LOGINHow do you survive when the only life you have known has been stolen from you? At six years old I was branded a murderer,blamed for what I knew nothing of and a slave to my cruel Aunt and Uncle. For fifteen years , I endured their abuse and believe the lies they told me. Until the day I was auctioned to the highest bidder: the arrogant Alpha Lukan. I thought being sold would only bring more misery, but instead it brought me to the powerful and mysterious Alpha of the Nightbane pack. He was ruthless yet kind , cold yet tender and seemed to promise me the love I have never known. But nothing is ever that simple. Why did he choose me? Why does he keep me close yet seem so distant, as if searching for something I can't see. But when the Moon Goddess decides to play chess with your life, you have no option but to move with the game. With every step I take, new secret stepped forward, eager to break the fragile happiness I have found. Now I must decide—am I just another pawn, or can I become the queen in a game I never choose to play
View MoreBrukk! Dia didorong dengan kasar hingga jatuh ke sofa.
"To-tolong, tolong aku, Kak, ... aku mohon tolong aku!" Tubuh gadis itu bergetar hebat. Keringat dingin mengalir di sekujur tubuhnya. Dia, kini berada dalam satu ruangan remang dengan suara musik yang cukup keras, hingga membuat telinganya tidak dapat mendengar dengan baik. Beberapa orang laki-laki memandangi dengan tatapan yang sulit diartikan. Mereka semua tertawa dan terlihat sangat menantikan sesuatu yang akan membuat mereka senang. Gadis itu seperti masuk ke dalam sarang serigala kelaparan. "Adikku sayang tenanglah sedikit. Sebentar lagi kau akan merasakan enak!" ucap gadis berambut keriting dan pirang. Dengan make-up yang terlihat tebal, baju yang dikenakannya terlihat kekurangan bahan. Dia mencengkram kasar wajah gadis itu yang terlihat ketakutan. Air matanya sudah membasahi pipinya yang chubby. "Ka-kakak? Kak Shasa ada disini juga, tolong aku kak! Aku tidak mengenal mereka!" pekiknya. Dia menggenggam erat tangannya penuh harap. Berharap dia mendapatkan pertolongan dari kakaknya. "Menolongmu, tentu saja aku akan menolongmu. Tapi, sebelum itu kau harus membantu kakakmu ini. Oke?" ucapnya dengan seringai licik yang tak dimengerti oleh gadis itu. "Membantu apa Kak? Asalkan bisa keluar dari tempat ini, aku akan membantumu!" ucapnya dengan air mata yang masih berlinang. Segenap harapan yang tersisa. Dia hanya bisa menggantungkan keselamatannya kali ini dengan memohon kepada sang kakak. "Kau memang gadis yang penurut dan baik hati, Maureen! Kakak tak salah memilihmu!" Shasa mengusap kepala adiknya dengan sangat lembut. Membantu adiknya tenang dari kondisi yang membuatnya seperti orang gila. Beberapa saat Shasa tampak menenangkan hati adiknya. Dia memberikan minuman untuk adiknya. Maureen menolaknya, karena dia tidak tahu minuman apa yang kakaknya berikan. Namun, ancaman dari kakaknya membuatnya terpaksa meminum. Kakaknya, mengancam akan menghentikan semua perawatan yang sedang dijalankan oleh ibunya. Mana tega seorang anak membiarkan ibunya tersakiti begitu saja didepan matanya. "Anak pintar, kau memang anak yang berbakti. Tunggu disini sebentar. Aku keluar mencari camilan!" Seringai licik memberikan kode pada beberapa laki-laki yang sudah tak sabar menunggu dari tadi. Mereka langsung bersemangat saat mendapatkan kode dari Shasa. "Aku ikut saja kak. Aku tidak mau ditinggal sendiri. Disini sangat menakutkan!" Maureen memegangi lengan kakaknya dengan sangat erat. Dia tak ingin melepaskan. Apalagi dia melihat sorot mata-mata yang seperti akan menelannya hidup-hidup. "Apa yang harus ditakutkan? Mereka semua teman-teman kakak, Maureen sayang. Tenang saja, mereka pasti akan memperlakukan dirimu dengan sangat baik." Sasha kembali berkata sesuatu yang tak dimengerti olehnya. Kenapa kakaknya terus saja ngotot meninggalkan dia bersama