Share

90

last update Petsa ng paglalathala: 2026-03-28 23:34:00

Felly terbangun dengan sedikit linglung. Ia menoleh ke segala arah dan mendapati sesosok wanita duduk dengan anggun di seberangnya.

“Mas?”

“Ini saya, Felly.” Sosok itu menyahut dengan cepat.

Suaranya membuat kesadaran Felly kembali dengan cepat. “M-mama?” Dengan sigap, Felly langsung duduk yang membuat kepalanya berdenyut hebat.

“Aduh!” rintihnya.

Bu Dyas dengan cepat menghampiri Felly dan mengulurkan segelas air putih pada menantunya itu.

“Kenapa terburu-buru begitu? Yang tenang. Minum dulu.”

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Simpanan Dosen Tampan   112

    Kabinnya jauh lebih tenang dari yang dibayangkan. Felly mengikuti langkah Marvin yang tenang, mencari keberadaan kursi untuk mereka berdua.Lampu redup, suara mesin pesawat terdengar stabil di latar, dan sekat-sekat kecil membuat setiap kursi terasa seperti ruang sendiri. Tidak banyak orang yang benar-benar bicara, seolah semua sepakat menjaga jarak tanpa perlu diatur.Felly duduk lebih dulu, memperhatikan sekeliling dengan diam.Matanya sempat menyapu detail kecil di depannya sebelum akhirnya berhenti, sedikit menghela napas seperti baru benar-benar sadar mereka sudah sejauh ini.“Nyaman?” tanya Marvin.Felly tersenyuum dan mengangguk. “Banget. Biasanya aku kalau sama ayah naiknya kelas ekonomi. Sekarang naik kelas bisnis, rasanya sangat jauh berbeda,” Felly menjawab dengan sedikit berbisik.Entah karena kelasnya yang berbeda atau bagaimana, tapi di kelas bisnis ini orang-orangnya terlihat tidak suka keributan. Felly jadi sungkan untuk membuka suara.Marvin duduk di sampingnya, nampa

  • Simpanan Dosen Tampan   111

    Pagi datang tanpa banyak suara.Cahaya masuk pelan dari sela tirai, jatuh di lantai dan berhenti di koper yang sudah setengah tertutup sejak semalam. Udara terasa lebih ringan, tapi masih menyisakan lelah yang belum benar-benar hilang.Felly sudah bangun lebih dulu.Ia berdiri di dekat meja, menuang sesuatu ke dalam gelas tanpa terburu, sementara matanya sesekali melirik ke arah kamar. Tidak lama, langkah pelan terdengar mendekat dari belakang.“Sdah bangun?” suara Marvin masih rendah, sedikit berat.Felly menoleh, mengangguk kecil. “Iya. Mas mau kopi?”Marvin mendekat, berhenti di sampingnya tanpa langsung menjawab. Tangannya sempat menyentuh pinggang Felly sebentar, mengusapnya dengan ringan dan bibirnya berikan kecupan di leher yang terekspos karena rambut Felly diikat dengan gaya messy bun ke atas—seperti kebiasaan yang tidak perlu dipikirkan.“Boleh.”Felly mendor

  • Simpanan Dosen Tampan   110

    Tawa itu belum sepenuhnya reda saat Olivia sudah kembali bersandar, matanya masih tertuju ke Marvin dengan ekspresi setengah tidak percaya.“Serius deh,” gumamnya, “ini pertama kalinya aku melihat orang mengajak istrinya honeymoon tapi tidak tahu mau pergi ke mana.”Felly menoleh cepat ke arah Olivia, lalu beralih ke Marvin, ‘Honeymoon?’ batinnya. Wajahnya memanas.“Spontan,” jawab Marvin singkat.“Spontan katanya,” ulang Devan sambil terkekeh pelan. “Keterlaluan dinginnya. Felly… seumur hidup lama. Tidak ingin berubah pikiran mumpung belum terlalu jauh?” tanya Devan main-main yang dihadiahi pelototan tajam dari Marvin.Oliver menggeleng kecil, tapi sudut bibirnya ikut terangkat. “Ya sudah, kalau begitu kita yang tentukan.”“Setuju,” sahut Olivia cepat. Ia langsung mengubah posisi duduknya, lebih tegak, seperti baru saja mendapat misi penting. “Oke, mulai.”Felly yang sejak tadi hanya mendengarkan kini ikut memperhatikan, matanya bergantian melihat mereka satu per satu.“Yang dekat du

