Share

113. Problem Internal

Author: Blue Rose
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-23 22:22:42
"Saya--"

NGIIIING!

Dengung tinggi dari pengeras suara seketika memotong kalimat Meghan, bergema keras membelah ruang Ballroom Mansion yang megah.

Ratusan tamu undangan di mana terdiri dari para pejabat, politisi, jajaran pengacara papan atas, hingga jurnalis media ternama--seketika terdiam. Bisik-bisik penasaran mulai kasak-kusuk memenuhi ruangan.

Sorot mata Brandon berkilat dingin bagaikan mata pisau. Tangannya yang menggenggam jemari Lilis makin mempererat pegangannya, menyalurkan perlindungan
Blue Rose

Semoga syuka😘

| 1
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter
Mga Comments (2)
goodnovel comment avatar
Blue Rose
Akal-akalan Brandon itu mah wkwk biar Lilis tenang, aslinya yah belum
goodnovel comment avatar
lullaby_dreamy
ktnya mama n' kakak Brandon udh merestui di bab yg sblm²nya . kog malah skrg keliatan kaya masi aja nolak ?!
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   128. Malam Pertama

    Di kamar utama mansion yang terletak di lantai dua, Lilis baru saja selesai membersihkan riasan wajahnya dan mengganti gaun resepsinya yang berat dengan gaun tidur berbahan sutra lembut berwarna putih gading, dipadukan dengan cardigan panjang yang senada.Hijanya diganti dengan yang simpel dan nyaman, menutupi rambutnya namun tetap memancarkan kehangatan.Lilis baru saja mengoleskan pelembab di tangannya ketika suara pintu kamar dibuka pelan dari luar.Lilis menoleh. Matanya membelalak kaget saat melihat Brandon melangkah masuk dan langsung mengunci pintu rapat-rapat dari dalam."Lho, Kak?" tanya Lilis heran. "Kok udah naik ke kamar? Pesta di bawah kan belum selesai? Teman-teman Kakak dari luar negeri masih banyak di taman."Brandon tidak langsung menjawab. Ia melepas jas tuxedo-nya, menghempaskannya ke atas sofa, lalu melangkah mantap mendekati Lilis. Matanya yang tajam mengunci pandangan istrinya tanpa ampun."Biarkan Dion yang mengurus mereka," sahut Brandon seraya mengikis jarak di

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   127. Lebih dari Sekedar Pelengkap

    Jauh di sebuah kamar sempit bermeja kayu kusam di Taiwan, layar ponsel pintar berlayar retak menyala terang. Ponsel itu menampilkan siaran langsung dari kanal berita hiburan papan atas Indonesia yang menyiarkan gemerlap intimate reception malam hari pernikahan Brandon dan Lilis.Di depan layar kecil itu, Wulan duduk membeku di atas tempat tidur lipatnya. Tangannya yang kasar bekas memeras kain pel mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. Matanya yang sembab menatap tajam ke arah layar, memancarkan rasa tidak terima dan dengki yang meremas dadanya hingga sesak."Kenapa harus Mbak Lilis?!" geram Wulan dengan suara gemetar penuh dendam. "Kenapa dia bisa hidup semewah itu, sementara aku dibuang ke sini jadi pembantu?!"Di layar kaca, pembawa acara gosip terus berkicau dengan nada penuh kekaguman."Ya, pemirsa! Pernikahan sang pengacara kondang Brandon Sebastian dan Lilis malam ini benar-benar menyita perhatian publik. Keanggunan Lilis yang anggun serta keteguhan cinta mereka terbukti ber

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   126. Pernikahan yang Syahdu

    Pagi itu, halaman mansion megah milik Brandon disulap menjadi lorong suci yang penuh ketenangan. Udara segar merambat pelan di antara jajaran bunga lily putih yang mekar sempurna, membingkai area akad nikah outdoor dengan keanggunan yang bersahaja.Tidak ada dentuman musik yang bising. Hanya alunan musik akustik lembut yang menyambut para tamu undangan khusus--keluarga, sahabat dekat, serta rekan bisnis terpilih.Mansion yang telah mereka tempati bersama anak-anak selama sembilan bulan terakhir itu kini menjadi saksi bisu puncak perjalanan cinta mereka. Tempat yang semula hanya sebuah bangunan megah, kini benar-benar menjadi rumah yang hangat."Pak Brandon, rombongan penghulu sudah siap di area akad," bisik Dion cepat, merapikan posisi pin di jas hitam elegan milik atasannya.Brandon mengangguk pelan. Pria itu menghembuskan napas panjang, mencoba meredakan detak jantungnya yang berpacu jauh lebih cepat daripada saat ia menghadapi sidang terbesar dalam kariernya."Saya siap, Dion," jawa

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   125. Jelang Pernikahan

    Brandon tersenyum dengan senyum yang selalu muncul setiap kali nama calon istrinya disebut."Lilis adalah orang pertama yang saya ajak bicara kemarin malam di rumah sakit," jawab Brandon. "Dan tahu apa reaksinya?""Mbak Lilis marah?" tebak Dion."Tidak," geleng Brandon pelan. "Lilis justru memegang tangan saya dan berkata bahwa keputusan untuk memaafkan adalah keputusan yang paling bermartabat. Dia bilang, dia tidak ingin pernikahan kami dibangun di atas rasa dendam pada masa lalu orang lain. Lilis sangat memahami jalan pikiran saya."Dion menggeleng-gelengkan kepalanya terkagum-kagum. "Kalian berdua memang benar-benar pasangan yang sepadan. Yang satu punya keteguhan hati sekuat baja, yang satu lagi punya jiwa sebesar samudra.""Makanya saya sangat mencintainya," sahut Brandon terkekeh pelan. Pria itu berdiri dari kursinya, merapikan kancing jas mewahnya. "Sekarang, karena urusan Julia sudah selesai sepenuhnya dan tidak ada lagi ancaman yang tersisa, mari kita fokus ke hal yang paling

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   124. Dia Masih Cukup Baik

    Keputusan Brandon setelah pulih dari perawatan intensif mengejutkan banyak pihak, terutama Dion. Di saat Dion sudah menyiapkan berkas tuntutan hukum berlapis atas dugaan percobaan pelecehan, peracunan, dan pencemaran nama baik, Brandon justru memilih melangkah ke arah yang sama sekali tak disangka.Pagi itu, di ruang rapat pribadi firma hukum Sebastian, atmosfer terasa amat tegang. Tuan Arthur Alexis—ayah dari Julia sekaligus konglomerat industri keuangan ternama--duduk dengan wajah pucat dan bahu merosot. Di sampingnya, Julia berdiri dengan mata sembab dan napas memburu.Perumpamaan keanggunan wanita kelas atas itu telah runtuh sepenuhnya, digantikan oleh keputusasaan yang brutal."Brandon, tolong..." sapa Arthur dengan suara gemetar, sangat jauh dari kesan tegas yang biasa ia tampilkan di hadapan publik. "Saya memohon atas nama keluarga besar Alexis. Jangan hancurkan masa depan putri saya. Jika masalah ini masuk ke ranah hukum dan media, nama baik keluarga kami akan hancur berantakan

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   123. Hidup Sekali Lagi

    Suara debuman pintu yang roboh disusul langkah kaki tergesa menggeser keheningan penthouse suite. Dion melangkah masuk dengan mata memikat tajam. Pemandangan di atas ranjang membuat rahangnya mengeras seketika.Julia yang panik mencoba merapikan pakaiannya, sementara Brandon terbaring lemas dengan napas memburu dan pelipis bersimbah keringat dingin."Nona Julia," panggil Dion dengan napas terengah-engah. "Tindakan Anda malam ini adalah kejahatan berat."Dua pengawal berbadan tegap langsung pasang badan menahan Julia yang mencoba histeris, sementara Dion berlutut di tepi ranjang. Ia dengan cepat menyelimuti tubuh bosnya menggunakan jas tebal yang dibawanya.Saat Dion memapah tubuh jangkung itu berdiri, Brandon yang sudah berada di ambang kesadaran mencengkeram lengan baju Dion dengan sisa kekuatannya. Wajahnya yang memerah dipenuhi bercak merah keikutsertaan obat dan paksaan Julia."D-Dion..." bisik Brandon, suaranya serak dan sangat berat. "Jangan... jangan apa-apa kan dia sekarang...

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status