分享

Bab 73

作者: La Mian
last update publish date: 2026-10-21 23:02:57

Angin malam Kota Chu berhembus makin dingin, menusuk hingga ke balik jubah tipis yang dikenakan Qinglan.

Setelah bayangan Lu Mingyu hilang sepenuhnya ditelan kegelapan lorong, Qinglan mengusap sudut matanya yang basah dengan kasar. Dada kirinya berdenyut nyeri, bukan hanya karena balutan luka yang belum pulih, melainkan oleh kejamnya kalimat terakhir yang diucapkan sang jenderal.

​Jika kau tidak ingin mengikuti kata-kataku, pergilah dari sini! Berbuatlah sesukamu!

​"Baik! Kalau itu mau m
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Siasat Menaklukkan Hati Jenderal Lu   Bab 98

    Zhao Wen meletakkan nampan kue teratai di atas meja pualam, lalu melipat tangannya di dada seraya menatap kakaknya dan Qinglan bergantian dengan binar mata jahil.​"Gradasi warna, katamu?" cetus Zhao Wen seraya terkekeh renyah. "Wajah kalian berdua bahkan lebih merah daripada warna kelopak bunga meihua di kanvas itu!"​"Zhao Wen, tutup mulutmu dan taruh kuenya di sana," tegur Zhao Chengyan kaku. Pangeran itu berdeham keras seraya sibuk merapikan gulungan kertas beras yang sebenarnya sudah terikat rapi.​Qinglan membungkuk anggun, mencoba menguasai suaranya agar tidak terdengar bergetar di hadapan sang putri. "Yang Mulia Putri, hamba mohon izin untuk meracik ulang pigmen warna di meja sebelah."​"Ah, Yuehua! Jangan lari dulu!" goda Zhao Wen seraya mendekati gurunya dengan langkah perlahan. "Wajahmu masih merona hebat. Apakah ruang pendopo ini terlalu hangat untukmu?"​Qinglan membuang muka halus, menahan malu yang makin menjalar hingga ke ujung telinganya. "Udara sore ini memang agak s

  • Siasat Menaklukkan Hati Jenderal Lu   Bab 97

    Keesokan harinya, hangat matahari pagi membias di sepanjang jalan setapak pualam menuju Paviliun tempat tinggal Zhao Wen. Qinglan melangkah anggun seraya membawa kotak kayunya. Namun, baru beberapa puluh langkah meninggalkan Paviliun Willow, gurat halus di keningnya mendadak mengencang. ​Langkah kakinya sengaja diperlambat. Gesekan halus gaun di belakangnya terdengar amat samar, terhenti setiap kali Qinglan menghentikan tapaknya. ​Ada yang mengikutiku, batin Qinglan mantap. ​Qinglan sengaja membelokkan arah langkahnya menuju lorong sempit di antara dua dinding batu berdinding bambu yang sepi. Begitu melewati sudut dinding, Qinglan berbalik cepat dan bersembunyi di balik pilar kayu besar. ​Seorang dayang bertubuh mungil tampak melangkah terburu-buru dengan raut wajah panik karena kehilangan jejak. ​Qinglan keluar dari balik pilar, menutup jalan keluar dayang tersebut seraya menatapnya tajam. ​"Siapa kau? Mengapa kau mengikutiku sejak keluar dari Paviliun Willow?" tegur Qinglan di

  • Siasat Menaklukkan Hati Jenderal Lu   Bab 96

    Malam makin larut, tetapi pendar lilin di pendopo Paviliun Chengyan masih membiaskan cahaya temaram. Berlembar-lembar kertas yang dipenuhi goresan garis tinta hitam berserakan di sekitar meja pualam.​Zhao Chengyan mengepalkan jemari tangan kirinya yang terasa pegal luar biasa. Keringat tipis membasahi keningnya, namun sorot matanya yang semula dipenuhi frustrasi kini berubah menjadi binar ketekunan yang membara. Sejak cidera melumpuhkan tangan kanannya, melukis kembali menjadi ujian berat yang menuntut seluruh daya juangnya.​Terdengar derap langkah mendekat dari selasar luar. Tak lama kemudian Zhao Wen melangkah masuk lalu menyuruh para pelayan menaruh makanan yang mereka bawa ke atas meja kayu di pinggir pendopo. Aroma kuah hangat dan bumbu masakan seketika menyeruak di tengah udara malam yang dingin.​"Kakak Yan! Wu Yuehua!" panggil Zhao Wen seraya mendekati meja. "Kalian harus makan malam sekarang. Kakak Yan, sejak sore kau belum menyentuh makanan sama sekali!"​Zhao Chengyan me