  • Simpanan Dosen Tampan   109

    Sore itu berjalan lebih pelan.Cahaya matahari mulai turun, masuk dari sela tirai dan jatuh di lantai ruang tamu. Suasana apartemen masih tenang, hanya diisi suara kecil dari aktivitas yang belum sepenuhnya selesai.Sampai bel pintu berbunyi nyaring, memecah keheningan yang sempat melanda di antara keduanya.Felly yang paling dekat dengan pintu menoleh lebih dulu. Tangannya berhenti di atas koper yang belum sepenuhnya tertutup.“Siapa, ya…” gumamnya pelan, lebih ke diri sendiri.Marvin tidak langsung bergerak. Tatapannya hanya sempat terangkat sekilas, lalu kembali turun ke layar di tangannya.“Lihat saja,” jawabnya singkat.Felly berdiri, melangkah ke arah pintu tanpa terburu-buru. Saat gagang pintu diputar dan daun pintu dibuka—“NAH, ini dia!”Suara itu langsung masuk lebih dulu sebelum sosoknya.Olivia berdiri di depan, ekspresinya hidup seperti biasa. Di belakangnya, Kevin, Devan, dan Oliver menyusul dengan ritme yang lebih santai.“Masuk saja ya,” lanjut Olivia tanpa menunggu ja

  • Simpanan Dosen Tampan   108

    Ruang rapat itu sudah panas sebelum Marvin datang.Beberapa suara saling tumpang tindih, tidak benar-benar meninggi, tapi cukup tajam untuk menunjukkan arah pembicaraan yang tidak lagi rapi. Nama Marvin beberapa kali disebut, diselipkan di antara angka, laporan, dan kekhawatiran yang berulang.Pintu terbuka. Suara di dalam tidak langsung berhenti, tapi jelas mengecil seiring dengan langkah Marvin yang tenang dan tidak terburu-buru.Marvin tidak langsung duduk. Hanya berdiri di ujung meja, matanya menyapu satu per satu wajah yang ada di ruangan itu. Beberapa orang langsung menghindari tatapan seperti habis membuat dosa besar.Yang lain tetap bertahan, tapi tidak lagi seagresif beberapa detik sebelumnya.“Lanjut,” ucap Marvin.Singkat. Nadanya tidak meninggi sedikitpun, tapi cukup untuk memotong sisa percakapan yang tadi belum selesai.Seseorang di sisi kanan membuka kembali dokumen di depannya, mencoba melanjutkan pen

  • Simpanan Dosen Tampan   107

    Pagi datang tanpa banyak suara. Kamar Marvin yang kedap suara itu begitu hening, hanya suara jam dinding yang bersahutan dengan air conditioner yang menyala.Felly sudah bangun terlebih dahulu dan disusul Marvin kemudian. Mereka bebersih lalu langsung turun ke bawah di mana Bu Dyas tengah duduk manis dengan secangkir teh di ruang makan.Langkah kaki terdengar dari arah tangga.Marvin muncul lebih dulu dan disusul Felly di belakangnya.“Pagi, Ma?” sapa Marvin dan Felly bersamaan.Bu Dyas hanya tersenyum dan mengangguk.Cahaya masuk dari jendela ruang makan, jatuh tipis di atas meja yang sudah tertata rapi. Tidak ada yang benar-benar berubah dari rumah itu, tapi suasananya masih menyimpan sesuatu yang belum sepenuhnya hilang.Televisi menyala sejak tadi.Suaranya tidak keras, hanya cukup untuk mengisi ruang yang terlalu tenang.“—rekaman suara yang beredar sejak semalam memperlihatkan d

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status