Share

Siapa yang Mengerti Hatiku?
Siapa yang Mengerti Hatiku?
Author: Cat

Bab 1

Author: Cat
Oria adalah dewi kampus polos yang terkenal di Universitas Zimbra karena kesuciannya yang memesona. Di hati sekian banyaknya mahasiswa pria, dia adalah cinta pertama yang tak tergapai.

Sampai hari ini, forum kampus tiba-tiba membocorkan foto-foto pribadinya.

Dalam semalam, reputasinya hancur, hak beasiswa pascasarjananya dicabut, bahkan saat berjalan di jalan pun ada orang yang menanyainya, "semalam berapa harganya".

Dan foto-foto itu, hanya satu orang yang memilikinya, pacarnya: Zerian!

Semangat Oria hancur, dia berlari ingin menemui pria itu untuk meminta penjelasan. Namun tepat saat hendak mendorong pintu, terdengar suara sahabat Zerian dari dalam.

"Kak Zerian, jurus kamu ini benar-benar kejam. Begitu foto-foto pribadi itu dirilis, reputasi Oria segera hancur, hak beasiswanya juga lenyap. Lihat nanti apa dia masih berani bersaing dengan Chelsea soal apa pun."

Yang lain ikut menimpali, "Itu belum seberapa. Kalau dia tahu selama dua tahun Kak Zerian pacaran dengannya, sama sekali nggak pernah menyukainya. Bahkan karena nggak mau menyentuhnya, siang hari Zerian cuma mengulur-ulur dia, malam hari malah memanggil adiknya sendiri untuk menemaninya tidur ... itu baru benar-benar bikin dia hancur, 'kan? Hahaha!"

Ucapan itu seperti petir yang meledak di telinga Oria! Dia tanpa sadar menutup mulutnya agar tidak menjerit, wajahnya seketika pucat pasi.

Setelah berkata begitu, orang itu masih dengan senyum usil menyikut pemuda tampan di samping Zerian. "Eh, Jusifan, diam-diam sudah tidur dengan pacar kakakmu selama dua tahun, rasanya bagaimana? Kami penasaran setengah mati."

Dan pemuda bernama Jusifan itu, wajahnya hampir sama persis dengan Zerian. Dia mengangkat gelas anggurnya, menarik senyum sinis penuh main-main. "Ck, mau bagaimana lagi? Barang kelas atas, deh. Kulit putih, tubuh lembut, suaranya juga enak didengar, mau posisi apa pun dikasih ... kalau bukan begitu, kenapa akhir-akhir ini aku mengurus pindah sekolah, pindah ke Universitas Zimbra, ya demi nanti lebih gampang menidurinya."

Saat itu, Zerian yang sedari tadi diam akhirnya membuka suara. Suaranya tetap dingin seperti biasa, tak terdengar sedikit pun emosi. Akan tetapi, tiap katanya bagai pisau yang mengiris Oria hidup-hidup. "Tinggal beberapa hari lagi. Kalau mau puas, cepat saja. Begitu kuota beasiswa pascasarjana resmi jatuh ke Chelsea, aku akan putus dengannya secara tuntas, lalu secara resmi mengejar Chelsea."

"Gila! Kak Zerian, kamu akhirnya mau bergerak mengejar Chelsea?" Teman-temannya segera bersorak, "Perasaanmu yang dalam ke Chelsea selama bertahun-tahun ini kami semua lihat kok. Dari kecil dimanjakan sampai minta bintang pun kamu kasih. Bahkan karena kuota beasiswa ini cuma satu, dan Chelsea sangat menginginkannya, begitu kamu tahu Oria adalah pesaing kuat, kamu segera mendekati Oria, pacaran dengannya, akhirnya melakukan langkah seperti ini ... hebat! Sudah seharusnya kamu membawa pulang si cantik itu!"

Setiap kalimat seperti palu besar yang menghantam dada Oria dengan kejam.

Seluruh tubuhnya dingin, darahnya seolah membeku.

Ternyata ... kebenarannya sebegitu menjijikkan, sebegitu kejam sampai membuat orang murka!

Oria menatap sekelompok orang yang bercanda ria di dalam itu, takut kalau tinggal sedetik lagi dia akan benar-benar gila, lalu berbalik mendadak dan terhuyung-huyung melarikan diri.

Dirinya berlari sekuat tenaga, air matanya mengalir deras, pemandangan di depan matanya menjadi kabur dan terdistorsi.

