로그인Begitu pintu apartemen tertutup di belakang mereka, Diandra sudah berada dalam pelukan Kara, dan membalas ciumannya dengan sepenuh hati saat Kara melumat bibirnya. Lidahnya menyerbu menuntut balasan. Sesekali ia menyedot lidah Diandra hingga gadis itu terengah.Tubuh Diandra menegang, tapi perlahan menyerah. Tangannya bergerak cepat membuka kancing kemeja Kara satu per satu, sementara Kara memilih jalan paling cepat—merobek gaun merahnya dengan kasar.Desiran halus merambat di tubuh Diandra, membuatnya menutup mata, menyerah pada momen itu. Bersama-sama mereka menikmatinya, dan sekarang Diandra adalah miliknya… miliknya sepenuhnya.Diandra lalu melompat ke ranjang, menyambut Kara dengan lengan terbuka, lalu memosisikan diri. Kemesraan yang mereka rasakan begitu cepat dan intens, dan akhirnya memuncak dalam satu ledakan klimaks yang panjang dan menyenangkan.“Sayang…” bisikan Kara terdengar menggelitik di telinganya, suarany
Saat matahari mulai terbenam, perayaan berpindah ke Loggia Segre untuk resepsi yang lebih intim dan romantis. Cahaya senja yang lembut menambah keanggunan vila dan menciptakan suasana hangat dan magis untuk makan malam dan pesta.Kara mengangkat gandengan tangan Diandra tinggi-tinggi. Memamerkan istrinya yang tampak luar biasa dengan balutan dress warna merah marun yang pekat dengan kilau khas kain satin yang jatuh mengikuti lekuk tubuh. Gaun itu memiliki tali bahu yang sangat tipis dengan potongan square neck, memberikan kesan minimalis namun tetap seksi.Bagian pinggngnya terdapat kerutan artistik yang memberikan dimensi pada kain, sebuah potongan sempurna untuk menonjolkan siluet tubuh Diandra. Gaun itu juga memilki belahan tinggi di satu sisi, menampilkan kaki jenjang Diandra yang tampak cantik dibalut sepatu hak tinggi berwarna senada.Sementara Kara, tetap setia dengan stelan serba hitamnya. Menurut Diandra, Kara tidak memiliki warna lain
Diandra berdiri!Benar-benar berdiri.Ia bahkan mulai melangkah pelan ke arahnya.Kara refleks hendak melangkah maju, namun lengannya segera ditahan oleh Seno yang berdiri tak jauh darinya, berperan sebagai groomsmen untuknya. Lelaki itu menoleh dan mendapati Seno menggeleng pelan padanya. Kara berdeham sekali, membenarkan letak jasnya, dan kembali berdiri tegak di posisinya semula.Matanya tak luput dari memandangi Diandra yang berjalan seorang diri dengan anggun menuju ke arahnya. Gadis itu sangat cantik dengan balutan gaun pengantin berwarna off-white yang menampilkan kesan romantis dan klasik. Gaun itu memiliki potongan A-line yang memberikan siluet ramping pada bagian pinggang dan melebar secara anggun ke bawah.Bagian atasnya menggunakan desain kerah V-neck yang rendah dengan ilusi kain transparan pada bagian bahu dan lengan panjang, yang mana seluruh bagiannya dihiasi bordir renda floral, memberik
