Compartir

115

last update Fecha de publicación: 2026-04-11 16:47:11

Udara Italia terasa berbeda dengan Indonesia maupun Doha. Tidak terlalu dingin, tapi cukup untuk memberi sensasi baru yang langsung terasa di kulit, bercampur dengan suara asing di sekitar yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Langkah orang-orang terdengar lebih hidup, dengan bahasa yang berganti-ganti tanpa jeda.

Felly berjalan di samping Marvin.

Matanya bergerak pelan, menangkap detail yang tidak biasa—cara orang berbicara, papan penunjuk dengan kata-kata yang terasa jauh, dan suasana yang tid
Continúa leyendo este libro gratis
Escanea el código para descargar la App
Capítulo bloqueado
Comentarios (1)
goodnovel comment avatar
Andi Sary Nova
semoga honeymoon nya lancar jaya dan pulangnya dapat oleh oleh debay
VER TODOS LOS COMENTARIOS

Último capítulo

  • Simpanan Dosen Tampan   118

    [full 21+mohonkebijaksanaannya]Deru napas mereka semakin terdengar berat. Felly yang tadinya duduk menyamping, kini melangkahi paha Marvin dan duduk menghadap Marvin sepenuhnya.Tatapan mereka kembali beradu, napas mereka saling bersahutan, lalu… ciuman pun kembali dimulai entah oleh siapa.Awalnya pelan… pelan… lalu kian berat. Mereka coba mendominasi satu sama lain yang tentu saja dimenangkan oleh Marvin.Lalu dengan satu gerakan kecil, Marvin berdiri. Mengangkat Felly dengan begitu ringannya.Ia sangga bokong Felly agar tidak terjatuh dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menekan leher belakang perempuan itu agar tidak menjauh dari posisinya.Felly tak berontak, ia melingkarkan kakinya ke tubuh Marvin. Lantas Marvin duduk di sisi ranjang, Felly masih berada dalam dekapannya dengan ciuman yang belum terlepas sama sekali. Tak mempedulikan saliva yang sudah menjuntai di dagu

  • Simpanan Dosen Tampan   117

    Beberapa menit berlalu tanpa perubahan berarti.Jemari Marvin masih bergerak di atas keyboard, tapi ritmenya tidak lagi secepat sebelumnya. Satu per satu grafik bergeser di layar, angka-angka diperiksa, lalu dibiarkan begitu saja tanpa tindak lanjut.Perlahan… gerakannya melambat. Hingga akhirnya berhenti.Tatapannya tidak lagi terpaku pada layar di depannya. Melainkan bergeser turun ke arah Felly.Tubuh perempuan itu masih bersandar nyaman di pangkuannya, napasnya teratur, wajahnya tenang tanpa beban apa pun. Satu tangannya masih menggenggam ringan kemeja Marvin, seolah bahkan dalam tidurnya pun ia tidak benar-benar ingin melepaskan.Marvin terdiam beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.Tanpa sadar, tubuhnya sedikit bersandar ke belakang, memberi ruang agar bisa melihat Felly lebih jelas. Rambut yang jatuh menutupi sebagian wajah itu bergerak pelan tertiup hembusan AC, membuat alisnya sedikit mengernyit.Tangannya terangkat. Namun ragu sepersekian detik.Lalu bergerak pelan,

  • Simpanan Dosen Tampan   116

    Tak terasa pagi kembali menyapa. Felly menatap Marvin yang masih terpejam dalam tidurnya. Dengan telunjuknya, ia menggambar pola mengikuti struktur hidung Marvin yang tinggi.“Tampan sekali,” gumam Felly sambil tersenyum.Felly tidak segera menarik tangannya.Ujung jarinya masih bergerak pelan, turun dari batang hidung Marvin, berhenti sebentar di bibirnya yang terkatup tenang. Ada jeda di sana, seolah ia sedang menimbang sesuatu yang bahkan ia sendiri tidak benar-benar pahami.Hening.Hanya perpaduan dari napas Marvin yang teratur, dan suara air conditioner yang berbunyi pelan.Felly tersenyum kecil.Setelah huru-hara yang terjadi belakangan, baru kali ini ia menemukan ketenangan dalam keheningan. Hatinya terasa penuh dengan cara yang aneh—hangat, dan sangat menenangkan.Pelan, ia menarik tangannya, takut tanpa alasan yang jelas kalau sentuhannya akan membangunkan laki-laki itu. Tapi saat ia hendak menjauh, jari Marvin bergerak lebih dulu, menangkap pergelangan tangannya dengan ringa