Sejak kecil sampai besar Oria dididik orang tua dengan sangat ketat, tidak pernah pacaran, bahkan menganggap cinta adalah hal yang merepotkan dan membosankan.

Sampai tahun pertama kuliah, saat dia memeluk buku dan melewati lapangan basket, sebuah bola tiba-tiba melayang ke arahnya. Dia ketakutan dan memejamkan mata, tetapi benturan yang dibayangkannya tidak terjadi.

Sosok tinggi berwibawa dan dinginlah yang menghalau bola itu untuknya.

Dengan jantung masih berdebar, wanita itu membuka mata dan segera bertemu sepasang mata yang dalam dan dingin.

Cahaya keemasan matahari senja jatuh di belakang pria itu, keringat halus tampak di pelipisnya, garis wajahnya tegas dan tampan seperti bukan manusia. Saat itu, Oria dengan jelas mendengar detak jantungnya sendiri yang tak terkendali.

Belakangan baru dia tahu, sosok tadi adalah idola kampus Universitas Zimbra yang sesungguhnya, Zerian.

Latar belakang keluarganya terpandang, beberapa gedung kampus disumbangkan keluarganya. Dia setampan itu, juga sedingin itu. Gadis-gadis yang mengejarnya bisa mengantre dari gerbang kampus sampai Negara Farice, tetapi pada siapa pun dia selalu menjaga jarak dan bersikap dingin, hanya pada teman masa kecilnya dari jurusan musik, Chelsea, dia agak berbeda.

Menyadari mereka berasal dari dua dunia yang berbeda, Oria selalu mengubur dalam-dalam perasaan itu, sepenuhnya fokus belajar, dan menjadi peringkat satu angkatan bertahun-tahun.

Namun kemudian, "kebetulan" pertemuan antara dia dan Zerian entah kenapa mulai makin sering.

Perpustakaan, gedung kuliah, bahkan kantin ... pria itu selalu muncul di dekatnya.

Sampai suatu hari, karena bergadang dan belajar terlalu lelah, Oria tertidur dengan kepala tertelungkup di perpustakaan. Saat terbangun, dia mendapati dirinya bersandar di bahu Zerian!

Gadis itu kaget dan segera menjauh, pipinya memerah hebat. Namun pria itu justru menggenggam pergelangan tangannya, menatapnya dengan mata yang hitam pekat, suaranya rendah dan enak didengar. "Oria, mau nggak kamu bersamaku?"

Saat itu pikirannya kosong total, kebahagiaan besar menenggelamkan dirinya, dan dalam keadaan bingung dirinya mengangguk setuju.

Setelah bersama, Zerian memang agak "aneh".

Siang hari pria itu selalu cukup dingin padanya, jarang menghubungi lebih dulu, kencan pun seperti menyelesaikan tugas.

Namun begitu malam tiba, dia seperti berubah menjadi orang lain, penuh gairah sampai nyaris gila, menuntut tanpa henti, dan ... suka memotret foto-foto intim saat sedang terbawa suasana.

Meski samar-samar merasa gelisah, tetapi karena tenggelam dalam cinta, Oria selalu mencarikan alasan untuk membenarkan pria itu:

Kepribadian si pria memang dingin, siang hari sibuk jadi terlihat cuek. Tapi karena menyukai Oria, di malam hari dirinya jadi sulit mengendalikan diri ....

Tak disangkanya, yang dingin di siang hari adalah kakaknya Zerian, sedangkan yang penuh gairah di malam hari adalah adiknya Jusifan!

Mereka memperlakukannya sebagai alat pelampiasan dan mainan sesuka hati, tujuan akhirnya hanyalah merebut semua yang telah dia perjuangkan dengan susah payah, demi menyenangkan gadis lain!

Oria akhirnya tak sanggup berlari lagi. Dirinya duduk terkulai di gang sepi, menangis terisak sampai titik paling tertahan.

Saat itu, ponselnya kembali berdering, telepon dari rumah.

Dengan tangan gemetar Oria mengangkatnya. Dari seberang segera terdengar teriakan tajam ibunya, "Oria! Apa-apaan foto-foto tak tahu malu di forum kampus itu! Dosen wali sampai menelepon ke rumah! Kamu tahu sudah mempermalukan keluarga kita sebesar apa? Wajah kami benar-benar sudah kamu hancurkan!"

