LOGINWu Qinglan bisa melukis wajah jodoh siapa pun—kecuali jodohnya sendiri. Terlempar ke jaman kerajaan dan dikenali sebagai putri seorang pelukis istana yang dihukum mati, Qinglan bersumpah membersihkan nama ayahnya. Namun, pencarian kebenaran justru mengikat takdirnya dengan Lu Mingyu, mantan jenderal dingin yang seharusnya ia curigai, tetapi perlahan menjadi pria yang tak sanggup ia kehilangan. Ketika kuasnya akhirnya melukiskan Lu Mingyu sebagai jodohnya, Qinglan dihadapkan pada pilihan kejam: membebaskan nama ayahnya dengan mengkhianati Lu Mingyu, atau mempertahankan pria yang ditakdirkan untuknya, dengan mengorbankan kebenaran yang selama ini ia perjuangkan.
View More"Yuehua! Yuehua, bertahanlah!"
Di tengah paru-parunya yang terasa terbakar, sayup-sayup Wu Qinglan bisa mendengar suara teriakan seorang wanita. Pandangannya buram, dan tubuhnya terasa melayang di dalam air. Ia langsung terbelalak, namun sebelum sempat menyelamatkan dirinya sendiri, sebuah tangan kokoh sudah menariknya ke tepian daratan. Sesampainya di pinggiran berbatu yang licin, Qinglan dibaringkan lemas. Ia terengah-engah dengan dada naik turun tak beraturan. Dari balik pandangannya yang samar, ia melihat seorang perempuan muda seusianya merambat keluar dari air dengan susah payah. "Kau gila?!" bentakan keras mendadak memecahkan keheningan pikiran Qinglan. Perempuan berwajah pucat itu berdiri bertolak pinggang di depannya dengan napas tersengal-sengal. "Apa kau memang sengaja mau bunuh diri?! Jangan hanya gara-gara si 'Batang Kayu' itu menolak membuka kembali kasus ayahmu, kau jadi kacau dan melompat seperti ini!" Bunuh diri? Si Batang Kayu? Kasus ayahku? Qinglan membelalak. Pikirannya makin berkecamuk hebat. Siapa perempuan berpakaian aneh yang kini menatapnya dengan mata berkaca-kaca ini? "Yuehua!! Kau dengar tidak apa yang kukatakan?!" teriak perempuan itu lagi, suaranya melengking frustrasi. "Dan baju apa yang kau pakai ini? Pakaian aneh macam apa ini, untuk menyambut kematianmu?!" "Y-Yuehua?" ucap Qinglan pelan. "Siapa ... siapa Yuehua? Dan kau ... siapa?" Perempuan itu melotot mendengarnya, lalu berlutut meremas kedua bahu Qinglan. "Jangan berpura-pura hilang ingatan! Aku Xiaotao! Kau mau membuatku mati ketakutan, hah?" Qinglan memaksa kakinya yang gemetar untuk bangkit berdiri dari tanah basah. Ia menunduk, meneliti penampilannya sendiri dari ujung kepala hingga ujung kaki. Ia mengenakan t-shirt dan celana jeans yang robek di bagian lutut. Sepatu kets yang ia kenakan entah melayang ke mana. Namun, saat ia mengangkat kepala dan memutar pandangannya ke sekeliling, rasa panik mendadak mencekik lehernya. "Di mana ini ...?" gumam Qinglan dengan bibir gemetar. "Ini bukan jembatan Sungai Huang Tze ... Ini bukan kota!" "Sungai Huang Tze apa?" Xiao Ling menarik lengan baju Qinglan, matanya dipenuhi kebingungan sekaligus emosi. "Ini Sungai Qingxi di pinggiran Ibu Kota Chu! Yuehua, jawab aku! Kenapa kau memakai pakaian aneh seperti ini? Mana Hanfu-mu?" " Hanfu?" tanya Qinglan setengah bingung. "Luar biasa ...." Xiao Ling memotong ucapan Qinglan dengan tawa getir, menggelengkan kepala tak percaya. "Benturan di batu sungai tadi rupanya benar-benar merusak otakmu! Wu Yuehua, berhenti mengoceh hal asing