Home / Fantasi / Silsilah Naga Emas / 1 - Desa di Antara Pegunungan

Share

Silsilah Naga Emas
Silsilah Naga Emas
Author: Lann

1 - Desa di Antara Pegunungan

Author: Lann
last update Last Updated: 2025-02-02 21:39:04

Angin musim semi berbisik lembut di antara pepohonan pinus yang menjulang tinggi, membawa aroma tanah basah dan dedaunan segar. Matahari pagi menyelinap melalui celah-celah dahan, menciptakan pola cahaya yang menari-nari di atas jalanan berbatu menuju desa kecil bernama Qingyun. Terletak di kaki pegunungan Xuanwu yang curam, desa ini adalah tempat yang hampir tak tersentuh oleh dunia luar. Rumah-rumah kayu sederhana dengan atap jerami tersebar di sepanjang lereng bukit, dikelilingi oleh ladang-ladang kecil yang subur dan sungai kecil yang mengalir deras.

Li Zhen, seorang pemuda berusia tujuh belas tahun, berdiri di depan kuil tua yang terletak di ujung desa. Kuil itu sudah lama ditinggalkan, namun tetap menjadi bagian dari tradisi lokal. Setiap awal musim semi, penduduk desa akan berkumpul untuk membersihkan kuil sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur mereka. Pada hari itu, tugas membersihkan kuil jatuh kepadanya—sebuah tugas yang tidak pernah ia keluhkan, meskipun ia lebih suka menghabiskan waktunya memancing di sungai atau menjelajahi hutan.

Kuil itu tampak seperti bangunan yang terlupakan oleh waktu. Dinding-dindingnya yang dulunya kokoh kini retak dan ditumbuhi lumut hijau tebal. Atapnya yang terbuat dari genting tanah liat telah runtuh di beberapa bagian, memperlihatkan langit biru yang cerah. Di dalam kuil, patung-patung batu yang menggambarkan dewa-dewa kuno berdiri diam, tertutup debu dan sarang laba-laba. Patung utama, yang diyakini sebagai representasi dari Dewa Langit Timur, masih tegak meskipun satu lengannya telah patah dan hilang entah ke mana.

Li Zhen menghela napas panjang saat ia mulai bekerja. Ia mengambil sapu bambu yang dibawanya dari rumah dan mulai menyapu lantai kuil yang dipenuhi daun-daun kering dan serpihan kayu lapuk. Suara sapu bergesekan dengan lantai batu menciptakan irama monoton yang membuat pikirannya melayang. Ia memikirkan tentang masa depannya—tentang apakah ia akan tetap tinggal di desa ini sepanjang hidupnya atau meninggalkannya untuk menjelajahi dunia yang lebih luas. Namun, setiap kali ia mempertimbangkan untuk pergi, kenangan tentang orangtuanya yang meninggal ketika ia masih kecil selalu menahannya. Mereka adalah satu-satunya keluarga yang ia miliki, dan meskipun mereka sudah tiada, desa ini tetap menjadi satu-satunya tempat yang ia anggap rumah.

Setelah beberapa saat, Li Zhen berhenti menyapu dan berjongkok di dekat salah satu sudut kuil. Matanya tertuju pada sebuah batu besar yang tergeletak di bawah patung Dewa Langit Timur. Batu itu tampak tidak biasa; permukaannya halus dan berkilauan meskipun tertutup debu tipis. Rasa penasaran menguasainya, dan ia mulai membersihkan batu itu dengan tangannya. Saat debu mulai hilang, ia menyadari bahwa batu itu bukanlah batu biasa—melainkan sebuah kotak batu kecil dengan ukiran-ukiran aneh di permukaannya.

Jantung Li Zhen berdebar kencang saat ia mencoba membuka kotak itu. Awalnya, tutupnya terasa sangat rapat, seolah-olah telah disegel selama ratusan tahun. Namun, setelah beberapa upaya keras, kotak itu akhirnya terbuka dengan bunyi klik pelan. Di dalamnya, ia menemukan gulungan kertas tua yang rapuh, hampir robek karena usianya. Gulungan itu tampak sangat berharga, dengan huruf-huruf kuno yang tertulis menggunakan tinta emas yang samar namun masih bisa terbaca.

