Share

88

Penulis: semangkukramen
last update Tanggal publikasi: 2026-03-25 01:17:06

Marvin dan Felly sampai di apartemen dengan selamat dan dada yang jauh dari kata sesak.

Lega.

Bahkan perasaan mereka kini tak bisa digambarkan dengan satu kata itu.

Marvin merengkuh pinggang Felly dan meletakkan kepalanya pada pundak Felly.

“Maaf ya sayang. Harusnya keputusan ini Mas lakukan sejak lama, jadinya tidak akan ada drama seperti kemarin-kemarin.”

Felly terkekeh pelan. Ia mengelus rambut Marvin dan menoleh.

“Semuanya sudah berjalan seperti semestinya, Mas. Kalau dari awal kita melakuk
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Simpanan Dosen Tampan   126

    Elena menarik tangannya kembali lalu duduk santai di kursi tunggal semula. Senyum kecil masih tertinggal di bibirnya, seolah ia menikmati suasana yang mulai berubah tipis sejak tadi.“Jadi,” ujarnya sambil menatap Felly, “kamu sudah tahu belum kalau suamimu ini dulu sangat nggak menyenangkan?”Felly otomatis menoleh ke Marvin.Marvin tetap tenang. “Fitnah lagi.”“Elena tertawa kecil. “Lihat? Nada bicaranya begitu dari dulu.”Felly menahan senyum. “Mas Marvin memang dikenal sebagai orang yang sulit untuk diajak berbicara.”“Dulu,” lanjut Elena, menyandarkan tubuhnya nyaman, “kalau dia datang ke sini, wajahnya seperti habis memecat sepuluh orang. Duduk tegak, diam, lalu menatap kopi seolah itu juga salah.”Felly tak bisa menahan tawa kali ini.Marvin menyeruput kopinya tanpa ekspresi. “Cerita yang dilebih-lebihkan.”Elena tertawa kecil, seolah mengingat sesuatu yang lain.“Bahkan pernah sekali dia datang tepat waktu,” lanjutnya, “dan itu sudah cukup membuat kami semua curiga ada yang sa

  • Simpanan Dosen Tampan   125

    Felly melangkah masuk paling akhir.Pintu apartemen tertutup pelan di belakang mereka, menyisakan suasana hangat yang jauh berbeda dari lorong tenang di luar. Ruangan itu luas, dipenuhi cahaya matahari dari jendela-jendela tinggi yang menghadap jalan kota. Furniturnya rapi, dominan warna netral dengan sentuhan kayu gelap dan lukisan besar di salah satu dinding.Elegan, tenang, dan mahal.Felly otomatis merapikan posisi tas kecil di bahunya, entah kenapa mendadak merasa terlalu biasa berada di sana.Sementara Marvin sudah berjalan beberapa langkah ke dalam dengan santai, seolah tempat itu bukan rumah orang lain.“Masih suka menaruh bunga segar di dekat jendela rupanya,” ujar Marvin datar sambil melirik vas putih di sudut ruangan.Perempuan itu tertawa kecil. “Dan kamu masih suka mengomentari rumah orang begitu masuk.”Aksen asingnya terdengar lembut, tapi bahasa Indonesianya cukup rapi.Felly menoleh cepat.Perempuan itu cantik dengan cara yang mencolok tanpa berusaha. Rambut pirang ge

  • Simpanan Dosen Tampan   124

    Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari Sant’Eustachio Il Caffè dan kembali menjejak jalanan Roma yang mulai semakin ramai.Aroma kopi masih tertinggal samar di udara, bercampur wangi roti hangat dari toko-toko sekitar. Matahari naik sedikit lebih tinggi dibanding saat mereka datang tadi, memantulkan cahaya ke dinding bangunan tua berwarna gading di sepanjang jalan.Felly berjalan di samping Marvin sambil menggenggam tangannya, tapi pikirannya jelas tidak sepenuhnya ada di jalan.Tatapannya beberapa kali melirik ke paper bag hitam kecil yang kini dibawa Marvin dengan santai di tangan kirinya.Marvin menyadari itu sejak lirikan kedua.“Kalau terus dilihatin begitu, nanti bolong tasnya,” ujarnya tenang tanpa menoleh.Felly langsung menatap depan lagi. “Aku nggak ngelihatin.”“Hmm.”“Itu tadi cuma kebetulan.”“Empat kali?”Felly menoleh cepat. “Mas ngitungin?”“Saya bosan kalau jalan diam-diam.”Felly mendecak pelan. “Ya habis Mas bikin penasaran.”Marvin tersenyum tipis. “Bagus.”“B

