공유

6

last update 게시일: 2025-12-05 11:14:02

Perkuliahan selesai lebih cepat dari biasanya, Felly dengan cepat merapikan mejanya dan bergegas pergi setelah berpamitan pada Gista. Sahabatnya itu tidak curiga apapun, mengira dirinya akan bekerja di minimarket seperti biasanya.

Padahal di sinilah Felly berada. Di depan sebuah gedung apartemen mewah yang sesuai dengan alamat yang Marvin kirimkan semalam.

Dengan menarik napas panjang, Felly melangkah menuju meja resepsionis, bertanya pada perempuan yang tengah berjaga di sana.

“Uhm, maaf. Saya sudah ada janji dengan Pak Marvin dari lantai sembilan belas unit nomor tujuh.”

Perempuan itu tersenyum, “Pak Marvin sudah menitipkan pesan tentang anda. Ini passcard, silakan menggunakan lift nomor tiga dari kiri.”

Felly mengangguk dan mengucapkan terima kasih. Lantas kemudian bergegas menaiki lift dan menuju lantai sembilan belas.

“Ini langsung masuk atau bagaimana, ya?” gumam Felly.

Sebab sudah tiga kali ia menekan bel, tapi tidak ada yang keluar membukakan pintu untuknya. Lama menimbang, akhirnya Felly menggunakan kartu akses untuk masuk ke dalam.

“Permisi!”

Tak ada sahutan, namun semakin masuk ke dalam, Felly bisa mendengar suara air dari sebuah kamar yang ia taksir adalah kamar mandi.

“Sedang mandi rupanya,” gumam Felly.

Ia memilih untuk duduk di sofa ruang tamu yang empuk. Kantuk melanda tiba-tiba, membuatnya tertidur tanpa ia bisa tahan lagi.

Entah berapa lama Felly memejamkan mata, ia terbangun dan mendapati langit telah menggelap. Terlihat dari jendela besar ruangan itu.

Sembari mengumpulkan nyawa, Felly memperjelas penglihatannya. Ada sebuah siluet laki-laki tengah menatap pada pemandangan malam dari jendela besar itu.

Napas Felly tercekat.

“Sudah bangun?” suara berat laki-laki itu terdengar.

Felly mendongak, tatapannya bersibobrok dengan mata tajam itu.

“I-iya. Maaf saya ketiduran.”

Marvin mematikan rokoknya dan membiarkan puntungnya di atas asbak yang ada di meja. Kemudian ia mendekat dan duduk dengan penuh keangkuhan. Felly salah tingkah, bingung juga harus bagaimana.

Marvin melemparkan sebuah map berwarna coklat ke hadapan Felly.

“I-ini perjanjiannya?” tanya Felly.

“Bukalah!” titah Marvin singkat.

Dengan tangan gemetar, Felly membuka map itu. Membaca satu persatu tulisan yang ada di sana.

“Poin tiga, saya bisa meminta berapapun yang saya butuhkan?”

Marvin mengangguk. “Tulis saja di kolom yang kosong itu.”

Felly meneguk ludahnya kasar, memikirkan nominal yang akan ia minta dari dosen killernya ini.

“Tidak usah terburu-buru. Kamu masih harus membaca keseluruhan kontrak untuk bisa menerka harga untuk diri kamu.”

Jleb.

Menusuk.

Tapi nyatanya Felly memang sedang berada di antara waras dan tidak waras. Menggadaikan kehidupannya untuk menjadi simpanan seorang Marvin Lee, yang mana juga dosennya sendiri di kampus.

Sungguh dunia yang kejam.

Beberapa kali Felly mengubah ekspresinya. Tidak dipungkiri, hal-hal yang tertulis di sana tak pernah ia bayangkan akan muncul di hidupnya.

Ini gila, namun untuk mundur tentu saja tidak bisa. Sudah sejauh ini, mati saja sekalian.

“K-kita juga akan berhubungan i-intim?” Tanya Felly saat membaca poin ketujuh.

Meski awalnya sudah menduga, namun tak menyangka akan benar-benar terjadi.

“Tentu saja. Sebab itulah kamu bisa meminta sendiri nominal untuk harga diri kamu.”

“Bapak ini dosen, tapi kenapa melakukan ini?”

Marvin mengendikkan bahunya. “Dosen juga manusia, Felly. Dan mungkin karena saya tidak mau menikah, lalu  saya juga tidak mau berhubungan dengan wanita  sembarangan. Maka dari itu, saya menawarkan hubungan yang sifatnya simbiosis mutualisme.”