laki-laki yang tak dikenalnya. Dia pun berpikir, pasti ada sesuatu yang tak beres. "Pokoknya aku ikut Kakak, Aku tidak mau ditinggalkan sendiri disini!" cetusnya. Tetap menggenggam erat lengan kakaknya. Sasha sedikit geram, dia merasa adiknya sudah dapat membaca rencananya. Jadi, dia putuskan, "Kakak, akan berbicara dengan mereka. Kamu tidak usah khawatir. Jika mereka macam-macam denganmu. Mereka semua, kakak sendiri yang akan menghajarnya!" Sasha berkelit, memberikan keyakinan pada Maureen agar dia bisa pergi darinya. "Be-benar, Kak? Janji, Kakak jangan lama-lama!" "Uhm!" Sasha tersenyum penuh kemenangan. Perlahan melepaskan pegangan adiknya tadi. Kemudian dia berjalan menghampiri mereka dan berkata, "Dia masih eksklusif dan tersegel. Aku jamin kalian akan puas malam ini. Transfer sekarang juga!" ucapnya. Namun, matanya melirik Maureen dengan senyuman yang berbinar yang memperhatikannya dari di sudut sofa. “Kemana kakak pergi? Kenapa dia lama sekali. Apa yang sebenarnya sedang terjadi kenapa dia meninggalkanku disini?” Batin Maureen melihat sekitar ruangan yang sudah dipenuhi dengan kepulan asap rokok dan beberapa orang laki-laki yang bahkan Maureen tak mengenalnya. Maureen mencoba merogoh tas mencari ponsel dan mencoba menghubungi Sasha. Tapi, meskipun sudah beberapa kali dia coba. Telepon Shasa tidak bisa dihubungi. Nomornya mendadak tidak aktif. “Maureen?” seorang laki-laki bertubuh gendut dengan kepedean tingkat tinggi menghampiri lalu menyerobot duduk di sebelahnya. Dia terlihat tak sabaran. Sejak kepergian Sasha dia terus saja mengincarnya. Seperti kucing garong ketemu tulang ikan. Siap menerkamnya kapan saja. “I-i-ya, kau siapa?” Maureen bergeser duduk memberikan jarak. Dia jenggak dengan lelaki tadi yang langsung menaruh tangan pada pinggangnya. “Aku, Roland. Apa Shasa tidak berbicara padamu tadi? Uhm, kalau malam ini kita ada kencan!” ucapnya tanpa basa basi meraih dan menciumi rambut Maureen, menatapnya penuh nafsu. “Kencan? Kakak nggak membahas apapun tadi soal kencan ini. Dia hanya bilang akan keluar sebentar membeli camilan.” Batin Maureen bergemuruh kembali. Semakin merasa tidak beres. “Ma-af mungkin kau salah mengenali orang dan aku bukan Maureen yang kau maksud!” tegas Maureen berusaha menguatkan hati yang tak bisa dijabarkan. Rasanya seperti gado-gado, bercampur aduk. "Kau, Maureen Angelia kan? Dan, Sasha Angelica tadi kakakmu kan? Dia sudah bilang padaku, kalau kau bersedia kencan denganku malam ini," ucapnya. Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa kakaknya menjebak sang adik untuk melakukan kencan buta seperti ini. Dia bahkan tak meminta persetujuan darinya untuk melakukan ini semua. Ponselnya bergetar. Maureen melirik ponselnya. Akhirnya orang yang dia tunggu menelpon, “Ha-hallo, kak Shasa, kau ada dimana? Kenapa belum juga datang aku sudah menunggumu sejak tadi.” Maureen berbicara setengah berteriak karena suaranya hampir benar-benar tidak terdengar oleh dirinya sendiri. Suara musik dalam ruangan bergema semakin sangat keras. Orang bernama Roland terus menatap Maureen dengan intens. Menatapnya dari ujung rambut hingga kaki. Memperhatikan setiap detail lekuk tubuh gadis itu. Walaupun penampilannya biasa saja, bagi laki-laki hidung belang seperti itu tidak akan dipermasalahkan. Apalagi, dia sudah dijanjikan oleh Sasha bahwa Maureen masih tersegel dengan sangat rapi. “Maureen, maaf kakak tidak bisa datang kesana. Kakak ada urusan mendadak dan disana sudah ada Roland kan? Dia akan menggantikan kakak untuk menemanimu!” ucapnya terdengar sangat enteng. Dia bahkan tega meninggalkan adiknya bersama kumpulan para lelaki yang tak dikenal. “Roland? Siapa dia kak? Aku bahkan tidak mengenalnya? Bisakah kakak datang sekarang? Aku tidak kenal siapapun disini, kak!” Maureen setengah merengek agar dituruti oleh kakaknya. “Ayolah, Maureen bantu kakak dan keluarga kita kali ini. Temani, Roland