Li Zhen memandangi gulungan itu dengan mata terbelalak. Ia tidak mengerti apa arti tulisan-tulisan tersebut—mereka menggunakan aksara yang bahkan tidak pernah ia lihat sebelumnya. Namun, ada sesuatu tentang gulungan itu yang membuatnya merasa aneh. Seolah-olah gulungan itu memiliki kehidupan sendiri, seolah-olah ia sedang menunggu seseorang untuk menemukannya.

Ia membawa gulungan itu ke luar kuil dan duduk di bawah sinar matahari. Sambil memegang gulungan itu dengan hati-hati, ia mencoba memahami makna dari simbol-simbol yang tertulis di atasnya. Beberapa di antaranya tampak seperti gambar binatang—naga, burung, dan ular—sedangkan yang lainnya tampak seperti peta atau diagram. Meskipun ia tidak dapat membacanya sepenuhnya, ada satu kalimat yang tertulis dalam aksara modern di bagian bawah gulungan: "Hanya mereka yang layak akan menemukan jalan menuju Silsilah Naga Emas."

Kalimat itu membuat Li Zhen merenung. Apa itu Silsilah Naga Emas? Mengapa gulungan ini ada di kuil tua ini? Dan mengapa ia yang menemukannya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar-putar di benaknya, namun ia tidak mendapatkan jawaban apa pun. Yang ia tahu adalah bahwa gulungan ini bukanlah barang biasa. Ada sesuatu yang istimewa tentangnya, sesuatu yang mungkin bisa mengubah hidupnya selamanya.

Saat sore mulai tiba, Li Zhen memutuskan untuk membawa gulungan itu pulang. Ia membungkusnya dengan kain bersih dan menyimpannya di dalam tas kecil yang biasa ia gunakan untuk membawa alat-alat pertanian. Sepanjang perjalanan pulang, ia tidak bisa berhenti memikirkan tentang gulungan itu. Pikirannya dipenuhi oleh berbagai kemungkinan—mungkin gulungan itu adalah petunjuk menuju harta karun kuno, atau mungkin itu adalah artefak magis yang bisa memberikan kekuatan luar biasa. Apapun itu, ia yakin bahwa penemuannya ini adalah awal dari sesuatu yang besar.

Ketika ia sampai di rumahnya, matahari sudah mulai tenggelam di balik pegunungan. Cahaya oranye memenuhi langit, menciptakan pemandangan yang indah namun juga sedikit suram. Li Zhen duduk di meja kayu sederhana di ruang tengahnya, menyalakan lampu minyak kecil, dan mulai memeriksa gulungan itu lagi. Kali ini, ia mencoba mencocokkan simbol-simbol kuno dengan buku-buku tua yang ia temukan di loteng rumahnya. Buku-buku itu adalah warisan dari orangtuanya, dan meskipun banyak di antaranya sudah rusak karena dimakan waktu, beberapa halaman masih bisa dibaca.

Setelah beberapa jam, ia berhasil memahami sebagian kecil dari tulisan-tulisan itu. Ternyata, gulungan itu adalah bagian dari rangkaian petunjuk yang mengarah pada lokasi Silsilah Naga Emas. Namun, petunjuknya sangat rumit dan membutuhkan pengetahuan tentang sejarah kuno serta mitologi. Li Zhen menyadari bahwa ia tidak bisa memecahkan kode ini sendirian. Ia membutuhkan bantuan seseorang yang lebih berpengalaman—seseorang yang mungkin tahu lebih banyak tentang legenda-legenda kuno.

Namun, malam itu, ia memutuskan untuk tidak memberi tahu siapa pun tentang penemuannya. Ia merasa bahwa gulungan ini adalah rahasia yang harus ia jaga sendiri, setidaknya untuk saat ini. Ia menyimpan gulungan itu di bawah kasurnya, berharap bahwa esok hari akan membawa jawaban atas semua pertanyaannya.

Malam itu, Li Zhen tidur dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ia merasa gembira karena telah menemukan sesuatu yang begitu istimewa. Namun, di sisi lain, ia juga merasa cemas—seolah-olah ia baru saja membuka pintu menuju dunia yang tidak ia kenal, dunia yang penuh dengan misteri dan bahaya.

Saat Li Zhen terbaring di atas kasur tipisnya, matanya terbuka lebar menatap langit-langit kayu yang remang-remang. Suara jangkrik malam dari luar jendela kecil rumahnya terdengar seperti bisikan misterius, mengiringi pikirannya yang semakin gelisah. Gulungan tua itu, yang ia simpan dengan hati-hati di bawah kasurnya, seolah memiliki kehidupan sendiri. Ia bisa merasakan getaran samar-samar dari gulungan itu—sebuah energi halus yang membuat bulu kuduknya berdiri. Apakah ini hanya imajinasinya? Ataukah gulungan itu benar-benar menyimpan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar petunjuk biasa?

Tiba-tiba, suara aneh terdengar dari arah hutan di belakang rumahnya. Itu bukan suara angin atau binatang liar—melainkan derap langkah cepat yang teratur, seolah-olah ada seseorang atau sesuatu yang mendekat dengan tujuan tertentu. Langkah-langkah itu semakin dekat, dan Li Zhen bisa merasakan denyut jantungnya semakin cepat. Ia bangkit dari tempat tidur dengan ragu-ragu, mencoba memastikan apakah ia hanya berhalusinasi. Namun, suara itu semakin jelas—dan semakin mengancam.

Ia melangkah pelan menuju jendela kecil, berusaha melihat kegelapan malam di luar. Hanya ada bayangan pohon-pohon yang bergoyang tertiup angin, namun sesuatu terasa tidak beres. Udara di sekitarnya terasa lebih dingin, seolah-olah seluruh desa diselimuti oleh awan kelabu yang tak terlihat. Kemudian, ia melihatnya—sekilas bayangan hitam yang bergerak cepat di antara pepohonan. Bayangan itu tidak seperti manusia biasa; bentuknya lebih ramping, lebih gesit, dan sepertinya bergerak tanpa suara sama sekali. Siapa mereka? Apa yang mereka cari?

Li Zhen mundur beberapa langkah dari jendela, napasnya tersengal-sengal. Matanya beralih ke sudut ruangan, ke tempat ia menyembunyikan gulungan itu. Apakah mereka datang untuk gulungan tersebut? Bagaimana mereka bisa tahu tentang keberadaannya? Pikiran-pikiran itu berkecamuk dalam benaknya, membuatnya semakin panik. Ia harus bertindak cepat, tetapi apa yang harus dilakukan? Jika ia keluar rumah, ia mungkin akan langsung bertemu dengan makhluk-makhluk misterius itu. Namun, jika ia tetap tinggal di sini, mereka mungkin akan menemukan gulungan itu juga.

Sebelum ia sempat memutuskan, pintu depan rumahnya tiba-tiba bergetar keras, seolah-olah seseorang sedang mencoba mendobraknya. Suara itu membuat tubuhnya membeku. Tidak ada orang lain di rumah ini selain dirinya. Ia adalah satu-satunya yang tinggal di sini sejak orangtuanya meninggal. Lalu siapa yang berani masuk ke rumahnya di tengah malam begini? Dengan tangan gemetar, ia meraih sapu bambu yang biasa ia gunakan untuk membersihkan kuil sebagai senjata seadanya. Ia berdiri di dekat pintu, siap menghadapi apa pun yang akan masuk.

Namun, saat pintu mulai retak karena dorongan kuat dari luar, ia mendengar suara aneh—seperti bisikan yang tak terdengar jelas, namun menusuk langsung ke dalam pikirannya. "Serahkan gulungannya," ujar suara itu, rendah dan dingin, seolah-olah berasal dari alam lain. "Jangan coba-coba melawan kami."

Li Zhen terperangah. Mereka benar-benar datang untuk gulungan itu! Tapi bagaimana mereka bisa tahu? Ia belum memberi tahu siapa pun tentang penemuannya, bahkan kepada tetua desa sekalipun. Apakah gulungan itu memiliki cara tersendiri untuk memanggil mereka yang haus kekuasaan? Ataukah ada mata-mata di desa ini yang telah mengamati setiap gerak-geriknya?

Tanpa pikir panjang lagi, ia meraih gulungan itu dari bawah kasur dan memasukkannya ke dalam tas kecilnya. Ia harus pergi—sekarang juga. Ia tidak tahu ke mana harus melarikan diri, tapi ia tahu bahwa ia tidak bisa membiarkan gulungan itu jatuh ke tangan orang-orang misterius ini. Dengan napas tersengal-sengal, ia membuka jendela kecil di belakang rumahnya dan melompat keluar, berharap bahwa kegelapan malam akan menjadi perlindungannya.

Namun, begitu kakinya menyentuh tanah, ia menyadari bahwa ia tidak sendirian. Bayangan-bayangan hitam itu sudah mengepungnya dari segala arah, bergerak cepat seperti hantu. Mereka tidak berbicara, tidak mengeluarkan suara apa pun, namun kehadiran mereka begitu nyata—begitu mengancam. Salah satu dari mereka melangkah maju, dan Li Zhen bisa melihat wujudnya dengan lebih jelas di bawah sinar bulan yang redup. Makhluk itu mengenakan jubah hitam panjang dengan tudung yang menutupi wajahnya. Di tangannya, ia memegang pedang pendek yang berkilauan dengan cahaya biru aneh.

"Kami tidak ingin menyakitimu," kata makhluk itu dengan suara yang sama dinginnya seperti sebelumnya. "Serahkan gulungan itu, dan kami akan pergi."

Li Zhen mundur beberapa langkah, tangannya masih erat memegang tas kecil yang berisi gulungan itu. "Apa yang kalian inginkan dariku?" tanyanya, suaranya bergetar. "Apa yang ada di gulungan ini?"

Makhluk itu tidak menjawab. Sebagai gantinya, ia mengangkat pedangnya dan melangkah lebih dekat. Li Zhen tahu bahwa ia tidak punya pilihan lain. Dengan semua keberanian yang ia miliki, ia berbalik dan berlari secepat mungkin ke arah hutan. Napasnya terengah-engah, kakinya terpeleset beberapa kali di tanah basah, namun ia tidak berhenti. Ia mendengar suara langkah-langkah cepat di belakangnya—mereka mengejarnya.

Hutan di malam hari tampak seperti labirin gelap yang tak berujung. Pohon-pohon tinggi berdiri seperti penjaga sunyi, cabang-cabangnya saling bertautan membentuk atap alami yang menutupi langit. Li Zhen berlari tanpa arah, hanya mengikuti instingnya untuk menjauh dari para pengejarnya. Namun, semakin jauh ia berlari, semakin ia merasa bahwa ia tidak sendirian. Ada sesuatu—atau seseorang—yang mengamati setiap gerakannya dari balik bayang-bayang.

Tiba-tiba, ia mendengar suara lain—suara yang lebih lembut, lebih manusiawi. "Ke sini!" panggil suara itu, nyaris tak terdengar di antara deru napasnya. Li Zhen berhenti sejenak, mencoba mencari sumber suara tersebut. Di antara pepohonan, ia melihat sosok seseorang melambaikan tangan ke arahnya. Tanpa ragu, ia mengikuti arah lambaian itu, berharap bahwa orang ini adalah sekutu.

Namun, ketika ia sampai di dekat sosok itu, ia menyadari bahwa ia tidak mengenalnya. Orang itu adalah seorang wanita muda dengan rambut hitam panjang yang diterpa angin malam. Matanya tajam, namun ada kelembutan di dalamnya yang membuat Li Zhen merasa sedikit tenang. "Siapa kamu?" tanyanya, suaranya masih bergetar.

"Aku Mei Xiang," jawab wanita itu dengan nada tenang namun mendesak. "Dan aku tahu persis apa yang kau bawa. Sekarang, ikuti aku jika kau ingin tetap hidup."

Sebelum Li Zhen sempat bertanya lebih lanjut, wanita itu berbalik dan mulai berlari ke arah yang berbeda. Tanpa banyak berpikir, ia mengikuti Mei Xiang, meninggalkan para pengejarnya jauh di belakang. Namun, pertanyaan besar masih menggelayuti pikirannya: Siapa sebenarnya wanita ini? Dan bagaimana dia tahu tentang gulungan itu?

