LOGIN"You like this, don't you?" His voice was dark velvet, wrapping around me, sinking under my skin. I swallowed hard, refusing to answer, but my body betrayed me-the sharp inhale, the way my lips parted, the way my thighs pressed together. He noticed. Of course, he did. He stepped closer, eliminating the space between us, his heat overwhelming. "Say it." I shook my head, a weak attempt at resistance. His fingers traced up my arm, slow, teasing, until they reached my throat. He didn't squeeze, didn't apply pressure-just let his touch linger there, making me hyperaware of my own racing pulse. "Liar," he murmured. I exhaled sharply. "You're too close." His lips brushed my ear, not quite a kiss, just a whisper of warmth. "And you're not stopping me."
View More“AYU! AYU!”
Suara itu mengema di rumahku. Aku yang meringkuk di atas tempat tidur dengan seprai usang yang pada tepinya sedikit robek sejak tadi langsung meloncat sambil berdiri. Di wajahku segera muncul senyuman paling lebar. Aku bisa merasakan kalau pipiku sakit saat ini.
“Ayah!” seruku sambil turun dari tempat tidur.
Aku tersungkur karena kakiku tersangkut seprai yang sobek. Tapi secepat kilat pula aku bangun. Ayahku yang tampan berada di depan pintu masuk, sedikit kotor, dan tampak agak oleng.
“Ada apa, Yah?” tanyaku ingin tahu.
Salah satu tangan pria itu disembunyikan di belakang tubuhnya. Ia tersenyum-senyum dan kemudian menjatuhkan diri di kursi rotan reyot di ruang tamu.
“Kemarilah! Lihat apa yang aku bawa untukmu!” katanya menyeringai.
Ayah berbau asam. Matanya selalu merah kapan pun aku bertemu dengannya. Sesekali kalau ia sedikit saja tampak lebih baik, ia akan bersikap buruk pada ibuku.
Setiap kali itu terjadi, aku akan bertanya kenapa. Dan Ayah akan menjawab sambil menaikan dagunya. “Itu memang pantas didapatkan ibumu!”
Aku hanya mengangguk untuk menanggapi. Umurku baru 11 tahun dan sama sekali tidak mengerti apa dengan pantas atau tidaknya. Yang jelas Ayah menyayangiku dan aku cukup dengan itu.
“Apa itu, Yah!” desakku.
Kuguncang lengannya yang kini kendor. Aku ingat saat kecil, ayahku begitu kekar. Mungkin karena harus bekerja setiap malam dan pulang pagi dalam keadaan sempoyongan makanya hal baik bernama kekaran itu menghilang darinya. Tak masalah. Aku menyayanginya apapun yang terjadi.
Dari belakang tubuhnya ia mengeluarkan bungkusan berwarna biru dan kuning dengan gambar berwarna coklat dan taburan kacang. “ESKRIM?” seruku tak percaya.
Sudah lama aku tidak mendapatkan eskrim karena ayah sangat sibuk. Aku hampir-hampir tak bertemu dengannya karena saat pulang sekolah ia sudah tidur di kamar. Aku hanya menemukan ibuku di dapur, mengerjakan sesuatu sambil terisak. Saat itu aku memilih menghindar. Ibu sangat menyeramkan saat marah.
“Kamu suka?” tanya Ayah padaku.
Aku mengangguk dengan sangat antusias. “Ya, suka sekali! Makasih Ayah!” Lalu aku berlari ke dalam kembali, mencari Ibu.
Ibu memang menyeramkan saat marah, tetapi jika tidak beliau sangat menyayangiku. Ibu akan datang ke kamar dan memelukku sepanjang malam. Kadang-kadang bahkan memandikanku dengan sangat bersih dan memujiku cantik.
“Bu!” panggilku.
Ia sedang memotong kayu di belakang dapur. Rumah kami memang belum memiliki kompor. Jadi untuk memasak Ibu masih menggunakan kayu bakar. Kayunya diperoleh dari kebun-kebun di sekitar rumah. Tidak perlu menebang, cukup menggumpulkan dahan-dahan yang jatuh ke tanah saja.
“Apa?” Ibu bahkan tidak menoleh padaku.
“Lihat! Aku mendorong bungkus eskrim yang diberikan Ayah tadi ke depan, memamerkannya. “Ayah pulang dan memberiku ini!”
Tiba-tiba saja Ibu berbalik ke belakang. Tanpa melihat apa yang kutunjukkan beliau masuk ke dalam rumah. Aku tak menyusulnya, karena pasti akan ada pertengkaran lagi. Aku pergi ke ayunan yang dibuat Ayah dari ban bekas tak jauh dari tempat Ibu memotong kayu tadi. Aku membuka bungkus eskrim yang aku terima.
Benar seperti dugaanku. Aku yakin kalau yang barusan peah adalah vas bunga yang kubuat dengan tanah liat sebagai tugas sekolah. Untung saja tidak kubuat bagus-bagus karena menduga hal seperti ini akan terjadi.