ya. Jadilah anak yang baik dan berbakti. Kau kan masih sangat menginginkan biaya perawatan untuk ibumu? Kau harus bisa menemani dan membuatnya puas malam ini!” perkataan yang membuat tubuhnya bergetar. Bagaimana bisa kakaknya menyuruh adiknya untuk menemani seorang laki-laki. Ah … tidak bukan seorang melainkan ada empat orang disana. Sepertinya untuk kakaknya itu hal yang biasa dan lumrah. “Menemani? Maksudnya apa kak? Aku tidak mengerti. Aku mohon kak, kembalilah kesini. Aku benar-benar takut sendirian disini!” sambil berbicara Maureen terus melirik kearah Roland. Dia sudah terlihat semakin tidak sabar dan bangkit dari duduknya. Menghampirinya. “Bagaimana?” ucapnya. Belum selesai dia berbicara dengan kakaknya. Tangan Roland langsung melingkar di pinggang dengan bebas. Maureen terus bergerak dan menghempaskan tangan nakal laki-laki itu. Sasha sudah memutuskan telepon. “A-aku, tidak bisa!” tegasnya. Dia menolak laki-laki gendut menyebalkan yang akan menariknya duduk kembali bersama dengan para lelaki lainnya. “Ayolah, jangan pura-pura sok polos. Masa yang seperti ini saja kau tidak mengerti! Aku dan yang lain sudah bayar mahal dirimu! Jadi, jangan buat kami kecewa malam ini!” dia terus memaksanya untuk ikut. Menarik paksa hingga tubuh gadis itu terhuyung. Jatuh ke beberapa pangkuan laki-laki yang tak dikenal. Mereka tertawa dengan sangat puas. Mempermainkan Maureen seperti boneka yang baru dibelinya. Menyentuh rambut, mencubit pipinya yang chubby dan sesekali menggerayangi tubuhnya dengan bebas. “Arrgghh!!” pekiknya. Dia terus berusaha melepaskan diri dari sergapan orang yang menantikannya terus berteriak. Sekali Maureen berteriak membuat mereka yang sudah panas terbakar oleh minuman semakin bergelora. Mereka siap menyantap Maureen seperti ayam tanpa tulang. Mereka tinggal melumat Maureen pelan-pelan secara bergantian. “Roland, siapa dulu nih? Aku sudah tak kuat lagi menahannya!” salah satu dari mereka berkata dengan sangat menjijikan. Terdengar di telinga Maureen sungguh memekakan. Dia bahkan tak mengira hal buruk seperti ini akan terjadi pada dirinya.MERIDAFairy lights were delicately strung between old oaks and the Willow trees that swayed in the evening breeze casting a warm golden glow over the garden. Lukan had suggested for a small party, to relieve our stress he had said and I had laughed.Today had been so hectic, even though it was a small get together, Julietta had instructed the maid to prepare lot of light meals, snacks and cupcakes.Lemuel had gotten chilled wine and I had taken a glass already.We had invited very few people, those who were close to the Alpha's family and those we think should be invited.Just a handful though. Our packs laughter and light conversation filled the air fostering a spirit of happiness and solidarity. It was more than just a celebration, this small get-together served as a time to remember our journey and the relationships we had formed during the trials. It was a moment of joy and to forget all that had happened.I had heard little about Uncle Garrick and Aunt Ophelia. The last I he
LUKANI had gotten home very late that night and was too stressed to tell anyone how everything went.Merida had rarely spoken after everything Elizabeth had said and it was the hurt from everything that made me decided to take justice. After what had happened it had taken all of my strength to console Merida, as she remembered the painful memories of her childhood.But today, there was no need waiting time, she had to know how everything went, I owed her the that because she deserved it. I had arrested Garrick and Ophelia two days ago.. Justice had started to take its course as investigation had been carried out on the pack both of them had destroyed and searching for any other surviving relative.Ophelia's injury was a tragic twist of fate that left her in critical condition and she kind of deserve every bit of it.The emptiness in my chest persisted though. In light of what Merida had gone through justice was insufficient, but the moon goddess knew that arresting both of them we