“Bapak tidak takut kalau saya ini kotor? Atau mungkin penyakitan?”

“Saya tidak bodoh, Felly. Sebelum menawarkan ini, tentu saja saya sudah mencari tau tentang kamu terlebih dahulu.”

Felly tertegun, ‘Benar juga,’ batinnya.

“J-jadi dari awal bapak sudah tau jika saya adalah mahasiswa bapak?”

Marvin terdiam, ia menggeleng.

“Saat kamu kabur dari kamar saya dulu, saya sudah meminta orang untuk mencari tau mengenai kamu. Tapi saya baru membuka berkas kamu pagi lalu sebelum saya memasuki ruang kelas kamu. Jadi, jawabannya antara iya dan tidak.”

“Apa yang membuat bapak akhirnya memilih saya untuk menjadi … menjadi simpanan bapak? Masih banyak gadis yang lain yang mungkin lebih berpengalaman atau lebih cantik dari saya.”

Marvin menatap Felly intens, hingga gadis itu merinding dibuatnya.

“Saya memilih kamu, karena itu adalah kamu. Jangan banyak tanya, lebih baik kita segera tandatangani perjanjian ini.”

Felly menggigit bibirnya. Pena sudah di tangan, namun pena yang beratnya tak sampai satu ons itu terasa begitu berat di genggamannya.

Di dalam surat perjanjian itu tidak banyak hal. Hanya sepuluh poin. Yang paling menonjol seperti bagaimana Felly dibebaskan untuk menuliskan sendiri nominal yang akan ia dapatkan perbulannya, lalu kewajiban untuk melakukan hubungan intim saat Marvin meminta, dan jangka kontrak mereka.

Pikiran Felly penuh, namun kemudian ia menandatangai surat itu di atas meterai yang tersedia.

Sah.

Felly tidak lagi bisa kabur dari Marvin.

Setelah selesai menandatangani surat itu, Felly menyerahkannya pada Marvin.

Pria itu membaca beberapa kolom yang tadinya ia kosongkan untuk Felly isi sendiri.

“Kamu hanya meminta lima juta sebulan? Harga diri kamu hanya setara UMR Jakarta, Felly?”

Felly yang ditanyai begitu, hanya bisa menunduk dan meremat jemarinya sendiri. ‘Terlalu murah kah?’ batinnya.

Marvin menambah beberapa nol di belakangnya, “Saya tambahi, jadi lima puluh juta sebulan.”

Mata Felly membelalak. “Li-lima puluh juta, pak? Tidak terlalu banyak?”

Marvin mendengus. “Saya menghargai harga diri kamu berdasarkan value yang kamu punya. Kenapa? Kamu merasa tidak pantas? Benar-benar cukup di angka lima juta saja?”

Felly menggeleng dengan keras. “T-tidak! M-mau lima puluh juta, Pak!”

Oh, siapa pula yang akan menolak tawaran menggiurkan itu?

“Lalu untuk jangka waktunya, dua tahun?”

Felly menggigit bibirnya. Ia mengisi dua tahun sebab ia pikir hanya akan dihargai lima juta saja perbulan. Memang belum cukup untuk melunasi hutang di rentenir dan bank sekaligus, tapi setidaknya tidak ia memiliki pekerjaan tetap selain di minimarket.

Kalau tau ia akan dihargai lima puluh juta, ia hanya butuh empat  bulan saja!

“A-apa bisa dikurangi, Pak?”

Marvin mengendikkan bahunya, “Terserah kamu saja. Saya sanggup membayar kamu bahkan sepuluh tahun ke depan.”

Alangkah sombongnya.

“B-bagaimana kalau …” Felly terdiam. Empat bulan hanya akan mendapatkan uang pas-pasan. “E-enam bulan. Bolehkah kalau enam bulan kontrak kita?”

Marvin menatap Felly dalam-dalam. Kemudian mengangguk.

“Oke.”

Setelahnya, keduanya akhirnya resmi dalam sebuah hubungan kontrak yang saling mengikat.

“Perjanjian dihitung mulai hari ditandatanganinya surat ini. Jadi, saya sudah bisa memakai kamu. Malam ini menginap di sini saja.”

Jantung Felly betulan akan lepas dari tempatnya.

