로그인Tidak butuh waktu terlalu lama sampai langkah mereka berhenti di depan sebuah bangunan kecil yang tampak jauh lebih sederhana dibanding tempat-tempat wisata yang baru saja Felly lihat.Tidak megah. Tidak mencolok.Justru terlihat seperti sudut biasa yang nyaris terlewat jika tidak tahu harus mencari apa.Namun anehnya, beberapa orang berdiri mengantre di depan pintu. Sebagian membawa cangkir kecil di tangan, sebagian lagi berbicara cepat dalam bahasa yang tak Felly pahami.Felly menoleh ke kanan kiri, lalu kembali menatap bangunan itu.“Ini?” tanyanya ragu.Marvin mengangguk santai. “Ini.”Felly mengerutkan dahi kecil. “Mas yakin nggak salah tempat?”Marvin melirik sekilas. “Kenapa?”“Soalnya…” Felly menatap papan nama di atas pintu, lalu menoleh lagi. “Aku kira tempat terkenal itu minimal gede, mewah, atau ada aura-aura mahalnya gitu.”Marvin terkekeh pelan. “Aura mahal itu bagaimana bentuknya?”“Ya… pokoknya kelihatan mahal.”“Seperti saya?”Felly terdiam sepersekian detik, lalu men
Felly membalikkan badan lebih dulu, melangkah meninggalkan tepi kolam dengan wajah yang masih terasa panas. Tangannya sempat menutupi pipi sendiri, seolah itu bisa menyembunyikan rasa malu yang belum juga reda sejak bisikan Marvin barusan.Di belakangnya, Marvin berjalan santai tanpa terlihat bersalah sedikit pun.“Jalan cepat banget,” ujarnya ringan. “Takut saya tambahin satu ide lagi?”Felly langsung menoleh dengan mata membesar. “Mas!”Marvin terkekeh pelan, jelas menikmati reaksinya. “Marah?” godanya.“Ya siapa suruh ngomong sembarangan di tempat ramai begitu?” protes Felly sambil kembali berjalan. “Kalau ada yang dengar gimana?”“Mereka nggak ngerti bahasa kita.”“Itu bukan poinnya.”“Terus poinnya apa?”Felly membuka mulut, tapi tidak ada jawaban yang keluar. Ia hanya mendecak pelan lalu memalingkan wajah ke arah lain.Marvin menyusul hingga langkah mereka sejajar. Tanpa banyak bicara, tangannya kembali mencari tangan Felly dan menggenggamnya seperti tadi.“Masih malu?” tanyanya
Langkah mereka tidak lagi secepat sebelumnya.Felly tetap menggenggam tangan Marvin, tapi kali ini lebih tenang. Tidak ada lagi gerakan kecil seperti tadi, tidak ada lagi kepala yang menoleh cepat ke setiap sudut jalan.Ia hanya berjalan… sambil memandang ke depan.Marvin menyadari itu sejak beberapa meter pertama.“Mas…” panggil Felly pelan.“Mm?”Felly menoleh sedikit ke samping, lalu bertanya, “Trevi itu masih jauh nggak sih?”Marvin melirik sekilas ke arah jalan di depan mereka, lalu kembali ke Felly. “Dekat.”Jawaban singkat. Tapi Felly tidak langsung merespons seperti biasanya.Ada jeda kecil di antara mereka. Marvin merasakan perubahan itu.Tangannya yang menggenggam tangan Felly sedikit bergerak, bukan menarik, hanya menyesuaikan posisi agar lebih nyaman.“Capek?” tanyanya kemudian, lebih pelan dari tadi.“Enggak,” jawab Felly cepat, lalu setelah itu suaranya mengecil, “cuma… kepikiran aja.”Marvin berhenti melangkah sedikit lebih lambat, tapi tidak sepenuhnya berhenti. “Yang
Udara pagi di Roma menyambut begitu mereka melangkah keluar dari hotel. Tidak terlalu dingin, tapi cukup memberi sensasi segar yang langsung terasa di kulit, berbeda dari yang biasa Felly rasakan.Cahaya matahari jatuh lembut di antara bangunan-bangunan tua berwarna hangat, memantul di jendela-jendela tinggi, sementara suara percakapan dalam bahasa yang asing terdengar bersahutan di sepanjang jalan.Untuk beberapa detik, Felly hanya diam di tempatnya, matanya bergerak pelan, menyerap semuanya seolah takut melewatkan satu detail pun.Marvin berdiri di sampingnya. Tatapannya tidak sepenuhnya tertuju pada kota di depan mereka, melainkan pada Felly yang jelas terlihat lebih hidup dari biasanya.Tanpa banyak kata, tangannya bergerak, menggenggam tangan Felly dengan santai, seolah itu hal paling wajar di dunia. “Ayo,” ucapnya pelan.Bukan ajakan yang mendesak, tapi cukup untuk membuat Felly tersadar dari kekagumannya. Ia menoleh, tersenyum kecil, lalu melangkah mengikuti Marvin—masuk lebih