LUKAN Each of the revelations and confessions that I had gotten from Elizabeth and Nahla over the last two weeks had been more disturbing than the one before. So disturbing that I couldn't get it out of my mind and it had made me so angry. The image of that night was still in my head and I couldn't push it aside and the overwhelming amount of evidence linking Aunt Ophelia and Uncle Garrick to Merida's parents deaths had painted a picture which was too horrific to ignore. Even as the days passed, I found myself becoming more determined. I knew I had to act fast if I wanted justice to be served to those two fools that had started this whole rubbish. I had promised myself that whatever the cost justice would be done and I would leave no stone unturned. I took a bend and before me was the Packhouse where Ophelia and Garrick lived, a monument to stolen wealth. It had been long I came here and coming here now brought back memories, memories of the first time I had met Merida. I
ELIZABETH The room was filled with flickering shadows as the fire in the hearth cracked. As Merida tried processed everything I had said. Her eyes widened and her face went pale as I sat across from her. This was more than just her past it was the reality that had strapped my soul together for years. "You deserve to know everything Merida. . But its difficult to hear what Im about to tell you." I said my voice trembling a little, as I looked around the room ,at everyone listening to me. Julietta handed her a mug of tea and she nodded while her fingers clenched around it. "Your parents Naomi and Nathaniel were the most honorable wolves I ever knew." I said my voice was so sorrowful "The love they had for you and your sister , Nahla was greater than life itself. Bit love was insufficient to shield them from the packs evil. " Merida opened her mouth to speak but she remained silent. "There was a struggle for power ."I added. “Some believed Naomi’s bloodline was too pu
MERIDAThe warmth of Lukan's hand in mine brought back to reality . I looked up into his delicate grey eyes which were filled with so much emotions that mirrored mine. He ran his thumb over my knuckles and the corners of his lips curled into a slight smil
MERIDAI sat in the grand halls, my heart racing as I tried to understand what had just happened . Everything was just too much for me. Questions spiralling in my head . That woman who had suddenly reappeared today of all days on my birthday. My twin sister. Someone I bare
MERIDAThe waves crashing against the shore was just a beautiful sight to behold. The sun was already going down in the horizon and the orange glow was pretty to watch, but nothing could beat the feeling of Lukan holding me close. That tender feeling of love made my heart soar.We had spent the eveni
MERIDA It's been three days since Zayna'sdeath, and today was the day we buried her. The funeral felt heavy in the air, like the weight of everything that happened over the past few weeks was pressing down on me. Everything was in order now, but it felt wrong-wrong that she's gone, wrong that her fa
Welcome to GoodNovel world of fiction. If you like this novel, or you are an idealist hoping to explore a perfect world, and also want to become an original novel author online to increase income, you can join our family to read or create various types of books, such as romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel and so on. If you are a reader, high quality novels can be selected here. If you are an author, you can obtain more inspiration from others to create more brilliant works, what's more, your works on our platform will catch more attention and win more admiration from readers.
reviews