tahu siapa orang tersebut.
“Di mana kalian?!” karena emosi, nada suaranya terdengar seperti sedang membentak lawan bicaranya.
“...”
Setelah mendapatkan sebuah alamat, dia langsung menutup telepon; menginjak gas sedalam mungkin dan bermanuver dengan cukup berbahaya di tengah jalanan yang agak ramai.
Setibanya di basemen apartemen yang dia tuju, kedua orang teman Ardi, Jeremy dan Devan sudah menunggunya di depan pintu masuk menuju area lift.
Keluar dari dalam mobil. Dia berjalan ke bagian belakang mobilnya untuk mengambil tongkat golf yang selalu ada dalam bagasi mobilnya.
Pikirannya sekarang sudah tidak karuan. Dia sudah tidak peduli lagi jika hari ini akan masuk kantor polisi atau ada media akan meliput dirinya, dan memasang wajahnya di halaman paling depan esoknya.
“Orang itu tidak lari kemana-mana kan?” Dia bertanya kepada Devan dan juga Jeremy.
Sebab semenjak sehari yang lalu, dia menugaskan keduanya untuk mengawasi Mr. Salim; orang yang sudah dia curigai mempunyai rencana busuk terhadap keluarganya dan juga perusahaan ayahnya.
“Tidak sih, tapi lu yakin mau melakukan ini? Ini ilegal loh.” Jeremy sempat memperingatkannya, namun dia tersenyum sinis.
Sedari awal dia memang sudah merencanakan semuanya dengan sempurna, termasuk memasang bypass di server bagian keamanan apartemen tempat dia berada sekarang.
Sehingga kapan pun dia harus keluar masuk tanpa ketahuan, dia bisa melakukannya tanpa terlalu banyak berpikir. Hanya dengan menekan satu tombol kecil, maka CCTV yang ada akan menampilkan playback kejadian sejam yang lalu.
Ding Dong....
Ardi menekan tombol bel unit 3006. Dia mengulangnya hingga beberapa kali karena begitu emosi. Dirinya sudah tidak sabar menghajar orang yang sudah mengkhianati dan mencelakai ayahnya.
Begitu pintu baru terbuka sedikit saja, dia memanfaatkan celah itu dengan menendang pintu tersebut hingga membuat hidung Mr. Salim mengeluarkan darah layaknya orang mimisan.
“Wowowo, tahan sebentar.” Devan berdiri di antara Ardi dan Mr. Salim. “Lu ngak bilang kalau kita akan menyiksa dia,”
“Si brengsek ini sudah mencelakai ayah gue, dan lu masih berharap gue kasih dia keringanan? Minggir!” Ardi mendorong Devan ke arah samping.
Tanpa memedulikan apa yang akan terjadi atau jebakan yang mungkin di siapkan oleh Mr. Salim. Dia meraih kerah baju Mr. Salim, memaksanya berdiri, lalu menyikut lehernya sambil mendorongnya hingga membanting orang ini ke tembok di belakangnya.
Tatapannya begitu beringas. Sambil mencekik, dia membayangkan menghajar Mr. Salim dalam kepalanya saat ini.
“Pl ... Please,” Mr. Salim yang tampak sudah mulai kehabisan nafas. Memohon sambil menepuk-nepuk lengan Ardi.
Walau sebenarnya ingin sekali membunuh Mr. Salim, Ardi tetap berusaha mengendalikan dirinya. Dia melepas tangannya dari leher Mr. Salim, membuat orang ini terjatuh berlutut di depannya.
“Sungguh menakjubkan,” kata Ardi. “Sekarang kau bisa minta tolong ya di momen seperti ini? Kemana orang yang berani mengancam akan membunuhku 2 hari yang lalu?” Ardi tertawa sinis sambil berjalan menuju sofa terdekat yang ada di ruang tengah.
“I— Itu semua cuma perintah. K— Kau tahu sendiri kan bagaimana para tetua sangat menginginkan perusahaan ayahmu.” Mr. Salim tampak ketakutan. Dia bahkan sampai berbicara dengan gelagapan.
Maklum saja. Sebab sangat jarang Ardi menunjukkan sisi monsternya seperti sekarang ini di depan orang lain.
“Ah, begitu? Rupanya kalian tidak ada takut-takutnya setelah di ancam dengan baik-baik waktu itu?” Ardi menghela nafas sambil mengelus keningnya dengan tangan kirinya. “Begini saja, bagaimana kalau kau kasih saya nama bosmu,”
Mimik wajah Mr. Salim yang awalnya terlihat takut tiba-tiba berubah menjadi lebih santai. Bahkan sampai berani tersenyum sinis, seolah sedang meremehkan Ardi.
“Nama?” Mr. Salim sempat meludah ke lantai. “Tidak akan pernah! Lebih baik mati di tangan mereka dari pada harus berkhianat!”