Setelah pergulatan panjang, keduanya tak langsung beranjak.Marvin hanya mengelap bagian bawah mereka yang lengket dengan handuk basah yang hangat, lalu kembali merebahkan diri bersama Felly menyandarkan kepalanya di dada Marvin, sementara Marvin bersandar pada kepala ranjang.“Sudah lapar apa belum, sayang?” tanya Marvin.Felly menggeleng. “Sekarang belum terasa sih. Mas sudah lapar?”“Belum. Tadi pas kita main, ada yang menekan bel. Sepertinya sarapan kita,” jawab Marvin dengan entengnya.Felly mengernyitkan alisnya dan mendongak, “Serius?”Marvin terkekeh. “Iya, sayang. Soalnya kan tadi Mas sudah pesan. Tapi kamu malah godain saya. Jadinya kebablasan deh.”Felly memicingkan matanya sebal, lalu kembali menyandarkan tubuhnya. “Mana ada aku godain. Mas aja yang tiba-tiba menyerang.”Marvin tak menyangkal. Ia hanya terkekeh pelan dan mengecup pucuk kepala Felly.“Seharusnya sebentar lagi akan diantarkan, sayang. Nanti sarapan dulu, lalu kita keluar, ya? Kamu sudah bikin itinerary mau
[full 21+mohonkebijaksanaannya]Deru napas mereka semakin terdengar berat. Felly yang tadinya duduk menyamping, kini melangkahi paha Marvin dan duduk menghadap Marvin sepenuhnya.Tatapan mereka kembali beradu, napas mereka saling bersahutan, lalu… ciuman pun kembali dimulai entah oleh siapa.Awalnya pelan… pelan… lalu kian berat. Mereka coba mendominasi satu sama lain yang tentu saja dimenangkan oleh Marvin.Lalu dengan satu gerakan kecil, Marvin berdiri. Mengangkat Felly dengan begitu ringannya.Ia sangga bokong Felly agar tidak terjatuh dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menekan leher belakang perempuan itu agar tidak menjauh dari posisinya.Felly tak berontak, ia melingkarkan kakinya ke tubuh Marvin. Lantas Marvin duduk di sisi ranjang, Felly masih berada dalam dekapannya dengan ciuman yang belum terlepas sama sekali. Tak mempedulikan saliva yang sudah menjuntai di dagu
Air mata Marvin jatuh lagi. Kali ini lebih banyak. Bahunya bergetar hebat, tak sanggup lagi menahan tangisnya.“Aku… aku membenci Mama,” suaranya pecah.Pengakuan itu keluar begitu saja tanpa filter maupun pertahanan. Seolah sudah menunggu lama untuk dikeluarkan begitu saja.Bu Dyas tidak marah men
Marvin merajuk, tapi Felly kepalang gemas. Ia menggoda Marvin sampai pria itu tak tahan lagi dan menarik Felly hingga jatuh ke atas tubuhnya.Ada sedikit nyeri di lukanya yang tak sengaja tersenggol, namun melihat ekspresi terkejut dari Felly membuat Marvin terhibur. Ia mengecup bibir Felly dengan
Beberapa hari kemudian.Cahaya pagi jatuh lembut melalui jendela besar ruang rawat VIP itu. Tidak lagi terasa dingin seperti hari-hari sebelumnya. Udara di ruangan itu kini dipenuhi sesuatu yang lebih hangat.Marvin duduk bersandar di ranjang, punggungnya ditopang bantal tebal. Wajahnya masih pucat
Setelah kondisi jauh lebih kondusif, Felly yang sudah dilepaskan ikatannya beringsut mendekat dan memeluk Marvin dengan erat. Marvin pun membalasnya tak kalah erat, meskipun sekujur tubuhnya sakit semua, bahkan beberapa luka tampak kembali berdarah akibat eratnya pelukan itu.Oliver sudah berjaga d







