LOGINSeakan seluruh udara di dadanya tersedot habis.
Felly merangsek maju, suara gemetar keluar dari mulutnya. “Pak, ini maksudnya apa? Kenapa rumah saya ditempeli ini?”
Salah satu pria menoleh. Formal, rapi, ekspresinya datar, bahkan terlalu datar untuk berita yang bisa meruntuhkan hidup seseorang.
“Selamat siang, Nona. Kami dari pihak bank. Apakah Anda keluarga dari almarhum Pak Herman?”
Felly mengangguk cepat, tak sempat menata napas. “Iya, saya anaknya. Tapi ... tapi baru dua minggu Ayah meninggal. Kenapa kalian langsung menyita?”
Pria itu membuka map coklat, menunjukkan berkas-berkas yang tertata rapi namun terasa seperti vonis.
“Kami turut berduka, Nona. Namun cicilan kredit rumah ini sudah menunggak hampir sepuluh bulan sebelum almarhum wafat. Bank sudah mengirimkan surat peringatan berkali-kali, termasuk menawarkan restrukturisasi. Karena tidak ada pembayaran hingga batas waktu terakhir, proses penyitaan sudah dijadwalkan sebelum beliau meninggal.”
Felly terpaku. Suaranya patah.
“Sepuluh bulan? Ayah tidak pernah bilang apa pun.”
Petugas lain maju, suaranya lebih pelan, sopan namun berita yang disampaikannya tetap terasa keras menghantam Felly.
“Mungkin almarhum tidak ingin membebani Anda. Namun secara hukum, kami harus mengeksekusi penyitaan hari ini. Jika pihak keluarga bersedia mengajukan pelunasan atau negosiasi cicilan, kami bisa menunda sementara.”
Felly tertawa hambar, bukan karena lucu, tapi karena punggungnya seperti ditarik realitas pahit.
“Negosiasi? Pelunasan? Dengan apa?” suaranya pecah. “Saya kerja sambilan untuk hidup. Ayah baru pergi dua minggu lalu. Kalian pikir saya mampu bayar utang sebesar ini?”
Keheningan jatuh. Tidak ada jawaban. Hanya papan putih di pagar rumahnya yang berdiri seperti kuburan kedua.
Mata Felly memindai sekitar, pagar yang hanya sepinggang itu masih bisa memperlihatkan halaman luas yang dulu menjadi tempatnya bermain bersama kedua orang tuanya.
Sebenarnya, sejak kapan semua ini bermula? Sejak kapan hidupnya yang sempurna itu kini jadi malapetaka?
Lalu tiba-tiba sekelebat bayangan datang di kepala Felly.
"Saya lunasi hutang ayah kamu, tapi kamu jadi simpanan saya."
Kalimat itu terngiang di kepalanya berulang kali.
Felly kemudian kembali menghampiri orang bank itu, "Pak, bagaimana supaya rumah saya tidak jadi disita?"
Pihak bank itu saling pandang, mereka tersenyum dan salah satunya berkata, "Sebenarnya ini situasi yang sulit, apalagi Pak Herman tidak meng-klaim asuransi jiwa. Tapi, nona punya waktu 1 bulan untuk tunjukkan komitmen pembayaran, kalau tidak, penyitaan tetap berjalan.”
Felly menggigit bibirnya.
"K-kalau begitu, dalam kurun waktu satu bulan itu, apa saya masih boleh menempati rumah ini? Misal nanti saya tidak bisa membayar, mungkin saya bisa mencari tempat tinggal baru dulu."
"Ya, tidak apa-apa, tapi tidak apakah anda baik-baik saja tinggal di sini tapi ada plang sita ini?"
Felly menatap papan itu, meneguk ludahnya, lalu mengangguk. "Ya, tidak apa-apa."
Lagipula, masih mending menahan malu dengan plang itu dari pada harus menjadi gelandangan dan tidur di luar.
