공유

122

last update 게시일: 2026-04-20 20:04:30

Felly membalikkan badan lebih dulu, melangkah meninggalkan tepi kolam dengan wajah yang masih terasa panas. Tangannya sempat menutupi pipi sendiri, seolah itu bisa menyembunyikan rasa malu yang belum juga reda sejak bisikan Marvin barusan.

Di belakangnya, Marvin berjalan santai tanpa terlihat bersalah sedikit pun.

“Jalan cepat banget,” ujarnya ringan. “Takut saya tambahin satu ide lagi?”

Felly langsung menoleh dengan mata membesar. “Mas!”

Marvin terkekeh pelan, jelas menikmati reaksinya. “Marah
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Simpanan Dosen Tampan   122

    Felly membalikkan badan lebih dulu, melangkah meninggalkan tepi kolam dengan wajah yang masih terasa panas. Tangannya sempat menutupi pipi sendiri, seolah itu bisa menyembunyikan rasa malu yang belum juga reda sejak bisikan Marvin barusan.Di belakangnya, Marvin berjalan santai tanpa terlihat bersalah sedikit pun.“Jalan cepat banget,” ujarnya ringan. “Takut saya tambahin satu ide lagi?”Felly langsung menoleh dengan mata membesar. “Mas!”Marvin terkekeh pelan, jelas menikmati reaksinya. “Marah?” godanya.“Ya siapa suruh ngomong sembarangan di tempat ramai begitu?” protes Felly sambil kembali berjalan. “Kalau ada yang dengar gimana?”“Mereka nggak ngerti bahasa kita.”“Itu bukan poinnya.”“Terus poinnya apa?”Felly membuka mulut, tapi tidak ada jawaban yang keluar. Ia hanya mendecak pelan lalu memalingkan wajah ke arah lain.Marvin menyusul hingga langkah mereka sejajar. Tanpa banyak bicara, tangannya kembali mencari tangan Felly dan menggenggamnya seperti tadi.“Masih malu?” tanyanya

  • Simpanan Dosen Tampan   121

    Langkah mereka tidak lagi secepat sebelumnya.Felly tetap menggenggam tangan Marvin, tapi kali ini lebih tenang. Tidak ada lagi gerakan kecil seperti tadi, tidak ada lagi kepala yang menoleh cepat ke setiap sudut jalan.Ia hanya berjalan… sambil memandang ke depan.Marvin menyadari itu sejak beberapa meter pertama.“Mas…” panggil Felly pelan.“Mm?”Felly menoleh sedikit ke samping, lalu bertanya, “Trevi itu masih jauh nggak sih?”Marvin melirik sekilas ke arah jalan di depan mereka, lalu kembali ke Felly. “Dekat.”Jawaban singkat. Tapi Felly tidak langsung merespons seperti biasanya.Ada jeda kecil di antara mereka. Marvin merasakan perubahan itu.Tangannya yang menggenggam tangan Felly sedikit bergerak, bukan menarik, hanya menyesuaikan posisi agar lebih nyaman.“Capek?” tanyanya kemudian, lebih pelan dari tadi.“Enggak,” jawab Felly cepat, lalu setelah itu suaranya mengecil, “cuma… kepikiran aja.”Marvin berhenti melangkah sedikit lebih lambat, tapi tidak sepenuhnya berhenti. “Yang

  • Simpanan Dosen Tampan   120

    Udara pagi di Roma menyambut begitu mereka melangkah keluar dari hotel. Tidak terlalu dingin, tapi cukup memberi sensasi segar yang langsung terasa di kulit, berbeda dari yang biasa Felly rasakan.Cahaya matahari jatuh lembut di antara bangunan-bangunan tua berwarna hangat, memantul di jendela-jendela tinggi, sementara suara percakapan dalam bahasa yang asing terdengar bersahutan di sepanjang jalan.Untuk beberapa detik, Felly hanya diam di tempatnya, matanya bergerak pelan, menyerap semuanya seolah takut melewatkan satu detail pun.Marvin berdiri di sampingnya. Tatapannya tidak sepenuhnya tertuju pada kota di depan mereka, melainkan pada Felly yang jelas terlihat lebih hidup dari biasanya.Tanpa banyak kata, tangannya bergerak, menggenggam tangan Felly dengan santai, seolah itu hal paling wajar di dunia. “Ayo,” ucapnya pelan.Bukan ajakan yang mendesak, tapi cukup untuk membuat Felly tersadar dari kekagumannya. Ia menoleh, tersenyum kecil, lalu melangkah mengikuti Marvin—masuk lebih