이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
댓글 (2)
goodnovel comment avatar
IndahG Chandra
sip.. menarik ceritanya.......
goodnovel comment avatar
Dedi Mul yadi
kayanya bagus ceritanya
댓글 더 보기

최신 챕터

  • Simpanan Dosen Tampan   140

    Tidak ada yang terburu-buru bergerak.Felly masih berada di dalam pelukan Marvin, menikmati rasa tenang yang sejak tadi memenuhi dadanya. Untuk pertama kalinya sejak mereka tiba di Italia, pikirannya benar-benar diam.Tidak memikirkan kampus.Tidak memikirkan masa depan.Tidak memikirkan jarak.Hanya saat ini yang berisi mereka berdua.Entah berapa lama mereka berdiri seperti itu sampai akhirnya Marvin menunduk sedikit, dagunya hampir menyentuh puncak kepala Felly.“Capek?” Marvin bertanya.Felly menggeleng pelan.“Nggak.”“Yakin?”“Nggak ngantuk juga.”Marvin mengangkat sebelah alis.“Kamu tahu sekarang jam berapa?”Felly berkedip beberapa kali sebelum akhirnya mengangkat kepala untuk melihat wajah pria itu.“Jam berapa?”“Mas juga nggak tahu. Nggak pakai jam tangan. Ponsel juga kayaknya di meja tadi.”Felly terdiam. Lalu beberapa detik kemudian tertawa kecil.Marvin ikut tersenyum tipis.“Aku kira Mas tahu.”“Gampang banget nggak fokus kamu, ya.”Felly meringis kecil.“Ya habis Mas

  • Simpanan Dosen Tampan   139

    “Mas?” panggilnya dengan lembut.“Hm?”“Nanti… aku hidup sendiri di sini, ya? Tanpa Mas, tanpa Gista, tanpa semuanya?”Marvin terdiam.Tatapannya tidak lepas dari wajah Felly.Beberapa menit yang lalu wanita itu masih berkeliling rumah dengan penuh antusias. Matanya berbinar melihat setiap sudut ruangan, membayangkan kehidupan baru yang mungkin menunggunya di kota ini.Namun sekarang ekspresi itu menghilang.Yang tersisa hanyalah keraguan yang sejak tadi berusaha ia sembunyikan.Marvin menyadari bahwa yang membuat Felly takut bukanlah kampus itu.Bukan pula Italia.Melainkan semua yang harus ia tinggalkan untuk sampai ke sana.Marvin masih belum menjawab.Ruangan itu tiba-tiba terasa lebih sunyi dari sebelumnya, meski sebenarnya tidak ada yang berubah. Suara kecil dari luar jendela masih ada, hembusan angin sore masih bergerak pelan, cahaya keemasan masih jatuh di lantai kamar itu.Tapi bagi Felly, semuanya seperti sedikit menjauh.Tangannya yang tadi ringan kini terasa sedikit kaku d

  • Simpanan Dosen Tampan   138

    Felly menatap penuh kekaguman pada seisi rumah yang kini ia pijaki. Lantai marmernya yang mengkilat, dan beberapa ornament khas Eropa yang megah.“Suka?” tanya Marvin yang memeluk Felly dari belakang dan melingkarkan kedua lengannya di perut wanita itu. Dagunya ia topang di bahu Felly di mana si empunya sedang sibuk menatap sekeliling rumah dengan takjub.“Woah… megah sekali. Mama itu… orang kaya banget, ya, Mas?”Marvin terkekeh. “Tidak mau sombong, tapi… ya… sekaya itu,” jawab Marvin.Felly menoleh, jarak wajahnya dengan Marvin tak sampai sejengkal, bahkan napas laki-laki itu menerpa wajahnya dengan hangat.Mata mereka bertatapan, lalu Marvin memajukan wajahnya dan mencium bibir Felly dengan singkat.“Malah melamun,” tegur Marvin saat Felly sadar akan keterkejutannya dicium Marvin.“Bukan melamun,” jawab Felly cepat. “Tidak menyangka saja mama punya properti semegah ini. Dan aku akan tinggal di sini kalau jadi kuliah di sini?”Marvin mengangguk, ia berdiri tegak dan memutar wajah is

  • Simpanan Dosen Tampan   137

    Di dalam bilik kantin itu, suasana perlahan kembali stabil.Hanya tersisa Felly dan Marvin yang duduk berhadapan, dengan sisa makanan yang tidak lagi terlalu disentuh. Di luar kaca pembatas, kantin masih ramai seperti biasa, mahasiswa datang dan pergi dengan urusan masing-masing, tapi semua itu terasa seperti berada di dunia yang agak jauh.Di dalam bilik, justru sebaliknya.Heningnya tidak terasa kosong. Lebih seperti jeda yang nyaman setelah banyak hal yang terjadi sejak pagi. Felly duduk dengan posisi sedikit bersandar, matanya sesekali bergerak mengikuti aktivitas di luar, tapi tidak ada yang benar-benar ia kejar dengan pikirannya.Marvin tetap tenang di depannya, melanjutkan makan dengan ritme yang santai, sesekali berhenti sebentar tanpa menunjukkan terburu-buru. Tidak ada percakapan yang dipaksakan, tidak ada kebutuhan untuk mengisi ruang.Hanya suasana yang berjalan pelan, seolah dunia memberi mereka waktu sebentar untuk diam.Felly tidak langsung bicara. Ia hanya duduk sambil