“Begitu? Baiklah.” Ardi mengeluarkan handphone-nya dan berlagak seperti akan menelepon seseorang. “Mari kita lihat apa yang terjadi ke keluarga yang sangat kau cintai itu. Darah di balas dengan darah, sudah tidak asing lagi kan dengan ungkapan itu?” Dia melanjutkan sambil tersenyum jahat kepada Mr. Salim.
“WAIT!” Mr. Salim berseru dengan nyaring. “O— Oke, tapi tolong lepaskan keluargaku dari ini semua.”
“Well. Tergantung dari seberapa berharganya informasi yang kau berikan.” Ardi mengangkat kedua bahunya.
Mengancam menggunakan keluarga—walau dia tidak benar-benar berniat menggunakan cara itu—tidak disangkanya akan betul-betul berhasil. Padahal, tadi itu merupakan tindakan putus asanya karena tidak mendapatkan informasi apapun.
“Hanya ini yang saya tahu,” ucap Mr. Salim. Dia memberikan secarik kertas bertuliskan sebuah nama dan nomor telepon asing kepada Ardi; karena awalan depannya bukan +62.
“Kalau ini bohong, awas saja. Kau akan menyesal karena berani macam-macam dengan orang yang salah,” ancam Ardi kembali. Dia sudah tidak memedulikan lagi kalau Mr. Salim lebih tua darinya. Baginya, orang itu tidak lebih dari seonggok sampah.
Setelah mendapatkan informasi tersebut. Dia berjalan pergi, keluar dari unit apartemen yang dihuni Mr. Salim. Akan tetapi, saat sedang menunggu lift, teleponnya bergetar. Melihat yang meneleponnya adalah pengawal yang dia suruh untuk menemani Ayahnya tadi, dia langsung menjawab panggilan tersebut.
“Bagaimana den ...”
“...”
Bersambung...NOTES: This book two is about the story of Maverick’s and Kaida’s son, Raison. RAISON’S POV Standing on the ice rink made adrenaline coursed through my spine. The coldness from the rink, the sweat from skating around it until my opponents lost to me and my team, made it all the more exciting. “Another goal won by the captain of the Evergreen team!” The announcer’s voice rang through the arena, followed by the loud roars from the fans. I skated to a stop to catch my breath when my eyes landed on her. Angel Reed. She looked so beautiful in our team’s hockey shirt, and for a second, I couldn’t stop staring. Ever since I became a captain of the Evergreen hockey team, I’ve had access to all puck bunnies, in as much as they were willing to open their legs for me, but I wasn’t a fuckboy, I only fuck when I’m stressed and needed relieve. But no one has captivated me the way Angel did. The girl had a way of making me want her even when all she ever did were mundane. I was stil
KAIDA’S POVCold from the tiled hospital floor sipped into my skin, enough to make me shiver and cower but I felt nothing other than numbness.Even if a dagger was sent stabbing into my flesh, I highly doubted I would be able to feel even a single prick or pain from it. Yes. That was how numb I felt at that moment.I wasn’t myself and neither could I tell if my soul was in my body or out of it.Everything around me stilled and my world tilted on its axis.There was no more Maverick.The man that made my heart fluttered.The hockey player with a filthy mouth that made me annoyed, happy and wet.Those oceanic blue eyes of his that always took my breath away and had me on chokehold a number of times.I wouldn’t be seeing them any more. Not for a short while, for freaking eternity.Maverick fucking Jensen, the strong mafia lord was lying dead in the operation room, with no sign of life or whatsoever in him.“Kaida…” Doctor Tems reached forward and knelt in front of me, engulfing my fragi
KAIDA’S POVWhy did it have to be him?Why did it have to be Maverick who pushed me into the lake six years ago?It should have been someone else and not him. But it seems the universe doesn’t want us to be together. It is against our relationship, hence, the constant hardship we faced.I had almost given in when he was in New York to protect me. I almost fell for those sharp jaws covered in bear that made him more handsome, those ocean blue eyes that made me feel at peace each time my heart and mind was in chaos. Sigh! I was a step away from giving in, but flying to Alaska had opened my eyes to reality.I initially flew over there for a visit to my Aunt, but when we strolled to the lake behind her building, somehow, my memories, the one containing the person who pushed me into the lake from behind six years ago, came rushing into my head like a flood.I had a nose bleed because of those memories and when the person’s face came to view, I almost collapsed.I almost doubted my memory,
MAVERICK’S POVI was in a daze all through the night and how I returned to my office the previous night, I had no idea.I had already prepared myself for what might happen when Kaida finds out the truth, but now that she did, her words sliced through me like a sharp edge of a sword.I had pictured her reaction over and over again for the past one year, but seeing it happen right in front of me, hurt like a bitch.She said it right to my face that she never wants to see me again, and truth be told, I wasn’t ready for that.I can’t fucking bear to stay away from her after one year of separation, due to some bastards called the Irish mafia.They were the reason why we had drifted apart.They were the fucking reason why I had hurt her so badly that she might not forgive me…..fuck.I have to end them for all these to come to an end. I would fucking kill and burn down their clan myself.“Have they made a move lately?” I asked the head of my security, my hands in my pocket as I stared at th
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Ulasan-ulasan