"Ya sudah. Kalau begitu kami permisi, ini kartu nama saya, kalau nona sudah siap untuk bernegosiasi, silahkan hubungi saya. Kalau sampai satu bulan dari hari ini tidak ada kabar, maka anda harus siap untuk mengosongkan rumah ini."
Felly mengambil kartu nama itu dan kemudian membiarkan dua orang bank itu pergi meninggalkannya.
Gang yang tadi terdengar ramai kini seperti kehilangan suara, hanya angin dan dadanya yang bergemuruh.
—
Felly tak jadi bekerja. Tak akan mampu hadapi para pelanggan yang tingkahnya ada-ada saja.
Untung saja dirinya tak sering cuti, sehingga izin mudah saja didapatkannya. Kini ia terduduk di depan nakas kamar ayah dan ibunya, memeluk foto keluarga dengan senyum lebar.
Bau kamper dari lemari tua, debu yang tak tersentuh sejak pemakaman, dan sunyi yang menyesakkan. Seolah rumah itu sendiri ikut menangis. Ia menoleh ke samping, ada sebilah pisau tajam yang entah kenapa ia taruh di sisinya.
Perlahan, tangan Felly terangkat, mendekat pada bilah tajam itu dan mengambilnya.
Namun, sebelum ada hal buruk terjadi, Felly segera melempar pisau itu hingga berbunyi nyaring di rumah yang sunyi itu.
Trangg...
"Aku pasti sudah gila," gumam Felly. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar, ia menangis, tapi tak bersuara.
Tidak. Ia tidak akan mati.
Banyak hal yang ingin ia lakukan.
Seberat apapun hidupnya, mengakhiri hidup tidak pernah menjadi pilihan yang akan ia ambil.
Felly berdiri, lalu duduk di ranjang dan mengambil ponselnya. Entah pikiran dari mana, ia mencari kontak dan menemukan nama "Pak Marvin" di sana.
Tanpa pikir panjang, Felly menekan tombol hijau untuk menghubungi nomor itu.
Hanya dalam dua dering, panggilan itu diangkat.
"Saya pikir kamu setidaknya butuh waktu satu minggu, ternyata kamu lebih cepat untuk menghubungi saya."
Suara dengan nada penuh ejekan itu membuat darah Felly berdesir, ada kebencian dan kesedihan yang bertumpuk.
"Bapak bisa kasih saya berapa?"
Senyum di seberang terdengar melalui nada bicaranya.
"Seberapapun yang kamu minta," suara Marvin halus namun mengerikan. “Asal kamu ikut semua aturan saya.”
Gila.
Itu seperti tangan iblis yang menawarkan pelukan.
Seberapapun manisnya, tetap saja iblis yang akan membawanya ke neraka terdalam.
Hening beberapa detik. Jantung Felly berdegup bukan karena takut, tapi karena putus asa yang tak tersisa ruang untuk pilihan lain.
"Kapan kita tandatangani perjanjiannya?"
Kalimat itu keluar. Entah dari mulut perempuan yang masih bernyawa, atau dari jiwa yang sudah mati.
Dan Felly pun sama gilanya.
Atau mungkin, dunia yang membuatnya begini.
“Besok, setelah kelas usai, temui saya di alamat yang akan saya kirimkan nanti.”