yang tidak masuk akal!" "Tunggu, jangan sentuh aku!" teriak Qinglan saat Xiao Ling mencoba menarik lengannya lagi. "Dengar, aku serius. Hari ini aku baru saja menyelesaikan pameran lukisanku di Balai Seni Tianhua! Ini pasti mimpi buruk, kan? Coba pukul aku!" Plak! Sebuah tamparan pelan tapi cukup menyengat mendarat di pipi Qinglan. "Akh! Kenapa kau benar-benar menamparku?!" Qinglan meringis sambil memegang pipinya yang panas. "Kau sendiri yang menyuruhku memukulmu agar sadar!" seru Xiao Ling gemas. "Sekarang kau rasa sakitnya? Ini nyata! Kau Wu Yuehua, putri mendiang pelukis istana Wu Jian! Dan aku Xiaotao, teman baikmu yang sialnya harus ikut basah kuyup gara-gara aksi konyolmu ini!" Qinglan mematung. Rasa sakit di pipinya menjadi bukti tak terbantahkan. Pikirannya berputar liar. "Tapi pakaianku ...." Qinglan menunjuk celana jeans-nya sendiri dengan tangan gemetar. "Pakaian aneh itu entah dari mana kau dapatkan sebelum melompat ke sungai!" potong Xiao Ling cepat. Ia melepaskan jubah luarnya yang sedikit lebih kering lalu melemparnya ke bahu Qinglan. "Pakai ini untuk menutupi bagian celana anehmu itu. Kalau Jenderal Lu melihatmu seperti ini, dia makin punya alasan untuk menertawakanmu!" "Jenderal Lu?" tanya Qinglan bingung. "Si Batang Kayu yang kau tangisi itu!" Xiao Ling mendengus kesal. "Jenderal Lu Mingyu! Pria dingin tak berperasaan yang selalu menolak membuka kembali kasus ayahmu!" Qinglan melongo. Nama-nama itu terasa asing sekaligus menyeramkan di telinganya. Ia kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling dengan napas memburu. Tidak ada gedung pencakar langit, tidak ada jembatan beton berlapis baja, tidak ada deru mesin mobil yang lalu lalang, tidak ada kereta listrik, dan tidak ada satu pun pertanda peradaban modern abad ke-21. Di hadapannya kini terbentang pemandangan deretan rumah kayu beratap melengkung dengan struktur arsitektur kerajaan kuno. Orang-orang mengenakan pakaian tradisional hanfu dari berbagai tingkatan sosial, berbisik-bisik riuh memperhatikan mereka. Terlebih perempuan di depannya ini yang mengaku sebagai teman baiknya. Sensasi dingin merambat dari telapak kakinya yang basah menuju seluruh persendian tubuhnya. Qinglan membeku seketika. Sebuah kesadaran mengerikan mendadak menyengat otaknya, membuat napasnya tertahan di tenggorokan. Jangan-jangan ... aku terlempar masuk ke dalam salah satu lukisan karyaku sendiri?!Keesokan paginya, pendar hangat matahari yang menerobos celah tirai sutra emas membakar lembut kelopak mata Qinglan. Kepalanya berdenyut hebat, menyisakan rasa pening yang menusuk tajam di balik pelipis.Saat berniat memutar tubuhnya, Qinglan mendadak membeku kaku. Sebuah lengan tegap melingkar amat erat di pinggangnya.Qinglan menoleh secara perlahan dengan napas tertahan. Matanya seketika membelalak kaku. Ia terbaring di atas ranjang megah, tepat di dalam pelukan hangat Putra Mahkota Zhao Chengyan yang masih tertidur dengan deru napas teratur."Astaga ..., " bisik Qinglan parau.Qinglan terdiam sejenak, berusaha menenangkan jantungnya yang berdegup liar. Dengan jemari gemetar, ia mencoba menggeser lengan berat yang melingkar di pinggangnya. Namun bukannya melonggar, cengkeraman itu justru makin mengetat."Laki-laki ini ... bahkan dalam tidurnya pun sangat menyebalkan!" bisik Qinglan bersusah payah.Dengan cepat ia memeriksa keadaannya. Pakaian yang dikenakannya masih utuh dan