  • Siasat Menaklukkan Hati Jenderal Lu   Bab 95

    Sore hari sesuai waktu yang diperjanjikan, Qinglan tiba di selasar Paviliun Putra Mahkota Zhao Chengyan dengan membawa kotak kayu berisi peralatan lukis. Langkah kakinya terdengar teratur, bergema pelan di sepanjang koridor luar yang sunyi. Di dalam pendopo utama yang megah, Zhao Chengyan sudah menunggu kedatangannya. Pria itu duduk tegap di hadapan meja pualam yang dingin. Ia mengenakan jubah sutra bertangan longgar tanpa ornamen naga keemasan yang biasa dipakainya.​"Kau tepat waktu, Wu Yuehua," tegur Zhao Chengyan dingin tanpa berpaling dari kertas yang terkembang kosong di atas meja pualam tersebut.​"Hamba tidak berani membuat Yang Mulia menunggu," sahut Qinglan seraya melangkah anggun mendekati meja dan meletakkan kotak kayunya secara perlahan. "Apakah Yang Mulia sudah siap memulai latihan melukis dengan menggunakan tangan kiri hari ini?"​Zhao Chengyan melirik tangan kirinya yang tergeletak diam di atas meja. "Aku sudah menyiapkan diri. Langsung saja berikan petunjukmu tanpa b

  • Siasat Menaklukkan Hati Jenderal Lu   Bab 94

    Qinglan melangkah cepat membelah lorong batu Paviliun Willow, menyapu air mata yang nyaris menetes di pelipisnya. Dadanya masih berombak hebat usai pertemuannya dengan Lu Mingyu.​Begitu melangkahi ambang pintu kediamannya, Xiaotao yang sedang menyapu pelataran langsung menjatuhkan sapunya dengan wajah membelalak panik.​"Huahua!" seru Xiaotao seraya berlari menghampiri. "Astaga, dari mana saja kau semalaman?! Aku menunggumu semalaman. Lihat pakaianmu, ala yang terjadi?!"​"Aku tidak apa-apa, Xiaotao," sahut Qinglan pelan seraya menerobos masuk ke kamar, mendudukkan dirinya di tepi pembaringan kayu.​"Bagaimana bisa tidak apa-apa?!" cecar Xiaotao tegang, menutup pintu rapat-rapat. "Tadi kau mendengar para pelayan Istana sibuk berbisik bahwa kau menginap di kediaman Putra Mahkota? Apakah itu benar?"​Qinglan mengepalkan jemarinya di atas gaun. "Hanya kesalahpahaman. Tidak perlu dibicarakan lagi, Xiaotao."​"Tapi Huahua—"​Sebelum Xiaotao menyelesaikan kalimatnya, pintu Paviliun Willow

  • Siasat Menaklukkan Hati Jenderal Lu   Ban 93

    Zhao Chengyan seketika tersedak oleh ludahnya sendiri. Wajah tegap Putra Mahkota itu memerah padam.​"Zhao Wen! Tutup mulutmu dan keluar dari kamarku sekarang juga!" bentak Zhao Chengyan keras seraya melempar bantal sutra di dekatnya ke arah sang adik.​Zhao Wen tertawa renyah, melangkah mundur dengan lincah menghindari lemparan bantal itu. "Baiklah, baiklah! Aku keluar! Tapi ingat, Kakak Yan, kau harus bertanggung jawab jika rumor ini menyebar ke seluruh Istana "​Qinglan tak sanggup lagi menahan rasa malu dan gejolak pening yang menghantam kepalanya. Tanpa membuang waktu untuk berpamitan, ia menyibak gaunnya dan melangkah lebar menerobos pintu kamar peraduan.​"Wu Yuehua! Berhenti! Kita belum selesai bicara!" seru Zhao Chengyan dari atas ranjang seraya berusaha melepaskan lilitan selimut sisa di kakinya.​Qinglan tidak memedulikan panggilan itu. Ia berlari kencang menelusuri selasar Paviliun Chengyan, mengabaikan tatapan heran para kasim yang berbaris di sepanjang lorong. Hatinya be

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status