Kantor yayasan siang itu tampak sibuk seperti biasa, namun ada satu hal yang sangat kontras dari sang pemilik ruangan. Marvin duduk di balik meja kerjanya yang luas, mengenakan kemeja lengan panjang yang lengannya dilipat sampai siku. Alih-alih memasang ekspresi dingin yang biasanya sukses membuat orang lain segan, pria itu justru tengah menatap layar ponselnya dengan sudut bibir yang tertarik membentuk senyum tipis—pemandangan langka yang seketika menghentikan langkah Devan begitu sahabatnya itu melangkah masuk tanpa mengetuk pintu.Devan, yang datang dengan pakaian kasual rapi, langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Marvin dengan santai."Lagi kesambet apa lo, Vin? Baru masuk aja gue udah lihat lo senyum-senyum sendiri kayak orang ilang," celetuk Devan santai. "Mana ekspresi dingin lo yang biasa pasang kalau lagi di kantor? Ketinggalan di Roma?"Marvin berdehem pelan. Cepat-cepat ia mematikan layar ponselnya dan meletakkannya di atas meja, berusaha memasang kembali ekspresi dat
Langit malam telah sepenuhnya menggantikan pendar jingga senja di pesisir Fregene saat SUV hitam yang dikemudikan Marvin kembali membelah jalan tol menuju utara. Perjalanan panjang meninggalkan Roma menuju Florence membentang di hadapan mereka, ditemani oleh alunan musik instrumental lembut dari radio mobil yang mengiringi kesunyian malam.Di kursi penumpang sebelah pengemudi, Felly tampak bersandar nyaman dengan mata yang perlahan meredup. Kelelahan setelah seharian penuh berjalan-jalan di Ostia Antica dan menyusuri pantai akhirnya mengambil alih kesadarannya. Napas wanita itu teratur, terlelap dalam lelap yang tenang.Marvin melirik sekilas ke arah sang istri, mendapati kepala Felly sedikit miring ke samping. Sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum tipis yang sarat akan kelembutan. Berbeda dari perjalanan antar-kota sebelumnya yang sempat diwarnai ketegangan, rasa curiga, dan jarak emosional yang menyesakkan, perjalanan kali ini terasa begitu ringan. Hati mereka sudah sama-s
Sisa debar dari kamar mandi masih melekat erat di kulit mereka saat Marvin mengegndong Felly keluar dari kepulan uap hangat. Tanpa membuang waktu, pria itu merebahkan tubuh istrinya secara perlahan di atas seprai putih berukuran king-size yang menghadap langsung ke dinding kaca kamar suite.Sentuhan Marvin langsung berubah intens namun dibalut kelembutan yang teramat sangat. Di atas ranjang luas itu, seolah jarak sebulan menjalani Long Distance Relationship dan segala emosi yang sempat tertahan melebur menjadi satu dalam setiap gerakannya. Tangan kokoh suaminya menangkup wajah Felly, memaksa wanita itu menatap langsung ke dalam manik mata gelapnya yang memuja."Kamu milik saya, Felly... sepenuhnya milik saya," bisik Marvin serak, suaranya menghanyutkan dan menuntut kepasrahan mutlak.Jari-jari pria itu menelusuri garis rahang istrinya turun ke leher, memberikan sengatan panas di setiap titik yang disentuhnya. "Hm, dari kemarin di Florence saya sudah pengen buat kamu begini... mendesah
Matahari yang tadinya membingkai langit sore Fiumicino dengan rona oranye keemasan kini telah sempurna tenggelam, digantikan pekat malam yang turun merayap menyelimuti jalanan kota abadi.Laju SUV hitam yang dikemudikan Marvin membelah arus lalu lintas malam Roma, membawa mereka merapat ke sebuah hotel butik mewah berarsitektur klasik di kawasan jantung kota. Setelah proses check-in kilat di meja resepsionis privat yang terbebas dari keramaian, langkah kaki keduanya menuju pintu kamar suite eksklusif yang langsung terdorong terbuka lebar.Felly melangkah masuk lebih dulu, dan sedetik kemudian, sebuah helaan napas kagum tanpa sadar terlepas dari bibirnya. Dinding kaca berukuran besar dari lantai hingga langit-langit kamar menyuguhkan panorama lanskap malam kota Roma yang berpendar indah di bawah temaram ribuan lampu jalanan kuno dan bangunan bersejarah.Suasana di dalam ruangan seketika terasa begitu privat, kontras dengan hiruk-pikuk bandara beberapa jam lalu. Tas belanja dan koper te