Makian marah ayahnya juga samar-samar terdengar, "Kami susah payah membesarkanmu, supaya kamu pergi ke universitas mempermalukan diri, ya? Dasar tak tahu malu!"

Oria menangis sampai tak bisa bicara, dadanya sakit seolah hendak sesak napas.

Orang tuanya sangat keras padanya, hanya saat dia meraih peringkat pertama atau mendapat penghargaan, barulah mereka menunjukkan sedikit senyum langka.

Karena itu, gadis itu belajar mati-matian, mengikat dirinya dengan disiplin ketat, berusaha menjadi nomor satu angkatan, melakukan segalanya sebaik mungkin, hanya berharap bisa mendapatkan sedikit lebih banyak kasih sayang dari mereka.

Namun kini setelah terjadi masalah, mereka sama sekali tidak menunjukkan kepedulian atau kepercayaan, yang ada hanyalah makian tanpa akhir dan sikap meremehkan.

"Menangis terus! Cuma tahu menangis! Beasiswa sudah tak ada harapan! Kami sudah membelikan tiket ke luar negeri akhir bulan ini, cepat angkat kaki dari sini! Tunggu beberapa tahun sampai orang-orang lupa baru kembali!" Suara ibunya dingin dan tak memberi ruang bantahan.

Oria benar-benar kehilangan harapan. Dengan perasaan hampa dia berkata ke telepon, "Baik."

Dirinya akan pergi ke luar negeri.

Namun seumur hidup ini, dia tidak akan pernah kembali lagi!
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 23

    Zerian dan Jusifan berlutut di tanah yang dingin dan basah, menatap pintu yang tertutup rapat itu. Pintu yang tak akan pernah lagi terbuka untuk mereka, seolah seluruh jiwa mereka telah tercabut.Sejak malam itu, Zerian dan Jusifan seperti kehilangan tulang punggung, benar-benar runtuh.Zerian kembali ke Grup Canadi.Dia menjadi jauh lebih pendiam dari sebelumnya, dingin sampai tak tersentuh perasaan manusia.Dia bekerja seperti orang gila, nyaris tinggal di perusahaan, mengisi setiap detik dengan urusan dan rapat tanpa henti, mencoba membius hati yang sudah lama tandus dan mati rasa.Dia berubah menjadi mesin kerja yang sempurna, tindakannya secepat kilat, keputusannya keras tanpa ampun, memperluas wilayah bisnis Keluarga Canadi menjadi makin besar, menumpuk kekayaan makin banyak.Namun di sisinya, tak ada lagi siapa pun. Dia menolak semua perjodohan dan perkenalan, bersikap sedingin es pada setiap wanita yang mencoba mendekat.Dunianya hanya tersisa angka dingin, dokumen, dan permain

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 22

    Zerian dan Jusifan mengerahkan semua cara yang bisa mereka pikirkan.Tekanan kekuasaan, godaan materi, permohonan yang merendah, keterikatan yang gila, bahkan sandiwara menyakiti diri sendiri ....Namun semua itu, di hadapan benteng yang Oria bangun dari sikap dingin dan ketidakpedulian, hancur berkeping-keping, hanya menyisakan kekacauan dan keputusasaan yang lebih dalam.Akhirnya mereka pun kehabisan tenaga terakhir mereka, lalu menyadari satu fakta yang tak mau mereka akui ....Mereka benar-benar, untuk selamanya, kehilangan dia.Bukan karena dia kejam, melainkan karena merekalah yang dengan tangan mereka sendiri menghancurkan perasaan samar yang mungkin pernah ada itu, bersama harga diri dan hidupnya di masa lalu.Pada suatu senja yang diguyur gerimis, Zerian memarkir mobilnya di sudut jalan seberang apartemen Oria.Dia tidak turun, hanya menatap melalui kaca mobil yang buram oleh hujan, memandangi jendela yang menyala dengan cahaya hangat itu.Dia menelepon nomor yang sudah lama m