Langkah-langkah mereka semakin cepat, dan Li Zhen merasa bahwa mereka semakin dekat dengan sesuatu yang besar—sesuatu yang mungkin akan mengubah hidupnya selamanya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Silsilah Naga Emas   57 — Wajah di Balik Huruf

    "Kita tidak bisa menunggu lagi," desis Mei Xiang saat kami berkumpul di balik tembok bata dekat pasar. Suara pedagang masih samar dari kejauhan, namun malam ini kota terasa seperti labirin diam. "Jika gudang itu jadi titik transit, mereka akan pindahkan barang sebelum fajar.""Setuju," jawabku. "Tapi kita butuh rencana lebih matang. Cap palsu bisa membuka pintu—atau menuntun kita ke jebakan."Wang Jian mencondongkan tubuh, matanya menyala seperti bara. "Aku akan menyamar sebagai kurir. Bawa surat palsu—capnya akan cukup untuk membuat mereka berpikir ini kiriman resmi. Mei Xiang, kau jadi pendukung luar. Li Zhen—kau menyelinap ke dalam gudang dan cari ruang penyimpanan. Xiao Lan, kau bantu aku tenangkan penjaga."Xiao Lan menggigit bibirnya namun mengangguk. "Aku bisa membuat mereka lengah dengan cerita tentang kegagalan muatan, dan mungkin mencuri kunci." Suaranya kecil, namun penuh tekad."Kita bagi dua tim, lalu bertemu di gudang tengah," aku menambahkan. "Kalau ada keraguan, kita m

  • Silsilah Naga Emas   56 — Dermaga Selatan dan Nama yang Terungkap

    “Kita sudah dekat,” bisik Xiao Lan dari haluan, tangannya tak lepas dari dayung. Air memantulkan cahaya lentera seperti serpihan kaca. “Di depan sana ada dermaga selatan—di situlah Wang Jian bilang mereka akan mendarat.”“Apa kau melihat tanda kapal yang mengejar tadi?” tanyaku, menahan suara agar tak pecah. Hatiku masih berdebar dari kejar-kejaran tadi malam.Xiao Lan menyipit. “Ada satu kapal berlayar lambat—layar merah kecil, namanya terukir di haluan: Merah Dara.” Ia menyebutnya seolah mengisyaratkan nama yang penting. “Itu kapal yang biasa dipakai agen… Aku pernah lihat di pelabuhan utara.”“Merah Dara,” ulangku. Nama itu terdengar seperti duri yang menusuk ingatan. “Kalau kapal itu yang membawa kotak tadi, kita bisa cari perawakannya—atau setidaknya cari siapa yang bayar marangkap.”Kami merapatkan perahu di dermaga yang remang. Suasana di sana berbeda; para pekerja tampak panik, beberapa berdiri sambil menunjuk ke arah jalan, beberapa lain membisikkan sesuatu. Dari kejauhan kul

  • Silsilah Naga Emas   55 — Malam di Gerbang Luar

    "Apa kau yakin ini tempatnya?" bisik Xiao Lan, suaranya nyaris tertelan angin malam ketika kami bersembunyi di balik tumpukan batu bata tua. Remang lentera dari menara gerbang menyorot seperti mata sipit yang waspada. "Kami di jalur yang benar," jawab Mei Xiang. "Kereta pagi melewati sini kalau lewat rute luar. Kita tunggu sampai jam tiga." Waktu terasa melambat. Angin meniupkan bau laut dan minyak lampu, sementara detak jam di hatiku mendekati sebuah angka yang tak pernah terasa begitu berarti. Aku menghirup napas panjang, merasakan koin perunggu di sakuku seperti obor kecil yang memberi arah. "Bagaimana kalau mereka membawa barang lewat perahu?" bisikku, suara hampir tak terdengar. "Kalau begitu kita kehilangan satu jalur," jawab Wang Jian. "Tapi masih ada kemungkinan. Kita tetap di sini dulu." Xiao Lan menggigil. "Aku takut," katanya kecil. "Mereka punya anjing penjaga. Mereka punya orang yang tak ragu membunuh." Mei Xiang menepuk punggungnya. "Kita tidak sendiri, Lan. Kita p

