LOGINKegiatan mereka terhenti saat bel pintu berbunyi nyaring di rumah yang sepi itu.Felly mundur satu langkah, wajahnya merah dan bibirnya basah. Begitu cantik di mata Marvin.Suaminya itu hanya tersenyum gemas dan mengusap sudut bibir Felly yang basah itu.“Cantik,” gumamnya.Bel kembali berbunyi yang membuat Felly tersadar dari pikirannya sendiri.“I-itu siapa?” tanyanya dengan sedikit tergagap.“Sepertinya petugas pindahan yang saya sewa untuk membawa barang-barang kita dari penginapan,” jawab Marvin sembari berjalan ke arah pintu.Felly mengekor di belakang dengan tatapan penuh rasa penasaran.Benar saja, ketika pintu dibuka, ada lima orang laki-laki tersenyum ke arah Marvin dan menyapa dengan ramah menggunakan bahasa Italia yang kental.Felly kembali kagum pada Marvin atas kecakapannya itu. Meski tak tahu apa yang tengah mereka bicarakan, tapi sepertinya Marvin tengah memberi instruksi di mana barang-barang itu harus diletakkan.Felly memilih mundur dan duduk di sofa, tak ingin meng
Tidak ada yang terburu-buru bergerak.Felly masih berada di dalam pelukan Marvin, menikmati rasa tenang yang sejak tadi memenuhi dadanya. Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Italia, pikirannya benar-benar diam.Tidak memikirkan kampus.Tidak memikirkan masa depan.Tidak memikirkan jarak.Hanya saat ini yang berisi mereka berdua.Entah berapa lama mereka berdiri seperti itu sampai akhirnya Marvin menunduk sedikit, dagunya hampir menyentuh puncak kepala Felly.“Capek?” Marvin bertanya.Felly menggeleng pelan.“Nggak.”“Yakin?”“Nggak ngantuk juga.”Marvin mengangkat sebelah alis.“Kamu tahu sekarang jam berapa?”Felly berkedip beberapa kali sebelum akhirnya mengangkat kepala untuk melihat wajah pria itu.“Jam berapa?”“Mas juga nggak tahu. Nggak pakai jam tangan. Ponsel juga kayaknya di meja tadi.”Felly terdiam. Lalu beberapa detik kemudian tertawa kecil.Marvin ikut tersenyum tipis.“Aku kira Mas tahu.”“Gampang banget nggak fokus kamu, ya.”Felly meringis kecil.“Ya habis Mas
“Mas?” panggilnya dengan lembut.“Hm?”“Nanti… aku hidup sendiri di sini, ya? Tanpa Mas, tanpa Gista, tanpa semuanya?”Marvin terdiam.Tatapannya tidak lepas dari wajah Felly.Beberapa menit yang lalu wanita itu masih berkeliling rumah dengan penuh antusias. Matanya berbinar melihat setiap sudut ruangan, membayangkan kehidupan baru yang mungkin menunggunya di kota ini.Namun sekarang ekspresi itu menghilang.Yang tersisa hanyalah keraguan yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.Marvin menyadari bahwa yang membuat Felly takut bukanlah kampus itu.Bukan pula Italia.Melainkan semua yang harus ia tinggalkan untuk sampai ke sana.Marvin masih belum menjawab.Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sunyi dari sebelumnya, meski sebenarnya tidak ada yang berubah. Suara kecil dari luar jendela masih ada, hembusan angin sore masih bergerak pelan, cahaya keemasan masih jatuh di lantai kamar itu.Tapi bagi Felly, semuanya seperti sedikit menjauh.Tangannya yang tadi ringan kini terasa sedikit kaku d
Felly menatap penuh kekaguman pada seisi rumah yang kini ia pijaki. Lantai marmernya yang mengkilat, dan beberapa ornament khas Eropa yang megah.“Suka?” tanya Marvin yang memeluk Felly dari belakang dan melingkarkan kedua lengannya di perut wanita itu. Dagunya ia topang di bahu Felly di mana si empunya sedang sibuk menatap sekeliling rumah dengan takjub.“Woah… megah sekali. Mama itu… orang kaya banget, ya, Mas?”Marvin terkekeh. “Tidak mau sombong, tapi… ya… sekaya itu,” jawab Marvin.Felly menoleh, jarak wajahnya dengan Marvin tak sampai sejengkal, bahkan napas laki-laki itu menerpa wajahnya dengan hangat.Mata mereka bertatapan, lalu Marvin memajukan wajahnya dan mencium bibir Felly dengan singkat.“Malah melamun,” tegur Marvin saat Felly sadar akan keterkejutannya dicium Marvin.“Bukan melamun,” jawab Felly cepat. “Tidak menyangka saja mama punya properti semegah ini. Dan aku akan tinggal di sini kalau jadi kuliah di sini?”Marvin mengangguk, ia berdiri tegak dan memutar wajah is