Malam kian melarut tatkala Qinglan melangkah perlahan menerobos temaram selasar. Seperti yang dikatakan Zhao Wen, langkah kakinya membawanya menuju taman di depan paviliun kediaman Putra Mahkota.Di sana, di bawah naungan pohon meihua yang bermekaran gundah, sosok Zhao Chengyan duduk menyendiri di atas bangku batu. Pendar redup dari lentera yang tergantung di dahan menerangi raut wajahnya yang kaku. Sebuah guci dan cangkir porselen berisi arak berada dalam genggamannya. Pria itu terus menenggak cairan keras tersebut dalam kesenyapan.Qinglan sempat ragu sejenak, menahan napas di balik pilar pualam. Namun keteguhan jiwa mendorong kakinya untuk tetap melangkah mendekati sang Putra Mahkota.Menyadari kehadiran seseorang, Zhao Chengyan menoleh samar. Manik matanya yang meredup oleh pengaruh alkohol menatap Qinglan. Pria itu tidak mengusirnya, tetapi juga enggan menyambutnya."Kau lagi ... perempuan iblis," maki Zhao Chengyan dengan suara parau, menumpahkan cercaannya seraya kembali m
Keheningan di Paviliun Taman terasa amat pekat setelah kepergian Putra Mahkota. Suara riak air dari kolam teratai dan embusan angin pagi menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar. Para kasim dan pelayan berdiri gemetar di sudut-sudut selasar, tak berani mengangkat kepala.Zhao Wen merosot di bangku pualam, menyapu air mata yang menggenangi pipinya seraya menatap gulungan lukisan kuda hitam di atas meja batu."Yuehua ..., " bisik Zhao Wen dengan suara bergetar pelan. "Kau ... kau benar-benar nekad. Belum pernah ada seorang pun di kekaisaran ini yang berani memegang tangan Kakak Yan, apalagi menentang amarahnya setajam itu."Qinglan memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang untuk meredakan denyut nyeri yang menjalar di lengan kirinya akibat gerakan mendadak tadi. Ketika ia membuka matanya kembali, binar di manik matanya tetap dingin dan tak tergoyahkan."Hamba tidak berniat merendahkan keagungan Yang Mulia Putra Mahkota," tutur Qinglan halus seraya merapikan ujung jubah lukisn
Pagi harinya, cahaya hangat matahari menyinari Paviliun Taman yang berdiri anggun di tengah kolam teratai. Qinglan melangkah dengan penuh keanggunan menyusuri selasar kayu yang mengular di tepi air. Di tangannya, ia membawa sebuah gulungan kanvas yang terbungkus rapi oleh kain sutra hitam. Di dalam paviliun, Zhao Wen sudah menunggu di samping meja pualam putih. Melihat kedatangan gurunya, wajah sang Putri seketika berbinar ceria, mengikis ketegangan yang sempat melintas di dahinya. "Selamat pagi, Yuehua! Apa yang kau bawa di dalam gulungan kain itu?" tanya Zhao Wen dengan nada suara penasaran yang tak bisa disembunyikan. Qinglan meletakkan gulungan itu di atas meja batu dengan sangat hati-hati, memastikan setiap sudutnya mendarat sempurna tanpa cela, lalu membukanya secara perlahan. "Hamba membawa sesuatu dari gudang tua semalam, Yang Mulia." Gumpalan kain pelindung tersingkap anggun, membentangkan sebuah lukisan kuda hitam jantan yang tampak begitu gagah menerobos hempasan












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews