แชร์

50. Lilis 2 - Rendy 1 (2-1)

ผู้เขียน: Blue Rose
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-22 22:49:56
"Cukup!" tegas Hakim Ketua sambil mengetukkan palu dua kali. "Sikap Saudara Tergugat yang tidak kooperatif dan menunjukkan temperamen tinggi di ruang sidang akan dicatat sebagai pertimbangan utama Majelis Hakim."

Rendy tersentak. Ia baru sadar bahwa jebakan emosinya sendiri telah melilit lehernya rapat-rapat. Wajahnya seketika pucat pasi saat ia kembali terduduk lemas di kursinya.

Setelah melalui pemeriksaan bukti-bukti surat tambahan dari pihak Brandon yang tidak sanggup dibantah oleh Rendy,
Blue Rose

Gimana tanggapan kalian sampe bab 50 ini? 😘 Kritik saran dipersilahkan

| 3
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   103. Terakhir, Kak!

    Puji mendongak, menyapu air matanya dengan lengan baju yang kotor. "Lilis... Kamu mau maafin Ibu, Nak? Kamu mau bawa Ibu tinggal di rumah mewah ini?""Nggak, Bu. Aku tidak akan membawa Ibu tinggal di sini," jawab Lilis jujur dan lugas.Raut wajah Puji seketika berubah kaget. "Lilis! Kamu tega sama ibu kandungmu sendiri?! Ibu ini lapar!""Ibu lapar karena keputusan Ibu sendiri yang memilih membela Wulan dan mengusir aku dulu," balasan Lilis membuat Puji bungkam. Lilis melanjutkan, "Aku gak akan lagi campur tangan dalam urusan kehidupan Ibu sehari-hari. Aku bukan lagi wadah yang bisa Ibu peras dan tempat Ibu melampiaskan rasa sakit masa lalu Ibu."Puji kembali menangis meraung-raung, mencoba mengetuk hati nurani Lilis. "Lilis, ampuni Ibu... Ibu kualat... Ibu harus tinggal di mana kalau bukan sama kamu?"Lilis menatap ibunya dengan tatapan logis yang sudah ia pertimbangkan secara matang sejak lama. Ini adalah ide yang pernah terlintas di pikirannya saat melihat potensi lahan dan kemandir

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   102. Berusaha Kuat

    Suara teriakan dan tangisan Puji di balik pagar besi tempa setinggi tiga meter itu kian memecah keheningan kompleks. Lilis melangkah berdampingan dengan Brandon menuju gerbang utama. Setiap langkah terasa begitu berat, seolah ada beban ribuan ton yang menahan kakinya.Ketika gerbang kecil dibuka oleh Pak Agus dan dua anggota tim keamanan bertubuh tegap, pemandangan di depan mata seketika menghantam dada Lilis tanpa ampun.Puji terduduk lemas di atas aspal dingin. Pakaian yang dikenakannya kusut, kotor, dan berbau keringat. Rambutnya yang mulai memutih berantakan tak terurus. Wajahnya yang dulu selalu memancarkan keangkuhan kini cekung, pucat, dan dibasahi air mata bercampur debu. Wanita itu benar-benar tampak seperti seorang gembel yang menggelandang di jalanan.Deg!Jantung Lilis serasa berhenti berdetak. Rasanya amat tersayat dan terpukul melihat wanita yang melahirkannya berada dalam kondisi seburuk itu. Bayangan masa lalu mendadak berputar cepat di kepala Lilis seperti rekaman vid

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   101. Puji Datang

    "Iya, Kak..." Lilis mendongak dengan pandangan sayu. "Maksud aku... keluarga Kak Brandon. Nyonya Meghan dan Mbak Nathalia... Apakah beliau berdua benar-benar sudah bisa menerima aku? Aku cuma takut, kalau acara pertunangan ini malah bikin hubungan Kakak sama keluarga Kakak makin renggang."Brandon menyunggingkan senyum miring yang penuh ketenangan. "Lilis, dengarkan saya. Mami dan Mbak Nathalia memang keras kepala, tapi mereka tahu betul watak saya. Saya sudah tegaskan ke mereka, tidak ada wanita lain yang akan mengisi rumah ini selain kamu. Mbak Nathalia bahkan kemarin sempat menelepon saya dan menanyakan ukuran gaun kamu untuk acara nanti. Jadi kamu tidak perlu cemas, ya?"Lilis bernapas lega, tersenyum manis mendengar penjelasan itu. Namun, detik berikutnya, raut wajah Lilis kembali muram."Lalu... kalau dari pihak aku, Kak?" bisik Lilis pelan, ada nada getir yang tak bisa disembunyikan dalam intonasinya. "Aku... aku bingung. Secara adat dan tata krama, pernikahan atau pertunangan

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   100. Restu Ibu

    "Kamu anak durhaka, Wulan!" jerit Puji, air matanya menetes meratapi nasibnya.Pikirannya pun melayang pada sosok Lilis. Anak sulungnya yang dulu selalu ia sia-siakan, ia peras keringatnya, dan ia biarkan menderita sendirian demi membela Wulan. Dulu, saat Lilis masih tinggal bersama mereka, rumah ini selalu bersih dan rapi. Makanan lezat selalu tersaji tepat waktu. Lilis selalu berbakti, mengalah, dan merawat ibunya dengan penuh keikhlasan meski sedang hamil. Bahkan Lilis masih bekerja dengan tekun. Namun, demi membela Wulan yang selingkuh dengan suami kakaknya sendiri, Puji tega menghancurkan hidup Lilis. Kini, karma itu dibayar tunang tanpa diskon."Lilis..." tangis Ibu Puji pecah, meraung di tengah ruang makan yang kotor. "Maafin Ibu, Lilis... Ibu kualat sama kamu! Ibu buang anak yang tulus demi membela anak iblis seperti Wulan!"Wulan yang melihat ibunya menangis meraung-raung justru memutar bola matanya jijik."Alah, gak usah bawa-bawa nama Mbak Lilis!" cibir Wulan pedas. "Mbak

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   99. Neraka Rumah Mewah

    Brandon yang baru saja pulang dari kantor melangkah masuk dengan setelan jas yang sudah sedikit melonggar di bagian kerah.Melihat Lilis sedang memegang ponsel, Brandon langsung mendekat dan duduk di samping Lilis tanpa canggung. Pria itu menyandarkan kepalanya di bahu Lilis, lalu melirik ke layar ponsel yang masih menyalakan panggilan video Yura."Kenapa panggil-panggil nama gue, Ra?" tanyanya datar namun santai pada adiknya.Yura di layar ponsel mendadak memutar bola matanya lelah. "Aduh, Yang Mulia Pak Pengacara! Tolong ya, Instastory-nya dikondisikan! Kasihan tuh para penggemar lo pada patah hati nasional di internet!"Brandon justru menyunggingkan senyum miringnya yang penuh kemenangan. Ia meraih tangan kanan Lilis, membawanya ke depan kamera ponsel, memperlihatkan cincin batik yang melingkar indah di jari manis Lilis."Biarkan saja mereka patah hati," sahut Brandon santai namun terdengar sangat posesif. "Yang penting Bidadari saya tidak patah hati. Iya kan, Sayang?"Brandon berp

  • Silakan Ambil Suami Berengsekku, Dik!   98. Kasmaran

    Pipi Lilis seketika panas memerah hingga ke telinga. Ia menyembunyikan wajahnya di balik telapak tangan, tidak menyangka respon Brandon atas jawaban lamarannya akan selebay dan seheboh ini."Lis! Hallo, Lilis! Lo masih di situ kan?" panggil Yura dari layar ponsel, menangkap perubahan warna di wajah sahabatnya. "Tunggu... bentar deh. Muka lo kok langsung merah padam gitu? Lis... jangan bilang..."Yura membelalakkan matanya saat sebuah kesadaran menghantam pikirannya. Sebagai sosok yang menjadi saksi perjuangan cinta masa lalu Brandon dan orang yang membantu Lilis keluar dari pernikahan toxic-nya dulu, Yura paham betul apa yang bisa membuat Brandon sebahagia ini."Lis! Lo... lo udah terima lamarannya si Brandon ya?!" tebak Yura heboh, menunjuk-nunjuk layar ponselnya.Lilis menggigit bibirnya, mengangguk pelan dengan wajah makin merah. "I-iya, Ra... Semalam.""OMG! Lilis!" jerit Yura histeris sampai-sampai suara melengkingnya terdengar ke seluruh ruangan. "Beneran?! Akhirnya lo mau juga

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status