Lolongan Ibu begitu memilukan. Hanya saja aku tidak sedih mendengarnya. Soalnya Ayah bilang kalau Ibu hanya ingin cari perhatian saja. Setelah itu kudengar raungan kemarahan Ayah.
“SUDAH KUBILANG TIDAK ADA UANG KALAU SEBANYAK ITU!” teriak Ayah.
Uang? Selalu saja itu yang dimasalahkan Ibu. Padahal aku yakin Ayah memberinya cukup banyak untuk kebutuhan rumah juga untukku. Tetapi kenapa bisa selalu saja kurang ya?
“KAMU DIKIRIMI TERUS KAN? KENAPA TIDAK BERIKAN JUGA PADAKU!”
Lalu beberapa barang lagi terdengar pecah entah membentur dinding atau lantai. Eskrim yang kubuka sudah habis. Seharusnya pertengkaran kedua orang tuaku sudah hampir selesai. Aku memutuskan untuk meloncat turun dari ayunan kini. Tepat saat kakiku menjejak lantai, Ibu muncul dengan wajah merah. Ia menyambul parang yang diambilnya untuk memotong kayu. Lalu berbalik ke dalam dengan cepat.
Saat melihat itu, perasaanku mendadak tidak enak. Bergegas aku menyusul Ibu ke dalam. Begitu menjejakkan kaki di lantai ruang tamu, kulihat darah mengenang di lantai bawah sofa. Ayahku sedang kejang merengang nyawa.
“I-bu?” Aku mundur karena takut.
Di tangan Ibu parang yang diambilnya tadi berlumuran darah. Mendengar suaraku wanita yang melahirkanku itu menoleh, ia tersenyum. “Kamu mau ikut ayahmu?” tanyanya dingin.
Sontak aku terpekik dan melarikan diri kembali ke dapur. Aku tahu kalau Ibu pasti mengejarku di belakang. Dengan panik kuterjang kebun yang tak biasanya aku masuki. Yang ada di dalam pikiranku hanya melarikan diri.
Aku bisa mendengar suara Ibu memanggil namaku sangat sering. Samar-samar suara panggilan itu semakin terdengar jauh dan kemudian hilang sama sekali.
Betis dan lututku perih, aku tidak peduli dengan tanaman rambat putri malu yang tumbuh subur di dalam kebun. Bahkan rasa sakit di telapak kaki. Lari. Lari. Itu saja yang ada di dalam kepalaku. Aku hampir tersungkur saat melompati undakan pematang kebun. Sadar-sadar aku sudah ada di halaman depan rumah temanku.
“Loh, Yu, kamu kok muncul dari kebun?”
Aku mengangkat kepala dan memandang panik ke belakang. Kukejar temanku yang bertanya itu. “Tolong sembunyikan aku! Ibu! Ibu!”
“Ibumu ngamuk lagi, Yu?” tanyanya tidak paham. Tetapi, ia menarikku masuk ke dalam rumah.
Ia memanggil kakaknya segera. Seorang gadis berusia 17 tahun dan akan segera dinikahkan. Di kampungku pernikahan dalam usia semuda itu wajar. Mungkin suatu saat aku juga akan menikah diusia segitu.
“Kenapa teriak-teriak, Wis?” tanyanya. Matanya terpaku padaku segera dan kemudian pada lutut serta betisku yang gores-gores. “Kamu kenapa, Yu? Guling-guling di ilalang?”
“Ayah! Ayah!” Aku tidak mengerti bagaimana mengatakannya dengan benar.
“Tadi Ibu sekarang Ayah. Sebenarnya kamu diapakan sama orang tuamu?”
Aku mengeleng keras. Kakak perempuan temanku mencoba mengapaiku. Maksudnya mungkin mau mengobati lukaku. Tetapi, aku mundur lebih cepat dan menarik tangan temanku.
“Ada apa? Nda ada Ibumu diluar, Yu!”
“Ibuku nusuk ayahku, Wis! Sekarang ngejar aku!” Akhirnya aku mengatakannya. Tepat saat itu air mataku mengalir deras. Lalu getaran yang entah berasal dari mana mengoyang tubuhku. Ah, rupanya aku ketakutan.
“Apa?” Kakak temanku berteriak.
Gadis itu berlari masuk ke dalam rumah, tidak jelas ke mana. Tapi samar-samar ia berteriak di dalam dan tak lama kembali bersama dengan kedua orang tuanya. Para pria dan wanita dewasa itu terenggah-enggah. Kaki mereka kotor.
“Yu, kamu yang bener?”
“I-ya! Bapak ditusuk Ibu! Ibu kejar aku! Tolong sembunyikan aku!” Aku menyeka air mata dengan punggung tangan.