Deretan papan petunjuk berukuran besar akhirnya mengarahkan SUV hitam milik Marvin memasuki area Bandara Internasional Leonardo da Vinci–Fiumicino, Roma. Langit sore mulai berhias rona oranye keemasan, membiaskan cahaya hangat yang menembus kaca depan kendaraan. Perjalanan antar-kota yang melelahkan itu tuntas tepat waktu, menyisakan jarak beberapa jam sebelum jadwal penerbangan Bu Dyas kembali ke Jakarta.Marvin memutar kemudi dengan sigap, melipir perlahan menuju area drop-off terminal keberangkatan internasional yang riuh oleh hilir mudik calon penumpang. Begitu mesin mobil dimatikan, Bu Dyas di kursi belakang terbangun pelan dari tidur lelapnya. Beliau merapikan tatanan rambutnya yang tetap anggun, lalu kembali mengenakan kacamata hitamnya dengan gerakan yang elegan."Sudah sampai, Ma," ucap Marvin datar sembari melepas sabuk pengaman, lalu menoleh ke belakang sekilas."Cepat sekali," gumam Bu Dyas sembari menyimpulkan senyum tipis. Beliau melirik Felly yang berada di samping kemu
Roda-roda SUV mewah milik Marvin bergulir perlahan meninggalkan kompleks kampus Florence. Mobil garang yang selalu siap di garasi rumah pribadinya yang kini ia taruh di garasi rumah Bu Dyas yang ditempati Felly di Italia itu melaju mulus, membawa mereka bertiga membelah jalanan kota sebelum akhirnya lepas menuju jalur antar-kota.Pemandangan di luar jendela secara bertahap berubah—bangunan berarsitektur renaisans tergantikan oleh hamparan perbukitan Tuscany yang membentang luas. Dedaunan hijau memudar hangat di bawah paparan sinar matahari Jumat siang, menciptakan garis siluet indah di sepanjang jalur menuju Roma.Di balik kemudi, Marvin duduk tegap. Jemari tangannya yang panjang terkepal santai di atas lingkar kemudi. Suasana hatinya jauh berbeda dibanding saat perjalanan menuju kampus pagi tadi—rahangnya yang tadinya mengeras kaku kini tampak jauh lebih rileks.Penampilannya hari ini sudah kembali ke standar seorang Marvin yang sempurna—kemeja kasual terlipat rapi hingga siku, rambu
Marvin membawa Felly ke club Devan. Di sana sudah lengkap formasi, seolah sengaja datang untuk menyambut Felly.“Hai, Felly!” Olivia tak lagi dingin seperti dulu. Wanita itu lebih ramah pada Felly, bahkan menyambut dengan pelukan hangat seolah bertemu teman lama.Felly awalnya kikuk, bingung bagaim
“Mas, mama … mama juga cerita tentang Vania.”Marvin membeku.“Mas?” Felly melambaikan tangan di depan wajah Marvin yang tak memberi respons apa pun.Marvin tersadar saat Felly menyenggol lengannya pelan. “Ah? Y-ya?” ucapnya terbata. “Maaf… Mas melamun.”Felly menghela napas, lalu menyandarkan tubu
Perkuliahan selesai lebih cepat dari biasanya, Felly dengan cepat merapikan mejanya dan bergegas pergi setelah berpamitan pada Gista. Sahabatnya itu tidak curiga apapun, mengira dirinya akan bekerja di minimarket seperti biasanya.Padahal di sinilah Felly berada. Di depan sebuah gedung apartemen me
“Tutup pintunya,” titah Marvin begitu keduanya sampai di ruangan yang cukup luas itu. Felly baru tahu pagi ini setelah mencari tau di internet tentang siapa itu Marvin Lee dan apa hubungannya dengan kampusnya.Marvin Lee adalah pimpinan yayasan dari kampusnya, sebab itulah ia memiliki ruangan khus







