LOGINMobil yang dikendarai Marvin berguling beberapa kali. Sampai kemudian terbalik dengan asap putih pekat yang keluar dari badannya.
Bunyi berdenging itu terdengar keras dari telinga Marvin.
Semua terasa lambat. Terlalu lambat. Seolah dunia menekan tombol jeda tepat setelah benturan keras itu terjadi.
Marvin tidak langsung sadar ia masih hidup. Yang pertama ia rasakan adalah rasa panas. Bukan panas biasa, melainkan panas yang menggigit kulit lalu menyusup ke daging.
L
Keesokan harinya…Setelah pertemuan dengan Miss Claudy, tur kampus mereka berlanjut ke beberapa gedung lain yang belum sempat dikunjungi sehari sebelumnya.Rebecca masih sesekali menjelaskan fasilitas kampus, sementara Elena lebih banyak melontarkan komentar-komentar spontan yang berhasil membuat Felly tertawa beberapa kali.Mereka melihat perpustakaan utama yang luas dengan beberapa lantai khusus untuk penelitian dan ruang diskusi. Setelah itu, mereka berkeliling ke student center, area organisasi mahasiswa, hingga asrama internasional yang letaknya tidak terlalu jauh dari gedung fakultas.Semakin banyak tempat yang ia lihat, semakin jelas pula gambaran kehidupan kampus itu di kepalanya.Tidak lagi terasa seperti tempat asing yang hanya ia lihat dari brosur atau cerita orang lain.Perlahan, tempat itu mulai terlihat seperti tempat yang benar-benar dihuni manusia. Tempat orang belajar, mengeluh soal tugas, begadang menjelang ujian, dan menjalani kehidupan sehari-hari.Menjelang siang,
Rebecca memimpin mereka untuk masuk lebih jauh. Beberapa kali Elena maupun Marvin memperkenalkan beberapa gedung yang mungkin nantinya akan banyak dikunjungi oleh Felly jika ia jadi untuk pindah ke kampus ini.“Nah, seluruh ruangan di sini khusus untuk para staf kampus, termasuk dosen. Jadi tidak akan sulit mencarinya. Ayo,” Rebecca masuk dan berhenti di depan pintu bercat mahogany.Di atasnya tertera papan label bertuliskan “HEAD OF STUDY PROGRAM – English Literature”Rebecca mengetuk pintu beberapa kali, lalu terdengar suara seorang wanita dari dalam untuk mempersilakan mereka masuk.Pintu terbuka, memperlihatkan seorang perempuan dengan penampilan rapi dan profesional, mengenakan kemeja krem dengan rambut yang diikat rendah. Usianya tidak jauh dari Rebecca, tapi ada aura percaya diri yang membuatnya langsung terlihat dominan di ruang itu.“Hi, Mrs. Rebecca.”Tatapannya langsung bergerak ke arah rombongan kecil di depannya.Lalu berhenti sedikit lebih lama saat melihat Marvin.“I h
Rebecca berjalan paling depan, langkahnya stabil seperti sudah hafal setiap sudut kampus itu. Elena di sebelahnya sesekali menoleh, memberi komentar kecil tentang mahasiswa yang lewat atau gedung yang mereka lewati.“Gedung English Literature ada di sisi sana,” kata Rebecca sambil sedikit menunjuk ke arah depan.Felly mengangguk pelan, mengikuti di tengah rombongan itu. Tangannya masih sesekali meremas ujung coat Marvin, walau sudah tidak seerat tadi di mobil.Marvin berjalan di sampingnya, sedikit di belakang separuh langkah, seolah sengaja memberi ruang agar Felly bisa melihat semuanya tanpa terganggu.Udara kampus terasa berbeda. Lebih terbuka, tapi juga lebih ramai dari yang ia bayangkan.Mereka melewati beberapa kelompok mahasiswa yang sedang duduk di tangga bangunan, sebagian tertawa pelan sambil membawa kopi, sebagian lain sibuk dengan laptop di pangkuan. Bahasa asing terdengar berselang-seling di udara, membuat Felly sesekali hanya menangkap potongan kata yang tidak sepenuhnya