  • Silsilah Naga Emas   54 — Cap, Kebohongan, dan Jejak yang Membeku

    "Ada bau bensin," bisik Wang Jian saat kami merayap di bawah jendela gudang. Suara ombak jauh seperti denyut yang lambat — latar belakang sempurna untuk lorong-lorong yang menyimpan rahasia. "Kalau kita masuk dari sini, kita bisa sampai ke ruang administrasi.""Kau yakin?" aku membalas pelan. "Kalau ada petugas patroli, kita tercekik sebelum menyentuh cap itu."Wang Jian mengangkat bahu, matanya setajam pedangnya. "Kita tidak punya pilihan lain. Manifest ini harus disalin. Tanpa cap, kita tak punya bukti yang cukup untuk menuduh siapa pun."Aku menatap manifest yang tergulung di saku dalam—tinta memudar tapi jelas: penerima Gudang Tiga, Sekretaris Lu. "Ayo. Ingat kata-katamu: kalau ada masalah, dorong ke laut.""Kau serius ingin menenggelamkanku?" ia menimpali dengan nada sarkastik, namun ada senyum tipis yang membuat kami berdua terselip sedikit ketenangan.Kami merayap masuk lewat celah di bawah pintu belakang; debu menyambut seperti selimut kasar. Ruang administrasi kecil; meja kay

  • Silsilah Naga Emas   53 — Lorong Rahasia dan Bukti yang Tertinggal

    “Apa kau siap?” bisik Mei Xiang di telingaku saat kami berjongkok di balik tumpukan kayu di sisi lorong. Napasnya hangat, tapi suaranya dingin seperti besi.“Siap seperti panah yang terhunus,” aku membalas, berusaha membuat nada yang lebih tenang dari yang kurasa. “Ingat rencananya: kau dan aku masuk lewat pintu samping, Wang Jian menunggu di titik pelarian, Xiao Lan memberi tanda bila ada perubahan.”“Kau yang pertama pegang kotak itu kalau kita nemu gulungan,” ujar Mei Xiang, matanya menyipit. “Jangan berhero-hero.”“Aku bukan tipe hero,” kataku. “Aku lebih mirip orang yang panik efektif.” Kami berdua tersenyum tipis, lalu menghela napas serentak. Suasana malam seperti menahan napas bersama kami.Xiao Lan muncul dari balik keranjang, suaranya nyaris tak terdengar. “Ayo. Pintu besi di sana,” ia menunjuk ke sebuah celah samar antara dua gudang. “Penjaga bergantian tiap tengah malam. Dua menit setelah lonceng, ada jeda. Kita masuk saat itu.”“Kita tunggu tanda darimu,” bisik Wang Jian

  • Silsilah Naga Emas   52 — Jejak yang Menghilang

    Kegelapan pelabuhan seperti selimut tebal yang menelan suara, hanya menyisakan percikan lampu lentera dan riuh rendah pedagang malam. Di antara tumpukan kain dan peti, kami menyelinap dengan langkah ringan—lebih mirip bayangan daripada tiga orang yang bermuatan dendam dan kebingungan. Aku menekan koin perunggu di sakuku sampai lekuknya menyakitkan, sebagai pengingat bahwa ini bukan sekadar barang; ini adalah alasan kami keluar dari desa."Apa rencanamu, Li Zhen?" Mei Xiang berbisik di sampingku, napasnya hangat di udara dingin. Matanya menyapu sekeliling, waspada."Kita biarkan aku dan dia yang berbicara dulu," jawabku pelan. "Kita butuh jembatan—seseorang yang bisa membuka pintu yang biasanya tertutup rapat."Wang Jian mengangguk. "Aku jaga pintu belakang. Kalau ada masalah, aku dorong ke laut."Kami tertawa kecil, namun canda itu cepat pudar ketika kami melihat Xiao Lan. Gadis itu kecil, mungkin masih belia, tetapi matanya tajam seperti pedang kecil. Dia duduk di dekat tumpukan bamb

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status