Mag-log inThis is a story of rebirth.Two lovers born to be each other mate.Their love for each other is more than any bond can serve. Killed brutally in the hands of fate or more like killed by someone. Hundred years later they both born again.They are supposed to be soul enemies but fate has other games planed for them. They again meet but this time instead of love they have hatred in each others eyes .Though they are mates again in this life. They had seen visions of them together in past life but did not see each other's face clearly in it until they meet. They did not remember each other in this life. But the person who killed them did remember everything and will playing a huge role in their lives when the mates meet again. History will again repeat itself but this time ending is different.
view more"Maaf, mas!" lirih Shafira mulai terisak.
"Maaf, jika diriku belum bisa mengikuti semua keinginanmu," imbuh Safira memulai pembicaraan pada Satria, suaminya.
Nyatanya hati Safira masih belum bisa menerima keinginan sang suami yang ingin menikahi wanita di masa lalunya.
"Shaf, bukankah aku sudah memberitahukan semua kebenarannya?"
Satria memandang sayu wanita yang berstatus istrinya itu.
Ya memang benar, Satria telah menceritakan semua kejadian yang menimpa wanita bernama Tika yang tak lain adalah mantan kekasih Satria.
Tika datang di tengah kebahagiaan rumah tangga Satria dan Safira.
"Maaf, mas. Maaf."
"Hiks."
"Hiks."
Safira berlari ingin pergi jauh dari rumah ini jika dia mampu. Sayang sekali, kehamilan yang berusia sembilan bulan dan tinggal menunggu hari kelahiran itu membuat Shafira mengurungkan niatnya.
Satria berlari mengejar Shafira yang kini berlari menuju ke taman belakang rumah tempat di mana Shafira sering berdiam diri, mendinginkan pikiran dari beban masalah yang menimpanya akhir- akhir ini.
Dipeluk sang istri dari belakang, pelukan hangat penuh penyesalan.
"Shaf, maafkan aku? Mari kita bicara baik- baik. Jika kamu tidak ikhlas, aku akan membatalkan semua ini demi kamu. Aku pikir dengan membicarakan semuanya denganmu, kamu mau menerimanya? Jika bukan kita yang membantunya, lalu siapa lagi Shaf? Sungguh kasihan sekali dia.
Bukankah agama mengajarkan kita untuk menolong sesama, terlebih dengan keadaan Thika yang seperti ini, sangat memprihatinkan," jelas Satria.
Shafira menggeleng dan menutup telinga, berharap jika sang suami tak lagi membahas nama wanita yang begitu menyakiti telinga dan hati Shafira.
"Kenapa kamu tak mau menerimanya Shaf?" tanya Satria dengan polosnya.
Shafira melepas pelukan Satria dan memandangnya penuh kebencian.
"Aku tak mau di madu mas dan harus aku akui, aku tak bisa menerima Thika di tengah kehidupan kita. Jika kamu ingin menikahinya, silahkan. Kamu bisa melakukannya tapi talak aku mas!? ceraikan aku!?" teriak Shafira mengeluarkan semua unek unek di hatinya.
Baru kali ini Shafira berbicara kasar pada Satria.
Entah nyali dari mana bisa membuat Shafira seberani itu kepada Satria. Kali ini Shafira tak peduli lagi, dia sudah memikirkan hal ini dari awal terjadinya perubahan pada sang suami.
Mempertahankan rumah tangga? Rasanya semua tak ada gunanya lagi.
Sedangkan Satria hanya bisa merendah dan mengalah. Dia tak boleh terpancing emosi dan menuruti ucapan istrinya. Bagaimanapun juga dia merupakan kepala keluarga dan harus bijak dalam menghadapi masalah rumit yang menimpa bahtera rumah tangganya saat ini.
"Aku tak akan menceraikanmu Shafira, camkan itu!"
"Kalau kamu tak mau menceraikanku, akhiri hubunganmu dengan Thika saat ini juga!"
"Aku tak bisa Shafira, dia membutuhkan sosok lelaki yang bisa memegang teguh dirinya. Dia terombang ambing dan rapuh. Dia butuh aku untuk sandaran hidupnya?" elak Satria membuat Shafira semakin geram.
Seketika ekspresi marah Shafira berubah, tersenyum kecut dan air matanya tak lagi menetes. Sudah terlalu banyak air mata yang dikeluarkan dengan sia sia. Untuk apa menangisi lelaki yang lebih memilih mantan daripada istrinya sendiri!?
Kini Shafira semakin yakin dengan keputusannya yaitu pergi jauh dari kehidupan Satria.
"Baiklah mas, jika itu maumu. Aku saja yang angkat kaki dari rumah ini!" gertak Shafira.
Satria memegang erat tangan Shafira.
"Jangan berani kepada imammu! Kesabaranku ada batasnya Shafira!"
"Kamu yang memulainya mas!" jerit Shafira membuat Satria terkejut dan melepas cekalan tangannya.
"Aku hanya kasihan pada Thika. Aku tak akan melakukan apapun. Lalu apa maksudmu aku yang memulai?" cerca Satria tak mengerti ucapan Shafira.
"Tak usah mengelak lagi mas. Aku sudah tahu semuanya. Tega sekali kamu mas? Tega sekali kamu membohongi aku?"
Satria mengernyitkan kening semakin tak paham.
"Shafira, aku berbohong apa padamu?"
"Semuanya. Kamu mengawali semuanya dengan kebohongan. Kamu tega mas? Kamu tak peduli dengan perasaanku mas?" teriak Shafira emosi tak terkontrol.
Satria menghela nafas berat.
Dirinya tak menginginkan keributan seperti ini. Semua bisa dijelaskan secara baik baik, dengan kepala dingin, bukan dengan Emosi.
"Terserah padamu Shaf, aku sudah mengatakan secara jujur padamu?"
"Jujur apa? Atas perselingkuhan yang kamu lakukan?"
"Apa!?"
Flashback satu bulan lalu.
"Ma, lihatlah siapa ini?" tanya Satria menyodorkan ponsel pada istrinya. Ponsel beralih di tangan Shafira, terlihat chat dari seseorang wanita dengan nomor baru. Dilihat detail profil WA, dimana seorang wanita berparas cantik sedang duduk di ayunan, memakai kacamata coklat dan tersenyum sangat manis.
Shafira menggeleng pelan, "maaf mas aku tak tahu."
Diulurkan kembali ponsel milik Satria.
"Siapa ya wanita ini? Kok kirim pesan cuma Assalamualaikum saja?" tanya Satria pada diri sendiri dan masih penasaran siapa sebenarnya wanita ini.
Shafira memandang mimik Satria membuatnya ingin tersenyum, "mas Satria, gimana kalau kamu balas saja chatnya, tanya siapa dia dan ada urusan apa?"
"Bener juga kamu sayang. Kenapa aku tak terpikirkan untuk membalas dan tanya langsung ya? hehe," kekeh Satria mulai mengetik beberapa kata, membalas pesan WA dari nomor baru tersebut.
Shafira kembali ke dapur untuk melanjutkan aktivitas dan tak menghiraukan lagi sang suami yang tengah asyik dengan ponsel pintarnya. Sementara Satria menunggu balasan chat WA sambil terus memandangi foto profil si wanita, berusaha mengingat ingat siapa wanita yang kini ditatap intens pada layar ponselnya.
"Bip."
Bunyi chat balasan dan Satria dengan cepat membuka pesan tersebut.
{Mas Satria, aku Thika. Apa kamu ingat aku mas? Maaf sebelumnya jika aku menghubungi mas Satria, aku sedang ada masalah dan tak tahu harus mengeluh kepada siapa lagi mas? Mbak Dina bercerita jika kamu menjadi Konselor saat ini jadi aku ingin meminta bantuanmu mas untuk memberiku saran dalam menyelesaikan masalahku saat ini. Apakah mas bisa membantuku?}
Ya, saat ini Satria menjabat sebagai Konselor yaitu profesi seseorang yang mendengarkan, berempati, menyemangati, dan membantu seseorang atau klien untuk menghadapi situasi sulit.
Terlibat dalam berbagai metode percakapan untuk mengidentifikasi tantangan atau masalah yang dihadapi oleh klien.
{Iya de, aku ingat kamu kok. Nanti kita atur pertemuan biar kamu bisa sharing kepadaku.}
Dua detik kemudian.
"Bip."
{Baik kalau begitu mas, aku tak sabar bertemu sama kamu mas, aku ingin menceritakan semuanya kepadamu.}
{Ya sudah sampai ketemu nanti.}
Satria mengakhiri dahulu chat dengan Thika.
'Thika.'
Pikiran Satria dilempar jauh pada memory bahagia saat dirinya bersama wanita yang pernah menjadi tambatan hati selama tujuh tahun itu.
Satria tersenyum bahagia mengingat masa masa indah tersebut.
Entah mengapa Satria merasa kembali ke masa muda lagi, dimana rasa yang begitu menggebu gebu akan cinta kembali menyeruak di benaknya. Satria tak menyadari jika Shafira memandang tingkah aneh sang suami, terus tersenyum memandang profil Thika, cinta pertamanya.
Merasakan perilaku aneh sang suami dan tak seperti biasa, Shafira mendekat dan bertanya, "chat dari siapa mas?"
Knox P.O.VThree years later.Cold wind blew by ruffling through my hair as I placed the white bouquet of lilies on the tombstone . The cemetery was deserted . I looked down at the ground where I buried her the day she died . I can not believe three years have passed since I lost her that day. It was the last day I held her hand . I lost her in my arms . I tried to blink away the tears yet a single tear slid down. Pain rises from the bottom of my heart whenever I think about her. I know she does not want me to cry . It felt like yesterday she was smiling at me and the next moment I had to carry her cold body here.Her scream still haunts me in my dreams . Some say time will heal the old wounds but some just never heal . I looked at the picture that was placed before the tombstone when she was buried years ago . Her smile lightened up her entire face in the picture. Somebody said you can only understand something or someone's value until you lose it. I still can feel her loss these d
Kimberly P.O.VOur swords crashed, she began to put more force making me stumbled back ,we were fighting close to the edge of the roof . She pushed me back . This woman is a complete meneac. I was just maintaining my balance on my heels. I looked back down and then the woman before me . I am not letting this woman win this time . This time the story will be different. With all my might I pushed her back by the sword to gain my footing. Blood was dripping from my hand as it pierced my skin while I was defending myself from Victoria's attacks . I charged forward at her . I raised the sword and swung it in her direction.Knox's limits crossed when he saw what Adrian did to Juliana and how he betrayed us with his mother but Adrian was just a pawn in her game who worked for her but the real game started when Carlos , Knox's beta, entered the scene and Victoria introduced him as her son. I knew something was off about Carlos from the beginning . It turns out on the Hunter moon night it was
Kimberly P.O.VI picked a book from the top shelf and blew the dust to open it for us to find something out. "Do you find something?". I shook my head no on his question."Do you?" I asked."No". We both moved to the next book. This place is filled with old books that have not been opened for years ,journals yet so far we did not find anything. "Maybe what we did was wrong. Maybe she was not that woman and someone is manipulating our dreams or maybe history won't repeat itself". I climbed down the ladder and walked towards him."I do not know what is the truth or what is a lie , whether history will repeat itself or not but we have to be prepared for any possible outcomes ". I gave him a comforting squeeze and moved to the other shelf.Last night after we both fell asleep I dreamed about that again. This time the site was clear and I could hear them . Everything repeated in the dream about that night . Knox and I had the same dream. We saw everything that happened from the beginning
Kimberly P.O.VHe tilted my head to the side and ran his lips down the exposed column of my neck. I inhaled sharply, my chest was moving fast and shaking slightly. My dress slips off my shoulders and slithers down to the floor. I looked over my shoulder at him . His eyes followed the path from where the fabric just slid down, soon I was standing just in my sheer lace white bra and thong.He stepped back. He was just staring at me . I would have shielded my body if I hadn't noticed the hungry way his eyes were roaming on each part of my body. Each part wherever he led his eyes lit up like flame.I turned to face him and walked closer to him. My hands slid into his short hair as I wrapped around him, pushing myself into him as much as I could. I want to pull off his clothes so that there’s nothing between us as I try to deepen the already consuming kiss. His hand slid down from my face to my shoulder. I felt the tips of his fingers moving the traps of the bra down my shoulder. He went b
Kimberly P.O.VI sat in the chair of my vanity while Lisa started running the brush through my hair, it felt good having someone to do things for me like that. She usually dresses Victoria for the occasions . But Victoria insisted that Lisa will dress me today , I reluctantly agreed. For everyone in
Knox P.O.VSebastian quickly brought me a sheet to cover Kimberly's blooded body. She was barely concious when I covered her body. Her body flinched away from my embrace when the cloth made a contact with her back . I pulled cloth away from her back to see her condition. I felt my guts twisted painfu
Knox P.O.VEverything seemed foggy around me as soon as I opened my eyes. I blinked severally trying to get a clear vision of where I was. I was met with the sight of familiar ceilings, smoky atmosphere and my nostrils were filled with a pungent smell. I wheezed as smoke made its way into my nose.I f
Kimberly P.O.VBefore I took another step towards the door my body jerked back .Knox pulled me back by my arm , pressed my back to the wall ,his body was caging me between him and the wall .I tried to yank my arm but he pushed my body hard against the wall."Ahhh let me go " My protests meet to deaf e
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
Rebyu