“Baru deket,” ucap Gavin akhirnya.“Baru?” Diandra bertanya lagi.Gavin mengangguk.“Cepet juga ya progressnya,” semua orang menatap Lavie dengan penasaran.“Maksudnya?” Gavin bertanya.“Nggak… bukan apa-apa,” Laviena menolak jujur.“Arena balap, seminggu yang lalu, di parkiran,” Kata Seno asal.Deg.Tidak ada yang tahu itu suara jantung siapa. Yang pasti, ada empat orang yang sadar diri tengah dibicarakan di sana.“Lo… liat?” Tanya Gavin gugup.Seno dan Laviena mengangguk bersamaan.Gavin mengusap wajahnya gusar, merasa malu karena tertangkap basah oleh sahabat beserta pacarnya juga.“Ya udah sih, nggak perlu malu juga. Kayak sama siapa aja.”“Sejak kapan?” Tanya Diandra penasaran.“Udah dong, kok malah jadi bahas gue sih. Harusnya kan sekarang kita seneng-seneng bareng, dan mungkin juga kita bisa bantuin Diandra buat persiapan pernikahannya. Iya, kan?” Kata Claudia, berusaha berbicara dengan normal.“Iyaaaa.” Jawab mereka semua bersamaan.Sementara Miranda, Marcel, dan juga Lucyana
“Kayaknya sih iya. Balapannya udah selesai juga,” sahut Seno yang berdiri di sampingnya.“Mereka ciuman,” lanjut Lavie.“Mungkin buat ngerayain kemenangan,” Seno mengedikkan bahunya acuh.“Di tempat kayak gini?”“Kayak baru pertama liat aja. Bukannya mereka emang sering kayak gitu, ya? Kita bahkan liat mereka ciuman pertama kali di tempat pesta.”Laviena dengan cepat menatap ke arah kekasihnya. Merasa ada kesalahpahaman dalam obrolan mereka.“Ini kita lagi ngomongin orang yang sama, kan?” Tanya Lavie.“Emangnya enggak?" Seno menggaruk lehernya, tersenyum canggung bahkan tanpa ia tahu alasannya.“Kamu lagi ngomongin siapa kutanya?”“Tuh, Diandra sama Kara, kan?” Seno menunjuk Kara dan Diandra yang tengah berciuman di dalam mobil, dengan dagunya.Laviena mengarahkan pandangannya ke arah mobil Diandra. Dan benar, ked
“Yakin, aku juga nggak mau kalah dong dari kamu.”“Tapi… ini bahaya, sayang. Kamu nggak bisa lakuin ini hanya karena alesan itu.”“Aku bisa dan aku akan buktiin. Lagipula ada kamu ini di sini, seenggaknya kamu bisa jadi navigator aku." Ucapnya, membuat Diandra seketika mengangguk dan tersenyum.“Di depan nanti ada tikungan, kurangi kecepatan dan ambil bagian kiri jalan sebelum belok ke kanan,” Kata Diandra saat mobil mereka baru saja melaju di tengah arena.Kara menambah kecepatan, mengatur ritme, dan melaju kencang di lintasan. Beberapa kali bahkan lelaki itu tampak bersorak bahagia saat berhasil melampaui satu orang lawannya. Kemudian menambah kembali kecepatannya untuk menyalip lawan yang lainnya.Setelah melewati dua tikungan panjang, akhirnya mereka berhasil mencapai finish di urutan kedua. Kara refleks berteriak sambil memukul kemudi di depannya, ekspresi kepuasan jelas sekali terlihat
Diandra mengangguk dalam dekapan Sangkara.“Kayaknya dia belom tau deh kalo Adhiyatsa Group itu punya papa kamu.”“Biarin aja, nggak penting juga dia tau apa enggak.”“Gitu, ya?” Kara mengangguk.“Tapi kata-kata dia yang bilang
“Jadi Kara lebih memilih untuk menutup diri dan sibuk sama dunianya sendiri. Sampai akhirnya kamu datang dan membawa warna baru di kehidupannya. Tante ingin berterima kasih sekali sama kamu, Di. Makasih karena sudah hadir di hidup Kara, dan membawa dia keluar dari kegelapan.”A
“Kenapa? Nggak suka?”“Enggak. Karena officially, dia cewek gue sekarang.” Ujar Kara penuh kemenangan.“Nggak mungkin” Gavin menggeleng tak mau percaya.“Dia belom cerita ke elo? Bukannya lo sahabatnya?” Kara tersenyum
Suaranya lirih tapi menusuk, sebelum akhirnya bibir Kara menempel kembali dengan ganas di bibir Diandra.“Akh… Eungh…” Diandra berusaha menahan, tapi Kara lebih cepat.Kedua tangannya mengunci pergelangan tangan Diandra di belakang tubuh gadis itu, membuat