  • Simpanan Dosen Tampan   123

    Tidak butuh waktu terlalu lama sampai langkah mereka berhenti di depan sebuah bangunan kecil yang tampak jauh lebih sederhana dibanding tempat-tempat wisata yang baru saja Felly lihat.Tidak megah. Tidak mencolok.Justru terlihat seperti sudut biasa yang nyaris terlewat jika tidak tahu harus mencari apa.Namun anehnya, beberapa orang berdiri mengantre di depan pintu. Sebagian membawa cangkir kecil di tangan, sebagian lagi berbicara cepat dalam bahasa yang tak Felly pahami.Felly menoleh ke kanan kiri, lalu kembali menatap bangunan itu.“Ini?” tanyanya ragu.Marvin mengangguk santai. “Ini.”Felly mengerutkan dahi kecil. “Mas yakin nggak salah tempat?”Marvin melirik sekilas. “Kenapa?”“Soalnya…” Felly menatap papan nama di atas pintu, lalu menoleh lagi. “Aku kira tempat terkenal itu minimal gede, mewah, atau ada aura-aura mahalnya gitu.”Marvin terkekeh pelan. “Aura mahal itu bagaimana bentuknya?”“Ya… pokoknya kelihatan mahal.”“Seperti saya?”Felly terdiam sepersekian detik, lalu men

  • Simpanan Dosen Tampan   122

    Felly membalikkan badan lebih dulu, melangkah meninggalkan tepi kolam dengan wajah yang masih terasa panas. Tangannya sempat menutupi pipi sendiri, seolah itu bisa menyembunyikan rasa malu yang belum juga reda sejak bisikan Marvin barusan.Di belakangnya, Marvin berjalan santai tanpa terlihat bersalah sedikit pun.“Jalan cepat banget,” ujarnya ringan. “Takut saya tambahin satu ide lagi?”Felly langsung menoleh dengan mata membesar. “Mas!”Marvin terkekeh pelan, jelas menikmati reaksinya. “Marah?” godanya.“Ya siapa suruh ngomong sembarangan di tempat ramai begitu?” protes Felly sambil kembali berjalan. “Kalau ada yang dengar gimana?”“Mereka nggak ngerti bahasa kita.”“Itu bukan poinnya.”“Terus poinnya apa?”Felly membuka mulut, tapi tidak ada jawaban yang keluar. Ia hanya mendecak pelan lalu memalingkan wajah ke arah lain.Marvin menyusul hingga langkah mereka sejajar. Tanpa banyak bicara, tangannya kembali mencari tangan Felly dan menggenggamnya seperti tadi.“Masih malu?” tanyanya

  • Simpanan Dosen Tampan   121

    Langkah mereka tidak lagi secepat sebelumnya.Felly tetap menggenggam tangan Marvin, tapi kali ini lebih tenang. Tidak ada lagi gerakan kecil seperti tadi, tidak ada lagi kepala yang menoleh cepat ke setiap sudut jalan.Ia hanya berjalan… sambil memandang ke depan.Marvin menyadari itu sejak beberapa meter pertama.“Mas…” panggil Felly pelan.“Mm?”Felly menoleh sedikit ke samping, lalu bertanya, “Trevi itu masih jauh nggak sih?”Marvin melirik sekilas ke arah jalan di depan mereka, lalu kembali ke Felly. “Dekat.”Jawaban singkat. Tapi Felly tidak langsung merespons seperti biasanya.Ada jeda kecil di antara mereka. Marvin merasakan perubahan itu.Tangannya yang menggenggam tangan Felly sedikit bergerak, bukan menarik, hanya menyesuaikan posisi agar lebih nyaman.“Capek?” tanyanya kemudian, lebih pelan dari tadi.“Enggak,” jawab Felly cepat, lalu setelah itu suaranya mengecil, “cuma… kepikiran aja.”Marvin berhenti melangkah sedikit lebih lambat, tapi tidak sepenuhnya berhenti. “Yang

  • Simpanan Dosen Tampan   68

    Sementara itu, di bangunan terbengkalai yang sepi, beberapa pria berbadan tegap mondar-mandir di depan perapian seolah tengah menunggu sesuatu.Dari gerbang masuk, satu… dua… tiga… langkah kaki bergema, bergabung menjadi barisan gelap yang tak terhitung jumlahnya.Bantuan dari Keluarga Devan Horris

  • Simpanan Dosen Tampan   67

    BRAKKKOlivia, Oliver, Kevin, dan Devan yang berada di tempat terpisah, membeku dalam sekian detik mendengar suara debuman yang keras itu.Suara itu tidak terputus. Tidak seperti gangguan biasa. Tidak pula seperti benda jatuh. Terlalu mengerikan untuk didengar.Suara teriakan Marvin yang tertahan m

  • Simpanan Dosen Tampan   66

    Mobil yang dikendarai Marvin berguling beberapa kali. Sampai kemudian terbalik dengan asap putih pekat yang keluar dari badannya.Bunyi berdenging itu terdengar keras dari telinga Marvin.Semua terasa lambat. Terlalu lambat. Seolah dunia menekan tombol jeda tepat setelah benturan ke

  • Simpanan Dosen Tampan   65

    Suara pintu berderit pelan. Seolah sengaja dibuka agar bunyinya terdengar.Tubuh Felly menegang seketika. Napas yang tadi mulai teratur kembali kacau. Jantungnya berdetak terlalu keras sampai telinganya berdenging.Langkah kaki memasuki ruangan. Terdengar berat seolah sengaja dipijak keras-keras pa

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status