  • Simpanan Dosen Tampan   115

    Udara Italia terasa berbeda dengan Indonesia maupun Doha. Tidak terlalu dingin, tapi cukup untuk memberi sensasi baru yang langsung terasa di kulit, bercampur dengan suara asing di sekitar yang tidak sepenuhnya mereka pahami. Langkah orang-orang terdengar lebih hidup, dengan bahasa yang berganti-ganti tanpa jeda.Felly berjalan di samping Marvin.Matanya bergerak pelan, menangkap detail yang tidak biasa—cara orang berbicara, papan penunjuk dengan kata-kata yang terasa jauh, dan suasana yang tidak lagi terasa seperti tempat yang ia kenal.“Ini… beda banget suasananya, Mas,” gumamnya pelan.Marvin melirik sekilas, tangannya ia pakai untuk menggenggam tangan Felly agar istrinya itu merasa lebih tenang. “Iya, sayang. Nanti juga akan terbiasa”Mereka mengikuti arus menuju area kedatangan.Prosesnya berjalan tanpa hambatan, lebih cepat dari yang dibayangkan, seolah semuanya sudah disiapkan jauh sebelum mereka sampai. Felly hanya mengikuti, sesekali menoleh, tapi tidak benar-benar kehilangan

  • Simpanan Dosen Tampan   114

    Udara di dalam bandara terasa berbeda begitu mereka keluar dari pesawat.Lebih dingin, lebih bersih, dengan aroma samar yang tidak benar-benar bisa dikenali, tapi cukup untuk membuat Felly sadar mereka sudah jauh dari tempat sebelumnya. Cahaya lampu menyebar rata di langit-langit tinggi, memantul halus di lantai yang mengilap tanpa noda.Langkah orang-orang terdengar rapi.Tidak tergesa, tapi juga tidak lambat, seolah semua sudah tahu arah masing-masing tanpa perlu saling mengganggu. Di antara suara itu, pengumuman terdengar sesekali dalam bahasa yang berganti, mengalir begitu saja tanpa menarik perhatian lebih.Felly berjalan di samping Marvin.Matanya bergerak pelan, memperhatikan sekeliling tanpa berlebihan, tapi jelas menangkap banyak hal sekaligus—arsitektur yang luas, deretan toko yang tertata rapi, dan orang-orang dengan wajah yang tidak familiar.“Beda ya, Mas?” gumamnya pelan.Marvin melirik sekilas, dengan gemas mengusak rambut Felly yang sedikit berantakan. “Beda gimana, sa

  • Simpanan Dosen Tampan   113

    Setelah pasokan udara menipis, pagutan keduanya pun terlepas. Felly tampak kesusahan meraup udara di sekitar, sementara Marvin tampak biasa saja dan malah memperhatikan Felly dengan tatapan gemas dan mengusap tetesan saliba di sudut bibir istrinya itu.Felly tidak berpindah. Pun tak merasa risih diperhatikan sebegitu dekatnya. Ia sibuk dengan dirinya sendiri.“Mas gila,” bisiknya. Marvin memang tidak mengerem sedikitpun. Ditempat umum tapi menciumnya brutal sampai kewalahan.Marvin terkekeh, tidak marah dikatai begitu karena sadar diri memang dirinya tidak bisa menahan sedikitpun.Marvin mengangkat alis tipis dan menjawab, “Kamu yang tadi bilang melakukan ini cukup seru,” jawabnya, seolah mengingatkan.Felly tersenyum kecil—malu, matanya sempat turun sebelum kembali naik. “Iya… tapi bukan berarti harus langsung ganas begitu, kan?”Kalimat itu keluar tanpa terburu. Dan cukup jelas.Marvin memperhatikannya beberapa detik lebih lama, membuat istrinya itu salah tingkah sendiri dibuatnya,

  • Simpanan Dosen Tampan   100

    Felly tidak tenggelam dalam pikirannya. Ia meraih ponselnya, lalu bangkit dari duduknya dengan gerakan yang tenang. Langkahnya tidak tergesa, tapi juga tidak ragu. Seolah ia sudah tahu apa yang harus dilakukan setelah ini.Di luar kamar, suara televisi terdengar pelan. Bu Dyas tampak duduk santai d

  • Simpanan Dosen Tampan   99

    Ponsel Felly yang sejak tadi tergeletak di atas meja bergetar pelan, memecah keheningan sore itu.Ia yang sedang duduk di dekat Bu Dyas, masih dengan secangkir teh hangat di tangan, menoleh sekilas. Layar ponselnya menyala, menampilkan satu notifikasi masuk dari nomor yang tidak ia simpan.Alisnya

  • Simpanan Dosen Tampan   97

    Marvin masih berdiri di tempatnya, menjaga jarak yang sejak awal ia usahakan tetap ada. Wajahnya tidak menunjukkan banyak perubahan, tapi sorot matanya sudah berbeda. Kali ini nampak lebih fokus dan tajam, seperti seseorang yang akhirnya berhenti menebak dan mulai menerima bahwa situasi di depannya

  • Simpanan Dosen Tampan   96

    “Intan.”Namanya dipanggil tanpa emosi berlebih.Intan mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya masih menyisakan kesan rapuh, tapi tidak benar-benar runtuh. Ada kesadaran di sana. Terjaga.“Apa?” jawabnya pelan, tapi di dalamnya seolah tengah menantang.“Apa yang kamu rencanakan di sini?” tanya Ma

Más capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status