  • Simpanan Dosen Tampan   136

    Keesokan harinya…Setelah pertemuan dengan Miss Claudy, tur kampus mereka berlanjut ke beberapa gedung lain yang belum sempat dikunjungi sehari sebelumnya.Rebecca masih sesekali menjelaskan fasilitas kampus, sementara Elena lebih banyak melontarkan komentar-komentar spontan yang berhasil membuat Felly tertawa beberapa kali.Mereka melihat perpustakaan utama yang luas dengan beberapa lantai khusus untuk penelitian dan ruang diskusi. Setelah itu, mereka berkeliling ke student center, area organisasi mahasiswa, hingga asrama internasional yang letaknya tidak terlalu jauh dari gedung fakultas.Semakin banyak tempat yang ia lihat, semakin jelas pula gambaran kehidupan kampus itu di kepalanya.Tidak lagi terasa seperti tempat asing yang hanya ia lihat dari brosur atau cerita orang lain.Perlahan, tempat itu mulai terlihat seperti tempat yang benar-benar dihuni manusia. Tempat orang belajar, mengeluh soal tugas, begadang menjelang ujian, dan menjalani kehidupan sehari-hari.Menjelang siang,

  • Simpanan Dosen Tampan   135

    Rebecca memimpin mereka untuk masuk lebih jauh. Beberapa kali Elena maupun Marvin memperkenalkan beberapa gedung yang mungkin nantinya akan banyak dikunjungi oleh Felly jika ia jadi untuk pindah ke kampus ini.“Nah, seluruh ruangan di sini khusus untuk para staf kampus, termasuk dosen. Jadi tidak akan sulit mencarinya. Ayo,” Rebecca masuk dan berhenti di depan pintu bercat mahogany.Di atasnya tertera papan label bertuliskan “HEAD OF STUDY PROGRAM – English Literature”Rebecca mengetuk pintu beberapa kali, lalu terdengar suara seorang wanita dari dalam untuk mempersilakan mereka masuk.Pintu terbuka, memperlihatkan seorang perempuan dengan penampilan rapi dan profesional, mengenakan kemeja krem dengan rambut yang diikat rendah. Usianya tidak jauh dari Rebecca, tapi ada aura percaya diri yang membuatnya langsung terlihat dominan di ruang itu.“Hi, Mrs. Rebecca.”Tatapannya langsung bergerak ke arah rombongan kecil di depannya.Lalu berhenti sedikit lebih lama saat melihat Marvin.“I h

  • Simpanan Dosen Tampan   49

    Hari kembali berganti. Felly masih banyak diam, tetapi telah menunjukkan beberapa perubahan yang cukup baik.Di hari ketiga Felly dirawat, neck brace di leher Marvin akhirnya dilepaskan. Ia sudah bisa bergerak lebih bebas, meski tetap harus menjaga kehati-hatian agar tidak kembali cedera.Dalam per

  • Simpanan Dosen Tampan   48

    Sementara Marvin menunggu belahan jiwanya hidup kembali di balik pintu rumah sakit, di tempat lain seseorang baru saja menyadari rencananya gagal total.Hendra—sosok yang selama ini tak pernah diceritakan, akhirnya muncul di permukaan.Wajah tampannya bengis, seperti potongan terakhir dari teka-tek

  • Simpanan Dosen Tampan   47

    Marvin menatap pintu kaca rumah sakit dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.Di kursi yang berjejer, Olivia duduk dengan menangkup wajah dengan kedua tangannya. Sementara Devan berdiri bersandar di tembok dekat pintu, mengamati wajah Marvin yang tampak sembab.Ia menepuk bahu Marvin guna m

  • Simpanan Dosen Tampan   46

    “Sekarang sepi,” ucap Ferdy, seolah menyampaikan kabar baik. “Kita bisa ngobrol.”Tangannya terulur ke belakang kepala Felly. Detik itu terasa panjang, seperti ditarik. Jari-jarinya menyentuh simpul kain, mengendurkannya perlahan. Felly menahan napas, dadanya naik turun cepat.“Tenang,” kata Ferdy

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status