Di dalam bilik kantin itu, suasana perlahan kembali stabil.Hanya tersisa Felly dan Marvin yang duduk berhadapan, dengan sisa makanan yang tidak lagi terlalu disentuh. Di luar kaca pembatas, kantin masih ramai seperti biasa, mahasiswa datang dan pergi dengan urusan masing-masing, tapi semua itu terasa seperti berada di dunia yang agak jauh.Di dalam bilik, justru sebaliknya.Heningnya tidak terasa kosong. Lebih seperti jeda yang nyaman setelah banyak hal yang terjadi sejak pagi. Felly duduk dengan posisi sedikit bersandar, matanya sesekali bergerak mengikuti aktivitas di luar, tapi tidak ada yang benar-benar ia kejar dengan pikirannya.Marvin tetap tenang di depannya, melanjutkan makan dengan ritme yang santai, sesekali berhenti sebentar tanpa menunjukkan terburu-buru. Tidak ada percakapan yang dipaksakan, tidak ada kebutuhan untuk mengisi ruang.Hanya suasana yang berjalan pelan, seolah dunia memberi mereka waktu sebentar untuk diam.Felly tidak langsung bicara. Ia hanya duduk sambil
Keesokan harinya…Setelah pertemuan dengan Miss Claudy, tur kampus mereka berlanjut ke beberapa gedung lain yang belum sempat dikunjungi sehari sebelumnya.Rebecca masih sesekali menjelaskan fasilitas kampus, sementara Elena lebih banyak melontarkan komentar-komentar spontan yang berhasil membuat Felly tertawa beberapa kali.Mereka melihat perpustakaan utama yang luas dengan beberapa lantai khusus untuk penelitian dan ruang diskusi. Setelah itu, mereka berkeliling ke student center, area organisasi mahasiswa, hingga asrama internasional yang letaknya tidak terlalu jauh dari gedung fakultas.Semakin banyak tempat yang ia lihat, semakin jelas pula gambaran kehidupan kampus itu di kepalanya.Tidak lagi terasa seperti tempat asing yang hanya ia lihat dari brosur atau cerita orang lain.Perlahan, tempat itu mulai terlihat seperti tempat yang benar-benar dihuni manusia. Tempat orang belajar, mengeluh soal tugas, begadang menjelang ujian, dan menjalani kehidupan sehari-hari.Menjelang siang,
Tok tok tokPintu kamar rawat Felly diketuk pelan. Marvin menoleh pada Felly yang terlelap di pelukannya. Kemudian dengan perlahan dan hati-hati melepaskan diri.Marvin mengusap pipinya yang masih ada jejak-jejak air mata yang mulai mengering. Setelah memastikan penampilannya tidak lagi menyedihkan
Pagi datang tanpa rasa bersalah. Cahaya putih menyelinap lewat celah tirai ruang rawat, jatuh diam-diam di lantai yang semalam sempat basah oleh darah dan kepanikan.Bau antiseptik menggantikan aroma logam yang masih tertinggal samar di ingatan, seolah rumah sakit sengaja menghapus jejak tragedi ya
Sementara itu, malam kembali bergelayut manja. Bintang tak tampak karena mendung lebih dulu eksis dengan kegelapannya. Bunyi geludug menambah kengerian malam itu.Felly terbangun dengan napas yang berantakan. Keringat dingin muncul di dahinya. Sebuah bayangan kelam muncul dalam mimpinya. Rekontruks
Hari kembali berganti. Felly masih banyak diam, tetapi telah menunjukkan beberapa perubahan yang cukup baik.Di hari ketiga Felly dirawat, neck brace di leher Marvin akhirnya dilepaskan. Ia sudah bisa bergerak lebih bebas, meski tetap harus menjaga kehati-hatian agar tidak kembali cedera.Dalam per