  • Simpanan Dosen Tampan   119

    Setelah pergulatan panjang, keduanya tak langsung beranjak.Marvin hanya mengelap bagian bawah mereka yang lengket dengan handuk basah yang hangat, lalu kembali merebahkan diri bersama Felly menyandarkan kepalanya di dada Marvin, sementara Marvin bersandar pada kepala ranjang.“Sudah lapar apa belum, sayang?” tanya Marvin.Felly menggeleng. “Sekarang belum terasa sih. Mas sudah lapar?”“Belum. Tadi pas kita main, ada yang menekan bel. Sepertinya sarapan kita,” jawab Marvin dengan entengnya.Felly mengernyitkan alisnya dan mendongak, “Serius?”Marvin terkekeh. “Iya, sayang. Soalnya kan tadi Mas sudah pesan. Tapi kamu malah godain saya. Jadinya kebablasan deh.”Felly memicingkan matanya sebal, lalu kembali menyandarkan tubuhnya. “Mana ada aku godain. Mas aja yang tiba-tiba menyerang.”Marvin tak menyangkal. Ia hanya terkekeh pelan dan mengecup pucuk kepala Felly.“Seharusnya sebentar lagi akan diantarkan, sayang. Nanti sarapan dulu, lalu kita keluar, ya? Kamu sudah bikin itinerary mau

  • Simpanan Dosen Tampan   118

    [full 21+mohonkebijaksanaannya]Deru napas mereka semakin terdengar berat. Felly yang tadinya duduk menyamping, kini melangkahi paha Marvin dan duduk menghadap Marvin sepenuhnya.Tatapan mereka kembali beradu, napas mereka saling bersahutan, lalu… ciuman pun kembali dimulai entah oleh siapa.Awalnya pelan… pelan… lalu kian berat. Mereka coba mendominasi satu sama lain yang tentu saja dimenangkan oleh Marvin.Lalu dengan satu gerakan kecil, Marvin berdiri. Mengangkat Felly dengan begitu ringannya.Ia sangga bokong Felly agar tidak terjatuh dengan tangan kanannya, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk menekan leher belakang perempuan itu agar tidak menjauh dari posisinya.Felly tak berontak, ia melingkarkan kakinya ke tubuh Marvin. Lantas Marvin duduk di sisi ranjang, Felly masih berada dalam dekapannya dengan ciuman yang belum terlepas sama sekali. Tak mempedulikan saliva yang sudah menjuntai di dagu

  • Simpanan Dosen Tampan   117

    Beberapa menit berlalu tanpa perubahan berarti.Jemari Marvin masih bergerak di atas keyboard, tapi ritmenya tidak lagi secepat sebelumnya. Satu per satu grafik bergeser di layar, angka-angka diperiksa, lalu dibiarkan begitu saja tanpa tindak lanjut.Perlahan… gerakannya melambat. Hingga akhirnya berhenti.Tatapannya tidak lagi terpaku pada layar di depannya. Melainkan bergeser turun ke arah Felly.Tubuh perempuan itu masih bersandar nyaman di pangkuannya, napasnya teratur, wajahnya tenang tanpa beban apa pun. Satu tangannya masih menggenggam ringan kemeja Marvin, seolah bahkan dalam tidurnya pun ia tidak benar-benar ingin melepaskan.Marvin terdiam beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.Tanpa sadar, tubuhnya sedikit bersandar ke belakang, memberi ruang agar bisa melihat Felly lebih jelas. Rambut yang jatuh menutupi sebagian wajah itu bergerak pelan tertiup hembusan AC, membuat alisnya sedikit mengernyit.Tangannya terangkat. Namun ragu sepersekian detik.Lalu bergerak pelan,

  • Simpanan Dosen Tampan   80

    Hari yang ditakutkan akhirnya datang.Felly tengah bercermin, mengolesi rambutnya dengan vitamin sebelum mengeringkannya denga hair dryer. Dua jam lagi kelasnya akan dimulai, Marvin sebagai dosennya.Sungguh sebuah kebetulan yang entah harus mereka rayakan atau takutkan.Marvin keluar dari kamar ma

  • Simpanan Dosen Tampan   78

    Kehebohan tidak mereda dalam semalam. Sengaja dibiarkan merebak bak virus aneh yang mengguncang dunia maya—dan juga dunia nyata.Marvin dan Felly memilih untuk menutup diri. Menghabiskan waktu berdua di apartemen selama weekend setelah memposting foto-foto viral di kampus saat lalu.Tak ada yang me

  • Simpanan Dosen Tampan   76

    Marvin berdiri di depan jendela ruang kerjanya, memandang halaman yayasan yang pagi itu tampak lebih sibuk dari biasanya. Mahasiswa nampak berlalu-lalang, dosen berjalan dengan tergesa, semua terlihat normal di mana menyadarkan Marvin bahwa kejadian berdarah yang ia alami beberapa waktu lalu tak me

  • Simpanan Dosen Tampan   75

    BRAK!“FELLY! KAMU VIRAL DAN TRENDING DI MANA-MANA!”Suara Gista nyaring dan panik. Ia bahkan tidak melihat siapa saja yang ada di ruangan itu. Matanya hanya tertuju pada Felly dan Marvin yang ada di ruangan itu.Gista berjalan cepat mendekat, nyaris tersandung kakinya sendiri.“Felly… ini… ini…” T

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status