Padahal aku bukan anak cenggeng, tetapi menangis sampai seperti ini. Bahkan saat Ibu marah padaku, aku sama sekali tidak menangis.
Ayah temanku itu menarik kentongan yang tertempel di dinding. Ia memukulnya dengan cepat sebagai tanda bahaya. Dipukulnya terus-terusan sampai ada para pria yang muncul di halaman.
His mouth latched onto me like he had been starving for days, tongue dragging through every swollen, sensitive inch, lips closing around my clit with a slow, devastating suck. I cried out, hips bucking, but his grip was merciless. He held me in place like a man possessed, feasting on me, tongue plunging deep, then circling up to flick and tease."Liam—" I gasped, my voice breaking as my hands clawed at the mat, legs trembling uncontrollably.He didn't stop. If anything, he growled into me and doubled down, tongue fucking me while his nose brushed against my clit, sending sharp, dizzy waves of pleasure through my body. My stomach clenched tight, and I knew I wouldn't last."Please...God...I'm gonna—" I barely choked out.But then he stopped, he didn't want me to come yet. He wanted to torture me in the most pleasurable way. He brought his finger up again, dragging it along my slick folds with devastating slowness.I whimpered, hips twitching beneath his touch."You're soaked," he mutte
Not long after I stepped inside my tent, I paused to take it all in. It was small but cozy, the fabric walls rustling gently with the breeze outside. A single lantern hung overhead, casting a soft amber glow across the narrow sleeping mat. A folded blanket rested in the corner, and beside it, a dark duffel bag caught my eye.I moved toward it, my chest tightening with hope. Unzipping it quickly, I found the essentials—my brush, toiletries, a few clean clothes, even my nightwear. Ella. Of course it was her. God bless that woman, I thought, pressing my fingers over the fabric as gratitude filled my throat.Peeling off the damp clothes that clung to my skin, I stripped everything, even my underwear. I grabbed a loose black nightshirt from the bag, silky and oversized, and a red lace panty—barely there, soft as sin. Slipping them on, I let the cool air kiss my skin just as someone stepped inside behind me.I turned, startled, and froze when I saw Liam.He said nothing. His eyes moved slow
He kissed me so hard I couldn't breathe, but that was exactly how I wanted it. I didn't care about air or sense or pride. I just wanted him. All of him. Right here. Right now. Without thinking, I moved my hips against him, grinding slow and deliberate, needing to feel the friction, needing to feel him. The moment I did, he let out a low, guttural growl. It wasn't human. It was wild. Possessive. Like I had just unlocked something dark and dangerous inside him. His hands gripped my waist tighter, dragging me against him until there was no space left between us. His mouth broke from mine just long enough for him to mutter against my lips. "Keep doing that and I won't stop, Sara." I didn't stop. I rocked against him again, harder this time, biting my swollen lip as my eyes locked with his. There was no shame left in me. Only heat. Only want. A low growl rumbled from his chest. He was thick beneath me, hard and straining, and I could feel it, every inch of him pressing into me. His
I stalked around the truck, planting myself in front of him. The air between us was thick, burning with everything we hadn't said. He leaned back in the seat like he didn't care, but his jaw was tight, his shoulders coiled like he was holding something back. "The tent is mine, Liam," I said, voice sharp. "You're going to give it to me." He didn't even flinch. Just stared, slow and cold. "It was yours. Not anymore." "You're being ridiculous." He tilted his head. "You and your boyfriend Peter, seem pretty comfortable. You can share his." "He's not my boyfriend." Liam's eyes darkened. "No? Could've fooled me. The way you were grinding on him like you forgot how to breathe. If your clothes weren't in the way, you'd have already spread your legs for him right there in the fucking ocean." His words hit like a slap. My mouth dropped open, but nothing came out. He had been watching. Every second. But that didn't give him the right to speak to me like I was some toy that belonged to hi
Because the moment Liam opened the door, peace and quiet vanished like smoke in a storm. "Trickster!" Greg hollered the second he spotted me, grinning like he'd just seen a long-lost celebrity. "Look who's still alive and looking ghostly as ever!" I didn't even get a chance to respond before Trevo
We kept moving through the darkness,Liam leading the way with the same relentless urgency. My mind was spinning, trying to process everything he had just told me.Drugs. Guns. Stolen art. Murder.The mansion I had admired just hours ago was nothing more than a front for a criminal empire. Emilia's
I woke to a light tap on my arm. "Sara, wake up," Liam's voice was low but urgent. I groaned, blinking groggily as I opened my eyes. Liam was already dressed, his face tense with something I couldn't quite place. Before I could ask why he woke me, he tossed my clothes at me. "Get dressed," he said
The guest house was impressive, but it lacked the warmth of a lived-in space. The moment we stepped inside, I could tell it was barely used, everything was spotless, perfectly arranged, and carried that faint, unused scent. Emilia lingered by the doorway, shifting uncomfortably. "So... there's onl
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews