ANMELDENMalam kian larut, tetapi lampu kerja di meja belajarnya masih menyala terang.Iruna duduk tegak di depan laptopnya, membingkai paras eloknya dengan kacamata berbingkai tipis bertangkai emas—kacamata anti-radiasi yang biasa ia kenakan saat harus menatap layar komputer berjam-jam. Pendar cahaya biru dari layar menyinari wajahnya yang tampak amat serius dan berfokus penuh.Jemari lenturnya bergerak lincah di atas papan ketik, menyusun modul dan materi kurikulum untuk murid-muridnya esok hari. Sesekali, gerak jarinya terhenti. Iruna merogoh tumpukan buku pelajaran Sekolah Dasar yang ia pinjam dari perpustakaan sekolah tadi siang.Dengan cermat, ia membalik lembaran kertas yang berbau khas itu, memindai soal-soal latihan yang relevan, lalu mencatat poin-poin penting untuk disesuaikan dengan tingkat pemahaman anak-anak kelas tiga. Keningnya berkerut halus saat membaca sebuah paragraf, berpikir sejenak menentukan metode penyampaian yang paling menyenangkan namun tetap berbobot.Tidak ada sed
Hari demi hari pun silih berganti.Perangkap halus yang dirajut Iruna di sekolah kian menancap dalam tanpa disadari siapapun. Di lingkungan sekolah, kedekatannya dengan Kirara berkembang begitu pesat dan alami. Bagi Kirara, Iruna bukan lagi sekadar guru cantik di kelasnya, melainkan sosok dewasa yang paling pengertian dan selalu tahu cara memanjakannya.Iruna dengan cepat mempelajari segala hal tentang gadis kecil itu—termasuk selera makannya. Begitu tahu Kirara sangat menyukai pasta carbonara, Iruna hampir setiap dua hari sekali membawakannya bekal khusus. Pasta dengan saus krim yang gurih, taburan keju melimpah, dan potongan daging yang gurih selalu sukses membuat Kirara tersenyum lebar setiap kali jam istirahat tiba."Enak banget, Tante Iruna! Lebih enak dari yang di restoran!" puji Kirara suatu sore di ruang kelas yang sepi, menyuap sendok terakhirnya dengan lahap.Bukan lagi panggilan formal “Ibu”, tetapi “Tante”. Persis seperti Kirara memanggilnya di depan rumah.Iruna terkekeh
Lonceng tanda istirahat berdentang nyaring, memicu sorak-sorai ceria anak-anak yang berhamburan keluar kelas menuju area bermain. Dalam sekejap, ruang kelas preschool itu menjadi hening dan lengang.Iruna tersenyum tipis menyaksikan barisan kursi mungil yang kini kosong, kecuali satu. Kirara masih duduk manis di mejanya, mematuhi rahasia kecil yang sudah mereka sepakati pagi tadi.Iruna melangkah mendekat sambil membawa kotak bekal tingkat dua berwarna pastel. Ia menarik sebuah kursi kecil dan duduk tepat di hadapan Kirara."Anak pintar," puji Iruna halus, menyibak helai rambut Kirara ke belakang telinganya. Ia membuka tutup kotak bekalnya, memamerkan susunan sandwich telur dengan pinggiran yang dipotong rapi, potongan buah stroberi berbentuk hati, dan kue mangkuk cokelat berukuran mungil. "Sesuai janji Ibu, ini untuk Kirara."Mata Kirara berbinar-binar. "Wah... bagus banget! Bu Iruna bikin sendiri?""Tentu saja. Khusus untuk Kirara," jawab Iruna seraya menyodorkan sepotong sandwich k
Sinar matahari pagi yang menembus celah gorden terasa menyengat di mata Arlan.Ia terbangun dengan kepala pening dan dada yang sesak. Sisa-sisa napas dari mimpi gila semalam masih membendung di tenggorokannya, membakar bayangan Rayyana yang ternoda oleh paras Iruna. Arlan meremas sprei kasurnya kencang, menatap jemarinya yang semalam seolah benar-benar menyentuh kulit polos itu. Rasa canggung yang teramat sangat dan kelelahan mental menghantamnya sekaligus—membuatnya merasa kotor pada ingatannya sendiri tentang mantan istrinya.Dengan langkah kaku dan berat, Arlan memaksa tubuhnya bangkit. Di depan cermin kamar mandi, ia menatap bayangannya sendiri: lingkaran hitam di bawah mata, wajah pucat, dan tatapan mata yang bergetar penuh rasa bersalah. Ia membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin, berusaha mengikis sisa sentuhan imajiner yang masih membekas kaku di jemarinya."Kuasai dirimu, Arlan... kamu harus fokus," bisiknya kaku pada pantulan cermin.Setelah mengenakan kemeja kerja
Iruna berdiri bergeming di balik tirai. Senyum puas mengembang perlahan di bibirnya saat diam-diam mengintip ke arah rumah sebelah. Sebuah kekehan halus lolos begitu saja dari sela jemarinya—renyah, namun menyimpan kegilaan yang samar.Bayangan raut wajah Arlan berputar manis di kepalanya. Mulai dari gestur kaku, ekspresi terkejut yang mendadak buyar menjadi kebingungan kikuk, hingga sepasang mata yang membelalak lebar. Jantung Iruna berdesir hebat tiap kali mengingat detik-detik itu.Arlan mungkin tidak menyadarinya, tetapi pendar lampu jalan sempat menyingkap rona merah yang samar di kedua pipinya. Iruna menggigit bibir bawahnya pelan, lalu perlahan menyusuri lekuk tubuhnya sendiri di balik gaun malam yang tipis—merasakan tiap sentuhan kulitnya dengan napas yang makin memburu.“Ah… Arlan…” desahnya parau dan lembut pada kegelapan kamar.Tentu saja Iruna tahu persis apa yang sedang ia lakukan. Ia sangat sadar apa yang ia pamerkan, dan pemandangan apa yang baru saja meracuni pikiran p
Entah sudah berapa lama ia berdiri diam di bawah air pancuran. Pakaian di tubuhnya sudah melekat basah kuyup, sementara gemercik air dingin terus menerus menghantam kepala dan pundaknya. Ia sudah mencoba mengatur napasnya yang patah-patah, bahkan menghitung domba di dalam kepalanya—satu, dua, seratus—hanya agar bayangan Iruna pergi dari benaknya.Namun, miliknya di bawah sana tidak kunjung tenang.Seolah-olah benda itu memiliki otaknya sendiri, menolak untuk tunduk pada logika dan rasa jijiknya. Arlan frustrasi bukan main. Ia mengusak wajahnya kasar, menyapu air pancuran dari matanya seraya menahan geraman pelan di tenggorokan. Rasa sesak dan tekanan di bawah celananya sangat nyata, berdenyut kian menyiksa.Dengan jemari yang gemetar dan basah, ia akhirnya melonggarkan celananya, menariknya sedikit turun untuk memberikan ruang bernapas.Ada apa dengannya?Kenapa miliknya tiba-tiba bangun hanya karena melihat tubuh Iruna? Apakah ia juga mulai tidak waras? Apakah otaknya sudah terkontam