Marvin melirik jam tangannya sekali sebelum mengangguk kecil. “Rebecca dan Elena sudah nunggu di bawah,” katanya santai.Felly langsung panik kecil. “Hah? Kok Mas nggak bilang dari tadi!”“Aku bilang sekarang,” jawab Marvin tenang sambil merapikan coat di bahu Felly sedikit lebih lurus. “Lagipula kamu lama di kamar mandi.”“Siapa yang bikin lama?!” balas Felly cepat, langsung sadar dan menutup mulutnya sendiri.Marvin cuma terkekeh.Tanpa banyak drama lagi, mereka akhirnya turun dari apartemen menuju lobi.Begitu pintu lift terbuka—“Lama banget,” suara Elena langsung terdengar tajam.Rebecca di sebelahnya hanya tersenyum kecil, jauh lebih kalem. “Selamat pagi… atau siang?”Felly langsung menunduk sedikit malu. “Maaf… kesiangan.”Elena menyipit ke arah Marvin. “Kesiangan atau sengaja dikasih kesempatan bangun siang?”Marvin tidak tersinggung sedikit pun. “Keduanya.”“Mas!” Felly langsung menyikut pelan pinggangnya.Rebecca tertawa kecil melihat interaksi itu. “That’s okay, Felly. Aku
Malam panas berakhir, Marvin dan Felly masih bergelung di dalam selimut meski matahari sudah mulai meninggi.Sampai kemudian, suara dering ponsel milik Marvin membangunkan si empunya barang.Marvin mengerang, dengan mata tertutup ia meraba nakas di samping ranjang.“Halo?” sapanya dengan suara serak khas bangun tidur.“Kamu di mana?” suara Elena terdengar sebal.Marvin peka, langsung melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan pukul sebelas siang.“Oh, sudah siang,” ujar Marvin tanpa rasa bersalah.Elena mendengus, “Rebecca ada janji dengan orang, diundur saja sekalian jam tiga, bagaimana? Aku yakin Felly pun pasti belum bangun.”Marvin terkekeh. “Terima kasih sudah pengertian. Aku akan datang tepat waktu nanti.”Elena menggumam dan langsung memutus panggilan. Marvin hanya bisa menipiskan bibirnya dan menoleh ke arah Felly yang masih terlelap.Ia mendekat, bubuhkan kecupan kecil di kening Felly hingga istri kecilnya itu mengernyitkan alisnya. Tampak sedikit terganggu dengan perlak
Keheningan kembali melanda. Felly menyandarkan kepalanya pada bahu Marvin. Tangannya membolak-balikkan brosur kampus dan beberapa berkas pendukung yang diberikan Marvin tadi.“Besok… kamu belum siap, kita tidak perlu pergi besok. Kamu bisa ambil waktu sebanyak yang kamu butuhkan, sayang,” ucap Marvin dengan lembut.Ia menyadari jika alur hidup Felly bukanlah miliknya. Ia akan mencoba agar Felly tidak merasa ditinggal lagi.Felly pun menyadari niat baik Marvin, ia diam-diam tersenyum tipis dan merasa lega.Marvin yang keras kepala itu ternyata bisa berubah juga.“Aku tetap mau pergi besok. Udah terlalu lama libur, aku takut otakku nggak bisa dipakai lagi.”Marvin terkekeh, ia mengelus rambut Felly dengan lembut. “Baiklah.”“Tapi aku boleh menentukan jurusan yang aku inginkan sendiri, kan?” tanya Felly sedikit ragu.Marvin perlahan menjauhkan kepala Felly dari bahunya, ia menggenggam kedua tangan Felly dan menatapnya penuh kasih.“Boleh,” jawabnya kemudian.Ditatap begitu, Felly jadi sa
CtakkBu Dyas meletakkan selembar kertas dan juga pena ke atas meja. Marvin mengambilnya dan mengangguk puas.“Panggil Felly sekarang.”Alis Marvin menukik, “untuk apa?”“Kuliah sampai mendapatkan gelar doktor dan jabatan profesor, memang tidak menjamin laki-laki itu menjadi pintar.”Marvin semaki
Felly lemas. Ia masih duduk di atas meja dapur yang sedikit berantakan. Penampilannya pun tak kalah berantakan dengan kemeja yang sudah terbuka kancingnya dan rambut acak-acakan.Marvin tersenyum puas melihat penampilan Felly, ia mengambil handuk yang ada di lemari dekat dapur dan melingkarkannya d
[Pak Marvin: Pulang jam berapa?]Felly sedang mendengarkan dosen berceramah, matanya menatap layar ponsel yang berkedip dan menampilkan pop up chat dari Marvin. Felly menoleh ke kanan dan ke kiri, Gista sedang tidur dengan kepala yang ditaruh di atas meja. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya, sud
Libur akhir pekan telah usai. Apartemen Marvin sudah kembali ramai di pagi hari dengan bunyi beberapa alat masak yang saling bersahutan.Marvin sudah rapi dengan kemeja navy-nya, sementara Felly masih mencepol rambutnya dengan apron yang masih menggantung di lehernya. Sangat berantakan.“Kelas jam