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 21

    Sementara itu, Jusifan justru memilih cara lain yang jauh lebih menyesakkan.Dia tak lagi mengirim hadiah-hadiah mencolok, melainkan mulai memainkan kartu "cinta mendalam".Setiap hari dia muncul tepat waktu di bawah gedung kantor dan apartemen Oria, menenteng kotak bekal yang katanya dibuatnya sendiri, tak peduli hujan maupun panas.Dia tak lagi membuat keributan, hanya diam-diam menatap Oria dengan sorot mata penuh luka dan kasih, seolah Oria adalah perempuan yang mengkhianatinya.Bahkan setelah sekali benar-benar diabaikan Oria, Jusifan menghantam dinding di samping dengan tinjunya, punggung tangannya seketika berdarah dan robek. Dirinya lalu mengangkat tangan yang berdarah itu dan berjalan ke depan mobil wanita itu, lalu bertanya dengan suara serak, "Oria, kalau begini ... bisakah kamu melihatku sekali saja? Satu kali saja ...."Oria duduk di dalam mobil. Melihat kegilaan menyakiti diri demi memperoleh perhatian itu, dirinya hanya merasa mual dan takut seolah isi perutnya teraduk-a

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 20

    Pintu keluar kedatangan internasional dipenuhi arus manusia.Oria mendorong kopernya keluar, mengenakan mantel panjang krem sederhana. Tubuhnya tegap, ekspresinya dingin dan datar.Tiga tahun telah menghapus sisa kepolosannya, menambahkan kedewasaan dan kesejukan yang tenang. Kecantikannya kini makin mengguncang, tetapi dirinya juga makin tak terjangkau.Baru saja dirinya menginjakkan kaki ke tanah air, bahkan belum sempat menghirup udara domestik, dua kelompok orang sudah seperti ikan hiu yang mencium bau darah, dengan cepat mengepung dari dua arah berbeda, memblokirnya di lorong keluar!Di sebelah kiri, dipimpin oleh Zerian.Dia mengenakan setelan jas buatan tangan yang mahal, tubuhnya tinggi ramping, ketampanannya masih sama. Hanya saja, di antara alisnya tertimbun kelelahan yang sulit dihapus dan hasrat berlebihan yang menggelora.Di tangannya ada sebuket besar bunga calla putih yang langka, bahasa bunganya adalah "cinta yang tulus dan penebusan dosa". Dia menatap Oria dengan tatap

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 19

    Saat pertama kali Zerian diarahkan semprotan itu, seluruh tubuhnya segera membeku, di matanya terpancar luka dan keterpurukan yang tak bisa dipercaya.Jusifan justru menjadi lebih ekstrem dan emosional.Ada kalanya dirinya merendahkan diri memohon, menangis tersedu-sedu sambil meminta maaf, menampar wajahnya sendiri, menceritakan betapa dirinya menyesal, betapa tulus dia mencintai Oria.Terkadang dia kehilangan kendali karena sikap dingin Oria, membuat pria itu mengamuk sambil menghancurkan barang-barang. Bahkan ketika Oria berinteraksi normal dengan teman sekelas, dia menerjang keluar dan menarik gadis itu pergi secara paksa, memicu kepanikan dan laporan polisi.Dia bahkan memanfaatkan kekuatan Keluarga Canadi untuk menekan pihak kampus Oria, menekan pemilik apartemennya, mencoba memutus seluruh jalur sosial dan sumber ekonominya, demi memaksa Oria berkompromi.Kedua saudara itu saling menganggap satu sama lain sebagai penghalang terbesar.Zerian menugaskan orang untuk memantau Jusifa

  • Siapa yang Mengerti Hatiku?   Bab 18

    Setelah menyelesaikan urusan putus hubungan dengan Chelsea, Zerian segera kembali ke perusahaan. Dengan kecepatan tercepat dirinya mengatur semua urusan darurat, lalu memerintahkan asistennya, "Segera pesan tiket penerbangan paling dekat ke Laruna! Semua jadwal ditunda!"Saat ini hanya ada satu pemikiran di benaknya yang bergejolak dan mendesak: menemukan Oria! Sekarang juga! Saat ini juga!Dia tidak bisa mentolerir Jusifan mengintai di sisi Oria, apalagi menerima kemungkinan kehilangan diri wanita itu sepenuhnya!Selama belasan jam penerbangan, Zerian sama sekali tak bisa tidur. Di benaknya terus berulang berbagai kemungkinan yang mungkin terjadi, sementara kegelisahan dan harapan asing yang nyaris berubah menjadi kepanikan membakar sarafnya.Begitu pesawat mendarat, dia bahkan tidak pergi ke hotel. Berdasarkan alamat yang sudah diselidiki anak buahnya, Zerian segera menyuruh sopir menuju apartemen Oria.Saat senja, matahari terbenam melapisi jalanan Kota Laruna dengan warna emas hang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status