Masuk“Kenapa? Nggak suka?”
“Enggak. Karena officially, dia cewek gue sekarang.” Ujar Kara penuh kemenangan.
“Nggak mungkin” Gavin menggeleng tak mau percaya.
“Dia belom cerita ke elo? Bukannya lo sahabatnya?” Kara tersenyum meremehkan.
Gavin menarik napas dalam, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya terasa panas menahan gejolak emosi yang membakar seluruh hatinya.
“Dia selalu cerita apa pun ke gue. Ke Lavie, dan Claudia juga.”
“Kalo gitu lo tanya sama Lavie dan Claudia, harusnya sih mereka udah tau sekarang,” ucapan Kara disertai dengan tatapan teduhnya ke arah Diandra yang tengah mengobrol santai bersama kedua temannya.
“Maksud lo?”
“Gue nggak tau, lo sengaja dikecualikan karena lo cowok atau gimana. Tapi gue udah kasih tau kenyataannya kalo gue dan Diandra udah official. Jadi stop manggil dia dengan seb
Diandra mengangguk dalam dekapan Sangkara.“Kayaknya dia belom tau deh kalo Adhiyatsa Group itu punya papa kamu.”“Biarin aja, nggak penting juga dia tau apa enggak.”“Gitu, ya?” Kara mengangguk.“Tapi kata-kata dia yang bilang kamu mokondo dan cuma mau ngambil keuntungan dari aku doang itu…”“Sssttt, aku mokondo bukan?”Diandra menggeleng keras.“Tetep aja aku masih kesel kalo inget. Secara nggak langsung, kan, dia meremehkan selera aku. Mana ada aku sukanya sama mokondo,” Diandra mencebikkan bibirnya kesal.“Terus kamu maunya gimana?” Kara mendorong lengan Diandra, menciptakan sedikit jarak di antara mereka.“Nggak tau juga.”“Ya udah makan dulu. Aku nggak suka kamu kayak gini.”“Kayak gimana?” Diandra menatap Kara dan bertanya dengan manja.Cup.Kara mengecup singka
Tidak ada jawaban.“Gue bahkan kalah sebelum maju. Diandra nggak akan pernah tau kalo suka sama dia.”“Lo masih bisa ngomong ke dia.”“Buat apa? Dia udah sama Kara sekarang.”“Seenggaknya dia tau. Cuma itu, kan, yang lo pengen? Atau… lo masih berharap Diandra juga punya perasaan yang sama ke lo?” Gavin menggeleng.“Dia udah cinta mati sama Kara sejak awal masuk SMA. Dan sekarang mereka udah jadian, nggak mungkin Diandra nanggepin perasaan gue dan ninggalin cinta pertamanya.”“Diandra juga cinta pertama lo, Vin. Dia berhak tau. Cuma tau, nggak lebih.”“Gitu, ya?”Claudia mengangguk.“Seenggaknya lo nggak akan menyesali apa pun. Entah gimana tanggepan Diandra nantinya, yang penting lo udah jujur ke dia.”“Gue akan coba. Thanks ya, Clau.”“Anytime.”Claudia men
“Kenapa? Nggak suka?”“Enggak. Karena officially, dia cewek gue sekarang.” Ujar Kara penuh kemenangan.“Nggak mungkin” Gavin menggeleng tak mau percaya.“Dia belom cerita ke elo? Bukannya lo sahabatnya?” Kara tersenyum meremehkan.Gavin menarik napas dalam, kedua tangannya mengepal di sisi tubuhnya. Dadanya terasa panas menahan gejolak emosi yang membakar seluruh hatinya.“Dia selalu cerita apa pun ke gue. Ke Lavie, dan Claudia juga.”“Kalo gitu lo tanya sama Lavie dan Claudia, harusnya sih mereka udah tau sekarang,” ucapan Kara disertai dengan tatapan teduhnya ke arah Diandra yang tengah mengobrol santai bersama kedua temannya.“Maksud lo?”“Gue nggak tau, lo sengaja dikecualikan karena lo cowok atau gimana. Tapi gue udah kasih tau kenyataannya kalo gue dan Diandra udah official. Jadi stop manggil dia dengan seb
“Tas lo cuma ketumpahan minuman, tapi sikap lo ini seolah-olah kayak dunia mau kiamat besok!” ucap Diandra sarkas.“Cuma, lo bilang? Lo nggak liat tas gue ini merk apa? Chanel! Harganya 50 juta! Dan sekarang tas ini kotor karena ulah lo. Bisa ganti lo?” gadis itu mendongak penuh kesombongan.Tatapannya sinis dan terlihat sekali dirinya tidak ingin kalah dari Diandra.Diandra mendengus pelan, menyilangkan tangan di dada, lalu menatap remeh pada tas putih yang sudah kotor itu.“Tas palsu gitu… bisa bikin lo semarah ini?” Diandra menyeringai remeh.“Elo, ya—”“Tulis nomor rekening lo,” Kara menyerahkan ponselnya pada gadis berambut merah itu.Membuatnya membelalak terkejut, tidak siap dengan sikap Kara yang tiba-tiba menyodorkan ponsel dengan tampilan layar i-banking miliknya. Sedari tadi lelaki itu tidak mengatakan apa pun, namun sekalinya buka mulut, Sang
“With Sangkara,” jawab Seno memvalidasi.Sama-sama tak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat saat ini.“Kok bisa? Kok bisa Diandra sama Sangkara—”“Udah ayok,” sebelum Lavie selesai dengan keterkejutannya, Seno lebih dulu merangkul bahunya dan mengajaknya menjauh dari tempat itu menuju kelas.“Seno, kamu tau sesuatu?”Lelaki itu menggeleng.“Kok bisa Diandra dan Sangkara pagi-pagi… mereka…” Lavie kehabisan kata-kata untuk mendeskripsikan keduanya.“Kenapa? Kamu mau juga? Ayok sini kalo iya.”“Sembarangan banget kalo ngomong,” Lavie mencubit pinggang Seno hingga lelaki itu berteriak kesakitan.“Sakit tau, Vie.”“Biarin. Sukurin. Siapa suruh otaknya mesum.”“Kok jadi aku yang mesum? Kan, temen kamu tuh yang pagi-pagi ciuman dalem mobil.”“Diem,
Suaranya lirih tapi menusuk, sebelum akhirnya bibir Kara menempel kembali dengan ganas di bibir Diandra.“Akh… Eungh…” Diandra berusaha menahan, tapi Kara lebih cepat.Kedua tangannya mengunci pergelangan tangan Diandra di belakang tubuh gadis itu, membuat Diandra tak berdaya.Ciuman itu panas, rakus. Tak ada celah untuk bernapas. Lidah Kara menyapu lembut, lalu menuntut masuk. Diandra berusaha menolak, menepis, tapi tubuhnya mulai melemah. Perlahan, ia terbuai.Dan di saat itulah, lidah mereka bertemu. Saling beradu, saling menyerang. Desahan napas bercampur, panas tubuh menular. Mereka berdua hanyut dalam ciuman dan sentuhan yang panas membara, mengabaikan Vincent yang tampak gugup dan tegang saat tanpa sengaja menyaksikan perbuatan mereka di kursi belakang melalui kaca spion di depannya.Ya, Kara memang sengaja membawa Vincent bersamanya untuk berjaga-jaga kalau dirinya mabuk dan tidak bisa menyetir sendiri.***







